WARNING!! Novel ini mengandung Emosi Jiwa😎Jadi Komenlah sesuka hati kalian, jika itu pada pemeran😁
Maya harus menikah dengan pria dingin dan kejam bernama Carlen. Mereka terpaksa menikah karena permintaan sang kakek, dari Carlen.
Namun, siapa yang menyangka. Jika pernikahan Maya harus melalui banyak cobaan dan terjangan badai. Bukan hanya dari suami dan mertuanya saja, tapi dari pihak ketiga juga.
"Aku tidak akan pernah, mencintaimu! Dasar kau wanita rendah!" geram Carlen sambil mendorong tubuh Maya hingga jatuh dan mengenai pecahan beling.
Apakah rumah tangga mereka akan langgeng? Apakah cinta akan tumbuh di hati Carlen untuk Maya? Dan apakah, Maya bisa bertahan demi cintanya?
Simak hanya di Novel ini yuk!! JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN BESTIE🙏🏻😘DAN KOMENLAH YG BIJAK
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisyah az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Berbeda
Happy reading......
Kemudian Rania dan Maya berjalan ke arah mama Gisel, sedangkan Maya hanya menundukkan kepalanya, karena jam juga sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi, tapi dia belum turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan.
"Mama, tumben ke kamarnya Rania? Ada apa?" tanya Rania pada sang mama.
Wanita itu terdiam, kemudian dia menatap ke arah Maya, sedangkan yang ditatap hanya menundukkan kepalanya saja. Maya berpikir, mama Gisel pasti akan memarahinya, karena dia telat untuk turun ke lantai bawah.
"Maafkan Maya, Mah. Maya telat turun ke lantai bawah. Kalau begitu Maya duluan," ucap wanita cantik itu, kemudian dia berjalan keluar kamar adik iparnya.
Namun baru saja dia di perbatasan pintu, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat mendengar ucapan dari mama mertuanya.
"Terima kasih, sudah mengajarkan Rania mengaji dan agama," ucap mama Gisel.
Maya dan Rania tentu saja sangat kaget. Mereka menatap ke arah mama Gisel serempak, kemudian wanita paruh baya itu mendekat ke arah Maya lalu memegang pundaknya.
"Saya merasa telah gagal menjadi orang tua, karena tidak pernah mengajarkan anak saya mengaji dan shalat. Yang saya ajarkan hanyalah mengejar harta dunia, tapi mendengar penjelasan kamu tadi, saya sadar, jika tidak ada yang abadi di dunia ini. Kamu sudah membuka mata hati saya Maya," jelas mama Gisel.
Rania yang mendengar itu langsung memeluk tubuh mamanya. Dia senang saat melihat mamanya bersikap baik kepada Maya. Rania rasa, itu adalah awal yang baik untuk hubungan mereka. Setidaknya sebelum Carlen yang sadar, maka harus mamanya terlebih dulu untuk menjadi benteng bagi Maya.
"Rania senang sekali, karena Mama sudah berpikir lurus. Oh iya, boleh 'kan Rania memakai jilbab seperti Mbak Maya?" tanya Rania pada sang mama.
Wanita itu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja! Kenapa Mama harus melarang, itu demi kebaikan kamu juga bukan?"
Setelah itu, Maya pamit ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan. Sementara mama Gisel mengajak Rania untuk jogging sebelum hari juga mulai panas.
.
.
Sementara di lantai atas, pasangan pengantin baru sedang bersiap-siap untuk lantai bawah. Freya juga menggunakan dress yang sedikit terbuka, karena dia ingin memperlihatkan tanda cinta permainan mereka semalam kepada Maya.
Wanita itu ingin menunjukkan, jika dialah ratu satu-satunya di hati dan juga kediaman Dalmiro, bukan Maya. Dan Freya juga ingin menunjukkan kepada Maya, jika dialah yang memiliki Carlen sepenuhnya.
"Oh ya, sayang, nanti siang aku mau shopping. Aku minta uang ya," ucap Freya sambil mengalungkan tangannya di leher kekar milik Carlen.
"Tentu saja. Nanti aku transfer ya. Ingat, kamu kalau mau pergi sama cewek. Ketahuan sama cowok, awas kamu ya!" ancam Carlen sambil menoel hidung Freya.
"Ya ampun, sayang, bagaimana mungkin bisa aku jalan bersama seorang pria? Ada-ada aja kamu, suamiku." Freya bersikap manja kepada Carlen, walaupun dia tidak pernah mencintai pria itu.
Kemudian mereka pun turun ke lantai bawah sambil bergandengan tangan, dan menuju ruang makan, di mana saat ini Maya sedang menata makanan di atas meja. Namun saat melihat Carlen, dan juga Freya menuju ke sana, Maya hanya cuek saja.
Tak lama Rania dan juga mama Gisel pun baru pulang, kemudian mereka langsung menuju meja makan untuk sarapan. Namun tatapan Rania mengarah kepada leher jenjang milik Freya, di mana banyak sekali tanda kepemilikan Carlen di sana.
"Ckckck! Pagi-pagi mata suciku sudah ternoda. Ingin sekali ya Mbak, dilihat tanda kepemilikannya? Sama siapa? Sama aku, atau Maak Maya? Atau Mama? Aduh ... kami rasa nggak ngaruh. Lagi pula, Mbak itu nggak tahu malu banget! Seharusnya seorang perempuan itu mempunyai urat malu, tidak mempertontonkan hasil begituannya? Itu benar-benar menjijikan!" sindir Rania sambil meminum air putihnya.
Carlen yang sudah tidak tahan lagi dengan ucapan pedas sang adik, seketika menggebrak meja. Membuat semua terlonjak kaget. Dia menatap ke arah Rania dengan tajam.
BRAK!
"Kamu bisa tidak sih, sehari saja tidak usah bikin masalah, Rania! Jaga dong ucapan kamu! Freya ini sekarang sudah menjadi Kakak iparmu, jangan memperkeruh suasana deh. Kamu sekarang ini sukanya melawan ya? Bicara kamu tidak pernah disaring dulu!" bentak Carlen dengan sorot mata yang tajam.
"Kakak dengar ya! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menganggap dia sebagai Kakakku sendiri. Lagi pula, Kakak ini terlalu bodoh! Menikahi seorang ular dan memeliharanya di dalam rumah. Jangan Kakak pikir, semua kelakuan Kakak ini tidak diketahui oleh kakek," jelas Rania. Kemudian dia pergi meninggalkan meja makan.
Carlen sempat terkejut saat mendengar ucapan adiknya, di saat Rania mengatakan jika kakeknya mengetahui tentang pernikahan dia dan Freya. Seketika pikiran Carlen mengarah ke Rania, mungkin saja gadis itu mengadu kepada kakeknya.
Akan tetapi, Carlen tidak perduli. Toh tidak ada tindakan apapun dari kakeknya. Otomatis, mungkin saja kakeknya sudah setuju. Dia sudah lelah menghalangi cintanya terus bersama dengan Freya.
"Terserah, mau kakek setuju atau enggak dengan pernikahanku dan Freya. Yang pasti, dia tidak bisa menghalangi cintaku, paham!" teriak Carlen.
"Hai wanita udik! Apa yang kamu lihat? Cepat siapkan sarapan, kami lapar tahu!" titah Freya kepada Maya.
"Aku hanya menyiapkan makanan untuk suamiku. Lagi pula, kamu punya tangan bukan? Siapkanlah sendiri. Aku di sini istri pertama, dan kamu hanyalah madu. Seharusnya kamu yang membuatkanku sarapan," balas Maya dengan nada yang datar.
Mama Gisel dan juga Carlen sempat terpaku saat mendengar ucapan Maya. Tidak biasanya wanita itu melawan, dan Freya yang mendengar itu pun segera memegang tangan Carlen dengan wajah yang memelas sedih.
"Maya, buatkan juga untuk Freya. Jangan banyak bicara kamu! Sudah numpang aja banyak belagunya!" geram Carlen.
"Baik Mas," jawab Maya dengan singkat.
Kemudian dia membuatkan sarapan untuk Carlen dan juga Freya, karena bagi Maya titah suaminya itu adalah yang utama. Jika Carlen tidak menyuruhnya, maka Maya tidak akan membuatkan sarapan untuk madunya.
"Apa yang dikatakan Maya itu benar, Carlen. Dia hanya melayani kamu sebagai suaminya. Tapi untuk kamu Freya, di sini kamu adalah istri termuda, seharusnya kamu bisa melayani diri sendiri. Atau kamu juga harusnya membantu Maya untuk melayani Carlen, bukan hanya di ranjang saja? Tapi semua kebutuhannya juga!" timpal mama Gisel sambil meminum tehnya.
"Mah." Carlen menatap ke arah sang mama dengan wajah yang bingung.
Dia tidak pernah melihat mamanya membela Maya. Biasanya wanita itu akan diam saja, walau gimanapun dia menghina perempuan tersebut. Tapi kali ini ada yang beda, mama Gisel malah membenarkan ucapan Maya, seakan sekarang wanita itu berpihak kepada Maya
"Mama tidak membela siapapun. Di sini hanya membenarkan saja. Sudahlah, Mama mau masuk ke dalam kamar. Gerah mau mandi," ujar mama Gisel yang tidak ingin ada perdebatan lagi di meja makan.
BERSAMBUNG......
memaafkan boleh tp klo kembali lebih baik sendiri atau cari yg laen krn cam gak ada pembalasan buat suami yg zalim dan tega...
keledai aja nggak mau jatuh dua kali kedalam lbang yg sama
nggak usah pinter pinter
ogaahhh
nggak sudi.. najiiis" kalau jd rania aku jawab gitu