Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Silsilah Tersembunyi di Bawah Selimut
Malam semakin larut di kediaman Fiorenza. Suara jangkrik di halaman belakang bersahutan dengan sisa gemericik air hujan yang menetes dari talang atap.
Setelah makan malam yang hangat bersama Pramono usai, Erica membawa Eshar menuju kamar masa kecilnya di lantai dua, kamar yang sudah bertahun-tahun tidak dia tinggali secara menetap.
Pintu kayu bercat putih itu mengayun terbuka. Kamar Erica tidak terlalu luas jika dibandingkan dengan kamar utama di rumah dinas perbatasan, apalagi kamar di Menteng.
Di dalamnya hanya terdapat sebuah meja belajar kayu tempat Erica merancang sketsa busana pertamanya, lemari dua pintu, dan sebuah ranjang besi antik berukuran single agak lebar yang dilapisi sprei katun bermotif bunga-bunga kecil.
Erica mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur di atas nakas, membiarkan ruangan itu diselimuti pendar keemasan yang hangat dan temaram.
"Maafkan kamarku yang ukurannya cukup sempit, ya, Eshar. Kasurnya juga tidak sebesar yang di barak atau di Menteng. Kalau kau tidak nyaman, aku bisa tidur di sofa depan." ujar Erica, suaranya terdengar canggung saat ia merapikan posisi bantal.
"Tidak ada yang boleh tidur di sofa, Erica." potong Eshar cepat.
Pria itu melangkah masuk, membuka kancing kemejanya satu per satu hingga menyisakan kaos oblong hitam yang mencetak jelas dada bidang dan bahunya yang kekar.
Kehadiran fisik Eshar yang begitu tinggi dan tegap seketika membuat kamar mungil itu terasa semakin sempit dan dipenuhi oleh aura maskulinnya yang kuat.
Eshar duduk di tepi ranjang, membuat kasur busa itu agak amblas oleh bobot tubuhnya.
Mata coklatnya menatap Erica dengan intensitas yang tenang tapi mampu membuat dada Erica berdebar tidak karuan.
Meskipun mereka sudah melewati masa-masa pemulihan yang intim di perbatasan, berada di atas satu kasur mungil tanpa dinding pembatas membuat rasa canggung kembali menyeruak di antara mereka.
Sebagai laki-laki normal, Eshar sebenarnya harus menahan diri dengan sangat kuat agar tidak melompati batas integritas yang dia jaga.
Erica menelan ludahnya halus, lalu perlahan naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya di sisi dalam, dekat dinding.
Eshar menyusul berbaring di sampingnya.
Karena ukuran kasur yang terbatas, tubuh mereka mau tidak mau saling menempel rapat. Bahu tegap Eshar bersentuhan langsung dengan lengan halus Erica.
Hangatnya tubuh sang Jenderal merembes menembus piyama katun tipis yang dikenakan Erica, ditambah lagi aroma maskulin khas Eshar langsung memenuhi seluruh indra penciumannya.
Suasana hening yang terjadi begitu intens, diwarnai oleh deru napas mereka berdua yang sama-sama berpacu lebih cepat dari biasanya.
Untuk mengusir suasana yang terasa sangat tegang dan canggung itu, Eshar mendadak memiringkan badannya ke samping, menumpu kepalanya dengan tangan kanan sembari menatap wajah manis Erica dari jarak hanya beberapa senti.
"Erica," bisik Eshar, suaranya yang berat bergaung di dalam kamar yang remang itu.
Erica mendongak, menatap manik mata suaminya.
"Ya, Eshar?"
"Ada beberapa rahasia besar yang belum sempat kuceritakan padamu di perbatasan," ujar Eshar perlahan.
Tatapannya menerawang jauh, seolah sedang membuka lembaran kitab tua yang sengaja dikunci rapat dari dunia luar.
"Tentang Kak Viona... dan mengapa statusku di keluarga Megantara begitu rumit."
Erica memiringkan tubuhnya menghadap Eshar, membiarkan kehangatan tubuh mereka menyatu di bawah selimut wol yang sama. Rasa empati dalam jiwa Erica membuatnya mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Kau tahu bahwa Viona adalah kakak kandungku," kata Eshar, suaranya merendah.
"Tapi yang tidak diketahui oleh publik di Jakarta adalah bahwa Viona... sebenarnya adalah istri pertama dari Benny Megantara. Dan Kak Viona juga, orang yang mendirikan Megantara Corp."
Erica tersentak kecil, matanya membelalak kaget.
"Istri pertama Benny? Tapi bukankah dalam silsilah resmi, kau dicatat sebagai adik kandung Benny, anak bungsu dari kakeknya Daniel?" tanya Erica yang sedang shock.
Eshar mengulas senyum pahit yang misterius.
"Itu adalah kebohongan besar yang dirancang oleh kakeknya Daniel untuk menutupi aib dan menjaga nama baik keluarga. Saat Viona menikah dengan Benny puluhan tahun yang lalu, usiaku baru sepuluh bulan. Kedua orang tua kandung kami sudah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan di daerah Jawa Tengah."
Eshar mengusap pelan wajahnya dengan telapak tangannya yang kapalan.
"Kak Viona yang sangat menyayangiku itu, membawaku masuk ke dalam kediaman Megantara. Karena kakeknya Daniel tidak ingin ada desas-desus skandal tentang adik ipar bayi yang menumpang hidup di rumah anaknya, akhirnya beliau secara hukum menganggapku sebagai anak bungsunya sendiri. Secara kertas, aku adalah adik dari Benny. Tapi secara darah... aku adalah adik kandung dari almarhumah istri pertamanya yang tewas diracun."
Erica merinding mendengar kenyataan kelam itu. Potongan teka-teki misteri Megantara Corp kini terhubung sempurna.
"Artinya... pernikahan Benny dengan Bianca setelah kematian Viona adalah langkah mereka untuk menguasai seluruh harta dan jaringan yang sebenarnya milik garis keturunan Kak Viona?"
"Tepat," bisik Eshar, mata coklat itu berkilat dingin.
"Bianca sengaja menyingkirkan Viona agar dia bisa menjadi nyonya besar di Menteng. Dan mereka menyembunyikan status asliku agar aku tidak memiliki klaim hukum atas hak waris Viona."
Erica mengulurkan tangannya dari balik selimut, mengusap lengan tegap Eshar yang terikat otot-otot keras.
"Lalu... apa rahasia lainnya, Eshar?"
Eshar menatap lekat-lekat ke dalam mata jernih Erica.
Tangan kirinya bergerak perlahan, merapikan sehelai rambut hitam Erica yang menutupi dahinya dengan sentuhan yang sangat lembut.
"Rahasia ini berkaitan denganmu, Erica," bisik Eshar dengan nada yang mengejutkan.
"Sebenarnya... secara garis darah dari keluarga almarhum ibu kandungku, aku adalah sepupu jauh dari Pramono, ayahmu."
"Apa?! Sepupu jauh Papa?" Erica terpaku total.
Eshar mengangguk pelan.
"Ibu kandungku adalah sepupu satu tingkat dari nenekmu di bagian ayahmu. Hanya saja, ketika aku masuk ke dalam klan Megantara dan dibesarkan di lingkungan militer, aku menutup rapat-rapat seluruh identitas masa laluku demi keselamatan diri. Pramono sendiri tidak pernah tahu bahwa adik kecil dari sepupunya yang dulu hilang adalah pria yang kini berdiri sebagai Jenderal Eshar Megantara, sebagai suamimu."
Erica menatap suaminya dengan tatapan tak percaya sekaligus ada siratan rasa bersyukur.
Takdir yang merajut hubungan mereka ternyata jauh lebih dalam dan terikat rapat dari sekadar kontrak pernikahan dua tahun yang mereka sepakati di Jakarta.
"Jadi..." Erica menyunggingkan senyumnya yang paling manis, mencoba mencairkan keheningan yang dalam itu,
"...secara tidak langsung, Papa sebenarnya sedang memberikan sop buntutnya pada sepupu jauhnya sendiri malam ini?"
Mendengar candaan Erica, Eshar terkekeh pelan. Sebuah tawa renyah yang langka itu keluar dari mulut sang jendral membuat wajah tampannya tampak begitu menawan di bawah temaram lampu nakas.
Tangan tegap Eshar bergerak turun, melingkari pinggang ramping Erica dari balik selimut, lalu menarik tubuh langsing istrinya itu mendekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.
"Bisa dikatakan begitu, Istriku,"
"Dan sekarang... setelah semua rahasia ini kau ketahui, aku tidak punya alasan lagi untuk melepaskanmu dari kamar ini." bisik Eshar tepat di depan wajah Erica.
semoga msalaah yg ad bisa selesai satu persatu termasuk kematian viona
sperti ny mereka terlalu meremehkan sang jendral dan istrinya ,, 😒😒😒😒
😂😂😂😂
lanjut kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
syok gx tuh mata2ny ,, 😂😂😂😂