Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15: Runtuhnya Topeng
System Glitch
Waktu: 09:10 AM
Udara di dalam ruang direktur utama itu mendadak berubah menjadi panggung teater yang sangat menegangkan.
Menjawab laporan Liam dari balik pintu, Stella menarik tubuhnya menjauh dari Neo. Senyum kemenangan tercetak jelas di bibirnya.
"Ah, sepertinya pertunjukan utamanya sudah dimulai. Biarkan mereka masuk!" serunya dengan nada ceria yang sengaja dibuat-buat.
Pintu ganda itu terbuka lebar. Empat orang petugas kepolisian berseragam lengkap melangkah masuk, dipimpin oleh seorang inspektur berwajah tegas.
Namun, yang membuat pemandangan ini semakin epik adalah siapa yang mereka bawa.
Di belakang sang inspektur, dua petugas tampak menggiring paksa Paman Arthur dan Chloe kembali masuk ke dalam ruangan.
Rupanya, pelarian paman dan keponakan itu belum sampai ke mana-mana. Mereka dicegat tepat di depan pintu lift lantai 40.
Arthur terlihat sangat berantakan, masih memeluk erat kardus barang-barangnya dengan wajah pias dan napas memburu. Di sebelahnya, Chloe menunduk dalam-dalam, berusaha menyembunyikan kepanikannya.
Kehadiran rombongan dadakan ini langsung memecah ketegangan pekat yang sempat tercipta antara Stella dan Neo.
Di koridor luar, para staf mulai berkerumun, berbisik-bisik heboh melihat polisi menyeret mantan petinggi mereka kembali ke 'TKP'.
"Arthur Rosewood?" Inspektur itu berbicara dengan suara lantang, menatap pria paruh baya yang kini wajahnya sudah sepucat mayat.
"Kami membawa surat perintah penggeledahan dari Pengadilan Tinggi London atas dugaan penggelapan dana perusahaan dan pencucian uang. Dokumen dan perangkat kerja Anda di ruangan ini harus kami sita."
Kardus barang-barang yang sedang dipegang Arthur terlepas dari tangannya, jatuh berdebum ke lantai.
Isinya berhamburan tepat di dekat kaki Neo, tapi pria itu bahkan tidak repot-repot menyingkir.
"I-ini pasti ada kesalahan, Inspektur!" Arthur tergagap, keringat dingin mulai membasahi kerah kemejanya.
Ia menoleh dengan panik ke arah Stella.
"Keponakanku... dia yang merencanakan semua ini! Dia sedang tidak waras! Skandalnya kemarin—"
"Skandal saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan tiga rekening fiktif di Cayman Islands yang terdaftar atas nama istri simpanan Anda, Paman," potong Stella dengan nada luar biasa tenang dan elegan.
Stella bahkan tidak beranjak dari kursi kebesaran CEO-nya. Ia duduk bersandar dengan nyaman, menyilangkan kakinya yang dibalut celana palazzo hitam, dan menopang dagu dengan satu tangan.
Matanya memancarkan hiburan yang mutlak saat menonton kehancuran pamannya dari kursi baris paling depan.
Di seberang ruangan, Chloe yang sedari tadi terdiam kini otaknya berputar dengan kecepatan kilat. Adik tiri Stella yang licik itu tahu bahwa kapal Paman Arthur sedang tenggelam, dan ia tidak mau ikut karam.
Tujuan utama Chloe adalah harta warisan dan Neo Hayes Blake. Menempel pada paman yang akan masuk penjara sama saja dengan bunuh diri sosial.
Maka, dalam hitungan detik, Chloe mengeksekusi rencana cadangannya.
Gadis bergaun putih itu mundur beberapa langkah dari Arthur, menutupi mulutnya dengan kedua tangan, dan mulai mengeluarkan air mata yang sudah sangat terlatih. Ia membiarkan bahunya bergetar, menatap Arthur dengan pandangan tidak percaya.
"P-Paman... b-benarkah itu?" suara Chloe terdengar patah dan hancur, akting yang begitu sempurna.
"Paman menggelapkan uang perusahaan... di saat keluarga kita sedang berduka dan kesulitan? B-bagaimana Paman bisa sekejam itu pada Kak Stella dan keluarga kita?"
Arthur menoleh, menatap keponakan tirinya itu dengan mata terbelalak ngeri.
Ia tidak menyangka Chloe—yang baru sepuluh menit lalu mengusap dadanya dan merencanakan masa depan bersamanya—kini menikamnya dari belakang tepat di depan polisi.
"Chloe! Kau—kau saksinya! Kau tahu aku tidak bersalah!" teriak Arthur frustrasi.
"Aku tidak tahu apa-apa!" Chloe menangis semakin keras, tubuhnya seolah tak sanggup lagi berdiri.
Ia terhuyung mundur... dan dengan perhitungan yang luar biasa akurat, ia sengaja menjatuhkan dirinya ke arah Neo yang berdiri tak jauh darinya.
Chloe berharap pria bersetelan charcoal itu akan menangkapnya dengan refleks protektif, persis seperti pangeran yang menyelamatkan putri yang rapuh.
Namun, Neo Hayes Blake bukanlah pangeran. Ia adalah predator tanpa ampun.
Hanya sepersekian detik sebelum tubuh Chloe menyentuh lengan jasnya, Neo melangkah menyamping dengan gerakan yang begitu mulus, dingin, dan penuh rasa jijik.
Bruk!
Chloe jatuh tersungkur ke lantai dengan posisi yang sangat tidak anggun. Lututnya membentur lantai kayu dengan keras.
Neo menatap gadis yang merintih di bawahnya itu dengan pandangan sedingin es kutub utara. Hidungnya mengernyit samar. Aroma parfum floral manis dan murah yang dipakai Chloe membuat perut Neo mual.
Sangat kontras dengan aroma White Tea & Peony yang menenangkan yang sedari tadi memenuhi paru-parunya dari arah meja direktur.
"Jangan pernah mencoba menyentuhku," suara Neo serak, rendah, dan sangat mematikan.
Pria itu bahkan tidak repot-repot mengulurkan tangan untuk membantu. "Atau aku sendiri yang akan mematahkan tanganmu, Nona Rosewood."
Chloe mendongak, wajahnya merah padam menahan rasa malu yang luar biasa. Air matanya kini keluar bukan karena akting, melainkan karena harga dirinya yang hancur berkeping-keping di depan banyak orang.
Sementara itu, dari kursi CEO-nya, Stella harus menggigit bibir bagian dalamnya keras-keras agar tidak tertawa meledak melihat pemandangan epik tersebut.
Rasakan itu, Ular Kecil, batinnya kegirangan.
Sambil membiarkan polisi mulai menyita komputer dan memeriksa dokumen yang berhamburan dari kardus Arthur, Stella memutuskan bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk memeriksa perkembangannya. Di kehidupan sebelumnya yang sibuk, ia sangat suka melihat grafik progres.
"Vix," bisik Stella pelan di dalam pikirannya.
"Tampilkan Jendela Statusku. Aku mau tahu sudah sejauh mana aku mengumpulkan poin di dunia gila ini."
[ Ding! ]
[ Membuka Jendela Status Host... ]
Sebuah layar holografik biru yang cukup besar tiba-tiba muncul di udara, tepat di depan wajah Stella.
Layar transparan itu tentu saja tidak bisa dilihat oleh siapa pun di ruangan itu selain dirinya.
To be Continued