NovelToon NovelToon
Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

Cinta Terbagi : Istri Kontrak CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cacctuisie

“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.

“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.

Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.

“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.

Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CTIKCD - Dituduh

“Gak nyangka kalau aku bakalan dapat kejutan sebesar ini dari Mas Elgan. Di tahun ini, aku mendapatkan kebaikan meski banyak hal-hal pahit yang harus aku lalui,” gumam Nasya yang saat ini sedang berada di jalan menaiki ojek.

Nasya merasakan kebahagiaan yang sangat manis rasanya. Sore ini, senyumannya tak pudar. Menikmatinya sambil mengingat ucapan-ucapan Elgan yang berusaha akan menerimanya. Di samping itu, Nasya tidak boleh memaksa maupun berharap akan diterima sepenuhnya.

“Aku akan berusaha membuat Mas Elgan berpaling padaku. Jika ini kesempatannya, aku akan mencoba. Selain itu, aku akan lebih tegas pada perasaanku. Aku tidak ingin menyakiti siapapun,” batin Nasya.

Di tempat lain, Reina yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Berlanjut menemui seseorang yang ingin bertemu. Meskipun, dia sangat lelah. Reina menyetir mobilnya sendiri menuju tempat yang sudah dijanjikan. Setibanya di kafe tersebut, Reina memeriksa wajahnya di cermin dan memasang senyum agar terlihat ramah.

“Aku hanya perlu baik dan bersikap baik,” gumam Reina berjalan masuk dan menghampiri orang tersebut yang sudah menunggunya.

Orang yang ditemui Reina tak lain adalah Iren. Iren berdiri untuk menyambut Reina. “Udah lama nunggu? Kabar kabur gimana, Ren?” sapa Reina dengan pertanyaan ringan.

“Baru sih ini, tahu lah kabar aku gimana. Sesuai ceritaku ke kamu, Rei. Oh iya, aku udah pesen makan kayak biasanya,” jawab Iren.

“Oke, deh. Duduklah sambil nunggu makan. Gimana? Udah ketemu siapa cewek itu?” tanya Reina tanpa basa-basi.

Pertemuan mereka kali ini untuk membahas curhatan Iren pada Reina. Keduanya sudah akrab sejak Elgan sebelum menjadi kekasih Elgan pada saat itu. Dahulu mereka sering bersama dan berkumpul receh. Namun, saat semua sudah berubah. Mereka sibuk dengan karir masing-masing.

“Udah, temen sekantornya, Rei. Tega bangetkan suamiku.Padahal, aku kurang apa coba. Dulu, sebelum aku keluar dari kantor yang sama. Dia minta aku fokus ke urusan rumah tangga, itupun sebelum menikah. Giliran udah ada Lala, dia minta aku kejar karir lagi. Tahu se-frustasi apa aku waktu itu? Sekarang dia malah … tau sendiri, kan? Aku kenal cewek itu, tapi gak deket,” jelas Iren.

Reina manggut-manggut. “Terus mau diapain cewek itu? Aku bakalan dukung. Aku paling benci orang ketiga, aku kan udah ngerasain juga,” jawan Reina.

“Paham, aku gak tau harus gimana. Aku masih pertimbangin dulu. Aku takut menyalahkan, tapi ternyata suamiku yang lebih salah. Cuma ya keduanya yang tetap salah, sama-sama mau. Mana bisa terjadi kalau mereka gak klik, kan?” Iren mencengkeram tangannya kuat.

Ketika mereka terus berbincang. Tiba-tiba ponsel Iren berbunyi. Iren melihat layar ponselnya, memeriksa orang yang menghubunginya. Jika itu suaminya, Iren tidak akan menjawabnya. Akan tetapi, panggilan itu dari mamanya. Iren segera menjawab.

Setelah panggilan tersebut selesai. Reina terkejut dengan raut wajah Iren yang berubah tak santai. Tanpa berkata apapun, Iren beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Reina. Dapat dipastikan bahwa ada sesuatu yang terjadi dan pasti tidak baik.

“Ren, Iren. Mau ke mana? Kok malah ninggalin, sih?” tanya Reina yang tak mendapat jawaban.

***

Nasya sudah membersihkan dirinya setelah selesai memasakkan makanan khusus Elgan untuk makan malam bersama. Nasya bersemangat untuk menyambut kedatangan Elgan. Langkahnya keluar dari kamar menuju ruang tamu. Baru saja akan duduk, bel rumah berbunyi.

Nasya sudah meminta Bik Jum untuk tidak membukakan pintu karena Nasya ingin menyambut suaminya secara langsung. Mengingat kebaikan Elgan hari ini, Nasya ingin membalasnya dengan memperlakukannya lebih baik. Akan tetapi, bukan Elgan yang datang saat dirinya membuka pintu.

“Iren? Ada apa dat …,” ucapan Nasya terhenti saat tangan Iren yang lebih dulu bertindak.

Plak!

Suara itu begitu nyaring untuk menjadi salam pembuka. Nasya terkejut dengan tindakan Iren yang tanpa mengatakan apapun langsung menamparnya. Nasya memegangi pipi kirinya yang terasa panas. Menatap raut wajah yang biasanya datar, kini dari sorot katanya terlihat ada amarah yang besar.

“Begini cara kamu mau ambil hati mama, hah?! Kampung tau nggak!” celetuk Iren penuh emosi.

“Maksud kamu apa ya, Iren? Aku gak paham,” sahut Nasya tak mengerti arah pembicaraan Iren.

Iren tertawa hambar, seakan dipermainkan oleh orang yang baru masuk ke keluarganya. Hanya karena tak diinginkan, melakukan segala cara untuk meluluhkan hati semuanya. Iren menganggap hal itu lucu sekali. Sampai dirinya harus dilibatkan.

“Sok sokan gak tau? Heh! Aku sudah kasih peringatan kemarin, tapi malah gak dihiraukan. Masa iya langsung lupa? Memangnya mau berharap apa? Kamu pikir mama akan luluh begitu saja. Tentu tidak! Jangan ngarep ketinggian, liat posisi kamu saat ini. Gak akan ada tempat sampai kapanpun itu,” balas Iren.

Elgan baru saja pulang, menyaksikan perbuatan adiknya yang keterlaluan. Elgan melangkah cepat agar segera mengetahui apa yang terjadi. Iren tak menghiraukannya lagi, Elgan datang pun masih tersulut amarah yang menggebu-gebu.

“Iren! Apa-apaan kamu ini? Kalau ada masalah dibicarakan baik-baik. Ini bukan Iren yang Kakak kenal,” tegur Elgan.

“Oh, Kakak belain wanita ini juga? Makanya, dia makin berani bertindak. Gak puas udah rebut calon suami orang, sekarang mau jadi kata-kata kasih informasi ke mama. Gak akan berhasil, Kak,” jawab Iren masih dengan tawa hambar.

Setelah mentelaah setiap ucapan Iren. Nasya baru paham arah pembicaraan yang membuatnya marah tak kunjung reda. Nasya sama sekali tidak pernah membahas apapun dengan keluarga Iren ke mamanya. Pasti ada yang tidak beres.

“Iren, aku gak pernah kasih tau mama dan siapapun hanya aku simpan sendiri. Pasti ada yang salah, kamu salah paham,” kata Nasya membekas diri.

“Sebenarnya ada apa? Jelaskan pada Kakak,” pinta Elgan seraya memegang kedua lengan Iren.

Iren mulai meneteskan air matanya. “Kak! Kakak tau kan gimana perjuangan aku selalu bukan anak kandung mama. Aku berjuang sendiri untuk bangkit dan mendapat tempat layak meski aku selalu diakui. Tapi karena dia yang tak menjaga lisannya. Mama khawatir dan juga marah padaku.” Iren menunjuk Nasya.

“Dia! Karena dia yang kasih tahu kalau suami ku berani selingkuh ke Mama, Kak. Dia yang ngasih tahu, Kak. Padahal, aku udah minta jangan ikut campur, tapi dia gelap mata mau mendapat hati mama. Dia gak tau apa-apa, Kak!” Suara Iren terus meninggi.

“Bagaimana bisa kamu menyalahkannya tanpa ada bukti? Nasya tidak akrab dengan mama, bagaimana bisa Nasya memberitahu mama, Ren?” sahut Elgan agar Iren lebih bijak lagi mengatasi situasi.

“Iya cuma dia yang tau, Kak. Lala gak mungkin paham hal-hal begini. Pasti dia pelakunya!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!