Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Mengingat jadwal acara yang sudah dipastikan akan berlangsung besok, keluarga Gilbert Hans Jordan selaku kakak sulung Alex dan Steven memutuskan untuk bermalam di kediaman utama ayah mereka, Abraham Jordan. Mereka baru akan berkumpul sepenuhnya esok hari, di ruang balai perusahaan milik Alden yang akan diresmikan.
Membayangkan sosok mereka, sesungguhnya di dalam hati Keisya tersimpan rindu yang mendalam. Bisa dibilang ia sangat dekat dengan pria paruh baya itu. Pria yang dipanggil "Ayah" oleh anak-anak dan keponakannya.
Terbayang wajah tegas namun penuh kehangatan dari Abraham, membuat semangat Keisya membumbung tinggi. Ia tak sabar menanti hari esok, saat pertemuan itu akhirnya terjadi. Pikiran indah itu membuat kakinya berayun riang, sementara tangannya kembali menyodorkan sepotong roti ke mulutnya. Hatinya terasa begitu ringan dan bahagia.
"Keisya, kok cuma makan roti saja?"
Seketika suasana hatinya hancur lebur.
Kunyahan Keisya terhenti. Suara itu memecah keheningan, membuat semua mata tertuju pada piringnya yang hanya berisi beberapa potong roti beroles selai, nyaris habis dalam sekali dua suapan lagi.
Dulu, mungkin Keisya akan melompat senang diperhatikan begini. Namun kini, rasanya sungguh berbeda. Ia sadar betul bahwa perempuan itu sedang memancingnya.
"Jangan terlalu pilih-pilih makanan," sahut Geo tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya, "nanti susah hidup," tambahnya singkat, lalu kembali menyantap makanannya.
Bagi yang lain, itu nasihat kakak yang tulus. Tapi bagi Keisya, kalimat itu terdengar seperti siksaan. Padahal sebelum Ivan dan Livia datang, ia sempat meminta telur atau nasi goreng pada pelayan, namun dilarang oleh Geo dengan alasan yang persis sama.
"Perempuan saja tidak seberisik kamu. Lihat Livia, dia makan dengan baik," ujar Geo lagi, lalu tersenyum ke arah Livia yang membalas tatapannya manis.
'Duh, geli sekali,' batin Keisya jijik. Ia tahu persis Livia sangat menikmati dijadikan contoh baik seperti itu.
Keisya bingung, apa yang sebenarnya terjadi pada Geo? Kenapa ia tiba-tiba begitu dingin dan tajam padanya? Ia yakin Livia sedang memanfaatkan kakaknya itu.
Apalagi ia ingat, di kehidupan sebelumnya, Geo mudah terhasut olehnya saat liburan di vila. Mungkin ini dampak dari perubahan yang ia buat.. seperti efek kupu-kupu yang mulai terasa.
Ia yakin sepenuhnya bahwa perempuan itu sedang memanfaatkan kepolosan atau lebih tepatnya kebodohan Geo.
"Makanlah dengan benar, Keisya," tegur Alex. Matanya menatap tajam namun penuh arti, seolah menyelami isi hatinya. Pandangan mereka bertemu cukup lama.
Steven yang duduk di sebelahnya pun ikut menatap, "Lihat tubuhmu yang kurus ini, Nak," ujarnya lembut namun menyiratkan kekhawatiran.
Keisya menoleh menatap pria yang biasa ia panggil 'Papa'. Rasanya ingin sekali ia melompat dan memeluknya erat ke dalam pelukan pria itu. Meluapkan segala rindu, merengek, sekaligus menceritakan bagaimana sikap buruk kakak dan keponakannya itu kepadanya belakangan ini.
Sungguh, Keisya pun sangat merindukannya.
Aurora, istri Steven yang mengerti maksud suaminya, segera mengambilkan nasi beserta beberapa lauk ke piring. Lalu meletakkannya di hadapan Keisya dengan senyum teduhnya, "Makanlah, Nak," ucapnya lembut dan penuh kasih sayang.
Hati Keisya terasa terharu. Setelah sekian lama tak mendapat perhatian, mendengar nada lembut dan menatap sorot mata penuh kasih dari Aurora membuatnya merasa bahagia sejenak, seolah jiwa dan raganya tersentuh dalam.
Namun kebahagiaan itu tak serta-merta menggerakkan tangannya untuk menerima makanan tersebut. Ia tersenyum tipis pada wanita yang parasnya begitu anggun dan menenangkan itu, lalu kembali menyodorkan potongan roti ke mulutnya, mengakhiri jam makan malamnya saat itu.
"Keisya, tidak sopan menolak pemberian Mama begitu," tegur Jonathan. Ia pun sebenarnya bingung melihat sikap gadis itu yang lambat merespons.
Keluarga Alex mungkin menganggap sikap Keisya masih seperti biasa, namun keluarga Steven justru tampak sangat heran. Mereka merasa Keisya berbeda dari ingatan mereka saat bertemu beberapa waktu lalu.
'Ih, kok dia jadi nggak seru begini?' batin Livia, ikut bingung melihat perubahan mendadak itu.
Bahkan saat mereka baru pulang berlibur dari vila, Gevan sengaja berkata pada Keisya betapa serunya mereka bersenang-senang tanpa kehadirannya. Ia berniat menggoda dan menantikan reaksi seperti biasanya, namun yang didapatnya hanyalah senyuman santai beserta jawaban, "Oh begitu? Wah, senangnya ya."
Sungguh berbeda jauh dengan Keisya yang dulu, saat ia tak bisa ikut berlibur ke Puncak karena harus mengikuti les tambahan di masa SMP. Dulu ia merengek heboh, baru tenang jika Aurora mengajaknya ke mal atau menuruti segala keinginannya.
Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Pertanyaan itu kini memenuhi benak seluruh anggota keluarga Steven.
Sementara itu, Keisya mengedarkan pandangannya menatap piring satu per satu. Memastikan semua orang sudah selesai menyantap hidangan mereka. Hanya Livia yang masih bersisa sedikit, dan tampak akan menghabiskannya dalam dua atau tiga suapan lagi.
Ia kembali menatap wajah Aurora, tersenyum penuh rasa tidak enak hati karena telah menolak kebaikan wanita yang selama ini ia panggil 'Mama'.
"Ma, maaf ya," ucapnya lembut, "kalau Keisya makan itu, bisa-bisa Keisya mati nanti, hahaha," tambahnya sambil tertawa renyah.
Seketika semua mata tertuju padanya dengan tatapan dingin dan penuh tanya, seakan menuntut penjelasan atas ucapan barusan.
Namun Keisya tak mempedulikan mereka, pandangannya tetap tertuju pada Aurora. "Keisya kan punya alergi parah terhadap makanan laut," jelasnya, membuat semua orang tersentak kaget di tempat duduk masing-masing. "Dan kalau kalian lupa, menu makan malam ini semuanya bertema hidangan laut."
"Kalau begitu, Keisya izin naik ke kamar dulu ya. Selamat malam semuanya," pamitnya. Tanpa menunggu jawaban, ia segera melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Meninggalkan mereka yang kini tampak penuh penyesalan dan rasa bersalah. Jujur saja, Keisya sedikit menikmati pemandangan ekspresi itu.
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu