Dua jam sebelum akad, Devon tiba-tiba dijebak masuk penjara. Demi harga diri keluarga, Liam terpaksa turun tangan menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Mira Hazelya.
Namun, malam pertama yang seharusnya indah justru berubah menjadi neraka. Liam murka saat mendapati fakta bahwa istri barunya ternyata sudah tidak lagi perawan!
"Kau memanfaatkanku?! Kau menjebakku untuk menjadi penanggung jawab dosa orang lain?!" bentak Liam penuh amarah, siap melayangkan talak.
Tepat sebelum Liam melangkah pergi, sebuah rahasia besar terbongkar. Noda di tubuh Mira bukan karena ia wanita murahan, melainkan bukti pengorbanan berdarah demi menyelamatkan keluarga Liam dari kehancuran.
Saat rasa benci dalam semalam berubah menjadi rasa bersalah yang mencekik dada, sanggupkah Liam menyembuhkan luka di hati Mira? Sementara di kampus, mereka harus bersandiwara seolah tidak saling kenal!
Kita Simak Yuk Kisah Selanjutnya Di Novel => Istri Pengganti Yang Terluka.
By - Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Langit di atas kampus Universitas Indonesia Baru mendadak berubah menjadi abu-abu pekat sejak pukul tiga sore. Angin bertiup kencang, mengguncang dedaunan pohon mahoni di sepanjang trotoar fakultas, sebelum akhirnya menumpahkan tetesan air yang masif ke bumi.
Hujan deras mengguyur tanpa ampun, menciptakan tirai air tebal yang mengaburkan pandangan dan menimbulkan suara gemuruh yang bising saat menghantam atap-atap gedung kuliah.
Di selasar luar Gedung C Fakultas Ilmu Sosial, Hilmira Hazelya berdiri mematung. Udara dingin pasca-hujan langsung merangsek masuk, menembus gamis katun tebal berwarna abu-abu gelap yang ia kenakan. Khimar hitam panjangnya bergoyang pelan tersapu angin basah.
Hilmira merapatkan pelukannya pada tas ransel kecil di dadanya. Sepasang mata bulatnya menatap nanar ke arah pelataran parkir yang tergenang air. Sopir pribadi yang biasa menjemputnya terjebak macet total akibat banjir di jalur luar gerbang samping, dan ia terpaksa menunggu di area terbuka ini.
Kehadiran belasan mahasiswa lain yang juga berteduh di selasar tersebut mulai membuat dada Hilmira berdenyut tak nyaman. Ruang publik yang padat selalu memicu sisa trauma di kepalanya. Setiap kali ada sekelompok pria berjalan mendekat, ia secara refleks melangkah mundur, menempelkan punggung sempitnya ke dinding pilar semen yang dingin.
"Belum pulang, Hilmira?"
Sebuah suara bariton yang ramah menembus deru suara hujan.
Rian melangkah mendekat dari arah koridor dalam. Ketua BEM itu sudah mengenakan jaket parka berwarna hijau tentara. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah payung lipat berukuran sedang dengan corak kotak-kotak. Senyumnya yang hangat dan menenangkan langsung terkembang saat melihat Hilmira.
Hilmira sedikit tersentak, namun segera menundukkan kepala dengan sopan. "Iya, Kak Rian. Masih menunggu jemputan."
Rian melihat arloji di pergelangan tangannya, lalu kembali menatap Hilmira dengan pandangan penuh perhatian. "Ini sudah hampir jam lima sore, dan hujannya sepertinya tidak akan reda dalam waktu dekat. Jemputanmu mungkin akan sangat terlambat karena jalur samping banjir. Bagaimana kalau aku antar sampai halte depan? Setidaknya di sana ada tempat duduk yang lebih nyaman dan tidak terlalu berangin."
Hilmira tampak bimbang. Berada di tempat seramai ini sendirian memang menyiksanya, tetapi berjalan berdua dengan Rian di bawah satu payung jelas melanggar batas kenyamanannya dan batasan tak kasat mata dalam kontrak satu semester yang ia sepakati bersama Arkan.
Melihat keraguan Hilmira, Rian tersenyum lembut, mencoba mencairkan suasana. "Tenang saja, aku tidak akan menggigit. Aku akan menjagamu sampai halte."
Rian melangkah maju, membuka payung lipatnya dengan bunyi klik yang renyah. Ia turun satu anak tangga menuju area yang mulai terkena tampias air hujan, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Hilmira.
Tangan kiri Rian perlahan terangkat, bergerak hendak menyentuh bahu sempit Hilmira dengan sangat hati-hati, berniat membimbing wanita itu agar melangkah masuk ke bawah naungan payungnya.
Namun, tepat sebelum ujung jari Rian menyentuh helai kain khimar di bahu Hilmira. ...
SRRRREKKK!
Sebuah payung golf berukuran raksasa berwarna hitam pekat mendadak terbuka dengan sentakan kuat, memotong jalan di antara mereka bagai dinding pembatas yang mutlak.
Tirai air hujan yang jatuh di antara mereka terhempas kasar oleh benturan permukaan payung besar tersebut. Di balik gagang payung hitam yang kokoh itu, sesosok pria bertubuh tinggi tegap setinggi 185 sentimeter berdiri dengan keagungan yang mengintimidasi.
Arkan Oliver.
Pria itu mengenakan kemeja rajut hitam berkerah tinggi yang dibalut dengan mantel wol panjang berwarna hitam arang yang terstruktur tegas di bagian bahu.
Rambut hitamnya yang sedikit basah di bagian ujung justru mempertegas ketampanan wajahnya yang sedingin es pahatan. Sepasang mata elangnya yang tajam memancarkan kilat kemarahan yang begitu pekat dan pekat, menembus langsung ke dalam manik mata Rian.
Aura cold CEO yang melekat pada Arkan malam ini terasa begitu menekan, sanggup membungkam suara gemuruh hujan di sekitar mereka.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada Rian, tangan kanan Arkan yang kekar bergerak dengan gerakan yang sangat dinamis, presisi, dan penuh dominasi.
Ia mencengkeram pergelangan tangan Hilmira yang terbalut kain gamis, lalu menarik tubuh mungil wanita itu dengan satu sentakan lembut namun tegas, memaksa Hilmira keluar dari radius Rian dan masuk sepenuhnya ke dalam kurungan ruang aman di bawah payung golf hitam miliknya.
DEG.
Jantung Hilmira berdegup gila di dalam dada. Punggungnya menabrak dada bidang Arkan yang keras dan hangat. Aroma parfum maskulin yang mewah bercampur kesegaran mint dari tubuh Arkan langsung mengepung indra penciumannya, seketika mengusir rasa dingin yang sejak tadi menyiksa tubuhnya.
Rian tertegun, tangannya yang menggantung di udara perlahan diturunkan. Sepasang matanya menyipit, menatap cengkeraman tangan Arkan pada pergelangan tangan Hilmira yang terlihat begitu posesif.
"Kak Arkan?" suara Rian terdengar menuntut penjelasan, nada ramahnya kini lenyap, digantikan oleh ketegasan seorang pemimpin organisasi yang merasa wilayahnya diusik secara tidak sopan. "Apa maksudnya ini? Saya hanya berniat membantu Hilmira menuju halte."
Arkan tidak melepaskan cengkeramannya pada tangan Hilmira. Ia memutar sedikit tubuh tegapnya, memosisikan dirinya sebagai perisai total yang menyembunyikan Hilmira di belakang punggung kokohnya, menjauhkan istrinya dari pandangan Rian.
Arkan menatap Rian dari balik tatapan mata elangnya yang sedingin es. Sudut bibirnya terangkat satu milimeter, membentuk sebuah seringai tipis yang sarat akan arogansi dan tantangan yang berbahaya.
"Dia tidak membutuhkan bantuanmu, Rian," suara bariton Arkan terdengar sangat rendah, berat, dan bergema penuh otoritas mutlak di antara desir angin hujan.
"Sebagai pengawas akademisnya, aku bertanggung jawab atas keselamatan setiap mahasiswa di bawah bimbinganku sampai mereka meninggalkan area fakultas. Dan untuk mahasiswi yang satu ini..." Arkan menjeda kalimatnya, mengeratkan sedikit genggamannya pada tangan Hilmira, mengirimkan sinyal kepemilikan yang sangat kentara. "...dia berada di bawah pengawasan prioritasku. Tugasmu sebagai ketua BEM tidak mencakup urusan pribadi mahasiswi saya."
Ketegangan di antara kedua pria tampan itu kian memuncak, menciptakan atmosfer canggung dan meresahkan yang membuat beberapa mahasiswa di selasar mulai berbisik-bisik tegang menonton drama visual di depan mereka.
Rian melangkah satu langkah maju, tidak gentar dengan intimidasi Arkan. "Perlindungan atau kekangan, Kak Arkan? Sebagai pengawas kuliah, tindakan Anda menahan seorang mahasiswi seperti ini terlihat sangat berlebihan dan personal."
Arkan menatap Rian dengan tatapan mata yang kian menggelap, memancarkan keposesifan murni seorang pria yang egonya telah tersulut habis akibat kecemburuan.
"Personal atau tidak, itu bukan urusan yang bisa kau pertanyakan," sahut Arkan dingin tanpa ekspresi. Ia membetulkan posisi payung hitamnya dengan gestur yang sangat berkelas, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Hilmira.
Tanpa memedulikan Rian lagi, Arkan menatap lurus ke dalam sepasang mata bulat Hilmira yang sedang menatapnya dengan pandangan linglung dan berdebar gila. Tatapan mata Arkan saat itu begitu intens, seolah sedang menegaskan kembali siapa pria yang sebenarnya berhak berdiri di sampingnya.
"Jalan," perintah Arkan rendah, suaranya tidak lagi ketus, melainkan sebuah instruksi protektif yang mutlak.
Hilmira hanya bisa mengangguk pasrah. Di bawah kurungan payung golf hitam besar dan dekapan hangat aura Arkan yang melindunginya dari terpaan angin malam, Hilmira melangkah maju, berjalan beriringan dengan langkah lebar Arkan menembus derasnya hujan menuju pelataran parkir tempat Maserati hitam milik Arkan sudah menunggu.
Sandiwara satu semester di kampus ini kini telah ternoda oleh percikan cemburu yang teramat nyata, meninggalkan Rian yang masih berdiri terpaku di selasar, menatap hilangnya punggung gadis bercadar itu di balik dominasi sang pewaris Oliver Group.
...----------------...
To Be Continue ....
marah tandanya sayang 🤗
Arkan kamu sudah lupa dengan perjanjian itu 🤸🏼♀️😅
padahal bagus Liam
makanya jangan sok berkuasa 🫤🫤
emangnya seperti apa?