Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Bilang
Luc masih menyandarkan punggungnya pada dinding batu sambil memandangi kristal-kristal biru yang menerangi ruangan.
Semakin ia memikirkan penjelasan Chiron, semakin terasa betapa terbatasnya kekuatan konstelasi yang ia miliki.
Kalau Astral Energi benar-benar habis, ia bisa pingsan kapan saja. Dan itu jelas bukan kabar baik. Terutama saat mereka berada di dalam dungeon yang bahkan belum diketahui isinya.
"Tuan," panggil Chiron tiba-tiba sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hm?" sahut Luc sambil mengangkat kepalanya dari sandaran dinding.
"Bagaimana kalau Anda mengambil ujian dari Konstelasi Horologium?" usul Chiron dengan nada tenang.
Luc langsung mengernyit. "Horologium?" ulangnya pelan sambil mencoba mengingat nama konstelasi itu.
Ia tentu mengenalnya, Horologium adalah konstelasi yang menggambarkan sebuah jam.
"Kenapa Horologium?" tanya Luc penasaran.
Chiron berjalan perlahan ke dekat salah satu kristal yang menempel di dinding.
"Kalau dugaan saya benar, Horologium seharusnya memiliki kemampuan yang berkaitan dengan waktu, ritme, atau siklus energi," jelasnya sambil memperhatikan cahaya kristal tersebut.
"Maksudnya?" tanya Luc sambil memiringkan kepala.
"Mungkin saja ia memiliki kemampuan untuk membantu pemulihan Astral Energi atau meningkatkan efisiensi penggunaannya," jawab Chiron.
Mata Luc langsung sedikit berbinar. "Itu kedengarannya berguna banget," ujarnya sambil duduk lebih tegak.
"Tentu saja," balas Chiron singkat.
Luc langsung mengangguk beberapa kali. "Aku sih mau-mau aja," ujarnya tanpa ragu.
Namun beberapa detik kemudian ekspresinya berubah bingung. "Tapi emangnya bisa ujian gitu aja?" tanyanya sambil menggaruk pipi.
Chiron terdiam sesaat.
Luc melanjutkan pertanyaannya. "Lagian, apa dia bakal muncul di dungeon begini?" tanyanya lagi.
"Hm..." gumam Chiron sambil berpikir.
Beberapa saat kemudian ia menghela napas pelan. "Yah, itu sedikit mustahil," jawabnya akhirnya.
Luc langsung menatapnya datar. "Sedikit?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
"Baiklah," ujar Chiron sambil mengangguk kecil. "Sangat mustahil."
"Nah itu baru jujur," balas Luc sambil menunjuknya.
Di samping mereka, Lea yang sedari tadi hanya melihat Luc berbicara sendiri akhirnya ikut menyela.
"Kamu lagi ngomong sama Chiron?" tanyanya sambil mengangkat alis.
Luc mengangguk santai.
"Iya."
"Ada masalah?" tanya Lea sambil mendekat beberapa langkah.
"Dia nyaranin aku buat latihan lagi," jawab Luc, menutupi soal detail ujian konstelasi.
"Terus?" tanya Lea penasaran.
"Karena kondisiku seperti ini jadi rasanya mustahil."
"Itu perubahan pendapat yang cepat," komentar Lea sambil tertawa kecil.
Chiron berdeham pelan sebelum kembali melanjutkan penjelasannya.
"Ujian konstelasi tidak sesederhana yang Anda bayangkan, Tuan," ujar Chiron.
Luc kembali menoleh ke arahnya.
"Maksudnya?" tanyanya.
"Konstelasi tidak selalu menjawab panggilan," jelas Chiron dengan sabar.
Luc mengangkat alis.
"Jadi nggak bisa asal muncul?" tanyanya.
"Tepat," jawab Chiron sambil mengangguk.
Ia lalu mengangkat satu jarinya. "Setiap konstelasi memiliki kehendaknya sendiri."
Jari kedua terangkat. "Mereka memiliki syarat yang berbeda-beda."
Lalu jari ketiga. "Dan mereka memilih waktu yang berbeda untuk menunjukkan diri."
Luc langsung menghela napas panjang, "Benar-benar ribet..."
"Kalau mudah, semua orang akan menjadi pewaris konstelasi," balas Chiron dengan tenang.
Luc tidak bisa membantah itu. Untuk beberapa saat ia hanya terdiam sambil memandangi langit-langit dungeon.
Namun Chiron ternyata belum selesai. "Saya tidak mengatakan bahwa itu tidak mungkin," lanjut Chiron sambil mengalihkan pandangannya ke arah tangga batu yang mengarah ke bawah.
Luc langsung menangkap perubahan nada itu. "Hm?" sahutnya sambil mengikuti arah pandangan Chiron.
"Saya hanya mengatakan bahwa kemungkinannya kecil."
Luc menyipitkan mata. "Terus?"
Chiron menunjuk ke arah tangga yang tenggelam dalam kegelapan.
"Ini adalah dungeon yang belum diketahui asal-usulnya," ujarnya pelan.
Luc tanpa sadar ikut menoleh ke arah yang sama. Tangga batu itu menghilang jauh ke bawah. Tidak ada yang tahu apa yang menunggu di sana.
"Bukankah dungeon selalu menyimpan kejutan?" lanjut Chiron.
Luc langsung menatapnya curiga. "Jangan bilang..."
"Saya tidak mengatakan apa pun," jawab Chiron dengan wajah polos.
"Itu jelas-jelas ngasih kode," protes Luc.
"Saya hanya menyampaikan kemungkinan."
Lea yang sedari tadi mendengarkan setengah percakapan itu akhirnya menyilangkan tangan di depan dada.
"Aku nggak tahu kalian lagi ngomong apa," ujar Lea sambil menghela napas, "tapi kalian berdua lagi lihat tangga itu dengan wajah yang mencurigakan."
Luc langsung menunjuk Chiron tanpa ragu. "Ini salah dia."
"Tuan, saya belum melakukan apa pun," bantah Chiron dengan tenang.
"Justru itu yang bikin kesal," balas Luc cepat.
Lea menatap Luc beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil.
Sementara itu, jauh di dalam hati Luc, rasa penasaran mulai tumbuh.
Bagaimana jika memang ada sesuatu di dalam dungeon ini yang berhubungan dengan konstelasi?
Dan bagaimana jika sesuatu itu bisa membantunya mengatasi kelemahan terbesar yang baru saja ia ketahui?