Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.
Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.
Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAK TERDUGAKAN
Senin, 24 Desember 2018
Sudah lima hari Vallen berbaring di rumah sakit. Itu tandanya, sudah lima hari pula aku disini. Menunggunya yang masih belum tersadarkan dari komanya.
“Mer, itu makanannya di makan dulu. Nanti kamu sakit!”
Aku menolaknya. Kali ini, aku benar-benar kecewa pada mama karena membohongiku.
“Maafin mama Mer, mama nggak tau jika akan begini jadinya,”
Aku masih terdiam. Tak ingin berbicara pada mama. Untuk saat ini tak ingin. Aku sungguh kecewa pada mama yang baru memberitahu fakta sebenarnya setelah Vallen koma.
“Mama waktu itu berbohong supaya kamu jauh-jauh dari anak itu. Mama tidak begitu tau kalau cinta kalian begitu kuat. Kali ini mama sadar, berapa pun mama berusaha memisahkan kalian, kalian tetap tak terpisahkan. Percayalah pada mama, karena cinta kalian berdua, mama yakin Vallen akan sadar,”
“Mer, berbicaralah dengan mama. Mama sungguh minta maaf,”
Mama memelukku yang masih mematung memperhatikan Vallen. Ia mengelus rambutku lembut.
“Berbicaralah Mer,”
Pada akhirnya aku mengaliri air mata. Begitu deras. Membalas pelukan mama erat.
“Vallen pasti benci Mer ma. Ia pasti memilih pergi saja dari hadapan Mer. Sudah lima hari ma, tapi Vallen belum membuka matanya,”
“Mama yakin Vallen tidak akan pernah membenci Mer. Ia pasti begitu senang melihat Mer kembali. Apalagi jika ia mendengar kebenaran bahwa kalian bukanlah kakak adik, Vallen pasti akan sangat mencintai Mer tanpa ragu lagi,”
“Tapi terakhir kali Mer jahat sama Vallen ma,” rengekku.
Mama masih mengelus rambutku yang berantakan. Menenangkanku. Berusaha meyakinkanku bahwa Vallen tak akan pernah membenciku. Setelah apa yang kulakukan padanya, terbilang mustahil jika Vallen tak membenciku. Aku lah yang mengejar Vallen duluan, aku pula lah yang membuangnya setelah mendapatkan info yang kurang jelas. Aku menyesal. Seandainya aku memastikan dulu kebenarannya. Seandainya aku tak mudah percaya begitu saja, mungkin Vallen sekarang masih sadar. Mungkin aku tidak akan marahan dengan Vallen. Mungkin kita bisa berjalan beriringan menuju sekolah. Dan mungkin aku tidak akan diculik jika Vallen bersamaku.
Aku melepaskan pelukan mama. Kembali melihat Vallen yang terbaring. Kupegangi tangannya yang lemah itu.
“Len, hari ini tanggal 28, itu tandanya liburan semester akan datang. Kamu janji kan akan mengajakku nonton setelah liburan? Maka cepatlah sadar,”
Aku mencium punggung tangan Vallen yang tak bergerak. Meneteskan air mata di atas punggung tangannya. Masih dengan harapan tangan Vallen akan bergerak.
---
Aku sudah memaafkan mama. Biar bagaimana pun, mama tetaplah ibuku yang telah membesarkanku. Aku tak bisa membencinya hanya karena mengetahui kebenarannya.
“Maaf memintamu ke sini Mer,”
Aku mengangguk, tersenyum tipis. Sebenarnya, akulah yang sangat ingin bertemu dengannya atas apa yang telah terjadi.
“Ehmm, Rak, gue minta maap banget. Gue—“
“Gapapa Mer, itu bukan salah lo, emang kemauan gue untuk menutupi itu semua. Tapi gue juga nyesel atas apa yang menimpa Vallen. Gue juga minta maap yang sebesar-besarnya atas nama gue dan adik gue,”
Aku tersenyum tulus kepadanya. Ini bukan salahnya, aku lah yang sangat bersalah di balik ini semua. Aku yang telah menyakiti Rakha berkali-kali, dan aku pula lah yang membuat adik Rakha menjadi buas seperti itu. Aku sungguh tak tahu jika Rakha sangat mencintaiku. Akan tetapi, meski Rakha adalah pria yang sangat baik dan penyayang, aku tetap tak bisa memberikan perasaanku ke cowok lain selain Vallen.
“Tapi Mer, kalo gue boleh memohon satu hal, tolong lo jangan membenci adik gue. Ini juga kesalahan gue karena terlalu memanjakannya,”
Aku sungguh mengagumi Rakha kali ini. Meski semua juga merupakan kesalahan adiknya, tapi Rakha selalu mempertanggung jawabkan apa yang adiknya perbuat. Sungguh seorang kakak yang sangat menjalankan tanggung jawabnya.
“Sejujurnya, Rasyid bukan adik kandung gue, Dia adik angkat gue. Gue nggak sengaja lihat dia depresi dan hampir ketabrak mobil. Ayahnya telah lama meninggalkan keluarganya dan ibunya meninggal saat ia sedang di sekolah. Masih terlalu kecil untuk Rasyid kehilangan kedua orang tuanya. Jadi setelah gue minta orang tua gue buat menjadikannya adik gue, ia benar-benar menyayangi gue, menganggap gue seperti orang tuanya. Jadi saat gue sedih atau marah, dia yang selalu melampiaskannya tanpa sepengetahuan gue,”
“Rasyid orangnya lembut dan perhatian, tapi jika permasalahannya sudah menyangkut gue, ia bisa menjadi brutal dan tak terkondisikan. Gue berharap lo bisa memaafkannya dan menjadi temannya lagi ketika ia sudah keluar dari penjara,”
Aku sadar, aku sungguh tak perhatian padanya. Bahkan aku tak mengetahui masa lalunya atau pun Keluarganya. Dan jujur saja, Rasyid memang orang yang baik, lembut, dan perhatian. Ia satu-satunya orang yang bisa kuandalkan saat semua orang tak satu pemikiran denganku. Ia juga orang yang penyabar saat aku menolaknya dengan kejam.
---
Aku berlari sekencang yang kubisa. Kembali ke rumah sakit. Jantungku terasa ingin copot begitu menjawab panggilan dari seseorang. Napasku berderu tak karuan. sangat tak sabar ingin melihatnya kembali.
Vallen sudah siuman.
Aku tak percaya ini. Larian kupercepat sebisaku. Aku tak menyangka hari ini juga ia telah kembali sadar. Aku sangat bersyukur mendengar kabar ini.
Tapi...
Deg deg deg. Sepanjang jalan pikiranku hanya tertuju padanya. Membayangkan bagaimana rasanya dapat melihat mata kecoklatan menawan milik Vallen. Waktu terasa melambat saat sedang bermain pikiran. Meski sudah berlari sekencang yang kubisa, rasanya sangat lama untuk menuju rumah sakit karena rasa tak sabarku bertemu dengannya.
“VALLEN!”
Aku memasuki ruangannya, terasa mem
anas. Senyuman terlukiskan di bibirku. Benar saja, Vallen sudah sadar. Ia tengah terduduk di ranjang rumah sakit, memperhatikanku yang medekatinya
“Vallen!”
Tanpa menunggu persetujuannya, aku memeluknya erat. Membasahi baju yang dikenakannya akibat tangisanku. Aku bersyukur kepada Tuhan karena mengizinkanku untuk mendekapnya lagi. Memilikinya kembali. Dan kali ini aku berjanji tak akan pernah melepaskannya lagi. Aku berjanji akan selalu menggenggamnya erat agar ia tak kemana-mana lagi.
“Ehmm, maaf, anda siapa?” Tanyanya lembut.
Aku sangat kaget mendengarnya berbicara seperti itu. Kulepaskan pelukanku, menatap matanya erat dan tertawa kecil.
“Gausah bercanda Len, candaanmu nggak mempan, week,” kujulurkan lidahku untuk mengejeknya.
Dari belakang, mama memegang pundakku. Menggelengkan kepalanya seperti memberikan isyarat.
“Kenapa sih ma? Vallen sudah sadar ma! Kenapa wajah mama sedih gitu?!”
“Vallen, kamu nggak lupa sama janji kita kan? Setelah kamu keluar dari rumah sakit, jangan lupa ajak aku nonton!”
Vallen tampak bingung mendengar ucapanku. Lucu sekali dia, pura-pura lupa saat aku menagih janjinya. Ternyata pria gitu ya, pura-pula melupakan janjinya saat ditagih.
“Maaf, apakah saya benar-benar mengenal anda?”
Tapi...
“Apaan sih Len, bercandanya jangan kelewatan dong!”
Tapi...
“Saya tidak bercanda, apakah saya mengenal anda sangat baik?”
Tapi...
Aku mengingat kembali suara mama saat di telepon. Saking senangnya mendengar kabar bahwa Vallen sudah siuman. Aku sungguh tak mencerna dengan baik akhir dari perkataan mama.
Tapi... Vallen amnesia.
“Kamu yang sabar ya Mer. Pelan-pelan, mama yakin Vallen akan mendapatkan kembali ingatannya,”
Entah bagaimana lagi aku harus mendeskripsikan rasa sakit yang menggerogoti hatiku. Sekeras apapun aku mencoba, selalu ada hambatan yang mengusik hubungan kami. Aku takut jika pada akhirnya kami akan berpisah. Aku takut kehilangan Vallen untuk kesekian kalinya. Aku takut jika semuanya berakhir menyedihkan. Rasa takut inilah yang terkadang memberikan jarak di antara kita. Aku takut, tapi aku masih tak bisa berhenti untuk mencintainya. Dan pada akhirnya kisah ini menyakitkan. Cinta yang selalu diuji dengan rintangan. Cinta yang tak mengizinkan kami bersama.
Vallen telah pergi. Pergi lebih jauh dari sebelumnya. Meski raga ini tetap disini, meski aku dapat melihat wajah menawannya, ia kembali menjadi sosok asing yang tak kukenali. Untuk kesekian kalinya, aku harus berjuang lagi. Menghadapi Vallen yang baru. Sosok Vallen yang tanpa ingatannya. Akankah ada kebahagian di ujung kisah?
Nantikan buku keduanya:”)
aku akan lanjutin nanti... 🥰
salam cilamici