Novel romance pernikahan
Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.
Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.
Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.
Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Tiga
Waktu terus bergulir sebagaimana mestinya. Matahari terus bersinar sesuai jadwalnya dan aktivitas sepasang suami istri itu terus berlanjut seperti yang telah dilalui mereka.
Gajian pertama Olivia telah dikantongi. Itu artinya, dirinya telah sebulan menjadi guru privat Nadia. Tampaknya, orang tua Nadia merasa puas dengan hasil kerja Olivia. Buktinya, mereka memberikan bonus di gaji pertamanya itu.
Sepanjang jalan pulang, Olivia tersenyum ceria. Ia tidak sabar untuk segera memberi kabar kepada Vino tentang keberuntungannya hari ini. Sebelum sampai ke kontrakan, ia mampir ke warung makan untuk membeli sayur masak beserta lauknya karena hari ini Olivia hanya memasak nasi saja. Ia berjanji, esok pagi-pagi sekali akan belanja kebutuhan dapur lalu memasak makanan enak untuk suaminya.
Sesampainya di kontrakan, Olivia bergegas membersihkan yang perlu dibersihkan. Walaupun, ruangan bersekat itu telah dibersihkannya pagi tadi. Namun, ia merasa perlu untuk mengulangnya. Bukankah ini hari spesial baginya. Hari pertamanya gajian.
Olivia bekerja dengan penuh semangat. Senyum manisnya terus merekah di bibir, sesekali ia berdendang menyanyikan lagu-lagu bahagia.
Tidak terasa, azan Magrib pun berkumandang. Rupanya, matahari telah tenggelam, teriknya telah berganti dingin memberi isyarat waktu pulang bagi makhluk pengais rezeki. Sejenak, Olivia tersadar sudah waktunya ia istirahat dan seharusnya Vino telah kembali.
Olivia bergegas masuk ke kamar mandi. membersihkan diri lalu berwudu. Kemudian, ia pun melaksanakan kewajibannya menunaikan salat Magrib tiga rakaat. Usai berdoa, wanita itu meraih tasnya di gantungan mengaduk-aduk isinya untuk mendapatkan benda pipih yang dicari.
Setelah ponsel berada dalam genggaman, tanpa ingin membuang waktu lagi. Olivia mengetik sederet angka yang telah dihafal. Ia bahkan mengabaikan tasnya yang tergeletak begitu saja di lantai kamar. Satu panggilan tidak mendapatkan jawaban, berlanjut dengan dua, tiga sampai lima panggilan.
Olivia menghirup udara sebanyak-banyaknya. Berharap, dengan begitu sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya dapat terurai begitu saja. Tidak biasanya Vino mengabaikan panggilannya. Atau mungkin, suaminya itu sedang berada dalam perjalanan pulang. Olivia berbaring di sajadah tanpa berniat melepaskan mukenanya itu dengan perasaan khawatir. Benda pipih di tangan digenggamnya erat. Ia memejamkan mata hingga lelap menghampirinya.
Olivia tersentak kaget kala merasakan perutnya seperti melilit. Perih. Ia baru ingat, jika sedari siang belum makan. segera wanita itu melepaskan mukenanya, melipatnya beserta sajadah yang digunakan sebagai alas tidur.
Sesaat, Olivia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari-cari ponsel yang tadi berada dalam genggaman. Setelah ditemukan, ia menekan tombol kunci dan seketika itu juga matanya terbelalak kaget. Pasalnya, angka dalam benda pipih itu menunjukkan waktu di angka sepuluh malam. Itu berarti, sudah sekitar tiga jam dirinya terlelap.
Olivia terduduk di lantai dengan lipatan mukena dan sajadah dalam dekapan. Satu tangannya bergerilya mencari petunjuk adakah sang suami telah menghubunginya. Perasaan jengkel sekaligus khawatir itu menyeruak begitu saja dalam dadanya. Tidak ada satu panggilan pun dari lelaki yang ditunggunya. Pun, tida ada notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya itu.
“Enggak ada gunanya punya ponsel,” gerutu Olivia. Hampir saja ia membanting benda pipih itu, tetapi tertunda karena ponselnya berbunyi.
“Halo, Sayang ... sedang apa? Tadi telepon ya. Maaf-maaf ....”
Suara lembut di seberang sana tidak mampu menyejukkan hati Olivia yang sedang panas. Jantung Olivia berpacu kencang seiring luapan emosi yang menuntut untuk disalurkan.
“Sedang mau banting HP,” ketus Olivia. Ia bersungut-sungut mendengar kekehan suaminya.
“Aku enggak pulang ya malam ini. Enggak bisa pulang soalnya ....”
“Terserah.” Olivia masih menjawab dengan nada ketus.
“Jangan ngambek, dong. Kerjaan suamimu ini lagi enggak bisa ditinggal.” Vino mencoba untuk menjelaskan. “Besok pagi-pagi sekali aku pulang, kok. Jangan kangen ya ....”
“Hm.” Olivia bergumam pelan. Sesungguhnya, ia ingin sekali berkata ‘iya, tidak apa-apa. Hati-hati kerjanya. Namun, lidahnya terasa kelu. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Begitu sulit suara itu keluar dari lisannya, hingga Olivia menelan ludah susah payah. Menelan kembali kalimat yang ingin ia sampaikan.
“Ya udah. Hati-hati di rumah ya, Sayang ... jangan lupa makan ....”
“Kak!” seru Olivia selanjutnya.
“Ya?” Vino lalu diam, seakan tengah menunggu kalimat yang akan diucapkan Olivia.
“Hati-hati kerjanya. Jangan terlalu capek,” ujar Olivia pelan.
“Tentu. Aku cinta kamu. Daahh ....”
“Daahhh ... assalamualaikum,” balas Olivia dengan senyum terkembang.
“Waalaikumussalam, sayangku.”
Sambungan telah dimatikan beberapa detik lalu. Namun, Olivia masih menatap layar benda pipih itu walaupun hanya layar gelap yang ia pandangi.
Suara Vino masih menggema di gendang telinga wanita itu. Baik suara alay yang dirasa sengaja dibuat-buat oleh suaminya itu demi menyenangkan hatinya, maupun suara hangat yang terdengar tulus bagi hatinya.
Olivia tahu rasa cinta yang Vino berikan tentu lebih besar dari rasa yang ia miliki. Buktinya, lelaki itu terlalu memanjakannya selama ini. Di sisi lain, Olivia kadang merasa takut jika suatu saat sifat manjanya itu malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri atau pun keluarga kecilnya. Namun, siapa yang bisa menolak jika suaminya sendirilah yang memperlakukannya bak ratu kerajaan. Dilayani, dipuja dan sering dirayu kalau ia ngembek sedikit saja.
Perlakuan Vino itu sering terlalu manis dan kadang malah berlebihan. “Bisa-bisa aku mati muda karena kena diabet,” ujar Olivia dengan senyum terkulum.
Ada satu hal yang menyadarkan Olivia malam ini. Sebenarnya, pekerjaan apa yang tidak bisa ditinggalkan oleh Vino. Padahal selama ini, suaminya itu tidak pernah sampai ada acara menginap.
Olivia bergegas mengetik pesan untuk Vino. Lalu ia pun menunggu balasan dengan perasaan was-was.
[Besok aku ceritakan ya. I love you.]
Hah. Olivia mengembuskan napas kasar. Ia harus bersabar menunggu jawaban atas rasa penasaran yang bergelayut di kepalanya. Alhasil, rasa lapar pun menguap begitu saja. Ia sudah tidak bernafsu untuk sekadar memakan sesuap nasi saja. Tidak hanya itu, dirinya harus menanggung malam panjang dengan mata terjaga, kantuk tak kunjung menghampiri sampai fajar menampakkan keindahannya.
Usai salat Subuh, Olivia memanaskan makanan yang dibelinya kemarin. Untunglah tidak basi, sebab kemarin ia telah menghangatkan makanan tersebut. Setelah meletakkan makanan tersebut ke dalam wadah, Olivia pun bergegas menyapu lantai tanpa berniat mengepel. Tenaganya hari ini telah terkuras habis karena begadang semalam.
Tiba-tiba, tubuh Olivia terhuyung sampai-sampai tangannya harus berpegangan pada dinding agar tida terjatuh ke lantai. Kepalanya terasa pusing dengan pandangan yang mengabur.
Olivia terduduk, ia harus merangkak untuk sampai ke kamar. Hanya satu keinginannya saat ini yaitu berbaring dengan mata terpejam.
Setelah sampai di kasur, Olivia mewujudkan keinginannya tersebut. Ia mengabaikan nada panggilan yang berbunyi berulang kali dari ponselnya. Untunglah hari ini adalah jadwal dirinya libur privat. Kalau tidak tentulah Olivia bingung menghadapi Nadia dengan tenaga lemah seperti sekarang.