NovelToon NovelToon
TIRAKAT 4

TIRAKAT 4

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.

Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.

Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?

Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!

Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMATIAN (PROLOG)

"SALSA!!! SALSA!!! GAK MUNGKIN!!! SALSAAA!!!"

Teriak Pak Harmoko sambil berlari mendekat saat melihat tubuh anaknya yang masih mengenakan pakaian seragam sekolah SD, telah bersimbah darah di tengah jalan.

"SALSAAA!!! BANGUN NAAAK... SALSAAA!!! HUAAA... HUHUUU... SALSAAA!!! BANGUUUN!!! HUAAA..."

Seketika langsung pecah tangisan keras Pak Harmoko sambil memeluk jasad anaknya itu.

"SALSAAA!!! BANGUN NAAAK... BANGUUUN... JANGAN TINGGALIN BAPAK BEGINI NAAAK!!! HUHUUU... HUUAAAA... YA ALLOOOH... SALSAAA!!!"

Orang-orang di sekelilingnya merasa kasihan, bercampur rasa ngeri saat melihat jasad anak Pak Harmoko itu.

Setengah badan bagian bawahnya hancur karena tergilas roda truk tronton. Seketika membuat nyawa Salsa melayang. Tewas di tempat.

"Yaa Alloh... Astaghfirulloh..."

"Duuuh... Kasian banget anak itu..."

"Iya ya... Kasian banget."

Suara orang-orang yang berdiri di sekitar Pak Harmoko terdengar jelas di telinganya. Namun Pak Harmoko tetap berlinang air mata dengan derasnya, merasa tak percaya dengan kecelakaan yang di alami oleh anak perempuan semata wayangnya itu.

Pak Harmoko terus menerus meratapi jasad anaknya yang sudah tak bernyawa di pelukannya itu. Basah sekujur tubuhnya oleh darah sang anak.

Dan kemudian, terdengar suara sirine ambulan yang akhirnya datang setelah beberapa lama. Petugas kepolisian yang sudah ada di TKP mencoba menertibkan semua orang yang menonton kejadian naas itu.

Dengan sigap, petugas dari rumah sakit segera mengevakuasi jasad Salsa yang sudah tak berbentuk setengah badannya itu.

Sedangkan Pak Harmoko yang masih histeris menangisi kematian putri satu-satunya itu, ditenangkan oleh pihak kepolisian.

.....

.....

.....

Namun, ada satu sosok anak perempuan lain yang ikut menyaksikan proses evakuasi tersebut dari kejauhan.

Anak perempuan itu pun mengenakan seragam sekolah SD yang sama dengan Salsa.

Tatapannya tajam...

Wajahnya tampak tenang...

Tak ada ekspresi kasihan...

Tak ada ekspresi ketakutan...

Justru...

Tampak senyuman kecil di ujung bibirnya yang tipis...

Seolah dirinya malah menikmati kejadian naas yang telah menimpa Salsa...

.....

.....

.....

Sesampainya di rumah, anak itu disambut oleh Ayahnya di ruang tamu yang berisi barang-barang cukup mahal.

Sang Ayah dengan entengnya bertanya pada anaknya itu...

"Gimana? Udah berhasil?"

"Udah Yah..."

"Sampe mati gak?"

"Iya... Mati..."

"Bagus... Bagus... Berarti untuk tahun ini, tugasmu udah selesai Nak."

Anak itu terlihat berjalan menggunakan sebuah tongkat di tangan kanannya. Matanya putih di bagian tengahnya, dia mengalami kebutaan karena penyakit katarak akut.

Anak itu berjalan sambil meraba dengan tongkatnya, hendak naik ke lantai dua menuju kamarnya. Sedangkan sang Ayah masih saja duduk santai di ruang tamu sambil menonton televisi berukuran cukup besar.

"Nak..." suara sang Ayah menghentikan langkahnya, dia menoleh kepada sang Ayah di tengah anak tangga menuju lantai dua.

"Apa Yah?"

"Nanti Ayah belikan kamu boneka baru. Sebagai hadiah atas keberhasilan kamu hari ini." kata sang Ayah dengan ekspresi biasa saja. Seolah tak terjadi sesuatu.

"Iya Yah..." jawab sang anak singkat. Dan ia lanjutkan langkahnya menuju kamar.

.....

.....

.....

"Ceklek..." suara pintu kamar anak itu terbuka, dan langsung ia masuk ke dalam, lalu menutup kembali pintu kamarnya dengan rapat.

"Ceklek ceklek" suara pintu kamar dikunci dari dalam olehnya.

Dia taruh tas sekolahnya di atas lantai begitu saja...

Dia berjalan dengan tongkatnya mendekati jendela kamar...

Kemudian berdiri diam, seolah bisa menatap ke arah luar jendela kamar lantai dua dengan dua matanya yang buta itu...

Namun...

Tak butuh waktu lama...

Dari dua bola matanya yang putih itu...

Terlihat jelas air matanya mulai mengalir...

Anak itu menangis...

Dan berkata dengan suara pelan, lirih, penuh penyesalan...

"Hiks hiks... Hiks... Salsa... Maafin akuuu... Hiks hiks hiks..."

.....

.....

.....

Air mata anak itu mengalir...

Membasahi pipinya...

Dan menetes dari dagunya...

Menetes tepat di baju sekolah SD yang masih ia pakai...

Dan baju sekolah SD itu bertuliskan sebuah nama...

"GENDIS"

1
🔵🌹Widian,🧕🧕🌹
ini 2 anak yang berbeda kah ?
Deni Komarullah: Tokoh Gendisnya sama Kak... Korbannya yang berbeda...
total 1 replies
SecretS
Merinding juga, kepala sampai hancur. Lanjut kak, memang sampai berapa tumbal? Kalau dihitung pasti lebih dari 5 sebab bertahun tahun loh sebelum ketemu nisa?
Deni Komarullah: Iya Kak...
total 1 replies
SecretS
😰😰menegangkan kak pas gendis mojokin sinta 😆😆, lanjut kak gimana cerita nya gendis kok bisa di pondok dan ketemu nisa 😃
SecretS
Ini kisah pesugihan ya
😆😆 lanjut kak👍👍👍
Yeni Yeni: lanjut dah
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!