Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22
Alya berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong ke belakang.
Rafi yang berada di balkon langsung masuk. "Apa?"
Alya menunjukkan layar.
Foto Livia di atap rumah sakit tampak diambil dari jarak jauh. Gadis itu berdiri dekat pagar pembatas, rambutnya tertiup angin. Tidak terlihat apakah ia sadar sedang difoto. Namun satu hal jelas: ia tidak seharusnya berada di sana.
"RS Paramita," kata Rafi.
"Berapa lama ke sana?"
"Dua puluh menit kalau jalan kosong. Lima belas kalau aku menyetir."
"Lima belas."
Mereka keluar lewat tangga belakang. Di bawah, rumah masih ribut karena dokumen yang dirobek Alya. Tidak ada yang sempat menghentikan mereka.
Mobil melesat ke jalan utama.
Alya menghubungi Raka.
"Mas, Livia di atap RS Paramita. Hubungi orangmu di sana. Jangan telepon keluarganya dulu, bisa membuat panik."
Raka langsung menjawab, "Aku berangkat."
"Jangan sendiri."
"Kamu juga jangan."
"Aku bersama Rafi."
"Itu tidak membuatku tenang."
"Mas akan terbiasa."
Ia menutup telepon.
Rafi menyalip dua mobil. "Orang yang mengirim foto ingin kamu datang."
"Aku tahu."
"Jadi ini jebakan."
"Mungkin."
"Dan kamu tetap datang."
Alya menatap jalan. "Kalau aku tidak datang dan Livia jatuh, jebakan itu berhasil tanpa perlu menangkapku."
Rafi tidak membantah.
Mereka tiba di RS Paramita dalam empat belas menit. Rafi menghentikan mobil di pintu samping, bukan lobi utama. Alya masuk lewat jalur staf yang pernah mereka pakai. Kali ini keamanan lebih ketat, tetapi Rafi menyiapkan kartu akses cadangan.
Lift menuju atap terkunci. Rafi membuka panel kecil di samping tombol, memasukkan alat tipis, lalu lift bergerak.
"Aku tidak akan bertanya dari mana kamu punya itu," kata Alya.
"Bagus."
Atap rumah sakit dingin dan berangin. Lampu kota Jakarta terlihat jauh di bawah. Livia berdiri dekat pagar, memakai baju pasien dan jaket tipis. Tubuhnya gemetar.
Ada seorang perempuan paruh baya di sudut, mungkin ibunya, menangis sambil ditahan satpam. Dua perawat berdiri panik. Mereka tidak berani mendekat karena Livia akan mundur setiap kali ada yang bergerak.
"Livia," panggil Alya.
Gadis itu menoleh.
Matanya kosong.
"Jangan mendekat," kata Livia.
Alya berhenti. "Aku berhenti."
Rafi memberi isyarat kepada satpam agar tidak bergerak. Ia sendiri berdiri beberapa langkah di belakang Alya.
Livia tertawa kecil, suaranya pecah. "Mereka bilang semua ini salahku. Katanya aku menggoda Kevin. Katanya aku mau uang."
"Siapa bilang?"
"Semua." Livia menunjuk kepalanya. "Di ponsel, di komentar, di pesan. Mereka tahu nomorku. Mereka tahu rumahku. Ayahku dipecat pagi ini."
Ibu Livia menangis lebih keras. "Nak, turun dulu. Kita bicara."
Livia menggeleng. "Aku capek, Bu."
Alya merasakan rahangnya mengeras.
Ini bukan hanya Kevin. Ini mesin keluarga Santoso bekerja penuh: akun bayaran, intimidasi, tekanan pekerjaan, isolasi korban.
"Livia," kata Alya, "kalau kamu turun sekarang, aku tidak akan memintamu langsung kuat. Kamu boleh marah, boleh takut, boleh diam. Tapi jangan berikan mereka akhir cerita yang mereka inginkan."
Livia menatapnya. "Kamu tidak mengerti."
"Aku mengerti orang-orang kaya bisa membuat korban merasa kotor."
"Kamu punya keluarga kaya."
"Dan mereka juga pernah membuatku merasa tidak punya tempat."
Livia menangis. "Aku malu."
"Yang harus malu Kevin."
"Tapi semua orang menyalahkanku."
"Karena mereka dibayar, dibodohi, atau takut. Itu bukan kebenaran."
Livia menggenggam pagar. Angin membuat tubuhnya goyah. Ibunya hampir berteriak, tetapi Alya mengangkat tangan memberi isyarat diam.
Alya melepas sepatunya.
Rafi langsung berkata, "Alya."
"Diam."
Ia berjalan perlahan, tanpa sepatu agar langkahnya tidak mengejutkan. Livia menatapnya, tetapi tidak mundur.
"Aku tidak akan menyentuhmu," kata Alya. "Aku hanya berdiri di sini."
Jarak mereka tinggal dua meter.
Livia berbisik, "Kalau aku turun, mereka tetap menang."
"Tidak. Kalau kamu turun, kita mulai membuat mereka membayar."
"Kita?"
"Kalau kamu mengizinkan."
Livia menatapnya lama. Lalu lututnya melemas.
Alya bergerak cepat, menangkap pergelangan tangannya sebelum tubuh Livia jatuh ke arah yang salah. Rafi melesat maju, menarik keduanya menjauh dari pagar. Perawat dan satpam baru berani mendekat setelah Livia sudah menangis di pelukan ibunya.
Raka tiba beberapa menit kemudian bersama seorang pengacara dan seorang dokter yang ia percaya.
Wajahnya pucat saat melihat Alya duduk di lantai atap, tangan kirinya lecet karena menarik Livia.
"Kamu selalu begini?" tanyanya, napasnya masih terengah.
Alya melihat luka di tangannya. "Tidak selalu."
"Jangan bohong."
Rafi berkata, "Dia selalu."
Raka menatap Rafi seolah ingin marah, tetapi tidak punya tenaga.
Di koridor bawah, situasi berubah menjadi penanganan resmi. Livia dipindahkan ke ruang observasi yang lebih aman. Ibunya memegang tangan Alya berkali-kali, mengucapkan terima kasih sambil menangis.
Alya tidak nyaman dengan terima kasih seperti itu.
Ia hanya berkata, "Jangan tanda tangan apa pun dari Santoso. Pengacara Mas Raka akan bantu."
Ibu Livia mengangguk.
Raka mengurus administrasi dengan cepat. Sementara itu, Rafi menunjukkan sesuatu pada Alya: rekaman CCTV atap.
Sebelum Livia naik ke atap, ada seorang pria memakai jaket petugas kebersihan yang berbicara dengannya di koridor.
"Dia bukan staf rumah sakit," kata Rafi.
"Wajahnya?"
"Tertutup masker. Tapi posturnya..."
Alya memperbesar rekaman.
Ia pernah melihat pria itu.
Di video gala, orang yang berdiri dekat pintu teknis saat layar bukti menyala. Bukan keluarga Santoso. Bukan staf sekolah.
"Dia mengikuti kita sejak gala," kata Alya.
Rafi mengangguk. "Dan dia tahu cara mendorong korban ke titik paling rapuh."
Raka kembali, mendengar kalimat terakhir. "Siapa?"
"Belum tahu."
"Tapi bukan Santoso?"
Alya menatap layar. "Santoso membuat tanahnya basah. Orang ini menyalakan korek."
Pukul dua dini hari, mereka meninggalkan rumah sakit. Raka memaksa Alya memeriksakan luka tangannya. Dokter mengatakan hanya lecet, tetapi tetap membersihkan dan membalut.
Di mobil, Alya membuka pesan dari nomor misterius.
Kamu datang tepat waktu. Bagus.
Rafi melihat layar. "Dia menguji kamu."
"Bukan."
"Lalu?"
Alya menatap gelap jalan.
"Dia sedang memastikan aku tipe orang seperti apa."
Pesan kedua masuk.
Kalau kamu ingin tahu siapa yang membunuh ibumu, cari panti lama bernama Rumah Pelita.
Di bawahnya ada alamat di pinggir Bekasi.
Raka membaca dari kursi depan dan langsung berkata, "Kita ke sana besok. Bukan malam ini."
Alya menatap alamat itu.
Rumah Pelita.
Di kehidupan lalu, nama itu pernah muncul di salah satu dokumen lama Eyang.
Ia mengira itu hanya panti asuhan biasa.
Sekarang, ia tahu tidak ada yang biasa dalam masa lalu ibunya.
Di kursi belakang, Livia tertidur setelah obat penenang ringan dari dokter. Wajahnya masih basah oleh air mata, tetapi napasnya sudah lebih rata. Alya menatapnya dari kaca spion dan merasa marah dengan cara baru.
Kevin tidak hanya menyakiti orang. Ia membuat korban merasa harus meminta maaf karena hancur.
"Rumah Pelita mungkin punya arsip lama," kata Rafi.
"Atau orang yang pernah menyembunyikan arsip itu."
Raka menoleh. "Kamu terdengar seperti sudah siap bertemu hantu."
Alya memandang alamat di ponselnya.
"Aku lahir dari hantu yang mereka kubur hidup-hidup dalam dokumen," katanya. "Kalau Rumah Pelita punya satu nama saja, aku ambil."
Raka diam.
Rafi menyetir tanpa bicara, tetapi tangannya di kemudi mengencang.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Raka tidak meminta Alya berhenti.
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔