"Apa! Masuk pesantren?"
tanya seorang gadis yang bernama Senja itu pada ayah nya.
"iyah nak,kamu mau kan?"memangnya ayah yakin mau memasukan senja ke pesantren?"katanya seraya mengerutkan keningnya.
betapa bahagia nya sang ayah melihat putri kesayangan nya itu setuju untuk masuk ke pesantran, padahal jika di perhatikan tingkahnya hampir menyerupai anak laki-laki, keras dan sangat nakal. bahkan di sekolah dia dikenal sebagai Queen bar-bar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ridwan jujun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 23
________________
Kicauan burung terdengar merdu, suara binatang-binatang malam perlahan mulai hilang. Pagi ini tidak terlalu cerah, karena sedang musim penghujan.
Senja menarik kembali selimutnya setelah salat subuh, perasaan malas mulai merasukinya. Ayahnya dan Bi Asih memang sengaja tidak mau membangunkannya, karena mereka tau, bahwa Senja selalu saja ingin tidur kalau sedang hujan seperti ini.
Tapi ada seseorang yang akan mengganggu hibernasinya.
"Senja! Bukain pintunya, cepetan! Bangun, ih ...."
'Tok! Tok! Tok!'
"Senja! Come on Beb, kepala kamu nggak sakit apa, tidur sampe jam segini."
Rya terus saja mengetok pintu dan meneriaki Senja dari luar kamar. Senja yang merasa terganggu menutup telinganya dengan bantal.
Merasa tidak dipedulikan oleh Senja, Rya tetap saja tidak patah semangat untuk membangunkan Senja.
"Beb, bukain, dong! Aku capek teriak-teriak, nih." Suara Rya mulai pelan.
Karena kasihan pada sahabatnya, akhirnya Senja bangkit dan membukakan pintu kamarnya.
Saat pintu telah terbuka, dengan penuh semangat Rya langsung berhamburan ke pelukan Senja.
"Ya Allah, Beb. Aku kangen banget sama kamu, tau!"
"Iya, aku juga, tapi bisa nggak pelanin dikit suaranya. Telingaku bisa tuli, gara-gara suara cempreng kamu." Senja berbicara sambil menutup telinganya dengan tangan.
"Hehehe ... maap, ya, tuan putri. Suaraku emang cempreng dari kecil." Rya menggaruk kepalanya yang dibaluti jilbab.
"Dah, masuk!" titah Senja.
Tanpa basa-basi lagi, Rya menuju ke kasur empuk Senja dan merebahkan dirinya di sana.
"Kamu mandi, gih. Aku mau ngajak kamu ke suatu tempat." Rya menyuruh Senja tanpa menoleh ke arahnya.
"Nggak ah, aku males. Lagian di luar lagi hujan." Senja menolak, lalu ikut rebahan di samping Rya.
"Udah mandi aja, aku bawa mobil, kok." Rya mendorong Senja hingga terjatuh dari kasur.
"Ya Allah, jangan main dorong-dorong juga, kali Beb." Senja kesal dan langsung menuju ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.
***
Tidak butuh waktu lama, Senja sudah siap dengan gamis berwarna maroon berbunga yang dipadukan dengan kerudung hitam.
"Gimana? udah cocok belum?" tanya Senja akan penampilannya pada Rya.
Rya mengetuk pipinya dengan jari telunjuk, seolah sedang berpikir.
"Ok! Kita let's go. Kamu udah cantik dari lahir, mau pakek baju apapun tetap cocok." Rya sedikit mendorong Senja keluar kamar.
"Nah, gitu dong. Akhirnya kamu mengakui kecantikan aku. Hahaha ...." Senja mentowel pipi Rya sambil bergelak tawa.
"Iya-iya." Rya hanya mengiyakannya.
"Ayah, aku mau pergi sama Rya, ya." Senja menyalami Ayahnya.
"Loh, mau kemana? Cuaca lagi hujan-hujan gini. Di tunda aja, ya." Ayahnya melepas kaca mata yang tadi dipakainya, menatap ke arah Rya.
"Aku bawa mobil, Om. Eh, maksudnya, aku diantar sama Pak supir. Jadi kita nggak kehujanan." Rya menjelaskan pada Ayah Senja.
"Ya, sudah. Kalau pergi jangan pulang kemalaman, ya! Ingat jangan main hujan-hujanan. Dan satu lagi, hati-hati di jalan." Nasehat Ayahnya panjang kali lebar.
"Emangnya, Ayah tau kita mau kemana?" tanya Senja penasaran.
Sang Ayah hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Heum ... Mencurigakan." Senja menyipitkan matanya menatap ke atah Ayahnya dan Rya.
"Syuut, jangan sekarang. Nanti aja interogasinya. Sekarang kita berangkat, yuk!" Rya menarik lengan Senja menuju ke luar.
"Assalamu'alaikum, Ayah!" Teriak Senja sambil berlari sedikit karena tarikan Rya.
"Waalaikumussalam." Sang Ayah tersenyum melihat tingkah sang putri bersama sahabatnya itu.
***
"Lah, ini 'kan butiek Mama kamu. Ngapain kamu ngajakin aku ke sini?" tanya Senja pada Rya saat sudah berada di depan butiek Mamanya.
"Aku mau ngajak kamu fitting baju pengantin. Ayo masuk! Fajar pasti udah sampai duluan." Lagi-lagi Rya menarik lengan Senja. Tidak ada yang bisa dilalukan Senja selain pasrah dan mengikuti kemanapun Rya menariknya.
"Ry, apa nggak terlalu cepat?" Senja terlihat sedikit grogi, terlebih lagi saat melihat keberadaan Fajar di hadapannya sekarang.
"Enggak. Denger, ya! Pernikahan kamu itu, cuma tinggal enam hari. Kapan lagi, coba? Eh, Uncle Fajar udah di sini." Rya berbicara sambil berjalan menuju ke arah Fajar.
"Hai! Baru bangun, ya." Fajar menyapa sambil meledek Senja.
"Tau dari mana?" tanya Senja.
"Tuh, masih ada sisanya di mata." Tunjuk Fajar.
"Masa, sih?" Dengan sigap Senja menghapus matanya, takut beneran ada belekan.
"Hahaha ... enggak, kok, aku cuma becanda." Fajar menertawakan tingkah Senja.
"Iih ...." Senja kesal dan langsung mencari keberadaan Rya.
Di sisi lain, Rya dan Mamanya sedang menyiapkan dua model baju pengantin pria dan wanita.
"Rya, kamu kemana aja, sih." Senja menemukan keberadaan Rya.
"Gimana, Beb. Kamu mau yang mana? Yang ini? Atau yang ini?" Rya menunjukkan dua model baju pengantin wanita pada Senja.
"Yang ini aja." Senja memilih salah satunya.
"Ya udah, sekarang coba kamu pakek."
Senja menuju ke ruang ganti untuk mencoba baju tersebut. Tidak lama kemudian Senja keluar dengan penampilan yang sangat cantik, menggunakan baju pengantin tersebut.
Rya dan Mamanya sampai terkesima melihat penampilan Senja. Jangan tanya lagi bagaimana ekspresi Fajar, sudah pasti tidak berkedip.
"Udah kali, mandanginnya. Awas dosa!" Rya menepuk pipi Fajar yang masih menatap Senja.
Fajar tertawa geli sama karena tingkahnya sendiri. Senja hanya tersipu malu karena Fajar yang tadi memandanginya.
"Ok! Sekarang giliran Uncle Fajar." Rya mendorong Fajar ke ruang ganti, untuk memakaikan baju pengantin pasangan dari gaun Senja.
Fajar juga tidak butuh waktu lama untuk menggantikan pakaiannya. Lalu keluar dengan menggunakan baju tersebut. Ditambah lagi dengan peci yang senada dengan warna baju.
"OMG ... my Uncle handsome banget." Rya menunjukkan ekspresi wah saat melihat Fajar.
"Lebay, biasa aja kali." Fajar menepuk jidat Rya.
"Aws ... Mam, liat Fajar." Rya merengek.
"Gimana penampilan aku?" tanya Fajar pada Senja, berharap mendapat pujian darinya. Tapi sayang seribu sayang, Senja hanya mengacungkan jempol tanpa menjawab. (Guys, Author jadi geram, nih sama sikap cueknya Senja.)
Setelah Senja dan Fajar fitting baju, lalu mereka semua melanjutkannya dengan makang siang bersama. Baru setelah itu pulang ke rumah masing-masing.
~Bersambung