7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk pasangan suami isteri Mia dan Shendy membina rumah tangga, dan kebersamaan mereka selama ini kurang lengkap karena belum hadirnya buat hati di tengah-tengah kehidupan mereka
Shendy memang tidak mempermasalahkan hal itu, bisa hidup bahagia bersama sang isteri sudah cukup baginya namun berbeda dengan Mia, wanita itu selalu merasa kesepian dan sedih kerap kali membayangkan adanya kehadiran anak di rumah mereka
Bahkan Sendy kerap kali harus menghibur sang isteri setiap kali mendengar kabar berita kehamilan para sahabatnya
Shendy merupakan sosok yang penyabar dan sangat mencintai isterinya tapi rasa cintanya di uji ketika sang isteri mengungkapkan keinginan konyolnya pada Shendy hingga membuat pria tersebut marah besar dan terjadilah pertengkaran hebat diantara keduanya
Apakah keinginan konyol sang isteri hingga membuat Shendy yang penyabar itu marah besar?
Simak terus cerita selanjutnya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dianshen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
" Silahkan masuk nak, maaf karena kami tidak bisa membiayai pengobatan mu lagi dan terpaksa membawa mu pulang !" ucap pak Didin
Pak Didin membantu Sendy untuk duduk di kursi yang ada di ruang tamu
" Tidak apa-apa pak justru saya merasa berterima kasih banyak karena sudah sangat merepotkan keluarga bapak" ucap Sendy merasa tidak enak hati
" Tidak usah sungkan nak kami ikhlas kok menolong nak...!" Pak Didin bingung sendiri menyebut nama Sendy yang bahkan orangnya saja tidak tahu namanya sendiri
" Maaf karena saya masih belum mengingat siapa nama saya" ucap Sendy
" Tidak apa, pelan-pelan saja tuan jangan memaksakan diri nanti yang ada anda malah sakit kepala anda kumat lagi" Sahut Melati
" Iya, benar apa yang dikatakan Melati, sebaiknya pelan-pelan saja jangan terlalu dipaksakan" timpal bu Dedeh
" Iya bu" sahut Sendy
" Emmm.... bagaimana kalau untuk sementara waktu kami panggil kamu dengan nama nak Aden ?" tanya Pak Didin
" Aden?" beo Sendy
" Nama yang bagus pak " Ucap Melati setuju dengan nama yang diberikan pak Didin kepada Sendy
" Bagaimana, apa kamu setuju?" Pak Didin pun kembali bertanya kepada Sendy
" Emmm... saya setuju saja pak, nama Aden bagus juga" Jawab Sendy
" Dan kamu melati tolong jangan panggil saya tuan ya panggil Aden aja" Sendy beralih pada Melati
" Maaf tuan saya tidak berani kalau hanya memanggil nama saja itu tidak sopan namanya" Sahut Melati
" Yaudah kalau begitu terserah kamu mau panggil saya apa tapi jangan tuan ya rasanya kurang enak didengar" ucap Sendy
Melati pun bergeming seraya berpikir " Emm... bagaimana kalau saya panggil kak Aden aja?"
Sendy tersenyum " Iya saya setuju" Sahut Sendy
Sudah hampir satu bulan Sendy tinggal di rumah pak Didin dan tidak sedikit gunjingan para tetangga terdengar sampai ke telinga mereka
Sendy yang baru sembuh pasca sakit akibat kecelakaan itu kini sudah bekerja membantu pak Didin menggarap perkebunan jagungnya
" Nak Aden tidak usah capek-capek, nak Aden kan baru sembuh" tegur pak Didin karena Sendy nampak begitu bersemangat membantu pak Didin di perkebunannya
" Tidak apa-apa pak ya hitung-hitung olahraga" jawab Sendy
" Pak... kak Aden berhenti dulu kerjanya ayok sini kita makan dulu!" teriak Melati sambil meletakkan rantang yang dibawanya ke arah gubuk kecil yang ada di perkebunan tersebut
" Iya !" sahut Pak Didin sedikit berteriak
Pak Didin dan Sendy pun berjalan menghampiri Melati
" Loh ibumu mana enggak ikut ke sini?" tanya pak Didin yang tidak melihat keberadaan bu Dedeh
" Ibu sedang ke rumah Bu Zubedah pak" jawab Melati sambil membuka rantangnya
" Ke rumah bu Zubedah? tumben ibu datang kesana, ada acara apa memangnya?"
" Mau nikahan putranya pak si Dimas " jawab Melati dan pak Didin mengangguk mengerti
" Ayok pak, kak Aden dimakan dulu!" seru Melati
" Iya terima kasih " Sahut Sendy
" Loh kamu kok enggak ikutan makan?" tanya Sendy pada Melati yang malah sibuk dengan bibit-bibit tanaman yang baru saja ia beli
" Saya sudah makan kak tadi di rumah" jawab Melati dan Sendy pun hanya mengangguk mengerti
Selesai makan Sendy dan pak Didin kembali melanjutkan pekerjaannya sementara Melati pulang ke rumahnya
Sesampainya di rumah Melati mengerjakan pekerjaan rumah sambil menunggu ibunya yang belum juga pulang dari rumah bu Zubedah
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore pak Didin dan Sendy pun sudah pulang dari perkebunan
" Ibumu belum juga pulang Melati?" tanya pak Didin ketika mereka hendak makan malam
" Belum pak mungkin masih sibuk kali pak disana" jawab Melati sambil menyiapkan makan untuk pak Didin
" Memang acaranya kapan, bapak kok lupa ya?"
" Kalau tidak salah besok lusa pak!" jawab Melati
" Oh gitu, yaudah nanti selesai makan bapak susul kesana, kasihan juga ibu kalau pulang malam-malam sendirian"
" Iya pak" sahut Melati
Selesai makan pak Didin langsung berpamitan kepada Melati untuk ke rumah Bu Zubedah
" Titip Melati ya nak Aden, kalau dia bandel marahi aja!"
Melati langsung mencibikkan bibirnya kesal dengan sang bapak yang malah menitipkan dirinya pada Sendy
" Sendy kalian cuma berdua dirumah ini jadi jaga diri kalian dengan baik ya jangan sampai ada fitnah!" pesan pak Didin
" Iya pak, jangan khawatir Melati bisa jaga diri kok pak!" bukan Sendy yang menjawab melainkan Melati
Kini setelah kepergian pak Didin untuk menjemput isterinya dirumah yang berukuran tidak terlalu luas itu hanya tinggal Melati dan Sendy
Sendy memilih untuk masuk ke dalam kamar untuk beristirahat sedangkan Melati berada di dapur membersihkan piring kotor
Zegerrrrr
" Astaghfirullah!" Melati mengelus dadanya karena terkejut mendengar suara guntur
Malam yang tadinya nampak cerah tiba-tiba saja turun hujan
"Ya ampun bapak, pasti kehujanan di jalan" Melati jadi kepikiran bapaknya yang pergi ke rumah bu Zubedah
" Semoga aja bapak udah sampai rumah bu Zubedah" Doa Melati
Selesai mencuci piring Melati teringat dengan ruang tamunya yang terkadang suka bocor saat hujan deras
Tes
Tes
Tes
Benar saja setelah Melati memeriksa keadaan ruang tamu ada beberapa yang bocor, Melati pun kembali ke dapur mengambil beberapa baskom untuk menadangi tetesan air atas yang bocor
" Kau sedang apa Melati?" tanya Sendy yang baru saja keluar dari dalam kamar dan melihat Melati yang sedang meletakkan baskom di lantai
"Astagfirullah, kak Aden bikin jantungan aja tau enggak!" kesal Melati yang dibuat terkejut oleh suara Sendy yang tiba-tiba muncul di belakangnya
" Eh maaf kalau saya udah ngagetin kamu" ucap Sendy sedikit merasa bersalah
" Iya enggak apa-apa kak!" sahut Melati
" Itu kenapa kamu meletakkan baskom-baskom kecil itu dilantai?" tanya Sendy yang nampak aneh melihatnya
Melati terkekeh " Kak Aden enggak tahu ini untuk apa?" tanya Melati dan Sendy menggelengkan kepalanya
" Atap rumah ini banyak yang bocor kak jadi harus di tadangi!" terang Melati
" Oh begitu" Sendy pun mengangguk mengerti
" Sudah malam sebaiknya kamu istirahat saja biar bapak sama ibu kak Aden yang tunggu!" ujar Sendy ketika melihat melati menyibak tirai jendela
" Iya kak" sahut Melati
Melati pun berjalan menuju kamarnya namun belum sampai ke kamar tiba-tiba saja melati terpeleset karena ada genangan air yang tidak dia lihat di dekat pintu kamarnya
Bruk
" Aawww...!" Pekik Melati saat tubuhnya mencium lantai
" Melati kamu tidak apa-apa?" Sendy yang mendengar suara benda jatuh pun langsung bergegas mencari tahu dan betapa terkejutnya pria itu ketika melihat Melati yang sedang terduduk di lantai seraya meringis kesakitan
" Sakit kak!"jawab Melati meringis kesakitan
" Ayo kak Aden bantu berdiri!" Sendy pun mengulurkan tangannya namun Melati kembali terduduk karena merasa sakit di pergelangan kaki dan bokongnya akibat mendarat dengan kasar ke lantai
" Maaf ya Melati bukannya kak Aden beebyat tidak sopan bagaimana kalau kak Aden gendong ya sampai kamar?" Izin Sendy pada Melati takut dibilang lancang
Gadis yang baru menginjak 19 tahun itupun menganggukkan kepalanya
" Iya kak!" jawabnya pelan
Sebenarnya Melati nampak deg-degan tapi sebisa mungkin ia harus bisa mengendalikan hatinya jangan sampai jatuh cinta pada laki-laki yang bahkan ia tidak ketahui indentitas aslinya
" Maaf!" Ucap Sendy sebelum melingkarkan tangannya ke punggung dan kebawah lutut Melati
Tiba-tiba saja wajah Melati memerah ketika tubuhnya sudah melayang di udara dan berada di dalam dekapan seorang laki-laki dewasa yang begitu tampan dan mempesona
Melati pun menundukkan wajahnya malu berada begitu dekat dengan Sendy
Melati membantu membukakan pintu kamarnya dan setelah pintu terbuka Sendy pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar tersebut dengan Melati yang berada di dalam gendongannya
Brukk
" Aaaa!" Karena tidak hati-hati Sendy yang tidak tahu kalau ternyata kamar itupun lantainya ada yang basah membuat dirinya terpeleset dan akhirnya kedua-duanya pun terjatuh ke lantai dengan posisi Melati yang berada di bawah Sendy
Brak
Beberapa pasang mata melotot tak percaya dengan apa yang dilihatnya
" Apa yang sedang kalian lakukan?"
Deg