Juara 2 Lomba Novel Horor 2023.
Season 1 Desa rawa belatung.
Season 2 Penelusuran gaib rania.
Season 3 Tumbal panti jompo.
Berawal dari ditemukannya buku catatan di sebuah kamar kost. Kamar yang dulunya di tempati oleh seorang gadis lugu. Ia merantau dari desa untuk bekerja di pabrik garment. Sejak ia ditemukan tewas di bangunan kosong yang tak jauh dari kostnya, banyak kejadian misterius yang terjadi di kost itu. Satu persatu teman-teman satu kost nya mendapatkan pesan misterius, yang berisi peringatan atau semacam ancaman. Pesan yang berupa selembar surat ataupun pesan singkat melalui ponsel, tiba-tiba dikirimkan untuk mereka.
Jika mereka tak melakukan apa yang dituliskan di pesan tersebut, maka mereka akan celaka dalam waktu yang sudah ditentukan di pesan tersebut. Sebuah pesan kematian yang akan mengantar mereka yang mendapatkannya bertemu dengan malaikat maut.
Tak ada yang tau siapa pengirim pesan kematian tersebut. Mungkinkah roh gadis itu gentayangan untuk membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi putri ang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 KIDUNG PENENANG.
"Ada apa Mas?" Tanya Melati suaranya terdengar gelisah.
"Gak apa-apa dek, kau jangan mendekat kesini dulu!" Jawab Harto setengah meringis menahan sakit di telapak tangannya.
"Kau kenapa mas? Apa Restu melukaimu? Kenapa anak itu tiba-tiba menjadi agresif begini, setelah sekian lama dia selalu tenang!" Melati berjalan meraba-raba menghampiri suaminya.
"Sudah ku bilang, jangan kesini dulu. Nanti Restu bisa agresif lagi!" Imbuh Harto seraya merentangkan tangannya, menghalangi Melati supaya tak mendekat.
"Gak apa-apa mas, Restu tak akan melukai ku. Sini Restu sama mamah, gak apa-apa sayang. Kau akan aman bersama kami disini. Tak akan ada yang melukaimu." Bujuk Melati dengan lembut.
Perlahan sosok bertubuh kecil mendekati Melati. Tangan kecilnya meraih tangan Melati. Dengan penuh kasih sayang Melati mendekap sosok kecil itu, lalu ia bersenandung menyanyikan sebuah sebuah lagu dengan bahasa jawa untuk menenangkan sosok kecil yang ada di pelukannya.
Sumebyar ing sukmo madu sarining perwito. Maneko warno prodo, mbangun projo sampurno. Sengkolo tido mukso, kolobendu nyoto sirno. Tyasing roso mardiko...
Begitulah lirik kidung yang diucapkan Melati untuk menenangkan sosok kecil yang bernama Restu itu. Perlahan suara erangan menghilang, sosok Restu sudah tenang dan tak memberontak seperti sebelumnya. Sosok kecil yang tak terlihat jelas wajahnya seperti apa, kini direbahkan di atas dipan kayu tanpa alas. Tak ada kasur busa, bantal ataupun guling. Melati dan Harto berjalan mengendap supaya Restu tak terbangun dari tidurnya. Setelah menutup pintu, Harto langsung mengunci pintu itu. Mbak Ijah datang membawakan kotak P3K, lalu Melati membersihkan luka di telapak tangan suaminya.
Febi menoleh, melihat tangan Harto dibalut perban. Ia hanya mengangguk seakan tau sesuatu. Terdengar suara sendawa, sepertinya Arum terlalu kenyang sampai ia tak kuat bangkit dari duduknya.
"Duh enak banget masakan si ibu kost. Aku sampai lahap makannya hehehe." Arum memegangi perutnya yang agak buncit.
"Lu benaran gak makan Put? Emang badan lu sakit banget ya?" Febi menatap Putri dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Iya Feb, nanti aku makan mie instant aja. Kayaknya seger deh kalau lagi sakit makan mie." Putri mencari alasan, supaya tak ada yang memaksanya menyantap hidangan yang ada di atas meja.
Melati dan Harto kembali ke meja makan. Keduanya nampak menyunggingkan senyuman, mereka meminta maaf karena tiba-tiba anaknya rewel.
"Maaf kalau jamuan malam ini kurang sempurna. Kami harus mengurus Restu dulu. Biasalah anak kecil kalau kemauannya gak dituruti pasti mengamuk. Ini tangan papahnya sampai terluka kena pecahan gelas." Pungkas Melati tersenyum ramah.
"Oh anak ibu namanya Restu? Bagus sekali bu namanya, pasti dia tampan seperti papahnya ya?" Celetuk Arum, dan Putri langsung menyikut lengannya supaya Arum tak banyak bicara.
Harto mengembangkan senyuman, ia mengatakan jika putra semata wayangnya lebih tampan dari dirinya.
Deeegh.
Putri menelan ludah kasar seraya memijat pangkal hidungnya. "Putra semata wayang? Bukannya tadi mbak Ijah bilang kalau bu Melati merindukan anak-anaknya. Apakah anak-anaknya yang lain bukanlah anak bu Melati bersama pak Harto? Lantas dimana anak itu sekarang? Apalagi tadi mbak Ijah juga bilang kalau aku pernah melihat mereka!" Batin Putri di dalam hatinya penasaran.
Putri mengacak rambutnya kasar, karena isi kepalanya benar-benar kacau. Kedatangannya ke kota yang awalnya untuk menelusuri kematian kakaknya, justru berujung dengan misteri-misteri yang terjadi di sekitar nya.
"Terima kasih ya bu, kami pamit dulu karena Putri gak enak badan dan gak selera makan. Tapi tenang aja, Putri sudah menghabiskan segelas teh hangatnya." Kata Febi tersenyum miring melihat Melati, lalu menganggukkan kepala.
"Baiklah kalau begitu, yang terpenting ada yang masuk ke dalam perutnya. Istirahatlah Put, semoga malam ini kau dapat bermimpi indah ya." Pungkas Melati seraya berjalan ke depan, mengantarkan ketiga gadis itu sampai depan pintu.
Setelah ketiganya pergi, Harto menghampiri istrinya. Ia mengatakan langkah apa yang akan mereka ambil selanjutnya.
"Restu sudah terlalu lama menunggu, apa kita harus menundanya lagi?" Harto menatap wajah Melati dengan penuh tanya.
"Entahlah mas, masih ada beberapa bulan lagi untuk penyempurnaan. Tapi sementara kita bisa memberikan obat untuknya. Supaya Restu tak agresif seperti tadi. Mungkin lusa, obatnya baru bisa tersedia. Apa kali ini kau sendiri yang akan mengambil obatnya?" Tanya Melati.
Harto menghembuskan nafas panjang seraya memijat pangkal hidungnya.
"Menurutmu bagaimana baiknya dek? Apa tak masalah jika aku yang melakukannya? Kapan kau merencanakan semuanya?" Jawab Harto kembali bertanya.
Melati mendekatkan bibirnya ke telinga Harto. Ia membisikkan sesuatu pada suaminya. Terlihat Harto menyunggingkan senyuman seraya menganggukkan kepala.
"Kau sangat pintar dek, sebelum obat yang paling manjur untuk Restu ada. Kau sudah menyiapkan obat cadangan untuknya. Semoga semuanya lancar sesuai rencana kita!" Harto memeluk Melati dengan raut wajah bahagia.
"Tapi mas... Terkadang aku tak kuat menghadapi kenyataan. Bagaimanapun aku adalah ibu yang telah melahirkan nya. Namun aku juga yang telah membuatnya susah, dengan menjadi budak abadi Ratu Shima Saraswati."
"Sssttss... Pelankan suaramu Melati! Jangan biarkan naluri mu menguasai pikiranmu. Semua sudah ditentukan, bahkan kau sudah memiliki penerus. Yang dapat menjalankan semua yang kau wariskan kelak. Kita hanya cukup membuat Restu seperti anak-anak yang lainnya, supaya ia juga mendapat kepercayaan dari junjungan kita." Ucap Harto seraya menyeka air mata Melati.
"Kau benar mas, meski aku tak menyerahkannya, Ratu Shima Saraswati juga akan menemukan nya. Dan ia pasti akan menjalani takdir sesuai garis tangannya."
Tap tap tap...
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Mbak Ijah berjalan dengan membawa dupa dan bunga tujuh rupa. Semuanya tertata rapi di atas nampan yang ia bawa.
"Kita mulai dari awal saja bu, supaya lusa nanti semuanya dapat berjalan dengan sempurna. Seperti yang sudah terjadi sebelumnya. Semua akan terlihat murni tanpa ada campur tangan siapapun." Mbak Ijah berjalan ke belakang rumah, ia meletakkan sesajen itu di bawah pohon besar.
Terlihat Melati dan Harto mengikuti setiap gerakan yang mbak Ijah lakukan. Wanita berkebaya merah itu seperti sedang membaca rapalan mantra dengan gerakan seperti sedang menyembah sesuatu yang tak terlihat. Namun tiba-tiba terdengar suara-suara aneh, seperti suara langkah kaki yang mengendap pelan-pelan. Melati dan Harto saling menatap, mereka saling memberikan isyarat. Keduanya bangkit berdiri, meninggalkan mbak Ijah yang sedang fokus dengan dunianya sendiri.
Nampak bayangan hitam bersembunyi di balik pohon. Harto melangkah pelan, supaya ia dapat melihat siapa yang ada di balik pohon sana. Melati hanya menunjukkan jari, memberi kode pada Harto supaya ia memutar arah. Karena jika ia berjalan melalui depan, sosok yang ada di balik pohon itu dapat melihat wajahnya. Entah apa yang sedang mereka rencanakan. Dan siapa yang akan mereka sergap dengan cara sembunyi-sembunyi seperti itu. Sunyi. Tak ada suara apapun disana, hanya terdengar suara binatang malam yang mengisi kekosongan ruang hampa. Asap tipis mulai mengepul ke sekeliling arah, menambah kesan wingit di tempat itu.
tapi tetep keren dan bagus kok ceritanya /Smile/ /Good/
ku tunggu novel baru.ny tentang wati..