Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Kejutan di Mall dan Amarah Sang Pengawal
Sinar matahari pagi menyorot hangat pelataran kediaman megah keluarga Sanjaya. Hari baru telah tiba, dan sejak pukul tujuh pagi, Egi sudah tampak berdiri siaga di dekat garasi mobil. Sesuai dengan instruksi tegas yang disampaikan Fania melalu pesan singkat semalam, Egi diminta untuk tiba lebih awal karena sang nona muda berniat menghabiskan akhir pekannya dengan berbelanja dan jalan-jalan di salah satu mall terkemuka di pusat kota.
Namun, ada hal yang sangat berbeda dari penampilan Egi pagi ini.
Menyadari kritik pedas Fania semalam tentang penampilannya yang dianggap "kampungan", Egi sengaja meluangkan waktu subuh tadi untuk merapikan diri. Rambut hitamnya kini dipotong rapi dengan gaya undercut yang elegan, disisir rapi menggunakan pomade berkualitas. Tubuhnya terbalut kemeja hitam pas badan yang memamerkan lekuk dada dan bahunya yang tegap, dipadukan dengan celana kain gelap serta sepatu pantofel yang mengilap. Semprotan parfum beraroma kayu woody yang hangat dan maskulin tercium samar dari tubuhnya.
Kini, penampilan Egi tidak lagi terlihat seperti pemuda pengantar galon air, melainkan sudah menjelma sempurna sebagai sesosok pengawal pribadi kelas atas yang gagah dan berwibawa.
Langkah kaki terdengar dari arah pintu utama. Fania Sanjaya melangkah keluar mengenakan gaun kasual bermerek, kacamata hitam bertengger di atas kepalanya. Namun, saat matanya menangkap sosok Egi yang berdiri menunggunya di samping pintu sedan hitam, langkah kaki Fania mendadak terhenti sejenak.
Mata indahnya memelotot kecil di balik kacamata. Ada rasa terkejut yang tak bisa disembunyikan dari raut wajahnya saat melihat perubahan drastis pada diri pengawalnya tersebut.
Egi melangkah maju satu langkah, membungkukkan badan sedikit secara profesional. "Selamat pagi, Nona Fania. Mobil sudah siap dan dalam kondisi prima untuk mengantar Nona."
Fania dengan cepat menetralkan raut wajahnya, membuang muka ke samping seraya menyilangkan kedua tangan di dada. Bibir tipisnya dipanyunkan, berusaha keras untuk tidak memuji.
"Ehem... Ya lumayan lah, mendingan daripada kemarin yang kayak tukang kayu," cibir Fania dengan nada suara yang tetap diusahakan terdengar judes dan merendahkan. "Tapi jujur ya, ini masih kurang bagus! Selera pakaian kamu itu masih terlalu kaku, kemejanya kurang modern. Nanti kalau ada orang yang lihat, paling disangka sales asuransi, bukan pengawal gue!"
Egi tidak membiarkan emosinya terpancing oleh kritikan pedas tersebut. Dia hanya mengukir senyum tipis yang sangat sopan.
"Terima kasih atas masukannya, Nona. Mari saya bukakan pintunya."
Egi membuka pintu penumpang belakang dengan sigap, membiarkan Fania masuk ke dalam kabin yang sejuk sebelum menutupnya rapat.
Perjalanan menuju mall besar di pusat kota berlangsung dalam suasana yang sangat sunyi dan sepi. Di dalam kabin mobil sedan yang meluncur mulus di atas aspal jalanan, tidak ada sedikit pun perbincangan yang terjalin. Fania sibuk menatap layar ponsel pintarnya dengan raut wajah bosan, sementara Egi fokus memegang kemudi dengan pandangan lurus menembus lalu lintas kota.
Sesampainya di mall megah tersebut, Fania melangkah anggun memasuki area atrium yang luas, diikuti Egi yang berjalan konstan dua langkah di belakangnya. Fania rupanya mulai merencanakan sesuatu untuk mengerjai dan mengetes sejauh mana batas kesabaran pengawal barunya itu.
Gadis muda itu sengaja memutar-mutar mengelilingi berbagai toko pakaian mahal tanpa membeli satu barang pun, sengaja naik-turun eskalator berkali-kali, hingga berjalan memutar di lorong-lorong mall yang luas hanya untuk membuat Egi merasa lelah dan kesal. Namun, rencananya gagal total. Egi tetap melangkah tenang, pandangan matanya selalu waspada memantau situasi di sekeliling Fania tanpa menunjukkan sedikit pun raut wajah lelah atau mengeluh.
Hingga akhirnya, jam menunjukkan pukul satu siang. Rasa lapar mulai melanda. Fania memutuskan untuk berhenti di sebuah area restoran terbuka yang cukup ramai di lantai tiga mall.
Saat Fania hendak mengambil posisi duduk di sebuah meja kayu yang elegan, Egi melangkah mendekat, berniat untuk duduk di meja yang sama guna menjaga jarak aman. Namun, sebelum Egi sempat menarik kursi, Fania melambaikan tangannya dengan gerakan mengusir yang sangat kasar.
"Eits! Mau ngapain kamu?!" sergah Fania dengan suara melengking yang cukup keras hingga menarik perhatian beberapa pengunjung di sekitar.
"Saya mau mendampingi Nona untuk makan siang," jawab Egi tenang.
Fania mendengus geli, menatap Egi dengan pandangan sangat merendahkan. "Makan bareng gue? Hellow... Please deh!
Gue itu malu kalau harus kelihatan duduk dan makan satu meja sama pengawal kayak kamu! Nanti orang-orang nyangka level gue jatuh! Kamu cari meja lain sana yang jauh!"
Kalimat kasar yang terlontar dari mulut Fania kali ini benar-benar menghantam harga diri Egi secara langsung.
Dadanya berdesir hangat, ada rasa tersinggung dan sakit hati yang teramat dalam yang bersarang di ulu hatinya.
Namun, sebagai seorang profesional yang sudah mengikat janji pada Pak Frans, Egi menelan bulat-bulat rasa sakit hati itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Egi mengangguk pelan, lalu berbalik dan berjalan menuju sebuah meja kecil yang terletak sekitar lima meter dari posisi Fania. Dari meja terpisah itu, Egi tetap bisa mengawasi gerak-gerik sang nona muda dengan raut wajah datar yang dingin.
Fania tersenyum puas melihat pengawalnya tersingkir, lalu mulai memesan makanan dan menikmati hidangan makan siangnya dengan tenang.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Dari arah lorong luar restoran, melangkah masuk segerombolan pemuda bertubuh tinggi dengan pakaian yang cukup mencolok. Ada empat orang pemuda berpenampilan ala anak jalanan berandalan yang mengandalkan kekayaan orang tua mereka. Saat mata kelompok pemuda itu mengedar ke sekeliling restoran, pandangan mereka mendadak terkunci pada sosok Fania.
Fania Sanjaya memang memiliki paras wajah yang sangat menawan dengan garis keturunan campuran yang kental—hidung mancung, kulit putih bersih, serta mata yang indah—membuat penampilannya sangat mirip dengan turis atau blasteran dari negara Eropa.
"Wah, bro... lihat tuh di meja pojok! Ada cewek blasteran bening banget!" bisik salah satu pemuda berambut pirang pada teman-temannya.
"Anjir, kayak turis Eropa baru turun dari pesawat! Samperin yuk, kita ajak kenalan!" timpal pemuda lainnya dengan kekehan nakal.
Segerombolan pemuda itu langsung melangkah menghampiri meja Fania tanpa permisi. Salah seorang dari mereka dengan lancang langsung menarik kursi di hadapan Fania dan duduk di sana, sementara tiga lainnya berdiri mengelilingi meja, memblokir jalan keluar Fania.
"Hai, beautiful! Where are you from? Lagi makan sendirian aja nih? Boleh dong kita gabung?" goda pemuda berambut pirang dengan senyuman nakal yang sangat menggoda.
Fania yang kaget mendadak panik. Wajah cantiknya berubah pucat. "Maaf ya, tolong sopan sedikit! Saya bisa bahasa Indonesia dan saya tidak kenal sama kalian! Tolong pergi dari meja saya sekarang juga!"
"Walah, ternyata bisa bahasa Indonesia toh! Suaranya seksi banget lagi," sahut pemuda kedua seraya menyandarkan tangannya di atas meja Fania, mendekatkan wajahnya secara kurang ajar. "Jangan galak-galak dong, Cantik. Kita cuma mau minta nomor telepon kamu kok. Ayo dong, jangan sombong!"
Fania mulai merasa terancam. Tangan pemuda berambut pirang itu bahkan mulai terulur mencoba menyentuh jemari Fania di atas meja. "Lepasin! Jangan pegang-pegang! Pengawal! Tolong!" teriak Fania panik.
Di meja seberang, Egi sebenarnya melihat situasi tersebut sejak awal. Pada awalnya, di dalam lubuk hati Egi yang dalam, timbul rasa enggan untuk peduli secara cepat. Rasa sakit hati akibat perkataan Fania beberapa menit lalu—yang mengaku malu makan bersamanya—masih berbekas sangat nyata di benaknya.
Bukannya dia bilang malu kalau ada gue di dekatnya? Biarkan saja dia rasakan sendiri akibat dari kesombongannya, bisik ego kecil di dalam diri Egi.
Namun, ketika Egi melihat salah seorang pemuda itu mulai bertindak melampaui batas dengan memegang paksa pergelangan tangan Fania hingga gadis itu menjerit ketakutan, batas toleransi Egi runtuh seketika! Tugas profesionalisme dan rasa kemanusiaannya mengalahkan seluruh rasa sakit hatinya.
Sreet!
Egi berdiri dari kursinya. Pandangan matanya yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi teramat dingin, tajam, dan memancarkan aura membunuh yang sangat menakutkan!
Tanpa mengeluarkah suara gertakan atau peringatan verbal, Egi melangkah lebar menghampiri meja tersebut. Di tengah jalan, jemari tangannya yang kekar merogoh dan menggenggam erat sandaran sebuah kursi besi berat yang berada di dekat meja kosong.
CRASH!
Tanpa basa-basi sedikit pun, Egi mengayunkan kursi besi itu dengan tenaga penuh, menghentakkannya dengan sangat dahsyat tepat ke punggung pemuda berambut pirang yang sedang memegang tangan Fania!
"AGHHH!" jerit pemuda pirang itu histeris saat tubuhnya tersungkur keras menghantam lantai, terseret beberapa meter akibat hantaman besi yang teramat brutal!
Suasana restoran seketika pecah dalam kepanikan! Para pengunjung menjerit histeris dan berhamburan melarikan diri!
Tiga pemuda sisanya memelototkan mata kaget setengah mati melihat temannya dihantam tanpa peringatan.
"BANGSAT! BERANI-BERANINYA LO!" teriak pemuda bertubuh paling besar seraya melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Egi.
Egi tidak merintih sedikit pun. Dengan reflek yang luar biasa cepat, dia memiringkan kepalanya sedikit menepis pukulan tersebut, menyambar leher pemuda itu dengan cengkeraman besi, lalu membanting tubuhnya ke atas meja hingga meja kayu itu patah menjadi dua bagian!
BRRAAKKK!
Dua pemuda sisanya yang tersisa mencoba maju bersamaan, menarik pisau lipat kecil dari saku mereka. Namun Egi yang sudah tersulut amarah melangkah tanpa rasa takut. Dia menangkis sabetan pisau dengan lengan kemeja hitamnya, menarik tangan lawan, lalu mendaratkan tendangan lutut yang sangat keras tepat di ulu hati pemuda ketiga hingga muntah cairan. Pemuda terakhir disambar dengan pukulan upper-cut telak di dagu hingga pingsan seketika di atas lantai marmar restoran!
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, empat pemuda berandalan yang tadi berlagak jagoan sudah tergeletak tidak berdaya, mengerang kesakitan di atas lantai dengan tubuh penuh memar!
Egi merapikan kemeja hitamnya yang agak kusut, menyesuaikan kembali posisi kerahnya, lalu menghembuskan napas panjang untuk mengatur ritme emosinya. Dia menoleh ke arah Fania.
Sementara itu, Fania Sanjaya terduduk kaku di kursinya dengan tubuh gemetar hebat dan mata memelotot lebar.
Napasnya memburu cepat. Gadis muda yang biasanya selalu bertingkah arogan, sombong, dan merasa paling hebat itu kini benar-benar syok berat dan tidak menyangka akan menyaksikan aksi kebrutalan dan ketangguhan yang teramat mengerikan dari sosok pengawal yang tadi pagi sempat dihinanya sebagai orang "kampungan".