NovelToon NovelToon
Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Menggunakan Pengetahuan Modern Untuk Menyelamatkan Sebuah Desa Di Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anime / Fantasi Isekai / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Saiful Bachri

Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.

Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.

Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alam Bawah Sadar

'Di mana aku?' batin Takahiro, jantungnya memompa darah begitu cepat hingga ujung-ujung jarinya terasa dingin membeku. 'Kenapa aku ada di sini?'

Ia memutar tumitnya seratus delapan puluh derajat. Matanya menyapu liar, berusaha mencari setitik cahaya.

Namun nihil. Ke segala arah yang ia tatap, hanya ada ruang pekat, hitam, dan tak berujung yang menelannya hidup-hidup.

"Siapa pun yang ada di sini, tolong aku!" ia berteriak sekencang mungkin, memecah keheningan absolut. Suaranya menggema, lalu mati ditelan kehampaan. Di ruang gelap dan tak bernyawa ini, hanya ada dirinya seorang.

"Vyora-san! Cate-san! Uchi-san! Apa kalian ada di sini?"

Ia terus memanggil, napasnya mulai memburu, namun benar-benar tak ada balasan selain detak jantungnya sendiri.

"YOTO-SAN!" teriak Takahiro. Tak mau menyerah pada keputusasaan, ia mulai melangkahkan kaki, meraba-raba ketiadaan untuk mencari eksistensi makhluk lain.

"YOTO-SAN!!" ulangnya, kali ini nadanya melengking naik tiga oktaf hingga tenggorokannya perih.

Tetap tidak ada. Entah sudah berapa ribu langkah yang ia tempuh, seolah ruang waktu tak lagi relevan di tempat ini, Takahiro tidak menemukan siapa-siapa.

"Siapa pun tolong aku!"

Tenggorokannya mulai serak. Ia terus menjeritkan permohonan tolong yang jelas tak akan pernah dijawab oleh siapa pun.

Hingga akhirnya, setelah langkah kakinya terasa kebas, sayup-sayup telinga Takahiro menangkap sebuah anomali. Suara gelak tawa. Bukan tawa asing, melainkan tawa dari orang-orang yang sangat familier di memorinya.

Takahiro berputar-putar di tempat, memfokuskan indra pendengarannya bak radar. Akan tetapi, ia gagal menemukan dari mana titik suara itu berasal.

Tawa itu menyebar, memantul dari segala arah, merayap masuk ke gendang telinganya hingga kepalanya berdenyut pusing.

Tak sanggup menahan gema yang menyiksa itu, ia jatuh berjongkok, menekan kedua telapak tangan ke telinganya kuat-kuat.

Namun, saat telinganya tertutup, suara familier lainnya justru menyusup masuk—kali ini bukan tawa yang mengejek, melainkan sapaan hangat yang menyejukkan dada.

"Takahiro... datanglah kemari!"

'Datanglah kemari.' Frasa itu bekerja bak sihir. Takahiro mendongak cepat. Di ujung pandangannya yang tadinya hanya berisi kekosongan, kini berdiri sesosok wanita.

Otot-otot wajah Takahiro yang tegang perlahan mengendur. Sorot matanya yang semula diliputi teror kini membulat kosong, terhipnotis.

Perlahan ia bangkit berdiri, kakinya melangkah tanpa ragu menuju wanita yang kini merentangkan kedua tangan, bersiap menyambutnya ke dalam sebuah pelukan.

"I-ibu...!?" gumamnya lirih, bibirnya bergetar.

Wanita itu mengangguk pelan satu kali. Namun anehnya, sebuah senyum yang menyeringai ganjil terpulas di wajahnya.

"Ya, ini Ibu, Nak. Cepatlah kemari!"

Takahiro tak memedulikan keganjilan itu. Tanpa ia sadari, cairan hangat mengalir dari sudut matanya, membasahi pipi tanpa suara. Kerinduan yang membengkak di dunia nyata kini tumpah ruah melihat bayangan sang ibu.

Namun, tepat saat jarak mereka hanya tersisa beberapa langkah, sebuah siluet gelap mendadak melesat dari arah samping.

Bayangan itu memotong jalannya tanpa peringatan. Tabrakan keras tak terhindarkan, membuat Takahiro terhuyung ke belakang.

"Ternyata pecundang sepertimu masih hidup!"

Napas Takahiro tercekat. Suara itu berat dan mengancam. Di hadapannya berdiri sosok pemuda dengan raut penuh kebencian, namun bagian matanya tertutup oleh kabut hitam pekat, membuat Takahiro tak bisa mengenali identitas aslinya.

Belum sempat ia memproses apa yang terjadi, suara familier lain menusuk dari arah belakang punggungnya.

"Gara-gara kau yang tidak mau membantuku mengerjakan tugas sekolah. Aku dihukum habis-habisan sama orang tuaku!"

"Beri dia pelajaran, biar tahu gimana rasanya tercampakan!"

Dalam hitungan detik, ruang hampa itu tak lagi sepi. Siluet-siluet kelam bermunculan, mengepungnya dari segala penjuru.

Wajah-wajah masa lalu yang pernah menorehkan trauma padanya kini berkerumun, menciptakan pagar intimidasi. Caci maki dan aura kebencian menekan dada Takahiro, memicu rasa pusing yang memualkan.

Ia jatuh berlutut. Takahiro menjerit, menutup telinga rapat-rapat kembali, memohon agar paduan suara mematikan itu segera dihentikan.

Di tengah kepanikan yang nyaris membuatnya gila, sosok ibunya kembali memanggil, menyuruh Takahiro mendekat untuk berlindung di balik punggungnya. Namun, kakinya seolah dipaku ke tanah. Teror itu terlalu melumpuhkan.

Cercaan mereka terasa seperti belati tak kasatmata yang menghujani kulitnya tanpa henti. Setiap kali Takahiro mencoba berteriak melawan, suara-suara itu justru membalasnya dengan volume amarah yang jauh lebih beringas.

Di puncak keputusasaannya, saat Takahiro hanya bisa menunduk dan meringkuk menyembunyikan wajahnya... sebuah cahaya keemasan mendadak merekah.

Aroma kehangatan menyerbak. Tanpa Takahiro sadari, sesosok gadis muda turun di hadapannya bak malaikat. Wajah gadis itu memancarkan pendar cahaya yang begitu terang namun menenangkan.

"Wahai anak muda," tuturnya santai. Gadis itu berjongkok, merendahkan pandangannya hingga sejajar dengan Takahiro. Telapak tangannya yang hangat menyentuh pundak pemuda itu dengan lembut. "Jangan takut. Hadapilah masalahmu. Jika kau tetap seperti itu, kau akan terjebak di sini selamanya."

Ajaib. Tepat saat untaian kalimat itu terucap, gemuruh suara yang mengintimidasi lenyap tanpa sisa.

Bayangan-bayangan hitam yang mengepungnya menguap. Aura mencekam di sekitarnya berganti menjadi lautan cahaya yang damai.

"Bangkitlah," lanjut gadis itu. Ia berdiri tegak, lalu mengulurkan sebelah tangannya ke arah wajah Takahiro. "Aku akan membantumu keluar dari sini."

Takahiro terpaku menatap uluran tangan tersebut. Ia mencerna lambat-lambat janji keselamatan itu.

Di dalam relung hatinya, keraguan masih bersarang. Ia sudah mencoba berjalan entah sejauh apa di tempat ini, dan usahanya nol besar.

"Kau yakin bisa membantuku keluar dari sini?" tanyanya lirih. Tubuhnya yang gemetar perlahan bangkit, meraih tangan gadis itu dan mengumpulkan kembali sisa-sisa kesadarannya.

Gadis berbalut cahaya itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk singkat, menatap mata Takahiro dengan sorot penuh keyakinan yang absolut.

Setelah membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara sejenak, barulah ia membuka suara.

"Aku dewi cahaya, tidak ada kata 'tidak mungkin' untuk membantumu keluar."

Mendengar deklarasi mutlak tersebut, beban berat yang sejak tadi menghimpit paru-paru Takahiro seolah terangkat. Keyakinan hidup yang sempat padam kini memercik kembali.

Dengan raut yang berangsur cerah dan sepasang mata yang kembali berbinar-binar, Takahiro menyahut cepat.

"Kalau gitu, tolong bantu aku keluar dari sini. Ada sesuatu yang harus kulakukan. Ini sangat penting!"

Sang Dewi Cahaya kembali mengangguk mengiyakan. Keduanya lalu terdiam. Dalam keheningan yang suci itu, bibir sang dewi mulai berkomat-kamit merapalkan mantra kuno yang sama sekali tak Takahiro pahami.

Udara di depan mereka mulai beriak. Titik cahaya putih muncul, lalu berputar dengan kecepatan tinggi sebelum meledak menjadi sebuah gerbang melingkar. Saat pusaran itu stabil, pemandangan di baliknya terpampang jelas.

Melalui portal itu, Takahiro bisa melihat sebuah ruangan remang. Di sana, di atas sebuah lincak kayu, tubuh aslinya terbaring lemah.

Dan di sekeliling lincak itu, tiga orang gadis—Vyora, Cate, dan Uchi—tampak berkumpul, merawatnya dengan raut wajah penuh kecemasan.

Pemandangan sederhana itu menghantam ulu hati Takahiro dengan telak. Sepanjang hidupnya yang sepi, baru kali ini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, ada orang yang begitu peduli menjaganya saat ia jatuh tak berdaya.

Pertahanan emosinya runtuh. Matanya kembali memanas, berkaca-kaca oleh rasa haru yang tak bisa ia bendung.

Namun, momen melankolis itu tak ditakdirkan bertahan lama.

"Cepat masuk ke dalam sana, sebelum waktunya habis," tegur sang Dewi Cahaya, menyudahi mantranya.

Takahiro buru-buru menyeka kasar air mata di pipinya menggunakan punggung tangan. Tubuhnya masih enggan beranjak.

"Tunggu sebentar, aku masih ingin melihat mereka dari sini."

Permintaan itu kontan membuat alis sang dewi menukik tajam. Bagi makhluk astral sepertinya, menunda waktu saat portal sudah terbuka adalah hal yang sangat konyol.

Ia sudah memberi instruksi jelas, tapi pemuda fana ini malah mengabaikannya demi menonton drama.

Kesabaran sang dewi langsung menguap.

Saat Takahiro kembali menempelkan pandangannya ke arah portal, Dewi Cahaya melangkah mendekat dari arah belakang.

Tanpa ba-bi-bu, ia mengangkat kakinya dan mendaratkan satu tendangan sekuat tenaga tepat di bokong pemuda itu.

Bugh!

Takahiro yang tidak siap sama sekali langsung terlempar ke depan. Tubuhnya meluncur bebas memasuki lingkaran cahaya sambil menjerit panik di udara.

Begitu siluet Takahiro tertelan seutuhnya oleh portal putih itu, sang Dewi Cahaya menyapukan tangannya dengan cepat, menutup gerbang dimensi tersebut, sebelum akhirnya ia sendiri ikut memudar dan menghilang ditelan cahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!