“Apa yang ada di dalam fikiran kamu, dia itu adikmu?”
Sakti menundukkan kepalanya saat bentakan itu datang dari sang Bunda. Tak pernah sekalipun ia mendapat hal seperti ini dari kedua orang tuanya. Ia adalah seorang pemuda yang patuh, tak sekalipun ia membantah perintah dan keinginan orang tuanya. Termasuk memilih jalan hidupnya, ia pasrahkan pada kedua malaikat tak bersayapnya itu. Tetapi untuk masalah jodoh, entah kenapa ia sendiri pun tak pernah menyangka jika ia akan jatuh cinta pada Ayra. Gadis yang menyandang predikat resmi sebagai adik kandungnya sendiri.
Apakah yang Sakti fikirkan sehingga ia mencintai adiknya sendiri?
Bagaimanakah kisah cintanya akan berakhir?
Dapatkah semua orang menerima perasaannya yang tak lazim ini?
A story by : Myhani
Ig : Srihani.92
Fb : Srihani
Tg : Srihani.92
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjuangan masih berlanjut
Arsa terlihat sangat menikmati kebersamaannya dengan Ayra hari ini. Sesuatu yang sangat langka ini, akan ia gunakan sebaik-baiknya. Karena moment ini sangat amat susah bisa ia dapatkan.
Sepanjang perjalanan, Ayra tak berbicara. Ia hanya sibuk melihat keluar jendela. Rasanya sangat tak nyaman berada satu mobil dengan laki-laki lain, selain Abangnya. Belum lagi, fikirannya melayanga jauh, bagaimana jika saat sampai di kampus, mereka bertemu Sakti. Apa yang akan ia katakan pada Abangnya yang sangat overproteksif itu.
“Ay, hari ini kamu ada berapa kelas?” tanya Arsa memecah keheningan diantara mereka.
“Hanya dua, Kak.” mendengar Arsa bertanya, Ayra membenarkan duduknya. Ia menoleh sekilas pada pemuda di sampinya itu.
“Kalau gitu sama dong, mau pulang bareng nggak?”
Ayra menggeleng cepat, “Enggak deh. Emm maksud aku, nggak usah kak, merepotkan.”
Asra menghembuskan napas pelan. Sebenarnya ia faham, maksud penolakkan Ayra yang sesungguhnya.
Mobil yang mereka tumpangi, akhirnya sampai di kampus. Beberapa mahasiswa melihat kedatangan mereka berdua, dengan tatapan berbeda. Ada yang menatap suka tapi kebanyakan mereka yang menatap tak suka, apalagi para kaum hawa.
Karena Arsa adalah sosok laki-laki yang selama ini menjadi most wanted kampus, setiap gerak geriknya selalu menjadi trending topik. Bukan hanya satu atau dua perempuan yang berebut ingin menjadi pacaranya. Tapi hampir semua mahasiswi kampus itu mengidolakannya. Hanya tak satupun dari mereka yang berhasil mendapatkan hati Arsa. Karena pemuda itu, seperti tak berniat menjadikan satu orangpun dari mereka untuk menjadi keksasihnya.
Hari ini, mungkin adalah hari bersejarah bagi Arsa. Pasalnya, ini adalah hari pertamanya selama tiga tahun menjadi mahasiswa, bisa datang ke kampus bersama seorang gadis.
Ayra menundukkan kepalanya sangat dalam. Ia tak nyaman menjadi pusat perhatian seperti ini. Arsa yang memahami sikap Ayra, mendekatinya. Ia mengulurkan tangan, untuk digenggam gadis itu. Tapi sepertinya Arsa melupakan sesuatu.
“Maaf kak, bukan mahram!” Ayra berjalan lebih dulu. Menghindari tangan Arsa yang masih mengambang.
Pemuda itu tertegun, ia menarik tangannya secara perlahan, meremas buku-buku jemarinya dengan sedikit kuat. Ah ia sangat malu sekali. Kenapa bisa lupa, siapa gadis yang saat ini bersamanya itu.
Arsa tersadar saat Ayra mulai menjauh dari tempatnya. Ia segera mengejar Ayra dan mensejajarkan langkahnya.
“Maaf ya, Ay?”
Kening Ayra berkerut mendengar permintaan maaf Arsa, tapi ia tak memperlambat langkah kakinya.
“Maaf, jika barusan aku sudah tidak sopan.” jelas Arsa, ia memahami keterdiamannya Ayra.
“Tidak apa, Kak.”
“Ay, kapan kita bisa goes bareng?” tanya Arsa. Ia seakan tak kehabisan cara untuk berusaha lebih dekat dengan Ayra.
Ayra tak menjawab tapi ia terlihat berfikir, ”Ayra belum tahu, kak. Mungkin nanti Ayra kabarin Kak Arsa deh.”
Walaupun tidak puas dengan jawaban Ayra, namun Arsa tetap mengangguk.
“Maaf Ayra duluan.” ucapnya lagi, ia kembali hendak mempercepat langkahnya. “Kak?” Ayra berbalik, memanggil Arsa.
“Iya, Ay.” jawan Arsa cepat. Ia berharap Ayra berubah fikiran dan memberitahunya jika ia mau pergi bersepeda dengannya.
“Terimakasih!” ucap Ayra tulus, disertai senyum manis mengembang di bibirnya. Membuat Arsa tak kuasa untuk tidak membalas senyuman itu. Walau yang diucapkan Ayra tak sesuai dengan keinginannya.
Sepeninggalnya Ayra. Arsa berbalik, menuju kelasnya. Wajahnya terlihat lebih sumringah, sepanjang koridor kampus, ia terus bersiul. Seakan hari ini ia mendapatkan hadiah luar biasa yang tak terduga.
hubungan sakti sama ayra tu sesungguhnya apa..