NovelToon NovelToon
Aku Kecanduan Mantan Istri

Aku Kecanduan Mantan Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.

Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.

Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Persimpangan Cinta dan Tanggung Jawab

Begitu pintu ruangan direktur didorong terbuka keras, terlihat Dokter Reza sedang duduk terpekik kesakitan sambil kepalanya diobati oleh seorang perawat, masih berlumuran darah kering. Begitu matanya menangkap sosok Kinasih yang masuk bersama Kenan, amarahnya pun meledak. Ia langsung menunjuk ke arah gadis itu dan berteriak lantang.

“Tangkap dia! Tangkap gadis itu! Dia sudah melukai kepalaku! Jangan biarkan dia lari!” perintah Reza kepada dua orang satpam yang sedang berjaga di depan pintu.

Mendengar perintah itu, kedua satpam itu segera melangkah maju hendak menangkap Kinasih. Namun sebelum tangan mereka sempat menyentuh ujung baju gadis itu, Kenan langsung melangkah maju dan berdiri tegak menghadang di depan Kinasih, melindungi istrinya yang kini gemetar ketakutan berdiri di belakang punggungnya.

Dengan amarah yang menyala-nyala, Kenan menatap tajam ke arah pamannya, suaranya menggelegar keras dan penuh wibawa.

“Beranikan kalian menyentuhnya?! Sekali saja ada yang berani menyentuhnya, aku pastikan kalian semua tidak punya tempat berpijak di dunia ini!” bentak Kenan, lalu ia menoleh kembali ke arah Reza dengan pandangan membunuh.

“Dan kau… pamanku sendiri? Kau berani berbuat kebejatan seperti ini? Mencoba melecehkan wanita yang aku cintai? Baiklah… kalau begitu, jangan salahkan aku. Aku akan melaporkan semua kebejatanmu ini ke kepolisian sekarang juga. Aku punya saksi, aku punya bukti, dan aku pastikan nama baikmu, kedudukanmu, dan segala milikmu akan hancur dalam semalam saja!”

Mendengar kata-kata “wanita yang aku cintai” keluar dari mulut Kenan, Reza seketika terdiam mematung. Wajahnya pucat pasi, amarahnya langsung menguap entah ke mana. Ia sadar benar, ia tidak mungkin melawan keponakannya sendiri. Kenan bukan orang sembarangan, ia memegang kendali penuh atas sebagian besar aset dan kekuasaan keluarga Hartmann. Melawan Kenan sama saja dengan menggali kuburnya sendiri. Ia tak berdaya, tahu bahwa kini posisinya benar-benar terancam habis-habisan.

Mendengar ancaman tegas dari Kenan, wajah Reza seketika berubah pucat pasi. Ia langsung sadar betapa besar kesalahannya, dan posisinya kini benar-benar terancam di ujung tanduk. Dengan tangan gemetar, ia segera melambaikan tangannya menyuruh kedua satpam itu pergi.

“Pergi… kalian pergi saja! Tidak ada apa-apa di sini!” perintah Reza dengan suara tergagap.

Begitu satpam dan perawat itu keluar dan menutup pintu rapat-rapat, Reza langsung berdiri dan melangkah mendekat dengan sikap yang sudah tak berani lagi menantang. Ia menundukkan kepalanya, nada bicaranya berubah menjadi lembut dan memohon.

“Maafkan aku, Kenan… sungguh aku tidak tahu bahwa gadis ini adalah kekasihmu. Seandainya aku tahu sedetik pun, takkan pernah berani aku berbuat hal bodoh seperti ini. Ampuni pamanku ini, aku benar-benar tidak sadar…” ucap Reza terbata-bata, berusaha mencari alasan untuk meredakan kemarahan keponakannya itu.

Namun Kenan hanya menatapnya dengan pandangan dingin, tajam, dan penuh kebencian, tidak ada sedikit pun rasa iba yang terlihat di wajahnya. Amarahnya belum sepenuhnya reda, mengingat istrinya hampir mengalami hal terburuk yang bisa menghancurkan hidupnya.

Dengan suara berat dan mengancam yang menusuk ke tulang sumsum, Kenan berbicara perlahan namun sangat tegas:

“Kau tidak tahu? Itu bukan alasan yang cukup untuk memaafkanmu, Paman. Ingat baik-baik kata-kataku ini… mulai detik ini juga, jika sampai aku dengar sedikit pun kabar bahwa kau berani menatapnya, mendekatinya, apalagi menyentuhnya lagi, meski hanya seujung rambut saja, maka jangan salahkan aku. Aku takkan segan-segan mendepakmu dari jabatan sebagai direktur rumah sakit ini, mencabut semua hak dan fasilitas yang kau dapatkan dari keluarga, bahkan membuang namamu dari silsilah keluarga Hartmann selamanya. Kau akan jatuh miskin dan takkan punya tempat berteduh lagi. Mengerti?”

Ancaman itu terasa begitu nyata dan menakutkan. Reza hanya bisa menunduk dalam, tak berani menatap mata Kenan sedikit pun, lalu mengangguk pasrah sambil berkeringat dingin.

“Aku mengerti… aku mengerti, Kenan. Aku berjanji takkan mengganggunya lagi selamanya. Ampuni aku…” gumam Reza lemah, sadar sepenuhnya bahwa kesalahannya kali ini hampir membuatnya kehilangan segalanya.

Di belakang Kenan, Kinasih hanya bisa berdiri diam sambil masih gemetar, merasakan betapa kuatnya perlindungan yang diberikan suaminya itu, membuat hatinya perlahan terasa aman kembali.

Tanpa membuang waktu lagi, Kenan segera memutar badannya, lalu menggenggam tangan Kinasih dengan erat dan hangat, seolah ingin menyampaikan lewat sentuhan itu bahwa ia takkan pernah membiarkan siapa pun menyakiti istrinya lagi. Kinasih pun membalas genggaman itu dengan sekuat tenaga, melangkah setia di samping suaminya, merasakan ketenangan dan rasa aman yang perlahan mengalir ke seluruh hatinya.

Begitu mereka melangkah keluar dari ruangan itu dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit, pandangan seseorang dari kejauhan langsung menangkap pemandangan itu. Amara yang baru saja selesai bertugas sedang berjalan menuju ruang ganti, namun langkahnya terhenti saat melihat sosok kakak kandungnya berjalan berdampingan dengan sahabat baiknya.

Matanya menyipit melihat betapa mesranya mereka, tangan mereka tergenggam erat, wajah Kenan terlihat sangat lembut saat menoleh sesekali memastikan keadaan Kinasih, sementara Kinasih berjalan dengan tenang dan tak melepaskan pandangannya dari kakaknya itu. Sejak tadi ia sudah merasa ada yang berbeda, dan kini kecurigaannya makin menjadi-jadi.

Amara pun berjalan cepat menghampiri mereka, dengan senyum menggoda yang sudah terukir di bibirnya.

“Wah… ini apa? Sejak kapan kalian berdua jadi sedekat ini? Tangan digenggam erat-erat pula… jangan-jangan ada rahasia yang disembunyikan dari gue selama ini ya?” goda Amara sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap keduanya bergantian dengan tatapan penuh selidik.

Kinasih seketika memucat dan hendak melepaskan genggaman tangannya, namun Kenan malah menggenggamnya makin erat dan tak mau melepaskannya. Ia tersenyum tenang, lalu menatap Amara dengan pandangan jujur, rasanya sudah cukup menyembunyikan hubungan ini, dan ia pun ingin semua orang tahu bahwa Kinasih adalah miliknya sepenuhnya.

“Memang benar, Mara. Sudah lama kami menyembunyikannya… tapi sekarang tak perlu lagi. Kinasih ini adalah kekasih Kakak, dan wanita yang sangat Kakak cintai,” ucap Kenan dengan suara tegas dan jelas, tak ada keraguan sedikit pun.

Mendengar pengakuan itu, Amara hanya tertegun sejenak, lalu tiba-tiba wajahnya berseri-seri lebar, senyumnya melebar sampai ke telinga dan ia malah tersenyum-senyum sendiri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya antusias.

“Wahhh… gue sudah menduga ada yang aneh sejak lama! Pantas saja Kak Kenan selalu tanya soal Kinasih, pantas saja Kinasih tak pernah mau dekat dengan laki-laki lain… Gue dukung banget lho! Kalian berdua memang sangat cocok, sahabat gue jadi kakak ipar gue sendiri, rasanya makin enak aja rasanya!” seru Amara ceria, lalu langsung memeluk bahu Kinasih dan menepuk punggung Kenan dengan gembira. “Akhirnya rahasianya terbongkar juga! Jangan khawatir, gue pasti jadi pendukung nomor satu buat hubungan kalian!”

Kini beban yang selama ini terasa berat di hati Kinasih perlahan terangkat. Setidaknya satu orang yang paling dekat dengannya sudah tahu dan mendukung hubungan mereka, membuat ia merasa lebih lega dan tak perlu lagi bersembunyi sembunyi.

Amara yang senang mendengar pengakuan kakak dan sahabatnya itu segera mengajak mereka berdua untuk menginap di rumah besar keluarga Hartmann saja, agar mereka bisa lebih bebas bersama dan tak perlu berpisah. “Ayo kita pulang ke rumah saja! Lebih nyaman di sana, gue sudah bilang ke pembantu untuk menyiapkan kamar-kamarnya. Nanti malam kita bisa makan malam bersama seperti biasa,” ajak Amara dengan semangat.

Kenan dan Kinasih pun menyetujui usulan itu. Mereka bertiga pun kembali ke rumah mewah keluarga Hartmann dengan mobil yang disiapkan. Sesampainya di sana, Kinasih langsung menuju kamar Amara yang sudah ia tempati selama ini, lalu duduk bersantai sambil menonton drama Korea kesukaannya, asyik dan tak sadar apa yang akan terjadi selanjutnya. Sementara itu, Kenan kembali ke kamarnya sendiri, memikirkan berbagai hal yang harus diselesaikan.

Tak lama kemudian, suara panggilan datang dari ruang kerja ayahnya. Kenan segera berjalan menuju ruangan itu dengan langkah yang tenang, namun ia bisa merasakan ada suasana yang berbeda dari biasanya begitu ia masuk.

Sang ayah, Tuan Hartmann, sedang duduk di kursi kerjanya dengan wajah yang terlihat serius dan tegang. Begitu melihat Kenan masuk, ia langsung mengangkat wajah dan berbicara dengan nada yang berat.

“Kenan, duduklah. Ada hal penting yang harus kita bicarakan sekarang,” ucapnya pelan namun jelas. “Baru saja aku menerima surat dan panggilan dari sahabat baikku, Tuan Alexander Miler dari Jerman. Dia punya seorang putri bernama Kamila Miler, dan katanya putrinya sudah lama menaruh hati padamu. Mereka mengajukan permohonan perjodohan antara kamu dan Kamila.”

Kenan mendengarnya dengan tenang, namun begitu mengerti maksud dan situasi yang sebenarnya, ia langsung menggeleng tegas. “Aku menolaknya, Ayah. Aku sudah memiliki wanita yang sangat kucintai, dan takkan pernah aku menikahi orang lain selain dia. Tolong sampaikan penolakan kami kepada Tuan Miler.”

Namun Tuan Hartmann hanya menghela napas panjang, wajahnya terlihat semakin serius dan penuh kekhawatiran. “Kau tidak bisa menolaknya dengan mudah, Nak. Ini bukan sekadar perjodohan biasa, ini berkaitan dengan masa depan seluruh perusahaan kita. Tuan Alexander Miler adalah investor terbesar kita, hampir tiga perempat dari modal perusahaan berasal dari mereka. Jika kita menolak permohonan ini, mereka akan segera mengalihkan seluruh modalnya ke perusahaan lain. Jika itu terjadi, perusahaan Hartmann akan hancur dalam waktu singkat, dan seluruh usaha kita selama puluhan tahun akan lenyap begitu saja.”

Saat mendengar penjelasan itu, wajah Kenan berubah tegang. Ia menatap ayahnya dengan tatapan tajam, hatinya terasa sesak dan perih karena terjepit di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.

“Tapi Ayah… bagaimana dengan perasaanku? Bagaimana dengan Kinasih? Aku takkan bisa hidup bahagia jika harus menikahi orang lain,” ucapnya dengan suara yang bergetar menahan emosi.

Tuan Hartmann menatap anaknya dengan pandangan yang berat, lalu berbicara dengan nada yang tegas dan penuh ancaman yang tersirat. “Aku mengerti perasaanmu, Nak. Tapi kau harus mengerti juga tanggung jawabmu sebagai pewaris keluarga ini. Ingat baik-baik kata-kataku ini, jika kau tetap bersikeras menolak perjodohan ini, maka aku takkan segan-segan melakukan apa saja untuk melenyapkan wanita yang kau cintai itu dari hidupmu. Aku takkan membiarkan masa depan keluarga kita hancur hanya karena perasaan pribadimu.”

Ancaman itu menusuk hati Kenan seperti pisau tajam. Ia tahu benar bahwa ayahnya benar-benar mampu melakukan apa saja yang ia ucapkan, dan tak ada yang bisa melindungi Kinasih jika hal itu terjadi. Dengan hati yang hancur dan perasaan yang hancur berkeping-keping, Kenan akhirnya hanya bisa mengangguk pelan, matanya terasa panas menahan air mata yang ingin tumpah.

“Baiklah… aku setuju,” jawabnya dengan suara yang lirih dan penuh kesedihan. “Aku akan mengikuti perjodohan ini.”

Tuan Hartmann menghela napas lega, meski ia tahu ia telah menyakiti hati anaknya sendiri. “Terima kasih, Kenan. Ini adalah keputusan terbaik untuk semua orang.”

Kenan hanya bisa berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah yang terasa berat, hatinya terasa hampa seolah seluruh dunianya runtuh. Di kepalanya hanya terbayang wajah Kinasih, dan ia tahu bahwa mulai hari ini, dia harus menyimpan cintanya untuk dirinya sendiri, meski hatinya berteriak ingin terus mencintai gadis itu sepenuhnya.

Amara yang sangat senang mendengar pengakuan hubungan kakak dan sahabatnya itu segera mengajak mereka menginap saja di rumah besar keluarga Hartmann. “Ayo kita pulang ke rumah saja! Lebih nyaman dan bebas di sana, nanti kita bisa makan malam bersama juga,” ajak Amara antusias.

1
sunaryati jarum
Apa yang kamu lakukan sudah benar Kinasih,Kenan bukan suamimu walau ayah anakmu
sunaryati jarum
Semoga terwujud Kenan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!