NovelToon NovelToon
LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?

Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.

MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?

NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 : MANIS

BAB 5 — MANIS

Mentari pagi menyinari taman luas di kediaman keluarga Axlarta. Cahaya keemasan menembus sela-sela daun, membuat embun di ujung dedaunan berkilau seperti berlian. Suara burung bersahutan dari atas pohon mangga tua. Damai. Terlalu damai untuk Eiri.

Di salah satu kamar di lantai dua, kelopak mata terbuka perlahan.

"..."

Langit-langit putih dengan lampu kristal besar. Gorden tebal. Ruangan asing yang terlalu bersih.

Beberapa detik kemudian ingatan kembali seperti ditampar.

`Tanda tangan. Pernikahan. 2 Miliar.`

"Aku... sudah tinggal di rumah Mahendra."

Napas panjang keluar sebelum tubuh turun dari tempat tidur king size yang tenggelam.

Kaki menyentuh karpet tebal. Hangat.

Mata Eiri tertuju pada toples kaca di atas meja rias. Lolipop warna-warni di dalamnya memantulkan cahaya matahari. Merah, pink, kuning, biru. Seperti pelangi.

Tangan terulur tanpa sadar dan mengambil satu. Rasa stroberi. Warna merah muda.

"Hanya satu tidak apa-apa..."

Bisiknya seperti anak kecil mencuri permen.

Bungkus `kresek` dibuka. Manis langsung lumer di lidah. Stroberi. Asam manis.

Senyum kecil mengembang tanpa sadar. "Enak..."

Kehangatan aneh menyebar di dada. Mengalir sampai ke ujung jari. Rasanya familiar. Nyaman. Seolah pernah merasakan manis yang sama, di tempat yang sama, di kursi kecil, bersama seseorang yang mendorongnya.

Tapi saat mencoba mengingat lebih dalam, kepala mendadak berdenyut.

"Akh..."

Pelipis ditekan kuat. "Kenapa akhir-akhir ini sering merasa seperti pernah mengalami sesuatu... seperti déjà vu..."

Sakitnya hilang secepat datang. Eiri menggeleng. "Lupakan."

Di lantai bawah. Ruang makan.

Mahendra duduk di ujung meja panjang dari kayu jati. Berkas perusahaan terbuka di samping piring. Pena berhenti saat seorang pelayan mendekat dan membungkuk.

"Tuan."

"Hm?"

Suara datar tanpa emosi.

"Nona Eiri memakan lolipop yang ada di kamar. Yang di toples kaca."

Jari Mahendra berhenti membalik halaman. Tintanya hampir menembus kertas.

"Benarkah?"

Nada suaranya naik sedikit. Hampir tidak terdengar.

"Iya, Tuan. Yang rasa stroberi."

Sudut bibir Mahendra terangkat tanpa sadar. Senyum tipis yang jarang muncul. Yang tidak pernah dilihat karyawannya selama 10 tahun.

"Dasar..."

Gumamnya pelan. "Gadis itu memang tidak pernah berubah. Selalu stroberi."

Pelayan hanya mengangguk bingung. Tidak mengerti maksudnya. Tapi merasakan hawa di ruangan jadi sedikit lebih hangat.

Tak lama, langkah kaki terdengar dari tangga marmer. `Tak... tak... tak...`

Eiri masuk ke ruang makan dan langsung menunduk dalam. "Selamat pagi, Tuan."

Kepala Mahendra terangkat dari berkas. Mata birunya menyapu dari atas sampai bawah. Gaun rumah sederhana. Rambut dikuncir. Wajah pucat tapi bersih.

"Duduk."

"Baik."

Tubuh Eiri duduk di kursi paling ujung. Jarak 5 kursi dari Mahendra. Meja penuh dengan makanan. Roti panggang, telur mata sapi, sereal, buah potong, jus. Tapi tangan tidak berani menyentuh. Takut salah.

"Tidak lapar?"

Pertanyaan itu tiba-tiba.

Eiri kaget. "Lapar..."

Suara kecil.

"Lalu kenapa tidak makan?"

Alis Mahendra berkerut.

"Saya... tidak enak. Ini bukan hak saya."

Napas pelan keluar dari Mahendra. Melelahkan.

"Eiri."

"Iya, Tuan?"

"Angkat kepala."

Dengan ragu, kepala terangkat. Bertemu mata biru itu.

"Selama tinggal di sini, berhenti berpikir sebagai tamu. Berhenti berpikir sebagai peminjam. Mulai hari ini, rumah ini juga rumahmu. Makanan ini juga jatahmu."

Mata Eiri membulat. Air mata hampir jatuh. Tidak menyangka kalimat itu akan keluar dari mulut orang yang 4 hari lalu melempar pisau.

"Terima kasih..."

Suara lirih. Tulus.

Sarapan baru berjalan beberapa menit ketika pintu ruang makan terbuka dengan semangat `BRAK!`

"Selamat pagi semuanya! Udara segar!"

Marchel masuk dengan jas biru langit dan senyum selebar lapangan. Wangi citrus langsung memenuhi ruangan.

"Mahendra! Benar-benar makan pagi? Bukan cuma kopi pahit dan rokok?"

Lirikan datar. "Kenapa? Ada masalah?"

"Biasanya kamu alergi sama sarapan. Katanya buang-buang waktu."

Pandangan Marchel lalu beralih. Senyumnya melembut. "Halo lagi, Eiri. Tidur nyenyak?"

Senyum kecil dibalas Eiri. Canggung tapi tulus. "Pagi, Tuan Marchel. Nyenyak. Kasurnya empuk."

Melihat dua orang itu tersenyum satu sama lain, rahang Mahendra mengeras. Sendoknya diletakkan `klang` dengan keras.

"Marchel."

Nadanya menekan.

"Hm? Kenapa sih jutek banget pagi-pagi."

Tawa kecil.

"Kalau tidak ada urusan perusahaan, pulang."

Tawa Marchel pecah. "Hahaha... cemburu ya? Kasian. Istri sendiri diambil orang."

"Aku hanya tidak suka rumah berisik."

Bohong.

"Baik, baik. Aku pergi."

Sebelum keluar, langkah Marchel berhenti di dekat kursi Eiri. Dia membungkuk sedikit. "Eiri."

"Iya, Tuan Marchel?"

"Kalau mulai digalakin dan rumah ini kerasa kayak penjara, kabur saja. Ada yang siap menolong 24 jam."

Kedip mata. Nakal.

Tawa kecil keluar dari Eiri. Lega. "Baik. Terima kasih."

Melihat tawa itu, genggaman Mahendra di atas meja mengerat sampai buku-buku jari memutih lagi.

Siang hari. Jam 1.

Tur rumah dimulai. Dipandu oleh kepala pelayan.

"Ada perpustakaan dengan 10 ribu buku. Ada ruang musik dengan piano Steinway. Ada kolam renang indoor. Ada gym. Dan taman belakang seluas 2 hektar."

Kepala Eiri mengangguk terus. Matanya tidak cukup. Rumah itu terlalu besar. Bisa tersesat jika berjalan sendiri. Bisa mati kedinginan di dalamnya.

Saat melewati taman belakang, langkah Eiri berhenti mendadak.

Di tengah rumput hijau yang terawat ada sebuah ayunan kayu tua. Cat putihnya sudah sedikit terkelupas. Talinya tebal. Dudukannya dari kayu.

Jantung Eiri `dug`. Sakit.

"Kenapa berhenti, Nona?"

Tanya pelayan.

"Aku..."

Alis Eiri berkerut. Memegang dada. "Merasa pernah bermain di ayunan seperti ini. Dulu. Waktu kecil."

Pandangan Mahendra yang dari tadi diam ikut tertuju ke ayunan.

Dadanya sesak. Ingatan berkelebat seperti petir.

16 tahun lalu. Seorang gadis kecil rambut dikuncir dua. Selalu meminta didorong lebih tinggi. `Lebih tinggi Kak!` Tangan kecil memegang lolipop stroberi. Tawa yang nyaring memecah sore.

Tenggorokannya tercekat.

Kepala Mahendra menunduk. Menyembunyikan ekspresi.

"Masih ada harapan..."

Gumam itu hanya untuk diri sendiri. Hanya angin yang dengar.

"Mungkin suatu hari nanti semua ingatanmu akan kembali. Dan kamu akan ingat siapa yang mendorongmu."

Tanpa sadar, suara pelayan memanggil. "Tuan?"

Lamunan buyar. "Tidak ada apa-apa. Lanjutkan."

Langkah kembali dilanjutkan. Tapi kali ini lebih pelan.

Sementara itu, dari belakang, Eiri menatap punggung Mahendra. Ada rasa aneh setiap kali melihat bahu lebar itu. Hangat. Sakit. Rindu. Aman. Tapi tidak tahu alasannya.

Jari Eiri menyentuh dada pelan. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan mulai tumbuh. Seperti benih.

Dan belum disadari oleh Eiri...

bahwa pria yang berjalan di depan itu, dengan jas mahal dan wajah dingin, adalah orang pertama yang pernah membuat hatinya berdebar di usia enam belas tahun.

Cinta pertama yang pernah ada. Cinta pertama yang dia lupakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!