NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Idola sekolah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.

____

"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Perbincangan Keempat Sahabat Lyra tentang Ujian Minggu Depan di Kantin

Empat sahabat—Lyra, Rian, Minda, dan Amel—berkumpul di kantin sekolah untuk membahas ujian minggu depan.

Suasana ramai mencair saat mereka berbagi keluh kesah dan strategi belajar.

Menghadapi mata pelajaran yang sulit, mereka saling menyemangati dan berkomitmen untuk belajar bersama demi meraih nilai terbaik di kelas masing-masing.

Suasana kantin siang itu terasa jauh lebih bising dari biasanya.

Bunyi denting sendok yang beradu dengan piring kaca, gelak tawa siswa-siswi yang saling bersenda gurau, serta aroma harum masakan yang menguar dari kedai Bu Siska, menciptakan sebuah simfoni kehidupan anak sekolah menengah yang sangat khas.

Namun, di salah satu meja sudut yang berada tepat di bawah pohon mangga rindang, empat sekawan justru terlihat menekuk wajah mereka dengan ekspresi yang sangat serius.

Di meja itu, duduklah Lyra dan Rian yang kebetulan berasal dari kelas yang sama, yakni kelas X3.

Di hadapan mereka, duduk pula Minda dari kelas X5 dan Amel yang merupakan siswi kelas X6.

Di atas meja kayu yang sedikit terkelupas itu, bukannya tersaji mangkok bakso atau sepiring nasi goreng, melainkan buku-buku catatan tebal yang terbuka lebar serta beberapa lembar kertas ringkasan rumus fisika yang dicoret-coret penuh perhitungan matematika.

Ya, ujian akhir semester yang dijadwalkan berlangsung pada minggu depan menjadi satu-satunya alasan mengapa keempat sahabat itu mengabaikan menu lezat kantin dan memilih untuk mengerutkan kening bersama.

"Sumpah ya, bab kinematika dan dinamika ini benar-benar bikin otak aku berasap," keluh Lyra sembari mengacak-acak rambutnya yang dikuncir kuda.

Ia menghela napas panjang dan menunjuk sebuah rumus gerak lurus berubah beraturan (GLBB) di buku catatannya.

"Aku masih belum paham kenapa kecepatan akhir suatu benda bisa bernilai negatif waktu diperlambat. Padahal kalau secara logika, yang namanya cepat ya angkutan nilainya positif terus."

Rian, teman sebangku Lyra di kelas X3, terkekeh pelan mendengar celotehan sahabatnya.

Srrrp!

Ia kemudian menyeruput es teh manisnya sebelum menanggapi dengan nada sok tahu namun menenangkan.

"Itu gampang banget, Ly. Sini aku jelasin. Angka negatif itu cuma nunjukin arah geraknya aja. Kalau geraknya berlawanan sama arah acuan yang kita tetapkan di awal, ya nilainya jadi minus. Lagian, guru Fisika kita kan memang suka bikin jebakan Batman kayak gitu di soal-soal ujian."

"Enak ya kalian berdua sekelas, jadi kalau ada materi yang susah bisa langsung tanya pas pelajaran atau pas jam istirahat," potong Minda sambil meletakkan cangkir jus jeruknya dengan sedikit keras.

Gadis dari kelas X5 itu tampak sedikit cemberut.

"Coba bayangin kelasku, X5. Suasana belajarnya serius banget, tegang kayak lagi mau ujian masuk perguruan tinggi aja. Mau nanya ke teman sebangku juga pada pelit ilmu semua. Giliran aku minjam catatan, eh malah disuruh fotokopi sendiri."

Mendengar curhatan Minda, Amel yang sejak tadi sibuk mengunyah roti bakar keju langsung menghentikan kunyahannya.

Gadis dari kelas X6 itu menatap Minda dengan tatapan penuh empati, lalu memberikan dukungan moral khasnya.

"Ya ampun, Minda, jangan sedih dong. Makanya, mulai hari ini kita kan sudah sepakat buat bikin kelompok belajar lintas kelas. Biarpun kamu di X5 dan aku di X6, kita tetap bisa kumpul dan belajar bareng kayak gini, kan? Kalau kamu bingung materi Kimia atau Sejarah, tenang aja, aku bakal bantu jelasin sebisa aku."

"Iya, benar kata Amel," timpal Lyra sambil tersenyum menyemangati Minda.

"Kita berempat ini kan sahabat sejati. Masa gara-gara beda kelas jadi nggak kompak pas mau ujian. Justru kelebihan kita itu ada di masing-masing dari kita. Rian jago banget ngitung dan logika, Amel pinter ngafalin dan analisis teks, Minda teliti banget ngerangkum materi, nah aku... yah, aku bagian yang meramaikan suasana biar kalian nggak stres belajarnya!" Candaan Lyra itu sontak memecah ketegangan di meja tersebut.

Minda pun tersenyum lebar, rasa kesalnya pada teman-teman sekelasnya yang individualis seketika menguap begitu saja.

Ia bersyukur memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa suportif.

Minda kemudian mengambil bukunya dan mulai mencatat jadwal ujian yang tertera di papan tulis yang sudah disalinnya sejak pagi.

"Oke, kalau begitu kita harus susun strategi belajar yang efektif buat minggu depan," ujar Rian mengambil alih peran sebagai ketua kelompok belajar dadakan.

Ia merapikan buku-buku dan mengambil selembar kertas kosong untuk membuat jadwal belajar bersama.

"Ujian hari pertama itu Bahasa Indonesia dan Pendidikan Agama. Dua mata pelajaran ini sebenarnya gampang kalau kita rajin membaca. Tapi tetap aja, kita harus punya trik biar bisa ngerjain esai dengan poin maksimal."

"Setuju!" sahut Amel dengan antusias.

"Untuk Bahasa Indonesia, kuncinya ada di paragraf deduktif dan induktif. Nanti aku yang bakal bawa contoh-contoh soal paragraf dan ringkasan kalimat utama. Biar kita latihan analisis bareng-bareng."

"Nah, kalau untuk hari kedua, jadwalnya Matematika dan Biologi," lanjut Minda dengan suara yang lebih mantap, menunjuk catatannya.

"Waktu pelajaran Matematika kemarin, Bu Sinta ngasih tahu kisi-kisi tentang persamaan kuadrat dan fungsi linear. Rian, kamu harus ngajarin kita berdua cara cepat ngerjain akar-akar persamaan kuadrat ya. Soalnya kalau pakai cara biasa, waktunya pasti nggak akan cukup."

Guru Matematika di sekolah mereka ada dua ya, yaitu Bu Sinta dan Pak Tio. Di awal kelas sepuluh, mereka semua diajarkan sama Bu Sinta sebagai Guru Matematika. Namun, di tengah semester kelas X3 yaitu kelas Rian dan Lyra mendadak tiba-tiba Guru Matematika mereka diganti menjadi Pak Tio, sehingga Rian termasuk satu kelasnya kurang mengerti setiap penjelasan Matematika dari Pak Tio. Jadi, Dina juara satu di kelasnya yang bersedia membantu kesulitan-kesulitan teman-temannya di kelas X3.

"Siap laksanakan, Bos Minda!" jawab Rian sambil memberi hormat ala tentara, yang kembali mengundang tawa kecil dari teman-temannya.

Suasana kantin yang tadinya bising perlahan terasa lenyap, menyisakan fokus dan obrolan penuh semangat dari empat remaja yang sedang berjuang demi masa depan.

Mereka tidak lagi memikirkan susahnya soal ujian, melainkan membayangkan betapa leganya nanti jika mereka bisa menjawab semua soal dengan mudah dan mendapatkan nilai yang memuaskan.

Lyra, Rian, Minda, dan Amel terus melanjutkan diskusi mereka dengan penuh dedikasi.

Mereka saling bergantian menjelaskan materi, membuat singkatan-singkatan lucu untuk menghafal istilah Biologi yang rumit, dan sesekali melempar tebakan rumus.

Di mata mereka, ujian minggu depan bukanlah sebuah momok yang menakutkan, melainkan sebuah tantangan yang harus ditaklukkan bersama.

Keempatnya tahu bahwa persahabatan yang mereka rajut di bangku kelas sepuluh ini tidak hanya sebatas nongkrong atau jajan bersama di kantin, melainkan tentang saling mendukung, tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang lebih pintar dan lebih baik lagi.

kriiiiiiingg......

Saat bel masuk sekolah berbunyi nyaring, memecah lamunan dan perbincangan seru mereka, Lyra, Rian, Minda, dan Amel serentak merapikan buku-buku mereka dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

Mereka beranjak dari meja kantin dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan penuh percaya diri.

Mereka tahu bahwa ujian minggu depan akan terasa jauh lebih ringan karena mereka tidak menghadapinya sendirian.

Tap.. tap.. tap...

Dengan senyum optimis yang mengembang di bibir masing-masing, mereka berjalan beriringan menuju lorong sekolah, bersiap menghadapi pelajaran selanjutnya dengan semangat baru dan tekad yang bulat untuk meraih kesuksesan.

Bersambung~~~

Hallo gess!! semoga suka ya!! 🤗

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~~

1
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
MamiAmira
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!