NovelToon NovelToon
Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Perjalanan Sang Alkemis Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: En zz

Shen yifan adalah seorang pemuda yang terobsesi dengan pembuatan pil, namun sayangnya, ia tidak bisa menjadi alkemis di dunia ini hanya karena menjadi manuisa cacat.

Banyak sekali kultivator. Namun orang-orang untuk menjadi seorang alkemis di dunia ini sudah sangat jarang di temukan, bahkan menjadi salah satu kemunduran mutlak.

Salah satunya, hampir di seluruh dunia ini hanya 000,1% para kultivator yang mempunyai element api.

Salah satunya adalah kakek Shen yifan.

Apakah Shen yifan bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi alkemis? Atau dia akan mengubah takdir secara tidak langsung, untuk menjadi alkemis sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon En zz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Lembah Kabut Roh End - Awal sebuah pertemuan

Sore hari perlahan mulai menyelimuti Lembah Kabut Roh.

"Hah..." Jian Chen menjatuhkan tubuhnya ke tanah sambil menatap langit. "Nona Bing... kenapa sih aku selalu kalah satu langkah darimu?"

Nangong Bingxue menyimpan tongkat kristalnya, lalu terkekeh pelan.

"Karena aku lebih rajin berlatih."

"Jawaban yang menyakitkan." Jian Chen menutup wajahnya dengan lengan. "Ini sudah kekalahan yang ke-99. Padahal aku seniormu."

Nangong Bingxue duduk di sampingnya sambil tersenyum tipis. "Senioritas tidak menentukan siapa yang lebih kuat."

Jian Chen menghela napas panjang. "Padahal tingkat kultivasi kita cuma terpaut satu tahap..."

"Justru satu tahap itu yang membuatmu selalu kalah," jawab Nangong Bingxue santai.

Jian Chen memiringkan kepalanya. "Menurutmu... kapan aku bisa menyusulmu?"

Nangong Bingxue berpura-pura berpikir sejenak, lalu tersenyum jahil.

"Mungkin... di kehidupan berikutnya."

"Kejam sekali!" Jian Chen langsung bangkit sambil memegangi dadanya. "Ucapanmu lebih sakit daripada jurusmu!"

Setelah beberapa detik dalam keheningan, mereka melihat kearah Shen Yifan yang sedang bermeditasi di bawah pohon besar.

"Nona bing... Aku semakin penasaran sama Yi Fan!" sahut Jian Chen tiba-tiba.

"Jangan selalu memikirkan variable seperti Yi Fan, selagi tidak merugikanmu... Aku juga penasaran. Tapi, aku lebih baik diam, karena setiap orang punya rahasianya sendiri!" jawab Nangong Bingxue tenang.

"Iya, seharusnya begitu... Aku tidak boleh memikirkan hal aneh kepada Yi Fan!" Jian Chen menganguk.

Jian Chen dan Nangong Bingxue melihat kearah tubuhnya, menjadi sedikit bercahaya. "Hmmm... Sebentar lagi kita akan di tarik paksa oleh Lembah ini!"

Nangong Bingxue mengangguk, ia sudah tahu. Karena hari semakin gelap, perburuan harta dan tanaman herbal sudah berlangsung lama. Jadi Lembah ini, akan menutup lagi selama belasan tahun.

Shen Yifan sedang fokus bermeditasi, tiba-tiba. "Uhukk!" Shen Yifan. (Sial, Dantianku sudah tidak sanggup lagi menyerap Energi Spiritual... Aku harus cepat-cepat menerobos ranah.) batinnya.

"Yi Fan, kamu tidak apa-apa?" Nangong Yue dan Jian Chen berlari kearah Shen Yifan, setelah tahu ia batuk darah.

"Ah, tidak apa-apa." Shen Yifan menggeleng pelan sambil menyeka darah di sudut bibirnya. "Aku hanya harus secepat mungkin menerobos ke ranah berikutnya. Dantianku sudah hampir mencapai batas."

Nangong Bingxue mengangguk pelan. "Jangan memaksakan diri. Kalau fondasimu rusak, akan sulit diperbaiki."

"Aku tahu." Shen Yifan tersenyum tipis.

Tiba-tiba, cahaya lembut menyelimuti tubuh mereka.

Bintik-bintik cahaya bermunculan dari tanah, lalu berputar mengelilingi mereka seperti kunang-kunang yang menari di bawah langit senja.

"Waktunya sudah tiba..." gumam Jian Chen sambil melihat kedua telapak tangannya yang mulai berubah menjadi partikel-partikel cahaya.

Nangong Bingxue menatap langit yang perlahan menggelap. "Lembah Kabut Roh telah menutup."

Dalam sekejap, tubuh mereka berubah menjadi aliran cahaya yang melesat ke angkasa.

"Whoosh!"

Satu per satu sosok mereka lenyap dari lembah, meninggalkan keheningan yang kembali menyelimuti Lembah Kabut Roh.

Kabut putih perlahan menebal, menutup setiap jejak keberadaan para kultivator, seolah tidak pernah ada seorang pun yang menginjakkan kaki di tempat itu.

Hingga belasan tahun kemudian... Lembah Kabut Roh kembali tertidur dalam kesunyian.

......................

Satu per satu para kultivator dari berbagai sekte yang memasuki Lembah Kabut Roh mulai bermunculan di tengah Desa Kabut pada malam hari.

"Sial! Aku tidak mendapatkan peruntungan sama sekali!" gerutu seorang kultivator sambil menendang batu di pinggir jalan.

"Jangan mengeluh. Setidaknya kau masih hidup," sahut rekannya sambil tertawa pahit.

Di sisi lain, beberapa kultivator tampak tersenyum puas.

"Haha! Kali ini aku berhasil mendapatkan Artefak Tingkat Tiga. Perjalanan ini tidak sia-sia!"

"Aku juga lumayan. Tiga batang Rumput Roh Seribu Embun dan satu Buah Api Scarlet kelas menengah. Kalau dijual, hasilnya cukup untuk berkultivasi selama beberapa tahun."

Ada pula yang hanya menggeleng kecewa. "Aku hanya menemukan beberapa tanaman herbal tingkat rendah. Bahkan biaya masuk ke Lembah Kabut Roh saja belum kembali."

Suasana Desa Kabut menjadi ramai. Sebagian kultivator saling memamerkan hasil buruan mereka, sebagian lagi langsung mencari pedagang untuk menjual tanaman spiritual dan artefak yang diperoleh. Tidak sedikit pula yang memilih segera meninggalkan desa dengan wajah muram, membawa pulang tangan kosong setelah mempertaruhkan nyawa selama berhari-hari di dalam Lembah Kabut Roh.

Meski demikian, bagi sebagian besar kultivator, mampu keluar dari Lembah Kabut Roh dalam keadaan hidup sudah merupakan sebuah keberuntungan.

"Woshh!"

Beberapa cahaya lainnya mulai mendarat. Itu adalah Shen Yifan, Jian Chen, Nangong Bingxue dan belasan Junior mereka.

Semua orang menatap Shen Yifan, karena dendam dan kesal setelah Shen Yifan mengambil dua batang Anggrek Jiwa langit, Tanaman Herbal tingkat tinggi.

"Itu dia!"

"Bocah yang mengambil dua batang Anggrek Jiwa Langit!"

"Gara-gara dia, kita semua pulang dengan tangan kosong!"

Kemarahan yang sempat terpendam kembali meledak. Puluhan pasang mata menatap Shen Yifan dengan penuh dendam. Beberapa kultivator bahkan mulai melangkah cepat ke arahnya, seolah ingin melampiaskan kekesalan mereka.

Namun...

Mereka baru mengambil beberapa langkah.

"Tap."

Nangong Bingxue maju selangkah ke depan. Tatapan dinginnya menyapu kerumunan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Seketika, suasana yang semula gaduh langsung membeku.

Aura dingin yang tak kasatmata menyelimuti seluruh area, membuat napas para kultivator terasa berat.

Di sisi lain, Jian Chen melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum tipis.

"Kalau ada yang ingin mencari masalah..." ucapnya santai, "...silakan maju satu langkah lagi."

Kalimat itu terdengar ringan, tetapi mengandung tekanan yang membuat wajah para kultivator memucat.

Mereka saling berpandangan, lalu tanpa sadar mundur beberapa langkah.

Tidak peduli seberapa besar rasa kesal mereka kepada Shen Yifan, tidak ada seorang pun yang cukup berani menyinggung seorang jenius Keluarga Nangong dan murid inti sekte besar di tempat terbuka.

Dalam sekejap, kerumunan yang semula penuh amarah menjadi sunyi. Yang tersisa hanyalah tatapan penuh iri dan dengki yang diarahkan kepada Shen Yifan.

"Terima kasih Kak Bing dan Jian Chen!" Shen Yifam menunduk, menangkupkan kedua tangannya.

"Haha, tidak masalah... Mereka tidak sadar diri dengan kemampuannya, jadi mereka sengat iri!" Jian Chen sambil memandang tajam kearah kerumunan itu.

Mereka tidak bisa berkata-kata. Ucapan Jian Chen ada benarnya.

Beberapa saat kemudian, kerumunan itu bubar.

"Hahahaha!"

Suara tawa keras terdengar dari kejauhan.

Seorang pria berjubah putih lusuh berjalan santai dari tengah keramaian sambil bertepuk tangan pelan.

"Menarik! Sangat menarik!" pria itu tersenyum lebar. "Sudah lama aku tidak melihat junior seberani ini membuat seluruh kultivator di Lembah Kabut Roh naik darah."

Rambut pria itu berantakan, sementara di pinggangnya tergantung kendi arak setengah kosong. Langkahnya terlihat malas, tetapi aura yang samar-samar terpancar dari tubuhnya membuat beberapa kultivator di sekitar tanpa sadar menjauh.

Tatapan matanya kemudian berhenti tepat pada Shen Yifan.

"Bocah..." sudut bibirnya terangkat. "Kau benar-benar berbakat membuat masalah."

Shen Yifan mengenali orang itu, pemuda lusuh yang membuat Luo Tian naik darah saat berada di gerbang spasial itu.

"Senior?" Shen Yifan mengerutkan keningnya, pura-pura tidak tahu.

"Hahaha!" Pria itu tertawa lebar sambil menepuk dada sendiri. "Namaku Mu Qian!"

Ia kemudian mengangkat satu jari dengan wajah serius, seolah hendak memperkenalkan sesuatu yang sangat penting.

"Mu berarti kagum..." Ia berhenti sejenak, lalu menunjuk dirinya sendiri dengan bangga. "...dan Qian berarti tampan!"

"Kalau digabungkan..." Mu Qian mengibaskan rambutnya yang sebenarnya acak-acakan. "Artinya, orang yang dikagumi karena ketampanannya!"

Suasana mendadak hening.

Jian Chen memijat pelipisnya. "...Siapa yang memberimu arti nama seperti itu?"

Mu Qian mengangkat dagunya tinggi-tinggi.

"Aku sendiri."

Shen Yifan dan Nangong Bingxue saling berpandangan. "Benar-benar tidak tahu malu," gumam Nangong Bingxue datar.

Tiba-tiba di belakang Mu Qian berdiri seorang pemuda berjubah hitam dengan wajah tanpa ekspresi. Tatapannya tenang, namun tajam. Shen Yifan langsung mengenalinya.

"Duk!"

"Ow!" Mu Qian langsung memegangi kepalanya sambil meringis.

"Siapa yang berani memukul wajah tampanku?!"

(Jadi dia... Pemuda yang mendapatkan satu batang Anggrek Jiwa Langit selain aku.) batin Shen Yifan, ia melihat Satu batang Anggrek sudah di tangan orang itu.

Pemuda itu melangkah maju beberapa langkah, lalu menangkupkan kedua tangan kepada Jian Chen, Nangong Bingxue, dan Shen Yifan.

"Maafkan tingkah rekanku."

Suaranya datar, tetapi terdengar tulus. "Namaku Ye Han."

Mu Qian langsung menunjuk Ye Han dengan wajah kesal. "Hei! Kenapa kau memukulku?"

Ye Han meliriknya sekilas. "Karena kau memalukan."

"..."

Mu Qian membuka mulut, tetapi tidak menemukan kata-kata untuk membalas.

Shen Yifan tidak dapat menahan tawanya. "Haha..."

Mendengar tawa itu, Ye Han akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Shen Yifan. Berbeda dengan wajah dinginnya tadi, sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis.

"Namaku Yi Fan." Shen Yifan ikut menangkupkan kedua tangan.

Ye Han mengangguk pelan.

"Aku mengenalmu."

Shen Yifan sedikit terkejut. "Mengenalku?"

"Ya."

Tatapan Ye Han tetap tenang. "Di saat semua orang sibuk bertarung memperebutkan Anggrek Jiwa Langit... hanya kau yang memikirkan cara mendapatkannya."

Ia berhenti sejenak. "Orang lain bertarung demi kesempatan. Anda... menunggu kesempatan itu datang."

Shen Yifan tersenyum tipis. "Itu hanya kebetulan."

Ye Han menggeleng pelan. "Bukan kebetulan, itu penilaian... Seseorang yang mampu tetap tenang ketika semua orang kehilangan akal... biasanya hidup lebih lama."

Mu Qian tiba-tiba menyela sambil mengangkat bahu. "Bahasanya mulai keluar lagi."

"Kalau Ye Han mulai bicara sepanjang ini, berarti dia benar-benar mengagumimu."

Ye Han melirik Mu Qian dengan tatapan datar.

"Diam."

"Iya, iya... Aku diam."

Mu Qian langsung menutup mulutnya sambil terkekeh.

Shen Yifan memandang keduanya bergantian. "Kalau boleh tahu... kalian berdua berasal dari sekte yang sama?"

Mu Qian langsung mengangguk cepat.

"Benar! Kami berasal dari Sekte Awan Hijau. Aku dan si balok es ini sudah bersama sejak kecil."

Ye Han menghela napas pelan. "Jangan salah paham."

"Hah?"

"Aku hanya tidak berhasil menyingkirkannya."

"..."

Mu Qian membeku beberapa saat. "Lho?"

Ye Han melanjutkan dengan wajah tetap datar. "Setiap kali kutinggalkan, dia selalu kembali."

Mu Qian memegangi dadanya dramatis. "Han... kata-katamu benar-benar melukai hati saudaramu sendiri."

Ye Han menatapnya sekilas. "Aku hanya menyampaikan fakta."

"..."

Mu Qian menghela napas panjang, lalu mengangkat kedua bahunya.

"Sudahlah... aku sudah kebal."

Ia kembali tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa. "Kalau dipikir-pikir, setiap hari aku memang dihina olehnya."

Ye Han menambahkan dengan nada datar. "Karena setiap hari kau melakukan hal yang pantas dihina."

"Han..." Mu Qian kembali memegangi dadanya. "Kau memang tidak pernah gagal menusuk hati orang."

Melihat tingkah keduanya, Shen Yifan hanya menggeleng sambil tersenyum kecil. "Hubungan kalian... cukup unik."

Mu Qian langsung tertawa. "Haha! Sudah biasa. Jangan lihat wajahnya yang dingin begitu. Dia memang berbicara seperti pedang, tapi orangnya sebenarnya cukup baik."

Ye Han tidak membantah.

Ia hanya memalingkan wajahnya ke samping, membuat Mu Qian kembali tertawa puas.

Jian Chen dan Nangong Bingxue saling berpandangan, lalu tanpa sadar ikut tertawa melihat tingkah dua pemuda itu.

"Haha... Kalian benar-benar pasangan yang aneh," ujar Jian Chen sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sudut bibir Nangong Bingxue juga sedikit terangkat. "Aku baru kali ini melihat seseorang bisa dihina terus-menerus, tetapi masih tersenyum."

Mu Qian mengangkat dadanya dengan bangga. "Itulah bakatku!"

Ye Han langsung menyahut datar. "Itu bukan bakat. Itu tidak tahu

malu."

"Han..." Mu Qian kembali memegangi dadanya dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat. "Tolong sisakan sedikit harga diriku."

Suasana yang semula tegang kini dipenuhi tawa ringan.

Namun, beberapa saat kemudian, Jian Chen menoleh ke arah para murid berjubah ungu yang sedang menunggu di kejauhan.

"Hmm... Sepertinya kami harus kembali."

Nangong Bingxue mengangguk pelan. "Para junior harus segera diantar pulang ke sekte. Kami tidak bisa terlalu lama berada di luar."

Jian Chen menatap Shen Yifan sambil tersenyum meminta maaf.

"Yi Fan, maaf. Awalnya aku masih ingin mengobrol lebih lama denganmu."

Nangong Bingxue ikut menangkupkan kedua tangannya. "Maaf. Lain kali jika ada kesempatan, kita bertemu lagi."

Shen Yifan membalas hormat dengan mengepalkan kedua tangannya. "Tidak masalah. Tugas kalian memang lebih penting."

Jian Chen tertawa. "Haha! Kalau begitu, sampai jumpa lagi."

"Sampai bertemu kembali," ucap Nangong Bingxue singkat.

Tanpa menunggu lebih lama, keduanya berbalik menghampiri belasan murid Sekte.

Tak lama kemudian, rombongan itu menaiki artefak terbang berbentuk perahu giok.

"Wush!"

Artefak itu melesat ke langit malam, berubah menjadi seberkas cahaya sebelum akhirnya menghilang di balik awan.

Shen Yifan mengangkat kepalanya, memandang ke arah langit sesaat, lalu mengembuskan napas pelan.

"Semoga perjalanan mereka lancar."

Kini, yang tersisa di tempat itu hanyalah Shen Yifan, Mu Qian, dan Ye Han. Suasana kembali hening.

Mu Qian tiba-tiba menepuk bahu Shen Yifan.

"Yi Fan, bagaimana kalau ikut kami saja?"

Shen Yifan memiringkan kepalanya. "Ikut ke mana?"

"Masuk sekte kami!" jawab Mu Qian penuh semangat. "Walaupun sekte kami kecil, suasananya menyenangkan. Makan gratis, tidur gratis, dan—"

Ye Han langsung menyela. "Jangan dengarkan penjelasannya."

Mu Qian terdiam seketika.

Ye Han menatap Shen Yifan beberapa saat. Tatapannya tenang, seolah sedang menilai sesuatu.

"Kau tidak tertarik dengan kekuasaan."

Shen Yifan mengangguk.

"Kau juga tidak terlalu peduli dengan artefak."

Shen Yifan terdiam.

"Yang benar-benar kau kejar..." Ye Han berhenti sejenak. "...adalah Alkimia Pil?"

Mata Shen Yifan sedikit membelalak. "Bagaimana kau tahu?"

Ye Han menjawab datar. "Dari caramu memperlakukan Anggrek Jiwa Langit. Orang biasa hanya ingin merebutnya. Kau justru memikirkan cara menjaga khasiatnya."

Shen Yifan terdiam lagi.

Ye Han melanjutkan, "Di sekte kami... Ada seorang Guru Pil Legendaris"

Mata Shen Yifan langsung berbinar. "Guru Pil Legendaris?"

"Ya."

Mu Qian buru-buru mengangkat tangan. "Eh... sebenarnya kalau dibilang legendaris sih—"

Tatapan Ye Han langsung beralih kepadanya.

Senyumnya tetap tipis. Namun entah mengapa, Mu Qian langsung menelan ludah. "...Maksudku... sangat legendaris!" katanya cepat sambil tertawa canggung.

Ye Han kembali menoleh kepada Shen Yifan. "Jika kau benar-benar ingin berjalan di jalan seorang alkemis, kurasa kau akan memperoleh banyak manfaat di sekte kami."

Shen Yifan terdiam cukup lama. Wajahnya dipenuhi pertimbangan.

Beberapa saat kemudian, ia menggeleng pelan. "Maaf... untuk saat ini aku belum berniat bergabung dengan sekte mana pun."

Mu Qian tampak kecewa. "Yah... sayang sekali."

Namun sebelum mereka sempat berkata apa pun lagi, Shen Yifan kembali membuka mulut. "Akan tetapi..."

Mata Ye Han sedikit menyipit.

"Jika aku berhasil menerobos ke Ranah Foundation Establishment..."

"...aku akan mempertimbangkan untuk bergabung dengan sektemu."

Mendengar jawaban itu, sudut bibir Ye Han kembali terangkat membentuk senyum tipis.

"Itu sudah lebih dari cukup."

Mu Qian pun langsung kembali bersemangat. "Bagus! Kalau begitu kami tunggu. Jangan sampai kau mengingkari ucapanmu!"

Shen Yifan tersenyum kecil sambil mengepalkan kedua tangannya.

"Tentu. Selama takdir masih mempertemukan kita lagi."

Beberapa menit kemudian. Setelah berbincang beberapa saat lagi, Shen Yifan, Ye Han, dan Mu Qian pun berjalan menuju sebuah penginapan kecil di Desa Kabut. Malam itu mereka memilih beristirahat untuk memulihkan tenaga setelah seharian bertarung dan menjelajahi Lembah Kabut Roh.

Esok pagi, Shen Yifan berencana untuk pulang lebih awal ke kota istana langit, ia akan membuat Pil Grade tiga. Pil Foundation Establishment.

1
obeng min
mantap
sitanggang
hadeuhhh lemah bgt🙄
obeng min
lanjut💪💪💪💪💪
obeng min
💪💪💪👍👍👍👍
obeng min
upnya lama
obeng min
👍👍👍👍💪
obeng min
lanjut 💪💪💪💪💪
obeng min
manatap perbanyak upnya 🤣🤣💪💪👍👍👍
Jhon Saanz
up bang
obeng min
josss👍👍👍👍👍
Andi Akhasay: Liat ceritaku kak
total 1 replies
obeng min
lanjut👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!