Nadila terkejut saat pulang dari butik nya, dia menemukan wanita hamil di rumah nya. Irfan, suami nya Nadila mengatakan bahwa dia adalah Rani, sepupu nya yang baru saja datang dari desa.
Irfan mengatakan bahwa bahwa suami nya Rani baru saja meninggal dunia dan dia tidak punya siapa- siapa di desa.
Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, awal nya Nadila percaya dengan semua ucapan suami nya. Tapi tidak berselang lama Nadila menemukan bukti, bahwa wanita itu bukan lah sepupu nya Irfan, melainkan istri sirih nya.
Setelah ketahuan, Irfan membela diri dan mengatakan alasan dia menikahi Rani karena Nadila tidak bisa memberi nya keturunan.
Nadila membalas semua perbuatan Irfan, setelah itu dia membeberkan sebuah fakta yang membuat Irfan menyesal seumur hidup nya.
Ikuti kisah nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Di satu sisi Nadila merasa kasihan pada Irfan, dia telah di bohongi oleh Rani. Anak yang ada di kandungan Rani bukan lah anak nya Irfan, bahkan Rani sendiri tidak tahu siapa ayah dari anak yang tengah di kandung nya.
Di sisi lain, Nadila merasa sakit hati dan kecewa atas pengkhianatan Irfan. Jika saja Irfan tidak menduakan nya, tentu saja Nadila tidak akan meninggal kan nya. Nadila akan setia mendampingi Irfan, walaupun mereka tidak punya keturunan. Nadila akan mengadopsi seorang anak dari panti asuhan yang akan mereka jadi pelipur lara, tapi Irfan telah menduakan nya dengan Rani, hal itu membuat Nadila memutus kan untuk mundur saja.
"Dokter Alfi, saya bisa minta tolong sama dokter?" Tanya Nadila.
"Apa itu mbak Nadila, Insya Allah saya akan membantu mbak Nadila!" Tanya Dokter Alfi.
"Tetap rahasiakan pada mas Irfan, bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan. Saya akan memberi kejutan, saat waktu nya tiba nanti!" Ucao Nadila.
"Baik lah mbak, saya akan melakukan nya!" Jawab dokter Alfi sambil mengangguk kan kepala nya.
"Terima kasih dokter Alfi, karena sudah mau membantu saya!" Ucap Nadila sambil tersenyum.
Dokter Alfi mengangguk kan kepala nya, sebagai seorang dokter dia kasihan melihat Nadila.
"Nadila, kami pamit pulang ya. Mas Alfi harus ke rumah sakit lagi!" Risti berkata pada Nadila.
"Silahkan, silahkan. Terima kasih banyak mbak Risti, dokter Alfi karen telah memesan baju di butik saya!" Ujar Nadila.
"Sama - sama Nadila, mari!" Pasangan suami istri itu beranjak pergi.
Nadila mengantarkan pelanggan nya hingga ke pintu depan, dia baru kembali ke ruangan nya saat mobil dokter Alfi berangkat dari parkiran butik nya.
Di depan meja nya Nadila kembali termenung, ucapan dokter Alif yang mengatakan bahwa Irfan datang memeriksa kan kandungan Rani telah mengganggu nya.
"Apa sekarang saja ku beri tahu mas Irfan, tentang hasil tes itu?. Bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan!" Nadila menjadi gamang.
"Ah, nanti saja. Akan ku kasih tahu setelah bercerai saja. Dengan begitu, dia pasti akan menyesali diri nya sendiri!" Guman Nadila.
Nadila meneruskan pekerjaan nya hingga waktu makan siang tiba, saat ini Mama Nilam sedang berada di luar. Dia sedang ada urusan, jadi dia tidak menemani Nadila di butik nya.
Siang ini Mama Nilam sedang berada di Mall, dia barus saja selesai bertemu dengan teman lama nya. Dia berniat untuk pulang ke butik nya Nadila, setelah itu baru mereka pulang ke rumah bersama.
Tapi sebelum Mama Nilam pergi, tanpa sengaja mata nya melihat sosok wanita yang dia kenal. Wanita itu tidak lain adalah Rani, wanita yang telah menjadi orang ke tiga di dalam rumah tangga putri nya.
"Rani??? Sama siapa lagi dia?" Sebuah pertanyaan muncul dari bibir Mama Nilam.
Rani terlihat bergelayut manja di lengan seorang pria yang sudah cukup berumur, mereka memasuki sebuah toko tas dan sepatu. Mama Nilam mengikuti mereka dari jarak yang cukup dekat, tidak lupa dia menyalahkan ponsel nya.
"Benar - benar wanita murahan, tidak cukup dengan satu pria!" Ujar Mama Nilam dengan suata lirih.
Mama Nilam lalu mengambil beberapa gambar Rani dan laki - laki itu, tidak lupa dia juga merekam video nya.
"Ini kan bukan pria yang bersama nya beberapa waktu yang laku, ini adalah pria yang lain. Rupa nya Rani adalah wanita panggilan!" Mama Nilam hanya bisa mengelus dada nya saat dia mengetahui siapa Rani.
"Bagai mana reaksi Irfan ya, saat dia tahu bahwa wanita yang menjadi istri kedua nya di pakai banyak pria?" Guman Mama Nilam lagi.
Setelah dia rasa bukti yang dia dapatkan cukup, akhir nya Mama Nilam memutuskan untuk kembali ke butik nya Nadila. Dia sudah tidak sabar lagi untuk memberi tahu Nadila, apa yang baru saja dia lihat.
******
Sore hari nya saat pulang ke rumah, Nadila dan Mama Nilam melihat Rani juga sudah kembali ke rumah. Dia berpura - pura bahwa dia seharian berada di rumah ini. Tapi baik Mama Nilam maupun Nadila tidak perduli dengan Rani, mereka bahkan melewati Rani begitu saja.
"Dasar belagu, ibu dan anak saja saja!" Omel Rani dengan kesal.
Mama Nilam dan Nadila bersikap seolah- olah Rani tidak ada, sehingga hal itu membuat Rani semakin geram. Dia sama sekali tidak di anggap di rumah ini, apalagi saat Irfan tidak berada di rumah.
Malam hari nya, Nadila memesan makanan dari luar untuk makan malam nya dan Mama Nilam. Sampai saat ini Irfan tidak juga memberikan uang pada nya untuk kebutuhan rumah ini, seperti nya Irfan memang sengaja agar Rani menggunakan uang nya sendiri seperti dulu lagi.
Tapi Rani tidak mau lagi di manfaat kan oleh Irfan, dia sengaja membiarkan mereka kelaparan malam ini. Irfan dan Rani yang sudah merasa lapar, bergegas pergi ke meja makan. Saat ini Nadila dan Mama Nilam sedang menikmati makan malam mereka.
"Rani, makanan untuk ku mana?" Tanya Irfan.
Dia tidak melihat makanan lain di meja makan, kecuali makanan yang tengah di santap oleh Nadila dan Mama Nilam.
"Apa kau lupa mas? Sampai saat ini kamu belum juga memberikan aku uang untuk kebutuhan rumah ini, lalu kenapa sekarang kau menanyakan makanan untuk kau makan?" Tanya Nadila dengan acuh.
Nadila terus menikmati makanan nya tanpa terganggu dengan kehadiran 2 manusia tidak tahu malu itu, begitu pun dengan Mama Nilam.
"Mas, aku laper. Kasihan anak kita, dia juga butuh makan!" Rani mengusap perut nya dengan wajah cemberut.
"Nadila, kok kamu tega sekali ya. Di rumah ini bukan cuma ada kau, ada aku dan Rani. Kok kamu malah pesan makanan 2 porsi saja!" Irfan berkata dengan kesal nya.
"Mas, aku tidak punya kewajiban memikir kan perut mu dan Rani. Seharusnya kau lah yang memberi ku makan, bukan malah sebaliknya. Jangan jadi manusia tidak tahu diri!" Balas Nadila yang tidak mau terus di salahkan oleh Irfan.
"Dil, kok kamu ngomong gitu. Kita ini suami istri, jadi kita harus saling membantu!" Irfan berkata sok bijak.
"Istri mu bukan cuma aku mas, ada Rani juga. Jadi kau bisa minta makan sama Rani, jangan selalu minta pada ku!" Tegas Nadila lagi.
"Nadila,,, kau,,,,!!!"
"Cukup Irfan, sebagai seorang suami kau wajib memberikan nafkah untuk istri mu. Bukan malah sebaliknya, jadi laki- laki tahu diri lah. Tapi kalau kau tidak mampu lagi memberikan nafkah pada Nadila, sebaik nya kau kembalikan dia pada ku!" Ujar Mama Nilam dengan geram.
Irfan tersentak kaget, dia tidak menyangka Mama mertua nya bisa bicara seperti itu pada nya.
mungkin arsen gk megang perusahaan jd gk tau apapun ttg bpk nya 🤣.
berarti Arsen gk punya kuasa. bpk nya sampe beli rumah buat gundik dia gk tau. berarti perusahaan seratus persen yg nangani bpk nya.
Arsen berarti gk punya kedudukan 🤣 Dan kuasa sama sekali.