Cinta bisa datang kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja.
Cinta tak kenal paksaan, cinta tak kenal status, cinta tak kenal usia.
Seperti yang terjadi pada Monica Alandra Putri. Rasa sayangnya pada teman baik ibunya, Egi Pramuja, tumbuh menjadi rasa cinta ketika dia sudah dewasa. Namun sayang, Egi sudah memiliki perempuan yang akan menjadi calon istrinya. Beribu-ribu cara Monica lakukan untuk memisahkan mereka, tetapi malah semakin menjauhkan dirinya dari Egi.
Ketika Monica ingin menyerahkan hatinya untuk orang lain, Egi datang membawa cinta untuknya. Kebimbangan datang di hati Monica, yang akhirnya membuat Monica terlibat cinta segitiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bahagiamu menjadi bahagiaku
Mohon dukungannya semua, like, Rate, komen dan favorit. Dukungan kalian penyemangat ku.
Happy reading....
Satu minggu berlalu, hubungan Monica dan Ratna masih sedikit renggang. Ratna bukannya tak mau membujuk Monica, ia mencoba memberi ruang untuk Monica. Begitu juga dengan Angga, ia melihat berubahan besar pada sikap Monica terhadapnya, sikap manja padanya perlahan pudar. Angga juga melihat Monica menjadi pendiam.
Bukan hanya sikap Monica terhadap orang tuanya saja yang berubah, sikapnya terhadap teman-temannya di sekolah pun berubah. Perubahan besar itu dirasakan oleh Panji. Monica hanya akan bicara padanya kalau ia menegurnya lebih dulu.
Panji benar-benar sudah tidak tahan dengan sikap Monica selama satu minggu ini. Ia menarik tangan Monica saat sedang berjalan sendiri di koridor sekolah, saat jam pulang sekolah. Panji membawanya ke taman belakang sekolahnya.
Monica terkejut saat Panji menarik tangannya dan membawanya ke taman belakang sekolahnya. "Panji, ada apa. Kenapa membawaku kesini?" tanya Monica saat Panji melepaskan genggaman tangannya.
"Ada apa? Kamu yang kenapa Monica. Aku punya salah sama kamu, kenapa sikap kamu seperti sama aku?" tanya Panji, matanya menatap lurus pada kedua bola mata Monica.
"Apa karena kamu tahu sekarang kalau aku menyukaimu, Monica." Panji memegang kedua pundak Monica, menatap lurus ke wajah Monica meminta jawaban pada perempuan yang sudah mencuri hatinya.
"Tidak, bukan Panji. Aku hanya sedang ingin sendiri saja." Monica menjawabnya dengan kepala menunduk.
"Apa kamu sedang ada masalah, Monica?" tanya Panji. Monica menggelengkan kepalanya. Panji memegang kedua sisi wajah Monica yang tertunduk. Panji mengangkat wajah Monica, ia terkejut melihat mata Monica yang sudah berkaca-kaca, dan dengan sekali saja Monica berkedip, maka air mata itu akan meluncur dari matanya.
Panji sakit melihat wajah sedih Monica. Ia menarik tubuh Monica ke pelukannya dan merasakan isak tangis perempuan itu menjalar ke sekujur tubuhnya.
"Menangis lah Monica, jika itu bisa membuat hatimu lega." Panji tak tahu apa yang membuat perempuan itu sedih, tetapi ia bisa merasakan sakit hati Monica yang begitu dalam.
Monica makin erat memeluk Panji, mencurahkan semua kesedihannya di tubuh laki-laki itu. Monica bisa merasakan usapan tangan Panji di punggungnya, rasanya sedikit membuat hatinya tenang.
Setelah merasa hatinya sedikit lega, Monica menarik diri dari tubuh Panji. Ia meminta maaf sudah membuat jacket abu-abu laki-laki kotor karena air matanya serta cairan yang keluar dari hidungnya.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Panji di angguki oleh Monica.
Panji membawa Monica duduk di bangku putih yang ada di taman itu, ia memberikan air minum untuk Monica yang ia ambil dari dalam tasnya.
"Terima kasih banyak," ucap Monica. Ia langsung meneguk air untuk membasahi tenggorokannya.
"Kalau kamu punya masalah, kamu bisa menceritakannya kepada ku," ucap Panji. Monica melirik ke arah Panji, ia sedikit ragu untuk menceritakan sesuatu hal yang menyangkut masalah pribadinya.
"Tidak masalah, kalau kamu tak ingin menceritakannya sekarang. Kapan saja, jika kamu membutuhkan aku, aku akan usahakan untuk selalu ada buat mu, Monica." Panji tersenyum penuh arti kepada Monica.
Monica mengangguk, mungkin menceritakan masalahnya pada Panji akan bisa mengurangi sedikit beban di hatinya. Monica menceritakan semua apa yang sudah ia lakukan di malam perayaan ulang tahunnya.
"Apa aku salah, jika aku mencintai seseorang." Dan kata itu mengakhiri cerita Monica.
Panji mendengarkan dengan seksama. Setelah Monica selesai menceritakan semua hal itu, Panji tersenyum lalu menggenggam telapak tangan Monica.
"Kamu tidak salah Monica, cara kamu yang salah." Monica menatap lurus mata Panji. "Jika kamu mencintai seseorang dengan tulus, kamu tidak merusak kebahagiaannya. Cinta tak harus memiliki Monica, jika kamu memaksa dia untuk mencinta dirimu bahkan memaksanya untuk bersamamu, itu bukan cinta tapi sebuah obsesi, Monica." Monica terdiam mendengar kata-kata yang diucapkan oleh bibir Panji.
"Jangan memaksa untuk memiliki seseorang yang tak mencintaimu, Monica. Jika kamu mendapatkannya karena paksaan, itu hanya akan membuat kalian saling menyakiti nantinya." Panji mengusap kepala Monica, "kamu mengerti maksudku kan?"
"Dan untuk masalah ucapan Ibumu" Panji menjeda ucapannya. "mungkin karena beliau terkejut dengan apa yang sudah kamu lakukan. Jadi beliau refleks mengatakan hal itu padamu."
Monica tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Monica meraih tangan Panji di Kepalanya lalu menggenggamnya erat dan mengusapnya.
"Seperti inikah perasaanmu sekarang terhadap ku, Panji?" Panji mengedipkan matanya, tersenyum dan mengangguk.
"Jangan bersedih lagi, itu akan membuatku merasakan sakit di hatiku. Jika kamu bahagia, itu akan menambah kebahagiaan ku, Monica."
"Maafkan aku Panji, aku belum bisa membalas perasaanmu kepadaku." Lagi-lagi Monica menitihkan air matanya, ia merasa bodoh kenapa hatinya tak bisa memilih laki-laki sebaik Panji.
"Jangan menangis." Panji mengusap tetesan air mata di pipi Monica. "aku hanya ingin kamu tahu perasaanku saja, aku tidak akan memaksamu untuk menjadi kekasihku. Jangan terlalu membebani dirimu, Oke." Monica mengangguk.
"Ayo kita pulang," ajak Panji.
Panji berdiri dan tiba-tiba ia merasakan sakit di kepalanya, dan Monica terkejut melihat mendengar Panji mengerang kesakitan.
"Panji, kamu kenapa?" tanya Monica panik.
" Kepalaku sakit," ucap Panji.
"Kita ke rumah sakit saja," ajak Monica. Ia tak tega melihat wajah Panji yang pucat, serta melihat Panji yang sedang menahan sakit di kepalanya.
"Tidak Monica. Aku mungkin hanya kecapean. Setelah istirahat, rasa sakitnya pasti akan hilang." Panji mencoba tersenyum dalam sakitnya, ia tak ingin Monica mengkhawatirkan dirinya.
"Baiklah aku antar kamu pulang. Aku akan menghubungi Noval untuk membawa motormu." Panji mengangguk.
Monica mengirim pesan pada Noval untuk mengambil motor Panji di parkiran sekolah. Monica lalu berjalan dengan memapah Panji menuju mobilnya. Monica membuka pintu mobil, lalu membantu Panji masuk ke dalam mobilnya. Monica berjalan memutar untuk duduk di kursi kemudi.
Monica duduk di bangku kemudi lalu ia menanyakan alat rumah Panji pada Noval karena ia tak tega bertanya pada Panji yang masih menahan sakit di kepalanya. Setelah mendapat balasan dari Noval, Monica langsung melajukan mobilnya menuju rumah Panji dengan mengikuti arahan dari GPS di ponselnya.
"Panji, kamu beneran tidak apa-apa?" tanya Monica. Ia sekilas melihat kearah Panji yang sedang menutup matanya serta memijit keningnya. Tangannya terulur untuk mengusap keringat di kening Panji.
Panji merasakan sentuhan Monica langsung membuka matanya, diraihnya tangan Monica lalu menggenggamnya.
"Aku tak apa-apa, Monica. Jangan khawatir, Oke." Panji tersenyum
"Kenapa kamu masih bisa tersenyum dan tenang disaat seperti ini, Panji." Monica heran laki-laki di sampingnya terlihat tak mengeluh sedikitpun.
"Aku senang karena kamu mengkhawatirkan aku, Monica." Panji tak hentinya menatap wajah manis Monica.
"Diam kau. Dasar bodoh." Gerutu Monica. "tidurlah, aku akan membangunkanmu jika kita sudah sampai."
"Kamu tahu alamat rumahku dari mana?"
"Noval." Panji mengangguk, ia mencoba menutup kembali matanya, berharap bisa mengurangi rasa sakit di Kepalanya.
panji juga knp ga jujur aja...