NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

REHAT SEJENAK

Beberapa jam kemudian, setelah menjalani pemeriksaan di rumah sakit, Nara dinyatakan mengalami keseleo tingkat sedang. Ia harus menggunakan penyangga kaki dan beristirahat dari latihan selama beberapa minggu. Berita itu seharusnya membuatnya frustrasi. Biasanya, satu hari tanpa basket saja sudah cukup membuat Nara merasa tidak tenang. Beberapa minggu terdengar seperti hukuman. Namun, ketika keluar dari ruang pemeriksaan, Naya sudah menunggunya bersama Reksa di lorong. Gadis itu masih mengenakan medali Nara.

“Kata dokter bagaimana?” tanyanya.

“Istirahat tiga minggu.”

Naya mengangguk puas. “Berarti tidak ada latihan selama tiga minggu.”

“Aku mungkin bisa sembuh lebih cepat.”

“Tidak.”

“Aku belum selesai bicara.”

“Pokoknya tidak boleh memaksakan diri.”

Nara menatap Reksa. “Adikmu terlalu mengatur.”

Reksa menyilangkan tangan. “Untuk kali ini, aku setuju dengannya.”

“Kalian bersekongkol.”

“Kakak bisa menggunakan waktunya untuk kegiatan lainnya,” kata Naya. “Seperti melanjutkan mempelajari bisnis dengan sepupu Kak Nara.”

Nara menghela napas betapa Ganendra akan besar kepala jika hal itu terjadi. “Aku lebih baik cedera tangan.”

Naya melotot. “Kak Nara!”

“Aku bercanda.”

“Jangan pernah mengatakan itu.” Sepasang mata Naya tampak berkaca-kaca karena menahan kekhawatiran.

Nara yang melihat kekhawatiran nyata di wajah Naya segera mengulurkan tangan dan menarik lembut ujung lengan jaket gadis itu. “Aku akan mengikuti nasihatmu dan dokter.”

“Benar ya?”

“Benar.”

“Tidak ada latihan diam-diam?”

“Tidak ada.”

Naya masih terlihat ragu.

Nara menambahkan, “Bukankah aku sudah berjanji tidak akan melakukan hal bodoh lagi?”

"Janji?" Naya menjulurkan jari kelingking kanannya kearah Nara seperti membuat pink promise.

"Aku berjanji." Nara menyambutnya dengan mengaitkan jari kelingking tangan kanannya.

Naya akhirnya tersenyum. Dalam perjalanan pulang, Nara duduk di kursi belakang mobil milik keluarga Reksa karena tidak mungkin mengendarai mobilnya sendiri. Ia sudah meminta Pak Andi untuk mengutus seseorang membawa mobilnya kembali ke rumah. Padahal ia bisa langsung pulang bersama Pak Andi, namun ia memilih bersama Naya, Reksa, dan Dimas. Ia sangat menikmati keberisikan ini setelah sekian lama hidup sunyi hanya bersama Ekky yang menemani dan mengerti. Naya duduk di sebelahnya, sementara Reksa berada di kursi depan dengan Dimas duduk di bangku supir. Ia tidak mungkin menjadi sepupu sekaligus junior durhaka membiarkan Reksa yang mengendarai.

Medali Nara masih berada di tangan Naya.

“Kapan kamu akan mengembalikannya?” tanya Nara.

Naya melihat medali tersebut. “Kakak ingin mengambilnya sekarang?”

“Bukan itu.”

“Lalu kenapa bertanya?”

“Aku hanya ingin memastikan kamu menyimpannya dengan baik. Karena untuk mendapatkan itu tidaklah mudah hingga aku cidera.”

Naya mengangguk. “Aku akan menyimpannya sampai kaki Kakak sembuh.”

Ia menyandarkan kepala ke kursi dan menatap jalan melalui jendela. Hari itu, ia tidak menjadi pencetak poin terbanyak. Ia tidak bermain hingga detik terakhir. Ia bahkan tidak mengangkat piala sendirian. Namun, pertandingan tersebut menjadi kemenangan terbesar dalam hidupnya. Nara belajar bahwa keberanian bukan hanya tentang terus bermain meskipun terluka. Terkadang, keberanian adalah menerima bahwa tubuh memiliki batas. Bahwa tim dapat bertahan tanpa dirinya. Bahwa kepercayaan tidak berarti mengambil seluruh tanggung jawab, melainkan memberikan ruang bagi orang lain untuk berdiri.

Dan di antara semua pelajaran itu, ia mendapat kepastian yang selama ini jauh lebih ia inginkan daripada pengakuan orang lain. Naya benar-benar menyukainya. Bukan sebagai pemain basket terkenal. Bukan sebagai kapten yang mengangkat piala. Melainkan sebagai Nara yang masih memiliki banyak kekurangan, tetapi bersedia belajar. Nara yang menemukan dunia barunya dimana ia mendapatkan ketulusan dan kasih sayang dari seorang seperti Naya.

Nara menoleh kepada Naya. Gadis itu sedang membaca tulisan pada medalinya. Tanpa mengatakan apa-apa, Nara mengulurkan tangan di antara mereka. Naya memandang telapak tangannya, kemudian tersenyum. Ia menyambutnya. Tangan mereka kembali saling menggenggam. Dari depan, Reksa melihatnya melalui kaca tengah. Namun, kali ini ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menggeleng pelan sambil menahan senyum.

Di luar mobil, hujan kembali turun. Tetesannya mengalir di permukaan jendela, membuat lampu-lampu kota terlihat seperti garis-garis berwarna yang bergerak. Nara teringat bagaimana semua ini dimulai dari tatapan yang salah. Dari dirinya yang melihat Naya memeluk lengan seorang lelaki dan memilih percaya pada prasangka sendiri.

Kini, ia memahami bahwa melihat tidak selalu berarti mengetahui. Bahwa mencintai seseorang bukan tentang merasa berhak atas seluruh penjelasan, melainkan berani bertanya, mendengarkan, dan percaya. Naya menggenggam tangannya sedikit lebih erat. Nara menoleh.

“Apa?” tanyanya.

“Tidak apa-apa.”

“Kamu melihatku.”

“Aku hanya memastikan Kakak tidak terlihat kesal karena harus istirahat.”

“Aku memang sedikit kesal.”

“Karena tidak bisa bermain basket?”

Nara mengangguk. “Tapi ada hal baiknya.”

“Apa?”

“Aku punya lebih banyak waktu ke perpustakaan dan fokus untuk persiapan menghadapi kelulusan. Aku juga Reksa, ingat, kita sudah kelas XII, sudah harus memikirkan masa depan.”

“Sialan, tolong jangan ingatkan itu!” Protes Reksa.

Naya menahan senyum.

“Kakak akan serius belajar mempersiapkan ujian kelulusan di perpustakaan?”

“Kalau duduk berhadap-hadapanan denganmu semuanya terasa lebih mudah dalam persiapannya.”

“Itu berarti Kakak masih hanya mencari alasan.”

Nara menatapnya dengan tenang.

“Kali ini aku tidak perlu mencari alasan.”

Naya mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena sekarang aku bisa mengatakan yang sebenarnya.” Nara menggenggam tangannya sedikit lebih erat. “Terima kasih sudah bersedia menerima perasaanku dan menjadi kekasihku.”

Wajah Naya memerah. Ia menoleh ke arah jendela agar Nara tidak melihat senyumnya.

Namun, pantulan kaca tetap memperlihatkannya. Nara tersenyum puas. Di depan, Reksa berdeham keras merasa dirinya dan Dimas menjadi obat nyamuk diantara sepasang insan yang sedang dimabuk cinta.

“Aku masih bisa mendengar pembicaraan kalian.”

“Kami tidak melakukan sesuatu yang salah,” jawab Nara.

“Belum saja.” Sahut Reksa. “Kita itu makhluk testoteron yang jika tidak dapat mengendalikan nafsu akan menjadi beringas seperti hewan. Awas saja kau Nara, jika sampai lepas kontrol sebelum waktunya.”

Naya tertawa kecil. Mobil terus melaju di bawah hujan. Dan untuk pertama kalinya, hubungan Nara dan Naya tidak lagi dibangun dari kebetulan, prasangka, atau jawaban sementara. Mereka belum tahu akan sejauh apa perjalanan itu membawa mereka. Mungkin akan ada pertengkaran lain. Mungkin akan muncul kesalahpahaman baru. Mungkin Nara akan kembali bertindak terlalu percaya diri, dan Naya akan kembali berpura-pura tidak peduli.

Namun, kini mereka telah memiliki sesuatu yang tidak mereka miliki sebelumnya. Keberanian untuk berbicara. Kesediaan untuk mendengarkan. Dan kepercayaan bahwa setiap masalah tidak harus berakhir dengan seseorang memilih pergi. Karena terkadang, kisah yang paling indah bukanlah kisah tanpa kesalahpahaman. Melainkan kisah tentang dua orang yang selalu memilih kembali, menjelaskan, dan memulai lagi. Bersama.

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!