Claire, kepala pelayan mengalami kejadian tragis yang menimpa dirinya. Ia hamil.
Kehamilannya yang mengejutkan membuatnya sangat frustasi.
Kehadiran dua majikan pria yang sama-sama menginginkannya, membuat Claire tambah bingung dengan perasaannya Bisakah Claire melewati semua drama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black in Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Bunyi kaca jendela yang diketuk-ketuk membangunkan Claire dari tidurnya yang nyaman. Ia segera bangkit mengingat kalau Seth mungkin lelah bergelantungan disana demi bisa masuk pagi ini. Saat membuka tirai jendela, Claire bisa melihat kalau langit masih berwarna biru, fajar baru saja menyingsing. Ia membuka jendela dengan sangat perlahan dan membiarkan Seth masuk. Setelah Claire mengunci pintu, ia menatap Seth yang sudah berbaring di atas ranjang.
"Aku susah tidur semalam, di kamar sebelah tidak ada lampu dan aku tidak bisa tidur dalam gelap. Aku tidur sebentar disini, boleh? Menjelang kita pergi siang ini!"
"Kau Nictophobia?"
Seth menggeleng. "Aku hanya tidak suka, bukan tidak bisa. Selamat pagi Claire!" Dan Seth memeluk guling seerat mungkin lalu tertidur dengan cepat. Ia pasti juga sangat lelah.
Claire berbaring di sebelahnya, berharap kalau ia bisa melanjutkan tidurnya, sayangnya Claire tidak bisa melakukannya. Matanya terus terbuka karena menurut kebiasaannya, Claire tidak bisa tidur lagi jika sudah terbangun. Bunyi suara sibuk di dapur membuat Claire memutuskan untuk beranjak kesana. Ia membuka pintu dan mengusahakan agar bunyi deritannya tidak panjang. dengan cepat Claire menyisipkan tubuhnya dan berjalan menuruni tangga secepat yang dia bisa. Tapi kecepatannya mungkin menyamai gerakan tercepat kura-kura. Claire masih belum bisa bergerak dengan normal seperti yang biasa dilakukannya. Ia berjalan ke dapur sambil memegangi tembok dan melihat Alana sudah sibuk di dapur. Wanita itu memegangi sapu untuk menyapu genangan air yang memenuhi dapurnya. Hujan masih belum berhenti. Tinggal gerimis saja tapi cukup untuk membuat pagi terlambat datang.
Saat Claire memandangi jam di dinding, ternyata sudah pukul enam pagi. Ini adalah ukuran kesiangan untuknya. "Ada yang bisa ku bantu?" Desisnya saat melihat Alana kerepotan.
Alana menoleh kepadanya sejenak lalu menggeleng. "Kau duduk saja. Masih merasa lelah, kan? Aku sudah biasa melakukan ini. Bertahun- tahun aku tinggal sendirian dan selalu kerepotan jika hujan. Tapi aku tidak mau pindah saat Seth mengajakku. Aku mencintai tempat ini, sebuah rumah di pinggir
danau peninggalan suamiku tidak bisa kutinggalkan begitu saja. Bisa digusur oleh pihak yang mencari celah untuk membangun tempat wisata. Aku harap jika suatu saat nanti Seth sudah cukup mapan untuk mengendalikan segala usahanya dari jauh, kalian berdua bisa pindah kemari dan menjaga rumah ini untukku, aku tidak tau akan hidup berapa lama lagi." Claire mendesah halus. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa tentang ocehan Alana itu. Bagaimana mungkin Claire dan Seth bisa pindah kemari sedangkan mereka sama sekali tidak memiliki hubungan apapun.
"...bagaimana suamimu? Dia sudah bangun?"
"Tadi Seth bangun sebentar, tapi segera tidur lagi. Mungkin masih lelah!"
"Dia memang pemalas. Selalu bangun siang!" Alana menggeram lalu memandangi Claire sekali lagi. "Pakaian itu sangat pas denganmu."
"Terimakasih."
"Kalau begitu bawa pulang saja semua pakaian di lemari."
"Seth sudah memilihkan beberapa potong untukku, aku tidak bisa membawa pakaian selemari karena tidak akan bisa di muat di mobil Seth."
"Hari ini kau mau sarapan apa?"
"Roti panggang saja, kau punya pemanggang roti, kan? Aku akan membuatnya untukmu."
"Yah, kau sangat pengertian sekali, tapi biarkan aku yang melakukannya. Seth pasti sudah memperlakukanmu dengan buruk! Kau bisa memaafkannya kan?"
Dahi Claire berkerut. Alana mulai lagi, Seth sangat baik kepada Claire tadi malam, juga hari ini. Ia sudah memaafkan kejadian di stasiun dan mereka sudah berteman baik. Apa lagi yang perlu dimaafkan? Claire
tersenyum, hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun.
Seth turun dari lantai atas dengan gusar lalu mencari gelas untuk segelas air putih, beberapa saat kemudian ia kembali lagi ke atas dan turun membawa semua pakaian yang dipilihkannya untuk Claire. Seth meletakannya di dalam keranjang lalu menyiapkan setrika uap yang ada di dapur. Dengan sigap Claire berdiri dan berusaha mengambil setrika uap itu dari tangan Seth. Sayangnya Seth lebih tangkas, ia menolak dengan menjauhkan benda itu dari gapaian Claire.
"Kenapa kau yang melakukannya? Biarkan aku melakukan itu sendiri!" Claire menggerutu.
"Kau tidak bisa berdiri terlalu lama. Hanya beberapa potong, aku biasa melakukannya sendiri di apartemen. Jadi diam dan duduklah!"
Claire menghela nafas, "Mengapa tidak ada satupun dari kalian yang membiarkanku melakukan sesuatu. Aku terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga. Hal seperti itu bukanlah pekerjaan berat untukku!"
Alana menggeleng lalu tertawa. "Karena kau sedang mengandung. Kau masih butuh istirahat. Kalau ingin mengerjakan sesuatu, nyalakan televisi saja!"
Claire menggigit bibirnya. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa karena semua orang melakukan hal itu demi kebaikannya. Claire menyalakan televisi dan menonton berita pagi. Ada satu hal yang membuatnya tercengang. Sepertinya ramalan Alana benar tentang jalan yang rusak akibat badai. Ada beberapa pohon tumbang di dekat pegunungan dan itu adalah jalan satu-satunya menuju rumah. Claire dan Seth saling pandang, sepertinya mereka memang harus pulang besok, mereka tidak bisa bergerak kemana-mana hari ini.
"Apakah ramalan nenekmu tentang anakku juga benar?"
Seth menoleh kepada Claire yang duduk di sebelahnya. Mereka berdiam diri di balkon lantai atas untuk memandangi pemandangan danau Taupo yang sudah bercampur dengan atap-atap rumah lainnya. Gerimis masih terus berlangsung, belum mau berhenti. Langit mendung masih menggelayuti. Sepertinya malam ini akan turun hujan lanjutan.
--------------
author... udah Up 2 chapter☺☺☺