"Kak tunggu! Aku mau bilang sesuatu sama kakak. Aku udah lama nunggu waktu itu hanya buat bilang ... kak Adrian ... aku suka sama kakak," kata seorang gadis.
"Tapi aku di sini," kata seseorang yang duduk dipojokan taman.
Gadis itu ternyata salah mengucapkan nama. Ia ingin mengutarakan perasaannya pada cowok tampan yang bernama Adrian. Tapi ia malah bilang cinta pada Adnan, kembarannya Adrian.
Mereka memang sama persis, hingga tidak ada celah untuk membedakannya. Mereka sering salah dikenali oleh para gadis yang selalu berebut untuk mencari perhatian mereka. Sikembar memang sering membuat jebakan pada para gadis.
Bagaimana kisah sikembar selanjutnya? selalu bersama jebakan cinta sikembar ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
+22
Zia yang selalu mencari kesempatan untuk mendekati Adnan. Kali ini merasa punya kesempatan ketika melihat Adnan duduk sendirian di perpustakaan.
"Hai ...." kata Zia menyapa Adnan.
Tidak ada jawaban dari sapaan yang Zia lontarkan. Adnan hanya terdiam dan tetap fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan.
Zia menarik napas panjang. Ia sudah biasa mendapat perlakuan seperti ini dari Adnan. Jadinya, ia tidak ingin ambil hati dengan Adnan perlakuan Adnan yang menganggapnya seperti angin lalu saja.
"Boleh aku duduk di sini gak?" tanya Zia mencoba mencairkan suasana.
"Duduk aja, ini bukan milik pribadi," ucap Adnan tanpa melihat Zia sedikit pun.
"Huh, dasar Adnan dingin. Sekali dingin tetap aja dingin. Kapan hangatnya ya?" tanya Zia dalam hatinya.
"Kak Adnan. Kakak itu suka banget sama buku-buku sejarah kayak gini ya?"
"Suka."
"Papa aku juga suka, kak. Di rumah, papa punya koleksi buku sejarah lho."
"Oh," ucap Adnan sangat tidak ada tanggapan sama sekali.
Zia selalu kehabisan kata-kata ketika bicara dengan Adnan yang dingin. Tapi, hal itu yang membuatnya merasa sangat tertantang untuk selalu membuat Adnan banyak bicara dengannya.
Walau terkadang, ia harus merasakan rasa kesal ketika mencoba membuat Adnan berbicara banyak dengannya. Karena Adnan tidaklah mudah untuk diajak bicara.
"Kak Adnan, di mana kak Adrian ya?" tanya Zia mencoba berbicara lagi.
"Aku di sini," kata Adrian yang tiba-tiba datang.
"Yah, itu Adrian. Ian, bawa Zia bicara ketempat lain. Mungkin ia ingin teman bicara," kata Adnan pada Adrian.
"Gak kok kak, aku gak ingin teman bicara kok," kata Zia menolak dengan cepat.
"Kalau kamu gak ingin teman buat bicara, kenapa kamu terus saja bicara saat aku sedang baca buku barusan?" tanya Adnan dengan nada kesal.
"Itu karena ...."
"Sudahlah, mendingan kamu pergi cari tempat yang bagus buat ngobrol Adrian. Aku tidak ingin Zia ini menggangguku lagi," kata Adnan pada Adrian.
Adnan bangun dari duduknya. Lalu ia membawa semua bukunya berjalan menjauhi Adrian dan Zia.
"Maafkan Adnan ya Zia. Kamu harus tahu, kalau dia paling gak suka ada orang yang mengajaknya bicara saat ia sedang fokus dengan buku yang ia baca."
"Gak papa kak Adrian. Aku udah biasa kok mendapatkan perlakukan yang gak enak seperti ini dari kak Adnan. Jadinya, aku udah kebal dengan perlakuan yang tidak enak ini," kata Zia sambil memasang wajah baik-baik saja, padahal di hatinya tidak seperti yang wajahnya tunjukkan.
"Bagus deh kalo kamu udah kebal sama Adnan balok es itu. Kalau begitu, bagaimana kalau kamu kakak traktir minum es di kantin?"
"Gak usah kak. Aku gak papa kok. Jadi, kakak gak perlu traktir aku segala."
"Gak papa Zia. Hitung-hitung sebagai tanda permintaan maaf dari Adnan. Aku dan Adnan kan sama aja, gak ada beda," kata Adrian membujuk Zia.
"Ya udah deh. Ayok!"
Terkadang, Zia juga berpikir, apa bedanya Adrian dengan Adnan. Toh wajah mereka sama persis. Mau Adrian ataupun Adnan, rasanya sama aja, seperti jalan dengan satu orang yang sama, namun berbeda sifat saja.
"Mau pesan apa, Zia?" tanya Adrian saat mereka telah sampai di kantin. Sedangkan Zia, ia masih asik dengan pikirannya yang entah berjalan kemana.
"Eh, apa-apa ajalah kak, asalkan bisa di minum," kata Zia dengan pasrah.
"Air putih ditambah es, juga bisa diminum Zia. Apa kamu mau air putih aja?"
"Lah, jangan air putih kosong juga dong kak. Mana enak minum air putih kosong saat gak haus."
"Makanya kakak tanya sama kamu, kamu itu mau pesan apa?"
"Terserah aja."
"Yah ... pusing deh aku kalo gini. Ya udah deh, kakak samakan aja sama apa yang kakak pesan, gimana?"
"Terserah kakak aja deh," kata Zia lagi-lagi pasrah.
"Ya ampun. Apa gak ada kata lain selain kata terserah dalam dialog yang kamu ucapkan, Zia?"
"Kayaknya, gak ada deh kak," kata Zia sambil tersenyum.
"Ya udah, terserah kamu ajalah. Selagi kamu bahagia, kenapa gak?"
oh iya itu dia! terima kasih Kak Author! aku bisa menemukan judul dan cerita yang nanti aku buat!
mksih
Zia lebih cocok sama adrian yang lebih supel karna keliatannya zia pendiam, sedangkan adnan cocok sama cewek kaya ganisa karna punya hobi yang sama 😊