tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berantem di kantor
Suasana pagi itu terlihat cerah dengan matahari yang mulai memancarkan cahaya nya. Cahaya perlahan masuk melalui ventilasi jendela di kamar Tivane. Menyinari wajahnya yang masih terlelap di samping handphone yang masih terhubung dengan Rigecherta.
Tivane mulai membuka mata dan menguap sambil menggeliat kecil dan meraba tempat tidur di sampingnya. Tangannya meraih handphone itu dan melihatnya.
" Masih ke sambung ya?" Gumam Tivane pelan dan berniat mematikan sambungan. Namun ia terhenti saat suara Rigecherta terdengar.
" Udah bangun ya?" Suara serak khas baru bangun tidur itu terdengar.
" Udah. Aku matiin ya panggilannya" ucap Tivane sambil duduk di kasurnya.
" Yaudah. Have fun buat hari ini" Rigecherta menjawab pelan.
" Oke." Jawab Tivane mematikan panggilan.
Tivane beranjak ke kamar mandi dan langsung mandi. Lalu memakai pakaian santai karena tidak memiliki rencana kemana-mana hari ini.
Tivane turun dari kamarnya dan melangkah ke meja makan melihat ayahnya sudah duduk menikmati sarapan di sana.
" Morning pah!" Sapa Tivane duduk di kursi seberang ayahnya.
" Morning! Kamu ada acara hari ini?" Tanya Aliandra menatap Tivane yang mengoleskan selai strawberry pada rotinya.
" Nggak ada sih pah. Paling nanti jajan ke depan" jawab Tivane sambil memakan rotinya dengan santai.
" Mau di rumah aja atau ikut papa ke kantor?" Ajak Aliandra. Sebenarnya ayahnya berniat mengajari ia bisnis, agar ada penerus perusahaan mereka nanti.
" Vane sih mau-mau aja. Lagian bosan juga di rumah" jawab Tivane meneguk air minumnya.
" Ayo kalo gitu" ajak ayahnya membuat Tivane mengangguk dan berlari kembali ke kamar nya untuk mengganti pakaian.
" Tunggu ya pah! Tivane ganti baju dulu" seru Tivane dari kamar.
Aliandra hanya terkekeh melihat tingkah putrinya dan menghabiskan sarapannya. Lalu memilih menunggu Tivane di ruang tengah.
* Beberapa menit kemudian *
Tivane turun dengan baju sopan ala kantoran. Kemeja putih bersih di balut rompi hitam. Serta rok selutut berwarna hitam dan sepatu dengan warna senada.
" Bagus nggak pah?" Tanya Tivane berputar di depan ayahnya yang duduk di ruang tamu.
" Bagus. Pas banget sama jas papa. Yaudah ayo berangkat!" Aliandra berjalan menuju mobil di ikuti oleh Tivane.
Saat mereka sampai di kantor ayahnya kembali berjalan di depan dan di ikuti oleh Tivane.
Saat di lobi, banyak yang berbisik kagum sambil melihat Tivane. Namun banyak juga yang berbisik sinis.
Aliandra mengantarkan Tivane ke ruang kerjanya.
" Kamu di sini dulu ya! Papa ada meeting sama klien. Kalau mau jalan-jalan, minta di antar sekretaris papa" ucap Aliandra menunjuk seorang wanita di luar ruangan.
" Oke!" Tivane mengangguk patuh.
Aliandra segera keluar dari ruangan menuju ruang rapat.
Tivane yang merasa penasaran pun memilih keluar ruangan untuk berjalan-jalan dan melihat-lihat suansan di kantor ayahnya ini.
Saat sampai di kantin, tiba-tiba ada karyawan wanita yang menatap Tivane dengan sinis dan tersenyum remeh. Karyawan itu menatap Tivane dari atas sampai bawah, seolah menilai setiap gerakan Tivane.
Tivane yang merasakan tatapan itu pun menoleh dan tersenyum ramah. Namun karyawan itu seolah tak senang dengan keberadaan Tivane dan mendecih sinis.
Tivane mengangkat alis dan melihat name tag karyawan itu 'Silvira de silra' nama itu terdampang jelas.
" Kamu siapa ya?" Tanya Silvira dengan sengak. " Kok nggak ada name tag atau kartu pengenalnya?" Sembung Silvira dengan nada sok berkuasa.
" Saya Tivane, saya-" ucapan Tivane terpotong.
" Oh, simpenanya pak bos ya?" Tanya Silvira yang membuat Tivane mengerutkan kening.
" Maksudnya gimana ya kak?" Tanya Tivane masih sopan. nanti kalau sudah keluar taring, habislah wanita ini.
" Halah. Semua karyawan di sini juga tau kali kalo pak Aliandra udah nggak punya istri, pasti lo sugar baby nya pak Aliandra kan. Muda juga seleranya pak Aliandra" tuduh Silvira membuat Tivane ternganga tak percaya.
" Excuse me? Sugar baby?" Tanya Tivane melotot tajam, wanita ini sungguh membuat Tivane naik pitam. " Anda dari tadi saya diemin malah nge lunjak ya" ucap Tivane mendekat.
" Lah? Kok marah? Saya kan cuma nanya. Keluar banget tuh aura gatelnya" ucap Silvira tajam. Mungkin ia masih mengira bahwa Tivane adalah simpanan Aliandra.
" Lo tuh yang gatel! Asal lo tau ya, gue di suruh ke sini buat ngusir hama kantor kayak lo" Tivane benar-benar habis kesabaran di buatnya. Lalu berjalan mendekat dengan wajah datar.
" Apa kata mu? Jaga omonganmu" Silvira hendak menampar Tivane namun Tivane lebih cepat. Tivane langsung menangkap tangan itu dan memelintirnya.
" Omongan lo tuh yang di jaga. Lo pikir gue bisa di tindas gitu?" Tivane langsung balas menampar dengan keras.
" Lo?! Kurang ajar lo ya!" Sentak Silvira tak terima di tampar dan langsung menjambak rambut Tivane.
Tivane tak mau kalah langsung balas menarik rambut Silvira dengan bringas. Soal Jambak menjambak jangan tanya, Tivane ahlinya. Rambut pendek saja bisa ia jambak apalagi rambut panjang seperti ini.
" Akh.. lepasin.." Silvira mencoba melepaskan jambakan Tivane namun Tivane menarik rambutnya lebih kencang membuat kepala Silvira rasanya pusing. Lalu tiba-tiba Silvira mendorong nya sampai terhempas ke lantai untuk menghentikan jambakan Tivane.
* Di sisi lain *
Rigecherta terlihat melangkah di lobi perusahaan Aliandra, ia berjalan di lorong menuju ruangan ayah Tivane. Namun langkah nya terhenti saat melihat keadaan kantin yang ramai dan terlihat Tivane yang terduduk di lantai dengan rambut mengembang dan menatap tajam ke arah salah satu karyawan.
Begitu pandangan Tivane tak sengaja mengarah ke pintu ia sempat kaget saat melihat Rigecherta di sana. Namun detik kemudian ia mengubah raut wajah nya menjadi sedih dan matanya di buat semelas mungkin.
" Tivane!" Rigecherta langsung berlari menghampiri Tivane yang terduduk.
" Rige...." Tivane langsung mengadu denga wajah sedih dan mata berkaca-kaca.
" Kamu kenapa?" Tanya Rigecherta mengelus pelan kepala Tivane dan merapikan rambut Tivane yang kusut dan berantakan.
" Rige... Aku di Jambak sama dia.." ucap Tivane sambil menunjuk ke arah Silvira yang keadaanya juga sudah kacau.
" Eh, kamu ya yang nampar saya" elak Silvira langsung membela diri.
" Iyalah. Lo duluan yang nyerang gue. Yakali gue diem aja" balas Tivane sengit lalu kembali memasang ekspresi menyedihkan pada Rigecherta.
" Udah-udah. Kamu nggak papa kan sayang?" Tanya Rigecherta memastikan.
" Sakit kepala aku.." adu Tivane lirih.
" Sini-sini" Rigecherta langsung menarik Tivane ke dalam dekapannya dan menatap tajam ke arah Silvira.
Silvira langsung ciut saat mendapatkan tatapan tajam itu.
" Ada apa ini?!" Suara berat khas Aliandra terdengar. Mereka semua menoleh dan Silvira langsung mendekat, berharap di bela.
" Dia jambak saya pak" adu Silvira langsung.
" Papah.." panggil Tivane lirih.
" Apa?! Pa-papa?" Tanya Silvira terkejut setengah mati.
" Ya. Dia anak saya, dan kamu, kamu saya pecat" ucap Aliandra tak bisa di ganggu gugat.
" K-kok?" Tanya Silvira gugup sekaligus terkejut.
" Saya sudah lihat semua dari cctv dan semua kelakuan busuk kamu." Sentak Aliandra membuat Silvira menunduk dan menangis.
Tivane yang melihat itu pun tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Lalu kembali endusel manja pada Rigecherta. Sengaja agar membuat wanita itu kesal namun tak bisa melakukan apa-apa.
'baru segitu aja udah kalah. Makanya punya mulut tuh di sekolahin. Ih.. gue masih greget pengen cakar tuh mukanya' batin Tivane masih gemas namun menahan diri dan memeluk Rigecherta dengan manja.