NovelToon NovelToon
Cincin Kedua

Cincin Kedua

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Cerai / Single Mom / Konflik Rumah Tangga-Pernikahan Angst / Tamat
Popularitas:300.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: IkeFrenhas

Novel romance pernikahan

Aku telah bertahan semampu yang aku bisa. Jika di sinilah pertahananku kandas. Maka biarkan diriku pergi dari kehidupanmu. Selamat tinggal.

Olivia meninggalkan sepucuk surat di atas meja riasnya. Sungguh, dirinya tidak pernah menyangka jika beginilah nasib pernikahannya. Lima tahun bersama seakan tiada berarti apa-apa. Kebahagiaan dan perjuangan dalam mempertahankan keutuhan rumah tangganya telah berakhir. Saatnya Olivia melangkah pergi, meninggalkan segala kenangan yang ia ukir bersama suaminya di rumah itu.

Derai air mata mengiringi langkahnya. Bagaimanapun kepedihan itu terjadi. Olivia harus mampu bertahan, demi janin yang dikandungnya.

Bagaimana Olivia dan calon anaknya menapaki hidup selanjutnya? Mampukah ia bangkit dari keterpurukan yang dialaminya? Atau, malah menyerah dan memilih kembali kepada kehidupan yang sebelumnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IkeFrenhas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Dua Tiga

Waktu terus bergulir sebagaimana mestinya. Matahari terus bersinar sesuai jadwalnya dan aktivitas sepasang suami istri itu terus berlanjut seperti yang telah dilalui mereka.

Gajian pertama Olivia telah dikantongi. Itu artinya, dirinya telah sebulan menjadi guru privat Nadia. Tampaknya, orang tua Nadia merasa puas dengan hasil kerja Olivia. Buktinya, mereka memberikan bonus di gaji pertamanya itu.

Sepanjang jalan pulang, Olivia tersenyum ceria. Ia tidak sabar untuk segera memberi kabar kepada Vino tentang keberuntungannya hari ini. Sebelum sampai ke kontrakan, ia mampir ke warung makan untuk membeli sayur masak beserta lauknya karena hari ini Olivia hanya memasak nasi saja. Ia berjanji, esok pagi-pagi sekali akan belanja kebutuhan dapur lalu memasak makanan enak untuk suaminya.

Sesampainya di kontrakan, Olivia bergegas membersihkan yang perlu dibersihkan. Walaupun, ruangan bersekat itu telah dibersihkannya pagi tadi. Namun, ia merasa perlu untuk mengulangnya. Bukankah ini hari spesial baginya. Hari pertamanya gajian.

Olivia bekerja dengan penuh semangat. Senyum manisnya terus merekah di bibir, sesekali ia berdendang menyanyikan lagu-lagu bahagia.

Tidak terasa, azan Magrib pun berkumandang. Rupanya, matahari telah tenggelam, teriknya telah berganti dingin memberi isyarat waktu pulang bagi makhluk pengais rezeki. Sejenak, Olivia tersadar sudah waktunya ia istirahat dan seharusnya Vino telah kembali.

Olivia bergegas masuk ke kamar mandi. membersihkan diri lalu berwudu. Kemudian, ia pun melaksanakan kewajibannya menunaikan salat Magrib tiga rakaat. Usai berdoa, wanita itu meraih tasnya di gantungan mengaduk-aduk isinya untuk mendapatkan benda pipih yang dicari.

Setelah ponsel berada dalam genggaman, tanpa ingin membuang waktu lagi. Olivia mengetik sederet angka yang telah dihafal. Ia bahkan mengabaikan tasnya yang tergeletak begitu saja di lantai kamar. Satu panggilan tidak mendapatkan jawaban, berlanjut dengan dua, tiga sampai lima panggilan.

Olivia menghirup udara sebanyak-banyaknya. Berharap, dengan begitu sesak yang tiba-tiba menghimpit dadanya dapat terurai begitu saja. Tidak biasanya Vino mengabaikan panggilannya. Atau mungkin, suaminya itu sedang berada dalam perjalanan pulang. Olivia berbaring di sajadah tanpa berniat melepaskan mukenanya itu dengan perasaan khawatir. Benda pipih di tangan digenggamnya erat. Ia memejamkan mata hingga lelap menghampirinya.

Olivia tersentak kaget kala merasakan perutnya seperti melilit. Perih. Ia baru ingat, jika sedari siang belum makan. segera wanita itu melepaskan mukenanya, melipatnya beserta sajadah yang digunakan sebagai alas tidur.

Sesaat, Olivia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari-cari ponsel yang tadi berada dalam genggaman. Setelah ditemukan, ia menekan tombol kunci dan seketika itu juga matanya terbelalak kaget. Pasalnya, angka dalam benda pipih itu menunjukkan waktu di angka sepuluh malam. Itu berarti, sudah sekitar tiga jam dirinya terlelap.

Olivia terduduk di lantai dengan lipatan mukena dan sajadah dalam dekapan. Satu tangannya bergerilya mencari petunjuk adakah sang suami telah menghubunginya. Perasaan jengkel sekaligus khawatir itu menyeruak begitu saja dalam dadanya. Tidak ada satu panggilan pun dari lelaki yang ditunggunya. Pun, tida ada notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya itu.

“Enggak ada gunanya punya ponsel,” gerutu Olivia. Hampir saja ia membanting benda pipih itu, tetapi tertunda karena ponselnya berbunyi.

“Halo, Sayang ... sedang apa? Tadi telepon ya. Maaf-maaf ....”

Suara lembut di seberang sana tidak mampu menyejukkan hati Olivia yang sedang panas. Jantung Olivia berpacu kencang seiring luapan emosi yang menuntut untuk disalurkan.

“Sedang mau banting HP,” ketus Olivia. Ia bersungut-sungut mendengar kekehan suaminya.

“Aku enggak pulang ya malam ini. Enggak bisa pulang soalnya ....”

“Terserah.” Olivia masih menjawab dengan nada ketus.

“Jangan ngambek, dong. Kerjaan suamimu ini lagi enggak bisa ditinggal.” Vino mencoba untuk menjelaskan. “Besok pagi-pagi sekali aku pulang, kok. Jangan kangen ya ....”

“Hm.” Olivia bergumam pelan. Sesungguhnya, ia ingin sekali berkata ‘iya, tidak apa-apa. Hati-hati kerjanya. Namun, lidahnya terasa kelu. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan. Begitu sulit suara itu keluar dari lisannya, hingga Olivia menelan ludah susah payah. Menelan kembali kalimat yang ingin ia sampaikan.

“Ya udah. Hati-hati di rumah ya, Sayang ... jangan lupa makan ....”

“Kak!” seru Olivia selanjutnya.

“Ya?” Vino lalu diam, seakan tengah menunggu kalimat yang akan diucapkan Olivia.

“Hati-hati kerjanya. Jangan terlalu capek,” ujar Olivia pelan.

“Tentu. Aku cinta kamu. Daahh ....”

“Daahhh ... assalamualaikum,” balas Olivia dengan senyum terkembang.

“Waalaikumussalam, sayangku.”

Sambungan telah dimatikan beberapa detik lalu. Namun, Olivia masih menatap layar benda pipih itu walaupun hanya layar gelap yang ia pandangi.

Suara Vino masih menggema di gendang telinga wanita itu. Baik suara alay yang dirasa sengaja dibuat-buat oleh suaminya itu demi menyenangkan hatinya, maupun suara hangat yang terdengar tulus bagi hatinya.

Olivia tahu rasa cinta yang Vino berikan tentu lebih besar dari rasa yang ia miliki. Buktinya, lelaki itu terlalu memanjakannya selama ini. Di sisi lain, Olivia kadang merasa takut jika suatu saat sifat manjanya itu malah menjadi bumerang bagi dirinya sendiri atau pun keluarga kecilnya. Namun, siapa yang bisa menolak jika suaminya sendirilah yang memperlakukannya bak ratu kerajaan. Dilayani, dipuja dan sering dirayu kalau ia ngembek sedikit saja.

Perlakuan Vino itu sering terlalu manis dan kadang malah berlebihan. “Bisa-bisa aku mati muda karena kena diabet,” ujar Olivia dengan senyum terkulum.

Ada satu hal yang menyadarkan Olivia malam ini. Sebenarnya, pekerjaan apa yang tidak bisa ditinggalkan oleh Vino. Padahal selama ini, suaminya itu tidak pernah sampai ada acara menginap.

Olivia bergegas mengetik pesan untuk Vino. Lalu ia pun menunggu balasan dengan perasaan was-was.

[Besok aku ceritakan ya. I love you.]

Hah. Olivia mengembuskan napas kasar. Ia harus bersabar menunggu jawaban atas rasa penasaran yang bergelayut di kepalanya. Alhasil, rasa lapar pun menguap begitu saja. Ia sudah tidak bernafsu untuk sekadar memakan sesuap nasi saja. Tidak hanya itu, dirinya harus menanggung malam panjang dengan mata terjaga, kantuk tak kunjung menghampiri sampai fajar menampakkan keindahannya.

Usai salat Subuh, Olivia memanaskan makanan yang dibelinya kemarin. Untunglah tidak basi, sebab kemarin ia telah menghangatkan makanan tersebut. Setelah meletakkan makanan tersebut ke dalam wadah, Olivia pun bergegas menyapu lantai tanpa berniat mengepel. Tenaganya hari ini telah terkuras habis karena begadang semalam.

Tiba-tiba, tubuh Olivia terhuyung sampai-sampai tangannya harus berpegangan pada dinding agar tida terjatuh ke lantai. Kepalanya terasa pusing dengan pandangan yang mengabur.

Olivia terduduk, ia harus merangkak untuk sampai ke kamar. Hanya satu keinginannya saat ini yaitu berbaring dengan mata terpejam.

Setelah sampai di kasur, Olivia mewujudkan keinginannya tersebut. Ia mengabaikan nada panggilan yang berbunyi berulang kali dari ponselnya. Untunglah hari ini adalah jadwal dirinya libur privat. Kalau tidak tentulah Olivia bingung menghadapi Nadia dengan tenaga lemah seperti sekarang.

1
Satria Devi
Luar biasa
Lienda nasution
gak seru akhirnya ..enak saja si veno mudah x diterima olvia gampang x ya dapatkan olivia
Yuliana Tunru
sakit bgt baca x thor ..jika tdk berdosa saat ini lbh baik minta cerai drpd jd mabtu yg tak dianggap dan disalqhkan trs ..vino jd suami tak guna dan mengabaikan istri demi hal yg tak jelas krn sampqi mati alvin jg viona sekalipun.mama x bino tak akan oernah mengagqp x ada ..murisss
Lina aja
terkena jebakan pelakor ni
Lina aja
klw suami kaya gtu emang cape k kita nya....
Lina aja
ahk suami luchnut itu malah nemenin bibit pelakor....istri lagi trauma juga....
Lina aja
mertua gda akhlak itu...suami nya juga lagi jaga anak malah di tinggal"udah celaka j g bisa txnggung jawab
Lina aja
kayanya Raisa tu cuma adik angkat....n vino mulai selingkuh tu m raisa
Lina aja
euleuh itu udah berapa tahun menunggu kehamilan Olivia ni
Lina aja
apakah vino udah punya Wil
Lina aja
keinginan yg harus di ikuti orang adalah keinginan yg egois itu.....
Lina aja
ihk ibu nya vino kayanya blum mau trima menantu nya dengan ikhlas tu
Lina aja
uhk kasian ni mna gda siapa" juga
Lina aja
masih suasana prihatin klw kita memulai semua dari nol.....sabar semoga berkah
Ike Frenhas: aamiiinnn
total 1 replies
Lina aja
klw mertua nya mau menerima menantu y kita juga senang lah
Ike Frenhas: Bener banget
total 1 replies
Lina aja
lanjut
Ike Frenhas
semangat bacanya sampai tamat ya, Kak
Lina aja
lanjut n semangat
Lina aja
lanjut
Lina aja
lucu
Ike Frenhas: 😁😁😁😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!