Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 033
Terima Kasih Sudah Datang
Pagi datang tanpa terasa seperti pagi.
Kiara membuka mata dan menemukan Rayhan masih di sofa penunggu. Punggungnya tegak, satu tangan memegang ponsel, mata terbuka. Gelas kopi kertas di meja kecil sudah kosong. Kemejanya masih kusut, tetapi wajahnya tidak mengizinkan siapa pun menyebut kata lelah.
"Kak Rayhan tidur?" tanya Kiara serak.
Rayhan langsung menoleh. "Sudah bangun?"
"Itu bukan jawaban."
"Aku tidur sebentar."
"Berapa menit?"
"Cukup."
"Berarti tidak cukup."
Rayhan berdiri dan mengecek infus, bel panggil, lalu posisi kaki kanan Kiara. "Nyeri?"
"Masih."
"Skala?"
"Kak Rayhan benar-benar jadi dokter."
"Skala."
Kiara menyerah. "Enam."
Rayhan menekan bel panggil. "Jangan tunggu sampai delapan baru bilang."
Perawat datang, memberi obat sesuai jadwal, lalu memberi tahu dokter ortopedi akan visit setelah sarapan. Rayhan mengangguk seperti orang yang menerima briefing operasi. Kiara menatapnya, dada terasa penuh dan sedih.
"Kak Rayhan harus mandi."
"Nanti."
"Ganti baju."
"Nanti."
"Makan."
"Sudah."
"Kopi tidak dihitung."
Rayhan berhenti sebentar. "Kamu sudah belajar buruk dari aku."
"Belajar dari yang terbaik."
Senyum kecil itu akhirnya muncul di wajah Rayhan, sangat tipis, tetapi cukup untuk membuat kamar terasa tidak terlalu putih.
Cici mengirim pesan pukul delapan lewat.
Cici:
Gue masih hidup. Kepala muter, tapi masih cantik. Dokter bilang observasi aman. Lo jangan sok kuat hari ini.
Kiara:
Kamu juga.
Cici:
Pak Rayhan masih serem?
Kiara melirik Rayhan yang sedang berbicara dengan perawat di pintu.
Kiara:
Lebih serem kalau diam.
Cici:
Berarti serem banget.
Dokter ortopedi datang tidak lama kemudian bersama Dokter Raka. Pemeriksaan ulang berlangsung singkat, tetapi setiap sentuhan di sekitar pergelangan membuat Kiara mencengkeram selimut. Rayhan berdiri di sisi kepala ranjang, tidak menghalangi dokter, tetapi tangannya siap jika Kiara butuh pegangan.
"Reposisi cukup baik," kata dokter ortopedi setelah melihat foto ulang. "Untuk sementara tidak perlu tindakan operasi. Kita pakai immobilizer dan kontrol ulang di Kota Barat dalam lima sampai tujuh hari. Dua minggu pertama jangan menapak sama sekali. Kalau nyeri bertambah, kebas, atau jari kaki berubah warna, segera ke IGD."
Rayhan mencatat semuanya.
"Boleh perjalanan pulang?"
"Boleh dengan pendamping. Usahakan kaki ditopang, jangan terlalu lama menggantung. Kalau naik mobil, berhenti berkala. Kalau pesawat, minta bantuan kursi roda sampai gate."
Dokter memasang immobilizer baru bersama perawat. Bentuknya lebih kokoh daripada penyangga semalam, hitam, dengan tali perekat lebar. Ketika kaki kanan Kiara diangkat sedikit, ia menggigit napas. Rayhan langsung meletakkan telapak tangannya di sisi ranjang, dekat jarinya, tidak memaksa disentuh tetapi cukup dekat untuk digenggam.
Kiara menggenggamnya.
"Nyeri wajar," kata dokter. "Tapi kalau terasa seperti tertarik terlalu kuat, bilang."
"Tertarik," bisik Kiara.
Rayhan langsung menatap dokter.
Dokter menyesuaikan tali. "Begini?"
Kiara menarik napas lebih stabil. "Lebih baik."
Rayhan baru menurunkan bahunya.
"Saya atur mobil," kata Rayhan.
Kiara menoleh. "Mobil? Dari Kota Pelangi ke Kota Barat jauh."
"Lebih mudah kontrol posisi kakimu."
"Kak Rayhan yang nyetir?"
"Ada driver dari kantor keluarga."
Ia mengatakan itu datar, seolah memanggil driver antarkota mendadak adalah hal biasa. Kiara terlalu lelah untuk membantah.
Setelah dokter pergi, Bu Ratna menelepon. Suaranya lebih terkendali daripada semalam, tetapi tetap tajam.
"Cici akan pulang dengan mobil redaksi sore nanti. Kamu ikut Rayhan saja. Jangan masuk kantor sampai saya izinkan."
"Bu..."
"Itu perintah redaksi, bukan saran."
Kiara menutup mulut.
Galih mengambil alih sebentar. "Video aman. Polisi sudah pegang salinan resmi. Pihak Reza mulai bilang itu salah paham, tapi rekaman suara dan lokasi cukup kuat untuk pemeriksaan awal."
"Reza?"
"Belum muncul di publik sejak semalam."
Rayhan yang mendengar dari samping berkata datar, "Dia akan muncul."
Galih diam sejenak di telepon, lalu menjawab lebih sopan, "Baik, Pak."
Setelah telepon ditutup, ponsel Rayhan masuk pesan dari Sari. Ia membaca cepat, lalu mengetik balasan dengan satu tangan.
"Apa?" tanya Kiara.
"Sari kirim kontak penyidik narkoba di wilayah sini. Polres Kota Pelangi akan koordinasi, tapi untuk dugaan jaringan, mereka bisa minta asistensi BNN kalau bukti awal cukup."
"Jangan sampai Cici disebut macam-macam."
"Tidak akan kubiarkan."
"Aku juga."
Rayhan menatapnya. "Kamu fokus sembuh. Untuk melawan, kamu butuh berdiri dulu."
Kiara melihat immobilizer di kakinya. "Itu mungkin agak lama."
"Aku tunggu."
Setelah panggilan selesai, Kiara akhirnya mengatakan hal yang sejak pagi mengganggunya.
"Aku ingin bersih-bersih."
Rayhan menatapnya.
"Rambutku bau asap panggung dan rumah sakit," katanya pelan. "Aku tahu tidak boleh mandi sendiri. Tapi aku tidak tahan."
Rayhan tidak menjawab sembarangan. Ia memanggil perawat, bertanya prosedur, lalu memastikan kaki kanan Kiara tetap ditopang. Perawat membantu Kiara duduk di kursi khusus dekat wastafel kecil. Rayhan menunggu di sisi luar tirai sampai perawat berkata, "Pak, bisa bantu pegang handuk dan jaga posisi kursi?"
Baru saat diizinkan, Rayhan masuk.
Kiara duduk dengan wajah merah, rambut basah, handuk menutup bahu. Perawat sudah selesai membersihkan bagian yang perlu dengan cara aman. Yang tersisa hanya mengeringkan rambut.
"Saya bisa bantu keringkan," kata perawat.
Kiara hampir mengangguk, tetapi Rayhan sudah bertanya, "Boleh saya?"
Perawat tersenyum kecil. "Boleh, Pak. Jangan terlalu panas."
Rayhan memegang hair dryer rumah sakit seperti memegang alat yang belum pernah ia percaya. Kiara duduk diam, merasakan angin hangat menyentuh kulit kepala. Gerakan Rayhan pelan. Ia mengangkat rambut Kiara sedikit demi sedikit dengan handuk, memastikan udara tidak mengenai wajahnya terlalu kuat.
Tidak ada kata manis.
Justru itu yang membuat tenggorokan Kiara sesak.
Rayhan yang semalam bicara dengan polisi, meminta CCTV, mengatur bukti, menahan amarah, kini berdiri di belakangnya dan mengeringkan rambutnya agar ia tidak merasa kotor lagi.
"Panas?" tanya Rayhan.
"Tidak."
"Tarik rambut?"
"Tidak."
"Pusing?"
"Sedikit, tapi bukan karena hair dryer."
Rayhan mematikan alat sebentar. "Karena?"
Kiara menatap pantulan mereka di cermin kecil. Wajahnya pucat. Mata Rayhan gelap karena kurang tidur. Di antara mereka ada handuk putih, suara infus, dan luka yang belum selesai.
"Karena Kak Rayhan terlalu baik."
Rayhan diam, lalu menyalakan hair dryer lagi. "Biasakan."
Kiara menunduk, menggigit senyum yang hampir menangis.
Sore harinya, berkas pulang sementara selesai. Cici sudah lebih dulu dibawa ke mobil redaksi dengan instruksi istirahat dan larangan kerja. Sebelum pergi, ia mengirim voice note pendek.
Cici:
Ki, gue pulang duluan. Jangan sok mandiri. Kalau Pak Rayhan marah, iyain aja. Kali ini gue di pihak dia.
Kiara mendengarnya dua kali.
Beberapa menit kemudian, Cici ternyata muncul di depan kamar dengan kursi roda, didorong staf redaksi lokal yang dikirim Bu Ratna. Wajahnya masih pucat, tetapi ia memaksakan senyum lebar.
"Surprise. Gue nggak puas cuma voice note."
"Cici, kamu harus istirahat."
"Lo juga, tapi kita sama-sama susah diatur."
Kursi roda mereka diposisikan berhadapan sebentar. Kiara mengulurkan tangan. Cici menggenggamnya, lemah tetapi hangat.
"Maaf," kata Kiara.
Cici langsung memutar mata. "Kalau lo minta maaf lagi, gue lapor Pak Rayhan."
"Aku takut."
"Gue juga." Suara Cici turun. "Tapi kita hidup. Videonya aman. Itu dulu."
Kiara mengangguk, air mata naik lagi.
Cici melirik Rayhan. "Pak, saya titip Ki. Tapi jangan terlalu galak. Dia gampang pura-pura kuat kalau dimarahin."
"Saya tahu."
"Bagus."
Lalu Cici membiarkan staf membawanya pergi, sambil tetap melambaikan tangan seperti orang yang tidak baru saja pusing karena benturan kepala.
Rayhan menyiapkan tas kecil berisi obat, hasil foto, surat kontrol, dan ponsel Kiara yang layar retaknya sudah dipasang pelindung sementara. Ia mengecek ulang semua seperti mengecek perlengkapan operasi.
"Siap?"
"Aku tidak jalan."
"Aku tahu."
Kursi roda membawa Kiara sampai lobi. Driver keluarga sudah menunggu dengan mobil besar di area drop-off. Namun dari pintu lobi ke mobil, hujan tipis turun miring. Petugas keamanan menawarkan payung dan bantuan.
Rayhan melihat lantai yang licin, lalu berjongkok di depan Kiara.
"Naik."
Kiara membeku. "Kak Rayhan."
"Kaki kanan tidak boleh menapak. Aku gendong sampai mobil."
"Ada petugas."
"Aku yang gendong."
Suara itu tidak keras, tetapi final.
Kiara menatap punggung Rayhan. Lebar, sedikit basah kena gerimis dari pintu otomatis, kemeja bersih yang dibeli pagi tadi sudah mulai kusut lagi karena seharian mengurusnya.
Perawat membantu menahan kaki kanan Kiara saat ia pelan-pelan naik ke punggung Rayhan. Begitu tubuhnya menempel, Kiara langsung mencengkeram bahunya.
"Sakit?"
"Tidak. Cuma takut jatuh."
"Aku tidak akan menjatuhkanmu."
Ia tahu.
Justru karena tahu, air matanya naik lagi.
Rayhan berdiri dengan stabil. Satu tangan menahan paha Kiara, tangan lain memastikan kaki kanannya tidak terbentur. Hujan tipis menyentuh udara di depan lobi, membawa bau aspal basah dan angin dingin sore itu.
Kiara menunduk. Wajahnya perlahan ia sembunyikan di punggung Rayhan.
Di sana, ia bisa merasakan napas Rayhan yang tertahan, panas tubuhnya di balik kemeja, dan detak yang tidak setenang langkahnya. Ternyata bukan hanya ia yang takut sejak semalam.
Selama dua hari di Kota Pelangi, ia merasa terus dikejar. Oleh Reza. Oleh tangga. Oleh rasa bersalah. Oleh takut.
Sekarang, untuk pertama kalinya, ia tidak melihat ke belakang.
"Kak Rayhan..." Suaranya pecah.
"Hm?"
Kiara memejamkan mata, menekan wajah lebih dalam ke punggungnya.
Tangisnya tertahan di tenggorokan.
"Terima kasih sudah datang..."