NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Gerbang Istana yang Mencekam

***

Suara lengkingan bel panjang penanda berakhirnya kegiatan belajar-mengajar di SMA Pelita Bangsa sebenarnya sudah berbunyi sejak pukul dua siang.

Namun, jarum jam digital dipergelangan tangan Freya kini telah menunjukkan pukul lima sore lewat tiga puluh menit. Semburat warna jingga dari matahari yang mulai tergelincir ke ufuk barat menembus kaca helm full-face cadangan yang Freya kenakan.

Sore ini, Freya terpaksa pulang terlambat karena harus menyelesaikan proyek maket fisika kelompok di laboratorium sekolah.

Di bawah deru mesin yang menggelegar halus, motor sport berwarna merah metalik milik Rendy melaju mulus, berbelok memasuki kawasan komplek perumahan elit tempat kediaman keluarga Danendra berada.

Rendy memperlambat laju motornya saat mendekati gerbang besi hitam menjulang tinggi yang menjadi pembatas istana megah Danendra.

Begitu motor berhenti sempurna, Freya perlahan turun dari boncengan. Ia melepas helmnya, lalu menyerahkannya kembali kepada Rendy sembari menyunggingkan seulas senyum manis yang teramat tulus dari bibirnya.

Rasa lelah setelah mengerjakan tugas kelompok seolah sedikit terobati karena keramahan dan candaan jahil Rendy sepanjang perjalanan pulang.

"Thanks ya, Ren, jadi repot deh nganterin aku pulang”. Ucap Freya lembut, merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan.

Rendy terkekeh pelan, menggantungkan kembali helm cadangan itu di jok belakang motornya. "Sama-sama, Freya. Lagian tidak ada istilah repot untuk mengantar gadis secantik dirimu. Istirahat yang cukup ya, sampai ketemu besok disekolah."

Freya membalas Rendy dengan senyuman manisnya yang kian merekah.

Namun, kebahagiaan kecil di wajah cantiknya seketika membeku. Senyum di bibirnya langsung lenyap, digantikan oleh debaran jantung yang mendadak berpacu brutal dalam hitungan detik.

Bzzzt…

Suara deru mesin mobil mewah yang sangat akrab di telinganya terdengar mendekat. Dari arah belokan jalan komplek, sebuah mobil sedan Mercedes-Benz hitam mengkilap bergerak lambat, lalu moncong mobil itu berbelok memasuki area gerbang rumah tepat disamping posisi Rendy memarkirkan motornya.

Melalui balik kaca depan mobil, sepasang mata elang Galen yang dingin menangkap pemandangan yang paling ia benci dengan sangat jelas.

Galen, yang melarikan diri dari kantor lebih awal karena pikirannya diacak-acak oleh amarah tak jelas sepanjang siang, kini disuguhi visual dimana Freya sedang melemparkan senyuman termanisnya kepada bocah laki-laki yang tadi pagi merangkul pundaknya disekolah.

Melihat senyuman manis itu diberikan kepada orang lain, ada rasa panas yang teramat membakar berkecamuk didalam dada sang duda tersebut.

Aneh, ada rasa tidak rela yang sangat asing dan kecemburuan gelap didalam batin Galen. Ia merasa ego dan otoritas mutlaknya sebagai pemilik tunggal atas hidup Freya sedang diinjak-injak.

Galen mematikan mesin mobilnya dengan sentakan kaku, lalu mendorong pintu kemudi terbuka.

Pria itu melangkah keluar dari dalam kabin dengan aura membunuh yang teramat pekat. Kemeja formal hitamnya yang kancing atasnya terbuka dua buah menambah kesan dominan dan berbahaya pada postur tegapnya yang menjulang tinggi.

Tanpa memperdulikan kehadiran Rendy yang sempat menatapnya bingung dari atas motor, Galen membalikkan tubuhnya, lalu bersandar pada pintu mobil mewah miliknya sembari bersedekap dada.

Sepasang mata elang Galen yang tajam—dingin—menusuk langsung mengunci pergerakan Freya yang hendak melangkah melewati pos satpam. Tatapan itu seolah mereduksi pasokan oksigen disekitar halaman rumah yang luas tersebut.

"Anak gadis... jam segini baru pulang?". Suara bariton Galen membelah kesunyian sore dengan nada yang sangat rendah—berat namun sarat akan intimidasi yang mencekam.

Langkah kaki Freya seketika terhenti kaku diatas aspal halaman. Tubuhnya bergetar halus menerima hantaman aura mengancam dari pria yang paling ia takuti.

Rasa ngeri yang tertanam sejak masa kecilnya seolah kembali bangkit memeluk erat urat-urat sarafnya. Namun, Freya yang kini menginjak usia tujuh belas tahun mati-matian menekan rasa takut itu agar tidak terlihat lemah di depan Rendy yang masih disana..

Gadis tersebut mengepalkan tangan disamping rok abu-abunya, menarik napas panjang, lalu memaksa dirinya untuk tetap bersikap tenang dan mendongak menantang mata elang Galen.

"Hari ini aku ada tugas kelompok dilaboratorium sekolah, kak. Itulah kenapa aku pulang telat”. Balas Freya dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, mencoba menyusun pembelaan yang tidak mau kalah dihadapan Galen. "Aku tidak kelayapan seperti yang kakak tuduhkan. Aku pulang terlambat karena urusan nilai sekolah."

Mendengar jawaban pembangkangan yang terlontar dari mulut Freya, sudut bibir tipis Galen perlahan tertarik ke samping, menciptakan seulas senyum smirk yang teramat sinis dan dingin.

Galen meluruskan tubuh tegapnya, lalu melangkah maju—memangkas jarak diantara mereka hingga tubuh tingginya menutup seluruh cahaya matahari senja yang menyoroti tubuh Freya.

"Tugas sekolah?". Sindir Galen, suaranya merendah menjadi bisikan yang sangat kejam dan menusuk langsung ke batin Freya. "Atau tugas sekolah itu hanyalah alasan murahan mu agar bisa berduaan diatas motor dengan bocah ingusan itu, hah?".

Galen melirik tajam ke arah Rendy sekilas dengan tatapan membunuh yang membuat cowok populer sekolah itu merinding, sebelum kembali menghujam mata bulat Freya yang mulai berkaca-kaca menahan emosi.

"Kau lupa dengan peringatanku didalam mobil tadi pagi, Freya Anindita?". Desis Galen tepat didepan wajah cantik Freya, membuat Freya kembali menciut dibawah kuasa sang duda. "Jangan pernah membawa sampah luar ke dalam lingkungan rumah ini. Dan jangan pernah berani menatapku dengan mata lancangmu itu jika kau tidak ingin aku menghukummu".

Freya meremas tali tas ranselnya erat-erat hingga kuku-kukunya memutih. Di dalam hatinya, rasa takut yang amat besar bergejolak hebat beradu dengan rasa marah atas ketidakadilan sikap Galen.

Namun, di bawah tatapan elang yang menyeramkan dan dominan milik Galen pagi dan sore ini, keberanian Freya kembali runtuh. Gadis itu akhirnya memilih memalingkan wajahnya ke samping dengan pasrah, menunduk kaku menahan tangisnya agar tidak pecah.

Rendy yang menyadari situasi tersebut semakin tidak kondusif dan mencekam, akhirnya mencoba membela Freya.

“Maaf kak, apa yang dikatakan Freya benar. Maaf, kalau saya ngantar pulang Freya sedikit terlambat. Tadi memang ada tugas di sekolah”. Ujar Rendy sedikit gugup.

Galen langsung menoleh. Rahangnya mengeras, dan sepasang matanya menyipit, mengunci pandangan ke arah Rendy bagai belati yang siap menghujam.

"Pulang!". Desis Galen. Suaranya datar, tanpa riak, namun sanggup membuat bulu kuduk merinding.

Rendy menghela nafas pendek, laki laki tersebut mengangguk. “Baik, kak. Kalau begitu saya pamit dulu”. Rendy menoleh ke arah freya. “Frey, aku pulang dulu ya, jangan lupa istirahat”.

Rendy menghidupkan mesin motornya dan melesat pergi, meninggalkan gerbang istana keluarga Danendra.

Sementara itu, Freya segera membalikkan tubuhnya dan melangkah cepat masuk kedalam rumah, berusaha melarikan diri dari tatapan elang yang menghujam punggungnya.

Galen tidak tinggal diam. Ia membiarkan pintu mobilnya tertutup rapat dan ikut melangkah masuk ke dalam rumah dengan ritme kaki yang lambat namun pasti.

Begitu melewati pintu utama, keadaan rumah berlantai dua itu terasa begitu sepi. Tidak ada suara dentingan cangkir teh di ruang tengah atau sapaan hangat yang biasanya menyambut.

Rupanya, Kirana belum pulang dari agenda arisan sosialnya, sementara Baskoro dipastikan masih sibuk dikantor untuk mengurus gurita bisnis peninggalan almarhum papa Freya yang diamanahkan kepadanya.

Rumah megah ini tak ubahnya menjadi sebuah sangkar emas yang sunyi, hanya menyisakan derap langkah Galen yang bergaung dingin diatas lantai marmer.

Freya menaiki anak tangga dengan sisa tenaga yang ia miliki. Rasa lelah setelah berjam-jam memeras otak di laboratorium sekolah, ditambah dengan hantaman psikologis dari Galen, membuat tubuhnya benar-benar kehabisan energi. Ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk berdebat dengan Galen.

Tujuan Freya hanya satu: masuk kedalam kamarnya, mengunci pintu, da mengistirahatkan batinnya yang terluka.

Cklek. Brak.

Freya menutup pintu kamarnya, melemparkan tas ransel sekolahnya ke atas sofa, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menundukkan kepala, memijat pelipisnya yang berdenyut perih sembari menghela napas panjang. Ia mengira dinding kamar ini akan menjadi pelindung sementaranya sore ini.

Namun, perkiraan Freya meleset jauh.

Brak!

Pintu kamar miliknya tiba-tiba terbuka lebar dengan satu hentakan kasar yang tak terduga. Freya tersentak, tubuhnya langsung menegak kaku di atas kasur. Sepasang matanya membelalak sempurna mendapati sosok Galen sudah berdiri di ambang pintu.

Pria tersebut tidak melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri yang berada di sebelah; ia justru memilih menerobos masuk kedalam wilayah pribadi Freya, menutup pintu di belakangnya dengan lambaian tangan yang kaku, lalu menguncinya dari dalam.

Klik.

Suara anak kunci yang berputar itu terdengar seperti vonis mati di telinga Freya. Rasa takut seketika merayap—mencengkeram seluruh aliran darahnya saat melihat Galen berjalan mendekat ke arahnya dengan aura berbahaya. Wajah tampan pria itu mengeras sempurna, memancarkan kilat amarah yang tidak lagi bisa diredam oleh logika dewasanya.

"Kak Galen! Apa yang kakak lakukan di kamarku?!". Pekik Freya, suaranya bergetar hebat. Ia secara refleks bergeser mundur ke tengah kasur, mencoba menciptakan jarak dari pria yang kini berdiri menjulang di tepi tempat tidurnya. "Keluar, kak! Ini kamarku!".

"Keluar?". Galen mendengus sinis, seulas senyum smirk terukir di sudut bibirnya. Ia membungkuk, menumpu kedua tangan kekarnya di atas kasur, mengurung pergerakan Freya di bawah kungkungan tubuh tegapnya yang besar. "Kau pikir kau punya hak untuk mengusirku di rumahku sendiri, Freya? Sifat pembangkangmu hari ini benar-benar sudah melampaui batas kesabaranku!".

"Aku tidak membangkang, kak!". Balas Freya, mencoba menyuarakan alasan aslinya dengan sisa keberanian yang ada meski air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku sudah bilang berkali-kali! Aku pulang terlambat karena harus menyelesaikan proyek maket fisika bersama kelompokku! Rendy hanya berbaik hati mengantarku pulang! Kenapa kakak tidak pernah mau percaya padaku?!".

"Karena dari mulut manis pembawa sial sepertimu, tidak ada satupun kata yang bisa kupercaya!". Bentak Galen, suaranya merendah menjadi bisikan yang teramat kejam.

Pikiran Galen sudah benar-benar hilang kendali. Obsesi gelap, rasa tidak rela melihat Freya tersenyum pada pria lain, dan kebencian atas kematian istrinya satu tahun lalu berbaur menjadi satu keos di dalam otaknya.

Logika profesionalnya mati total sore ini. Yang tersisa hanyalah insting monster yang ingin mengunci dan menghancurkan seluruh pertahanan diri gadis remaja di hadapannya.

"Kak, tolong dengarkan aku dulu… Hmmmptt—"

Kalimat pembelaan Freya seketika terputus di tengah jalan. Kata-kata yang hendak keluar dari bibirnya langsung dibungkam.

Tanpa memberikan aba-aba atau peringatan apa pun, Galen merangsek maju dan menyergap wajah Freya. Tangan besarnya mencengkram tengkuk gadis itu dengan kuat, sementara bibirnya langsung menubruk dan melum4t bibir ranum Freya dengan tiba-tiba.

Deg.

Jantung Freya seolah melewatkan satu detakan besar. Seluruh dunianya seketika runtuh dan berhenti berputar. Mata bulat indahnya membelalak sempurna karena keterkejutan yang teramat luar biasa yang belum pernah ia bayangkan seumur hidupnya.

****

1
Giarty gia
❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!