Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalau begitu pilih, aku atau dia!
"Aku... aku dan Nia sudah menikah..."
Ucapan Arsen yang pelan itu bagaikan hantaman gada besi yang menghancurkan seluruh pertahanan batin Rindu.
Napasnya tercekat di tenggorokan, suaminya bukan sekadar berselingkuh atau menyerahkan nafsu sesaat pada Nia tanpa status, mereka sudah menikah? Mereka sudah mengikat janji suci di belakangnya!
"Apa?!"
Bukan hanya Rindu, Pak Baskoro pun kaget setengah mati dengan pernyataan itu. Wajah pria tua itu memerah padam, menyadari anak laki-laki kebanggaannya telah berani memadu istri dan menikah lagi tanpa sepengetahuan dan restu darinya sebagai kepala keluarga.
"Kamu... kamu sudah menikah lagi, Arsen?!" tanya Ratna, suaranya melengking tinggi, antara syok dan tak percaya.
"Iya, Ma..." ucap Arsen dengan kepala semakin tertunduk dalam.
Rindu mengusap air matanya yang jatuh tanpa permisi. Senyum sinis yang penuh rasa getir terukir di bibirnya yang pucat. Rasa sakitnya sudah melewati batas toleransi, berubah menjadi keputusan bulat yang tak bisa ditawar lagi.
"Bagus. Kalau begitu, segera ceraikan aku," kata Rindu dingin.
Kata-kata itu membuat Arsen mendadak mendongak, menatap istrinya dengan pancaran mata penuh kepanikan.
"Aku nggak mau, Sayang! Aku nggak mau cerai sama kamu!"
Dengan gerakan cepat, Arsen mendekat dan meraih telapak tangan Rindu yang terasa sedingin es.
"Aku cinta sama kamu, Rindu. Tolong, jangan minta cerai..."
Rindu menepis tangan itu dengan rasa jijik yang memuncak. Namun, hatinya yang telanjur hancur berkeping-keping memicu sengatan rasa dendam yang amat sangat.
Jika Arsen tega menikah dengan Nia di belakangnya dan menginjak-injak harga dirinya, ia tidak akan membiarkan Nia tertawa di atas penderitaannya.
Hatinya menjerit menuntut keadilan. Jika Arsen menceraikan Nia dan mencampakkan wanita itu, setidaknya rasa sakit hati Rindu yang menganga ini akan sedikit terkikis.
"Baik," potong Rindu tajam, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.
"Kalau kamu nggak mau ceraikan aku, ceraikan Nia."
Arsen membeku. Mulutnya terkatup rapat, napasnya memburu saat harus berhadapan dengan sudut tersulit dalam hidupnya.
"Aku... aku juga nggak bisa," cicit Arsen pelan.
Dada Rindu bergemuruh.
"Kamu nggak bisa?! Kamu nggak mau ceraikan aku, dan kamu juga nggak mau ceraikan Nia?!" suara Rindu meninggi, sarat akan muak dan amarah yang meledak-ledak.
"Kamu cuma punya satu pilihan, Arsen!" tegas Rindu. Tatapannya menusuk tajam pada wajah pria di hadapannya, tanpa ada lagi embel-embel Sayang ataupun Mas yang dulu selalu ia ucapkan dengan penuh rasa hormat.
"Aku... atau Nia?"
Arsen mencengkeram rambutnya sendiri, frustrasi.
"Aku... aku nggak bisa ceraikan Nia. Dia... dia sedang hamil."
DUARRR!
Satu lagi hantaman dahsyat meremukkan sisa-sisa jiwa Rindu hingga tak berbentuk. Hamil? Nia hamil, Anak Arsen. Anak dari pria yang selama ini tidur di sampingnya.
"Apa?! Nia hamil?!" Mata Ratna membulat sempurna. Kekagetan yang tadinya menghiasi raut wajah wanita tua itu mendadak luntur dalam hitungan detik.
"Iya, Ma... Nia hamil anakku," sahut Arsen pelan.
Kenyataan itu seketika mengubah suasana di dalam ruang tengah. Wajah Ratna yang tadinya tegang kini mendadak berbinar cerah. Binar kegembiraan yang begitu luar biasa terpancar jelas dari matanya.
Senyum lebar terukir di bibir Ratna, seolah baru saja menerima kabar paling membahagiakan di muka bumi. Bagi Ratna, kehadiran seorang cucu dari darah daging Arsen adalah segalanya, hal yang tidak pernah bisa diberikan oleh Rindu selama tiga tahun ini.
Tanpa memikirkan perasaan Rindu yang sedang berdarah-darah, Ratna langsung melangkah maju dan pasang badan membela Arsen.
"Tuh, kan! Dengar sendiri, kan?!" seru Ratna dengan suara lantang dan wajah penuh kemenangan. Ia menunjuk wajah Rindu dengan tatapan menghina.
"Arsen nggak bisa ceraikan Nia karena Nia sedang mengandung cucu Mama! Dia sedang membawa keturunan keluarga ini!"
Ratna melipat tangannya di dada, lalu menatap Rindu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
"Kamu harusnya sadar diri, Rindu! Tiga tahun kamu menikah sama Arsen, apa hasilmu? Nggak ada! Kamu itu mandul! Kamu nggak bisa kasih Arsen anak, nggak bisa kasih Mama cucu! Harusnya kamu terima kasih sama Nia karena dia sudah menyelamatkan garis keturunan keluarga ini!" cecar Ratna tanpa belas kasihan sedikit pun.
"Ma! Jaga ucapan Mama!" tegur Pak Baskoro keras, namun Ratna sama sekali tak peduli.
"Kenapa harus dijaga, Pa?! Ini kenyataan!" bentak Ratna pada suaminya, lalu kembali menyerang Rindu yang berdiri mematung.
"Nia itu jauh lebih berharga daripada kamu! Dia terbukti bisa jadi wanita sempurna buat Arsen, bukan cuma numpang hidup dan keluyuran nggak jelas kayak kamu! Jadi jangan mimpi mau nyuruh Arsen ceraikan Nia. Kalau ada yang harus angkat kaki dari rumah ini karena nggak berguna, itu kamu, Rindu!"
Cercaan demi cercaan itu menembus jantung Rindu. Di balik air mata yang mengalir deras, Rindu menatap mertua dan suaminya.
Di rumah ini, kebenaran dan kesetiaannya selama tiga tahun sama sekali tak bernilai di hadapan sebuah kehamilan dari wanita selingkuhan.
"Baik, kalau begitu selamat untuk kehamilan menantu Mama itu," ucap Rindu dengan nada suara yang teramat dingin dan datar. Tidak ada lagi raut amarah di wajahnya, hanya kehempaan luar biasa yang tersisa.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Rindu memutar tubuhnya dan melangkah mantap menuju kamar.
Setiap pijakan kakinya terasa begitu berat, namun ia menolak untuk terlihat hancur lebih jauh di hadapan orang-orang memuakkan ini.
"Mau ke mana kamu, Rindu?! Jangan berlagak kayak korban ya!" teriak Ratna melengking, mencecar punggung Rindu yang kian menjauh. Wanita tua itu melangkah beberapa tindak seraya menunjuk-nunjuk penuh emosi.
"Harusnya kamu malu! Tiga tahun cuma bisa ngabisin uang anak saya tanpa bisa kasih keturunan! Begitu ada wanita lain yang bisa kasih Arsen anak, kamu malah masang muka sok suci! Dasar wanita nggak tahu diri! Jangan harap kamu bisa dapat simpati dari keluarga ini!" cecar Ratna tanpa henti, suaranya menggema hebat memenuhi setiap sudut rumah mewah itu.
Sementara itu, Arsen yang baru saja tersadar dari paut kekagetannya langsung panik. Keputusan Rindu yang begitu dingin justru mendatangkan ketakutan terbesar dalam hidupnya.
"Rindu! Tunggu, Rindu!" teriak Arsen.
Pria itu langsung berlari mengejar Rindu, mengabaikan teriakan ibunya yang masih berapi-api. Langkah kakinya yang tergesa menaiki anak tangga menyuarakan keputusasaan yang teramat sangat.
"Sayang, tolong dengarkan aku dulu! Jangan pergi, Rindu!" panggil Arsen dengan suara serak menahan tangis.
Ia berhasil menyusul Rindu tepat di depan pintu kamar mereka. Dengan jemari yang gemetar hebat, Arsen meraih pergelangan tangan Rindu, menahannya agar tidak melangkah lebih jauh. Wajah pria itu tampak memelas, penuh kehancuran dan rasa bersalah yang kini mengepung jiwanya.
"Tolong, Rindu... jangan kayak gini. Aku memang salah, aku jahat, tapi aku nggak bisa kehilangan kamu. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk perbaiki semuanya..." ratap Arsen mengiba, menatap mata istrinya yang kini terasa begitu asing dan membeku.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰