"Mama akan menikah."
Kalimat itu menghantamku tanpa aba-aba.
"Aku tidak setuju, Ma..."
Suaraku bergetar, berharap keputusan itu masih bisa berubah.
"Mama berhak bahagia, Amerta."
Kalimat sederhana itu seolah menjadi palu yang menghancurkan seluruh angan-anganku.
Amerta Bunga Adiguna.
Namaku dipanggil untuk menerima kenyataan yang tak pernah siap kuhadapi.
Di balik rumah yang diselimuti nuansa temaram, berdiri seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan yang sulit ditebak. Ia hanya mengamati jalannya acara dari kejauhan, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-kata.
Mahesa Putra Dirgantara.
Sosok yang kehadirannya perlahan mengubah seluruh jalan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bulane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 18
Mahesa berdiri mematung di tengah kamar Amerta yang kosong. Gema suara Ayah dan Mama yang baru saja memasuki rumah terdengar dari lantai bawah, merayap naik melalui celah koridor. Di tangannya, selembar kertas putih yang ditinggalkan Amerta di atas meja rias terasa begitu berat. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan Amerta yang rapi, namun setiap kalimat di dalamnya terasa seperti tamparan keras bagi ego Mahesa.
“Ma, Ayah, Amerta izin pergi malam ini. Seperti yang sudah Amerta bicarakan dengan Mama dan Ayah kemarin saat sarapan, Amerta ingin belajar hidup mandiri di dekat kampus agar tidak merepotkan rumah lagi. Amerta janji akan sering memberi kabar dan menjaga diri baik-baik. Tolong jangan khawatirkan Amerta. Terima kasih atas izin yang Mama dan Ayah berikan.”
Rahang Mahesa mengeras seketika hingga urat-urat di pelipisnya menegang. Sepasang mata birunya menggelap, memancarkan kombinasi antara murka yang tertahan dan rasa tidak percaya.
Amerta ternyata telah melangkah tiga langkah lebih maju darinya. Gadis itu tidak sekadar kabur dalam kepanikan; ia telah merencanakan pelarian ini dengan sangat matang dan legal. Amerta memanfaatkan momen kedatangan orang tua mereka beberapa hari lalu untuk meminta izin keluar dari rumah ini dengan alasan "hidup mandiri demi kuliah". Dan yang membuat dada Mahesa semakin bergemuruh adalah kenyataan bahwa Ayah dan Mama ternyata telah memberikan restu tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengannya.
Kepatuhan total, senyuman manis, dan perhatian yang Amerta tunjukkan selama empat hari terakhir sama sekali bukan karena mentalnya telah patah. Itu adalah taktik pengalihan isu yang sempurna. Amerta sengaja bersikap manis agar Mahesa lengah dan tidak mencurigai obrolan rahasianya dengan orang tua mereka di balik pintu yang terkunci.
Tok! Tok!
Pintu kamar yang terbuka sedikit diketuk dari luar. Mahesa dengan cepat menyembunyikan surat itu di balik telapak tangannya, memutar tubuhnya, dan langsung memasang topeng tenangnya yang biasa saat melihat Mama melangkah masuk ke dalam kamar.
"Lho, Esa? Kamu di sini?" Mama menatap sekeliling kamar yang rapi namun kosong. Senyuman lembut terbit di wajah wanita paruh baya itu. "Kamu mencari adikmu ya?"
Mahesa menekan gemuruh di dadanya, memaksakan seulas senyuman tipis yang tampak sangat natural. "Iya, Ma. Esa baru pulang dan melihat kamar Amerta kosong. Barangnya juga ada yang berkurang. Ada apa ya, Ma?"
Mama terkekeh pelan, melangkah mendekat lalu menepuk lengan tegap Mahesa. "Astaga, Mama lupa memberi tahumu. Kemarin lusa, Amerta bicara panjang lebar dengan Mama dan Ayah. Dia bilang, dia ingin belajar hidup mandiri. Dia sudah menyewa sebuah flat kecil di dekat kampusnya agar tidak perlu menempuh perjalanan jauh setiap hari, apalagi setelah dia sempat syok dan sakit kemarin. Dia merasa sudah dewasa dan ingin mandiri."
"Dan... Mama mengizinkannya?" tanya Mahesa, suaranya terdengar luar biasa tenang, namun jika seseorang mendengarkan dengan saksama, ada nada dingin yang menusuk di balik setiap suku kata.
"Tentu saja, Esa. Ayahmu bahkan sangat mendukung," sahut Mama dengan binar mata bangga. "Amerta itu anak yang kuat. Ayahmu bilang, tidak ada salahnya membiarkan dia belajar mengurus diri sendiri. Lagipula, tempatnya aman dan supir kita yang mengantar barang-barangnya tadi sore saat kamu masih di kantor. Amerta sengaja pergi malam ini karena besok pagi-pagi sekali dia ada kelas praktikum yang sangat penting."
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Mama terasa seperti siraman bensin pada api kemarahan di dalam dada Mahesa. Siasat Amerta benar-benar sempurna. Dengan melibatkan orang tua mereka dan mendapatkan izin resmi, Amerta telah mencabut hak akses mutlak yang selama ini Mahesa miliki. Mahesa tidak bisa lagi melacaknya secara agresif, menuduhnya hilang, atau menyeretnya pulang dengan paksa tanpa memicu kecurigaan dan pertanyaan besar dari Ayah. Amerta telah membangun dinding perlindungan hukum yang sah di sekeliling kebebasannya menggunakan restu orang tua mereka sendiri.
"Begitu ya, Ma," Mahesa mengangguk pelan, memasukkan tangannya yang mengepal kuat ke dalam saku celana. "Esa hanya... sedikit terkejut. Amerta tidak mengatakan apa-apa pada Esa sebelumnya."
"Ah, dia pasti lupa karena terburu-buru menyiapkan ujiannya, Esa. Kamu jangan berkecil hati ya. Sebagai kakak, kamu sudah menjaga dia dengan sangat baik saat kami tidak ada," ucap Mama menenangkan, sama sekali tidak menyadari badai kegilaan yang sedang mengamuk di dalam kepala anak tirinya. "Ya sudah, Mama mau ke kamar dulu ya, lelah sekali setelah acara tadi. Kamu juga segeralah istirahat."
"Baik, Ma. Selamat malam."
Begitu Mama melangkah keluar dan menutup pintu, Mahesa langsung meremas surat di tangannya hingga menjadi gumpalan kecil yang hancur. Matanya menatap tajam ke arah dinding kamar yang kosong. Amerta mengira dengan berlindung di balik restu orang tua mereka, dia telah benar-benar lepas dari sangkar emas ini. Gadis itu berpikir status "hidup mandiri" akan membuatnya tidak tersentuh.
Namun Amerta melupakan satu hal: dunia di luar rumah ini, kota tempatnya berpijak, dan bahkan universitas tempatnya belajar, berada di bawah bayang-bayang pengaruh Dirgantara Group.
Mahesa berjalan menuju jendela, menatap lampu-lampu kota yang gemerlap di kejauhan. Sudut bibirnya ditarik membentuk senyuman miring yang dingin dan mengerikan. Amarahnya yang tadinya meledak kini telah mengendap menjadi sebuah obsesi yang jauh lebih taktis dan berbahaya.
"Kamu pikir ka
mu sudah bebas, Amerta?" desis Mahesa ke arah kegelapan malam, suaranya mengalun bagai melodi kematian. "Kamu hanya berpindah dari satu sangkar ke sangkar lain yang ukurannya sedikit lebih besar. Nikmati kehidupan mandirimu selagi bisa... karena aku akan memastikan, ke mana pun kamu melangkah, setiap pasang mata yang kamu temui di luar sana adalah mataku yang sedang mengawasimu."