"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."
Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.
Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.
Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.
Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.
Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.
Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Terapi Psikologis
Aroma cabai rawit yang menyengat dari mangkuk mi mengepul di bawah lampu kedai pinggir jalan yang temaram.
Kepulan uap panas itu membawa aroma bawang putih dan lada yang langsung membakar rongga hidung. Savira menatap kuah merah pekat di hadapannya dengan tatapan kosong. Tangan kirinya mencengkeram sumpit bambu murahan hingga buku jarinya memutih.
Ia tidak peduli pada rintik hujan sisa badai yang sesekali memercik dari lubang terpal tenda kedai.
Otaknya sangat membutuhkan rasa sakit fisik ini. Sensasi terbakar adalah satu-satunya cara untuk membungkam bayangan wajah memelas Nadia di layar televisi konferensi pers siang tadi.
Savira menyendok mi keriting itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
Ledakan rasa pedas tingkat maksimal seketika menghantam lidahnya. Saraf pengecapnya seakan disayat oleh ribuan jarum kecil secara bersamaan. Ia mengunyah kasar, menelan paksa mi panas itu melewati kerongkongannya yang langsung terasa seperti dibakar oleh bara api.
Keringat dingin mulai menetes dari pelipisnya. Napasnya tersengal pelan berantakan.
Rasa perih di lambungnya berhasil menenggelamkan rasa muak terhadap manipulasi publik ayahnya. Sisi manusiawinya yang rapuh memang harus selalu mencari pelarian canggung semacam ini saat logika jeniusnya gagal meredam stres yang mencekik.
Suara decit ban mobil mewah yang mengerem di atas aspal basah memecah lamunannya.
Sebuah sedan hitam pekat berhenti tepat di luar tenda terpal kedai. Pintu penumpang belakang terbuka paksa. Sosok jangkung melangkah keluar tanpa menggunakan payung, mengabaikan gerimis yang membasahi kemeja hitam mahalnya.
Langkah sepatu kulit pria itu berdebum berat mendekati meja kayu usang tempat Savira duduk.
Aaron Jayanegara menarik kursi plastik merah di seberang Savira dengan gerakan tenang. Postur raksasa pria itu langsung mendominasi ruang sempit kedai, menciptakan kontras yang luar biasa tajam dengan lingkungan kumuh di sekitarnya.
"Kau memakan racun merah itu seolah sedang meminum air putih," tegur Aaron. Suara baritonnya mengalun berat menembus suara rintik hujan.
Savira meletakkan sumpitnya perlahan. Matanya yang memerah akibat rasa pedas menatap Aaron dengan kilatan tajam.
"Pelacak GPS di bros gaunku sudah kubuang ke tempat sampah sejak semalam, Aaron," desis Savira dingin. "Bagaimana kau bisa menemukanku di sudut kota ini?"
Aaron tersenyum asimetris. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kursi plastik yang berderit menahan berat badannya.
"Aku memiliki jaringan intelijen jalanan yang jauh lebih efisien dari sekadar alat pelacak digital," jawab Aaron. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Savira. "Kau tidak bisa bersembunyi dari pandanganku di ibukota ini, Savira."
Savira mendengus sinis. Ia mengambil gelas kaca berisi air es dan meminumnya tegukan demi tegukan.
Pria ini benar-benar tidak mengenal batas. Obsesi perlindungan Aaron bekerja layaknya jaring laba-laba yang terus menyebar mengepung pergerakannya tanpa celah.
"Satu porsi mi yang sama seperti milik Nona ini," perintah Aaron kepada pemilik kedai yang sedari tadi berdiri gemetar melihat aura mengintimidasi pria tersebut.
Savira mengangkat sebelah alisnya. "Lambung eksekutifmu akan hancur malam ini juga. Ini mi dengan level kepedasan tertinggi di kota ini."
"Jika mitra taktisku bisa memakannya tanpa menangis, aku juga bisa," tantang Aaron penuh percaya diri yang buta.
Hanya butuh waktu tiga menit hingga mangkuk mi merah pekat itu mendarat di hadapan Aaron. Kepulan uap pedasnya langsung menyapu wajah keras pria tersebut.
Savira menopang dagu dengan tangan kirinya. Ia mengamati Aaron layaknya seorang peneliti yang sedang melihat spesimen percobaan.
Aaron mengambil sumpit bambu, memisahkannya menjadi dua, lalu mengaduk kuah merah tersebut dengan elegan. Pria itu menyendok porsi yang cukup besar dan memasukkannya ke dalam mulut tanpa ragu.
Dua detik pertama, raut wajah Aaron masih terlihat sangat terkendali.
Memasuki detik kelima, pupil mata kelam pria itu membesar drastis.
Aaron berhenti mengunyah. Rahang tegasnya menegang kaku seketika. Warna merah padam menjalar cepat dari leher hingga menutupi seluruh wajahnya yang biasa memucat dingin. Pria arogan itu terbatuk keras, memalingkan wajahnya dan menutupi mulutnya dengan punggung tangan.
"Sialan," umpat Aaron dengan suara yang mendadak serak dan parau.
Napas Aaron memburu kasar. Pria itu meraih botol air mineral di atas meja dan menenggaknya rakus hingga tandas. Keringat sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya, membasahi ujung rambut hitamnya yang tertata rapi.
"Berapa ton cabai yang kau masukkan ke dalam perutmu, Savira?" Aaron terengah-engah. Matanya berair menahan siksaan luar biasa di rongga mulutnya.
Savira terdiam. Tembok es tebal di dalam dadanya mendadak retak.
Melihat monster korporat paling ditakuti di ibukota nyaris mati tersedak oleh semangkuk mi pinggir jalan adalah pemandangan yang sangat absurd. Kegigihan pria itu untuk menyamai level penderitaannya terasa begitu bodoh namun anehnya sangat manusiawi.
Sudut bibir Savira tertarik ke atas secara perlahan.
Sebuah senyuman tipis terbentuk di wajahnya. Bukan senyum sinis. Bukan senyum kalkulatif yang mematikan. Ini adalah senyum murni pertama yang melengkung tulus sejak ia terbangun dari kematian di aspal berdarah itu.
Aaron mematung di kursinya. Pria itu mengabaikan rasa lidahnya yang terbakar hebat.
Manik kelam Aaron terkunci rapat pada senyuman langka tersebut. Waktu seakan berhenti berdetak di dalam tenda kumuh itu. Aura dingin dan mematikan yang selalu menyelimuti Savira menguap sesaat, menampilkan sisi gadis tujuh belas tahun yang menggemaskan dan rapuh.
"Aku sudah memperingatkanmu," ucap Savira pelan. Suaranya terdengar jauh lebih rileks, bebas dari ketegangan kaku yang biasa membelenggu kesehariannya itu.
"Senyuman itu sangat sepadan dengan lambungku yang terbakar," balas Aaron dengan suara yang masih serak. Pria itu menyeka keringat di pelipisnya tanpa melepaskan tatapan memujanya dari Savira.
Savira segera merapatkan bibirnya. Ia memalingkan wajah, merasa canggung karena pertahanan emosionalnya tertembus begitu mudah malam ini.
"Kita tidak punya banyak waktu untuk bersantai," Savira mengalihkan pembicaraan dengan cepat. "Nadia berhasil memutarbalikkan fakta siang tadi. Publik kini melihat gadis delusional itu sebagai martir suci."
Aaron kembali menegakkan posturnya. Insting predatornya kembali mengambil alih logika liarnya.
"Air mata palsu itu bekerja sangat efektif pada masyarakat yang tidak suka berpikir," tanggap Aaron tajam. "Ayahmu memanfaatkan sentimen emosional untuk menutupi kejahatan kriminalnya dengan sempurna."
"Nadia sungguh percaya pada kebohongannya sendiri," desis Savira. Ujung kukunya menggores permukaan meja kayu yang kasar. "Dia berpikir dia sedang memikul salib demi keluarga. Delusi itu membuatnya sangat berbahaya karena dia tidak merasa bersalah sama sekali."
Aaron menopang dagunya dengan tangan yang bersih. "Orang yang tidak memiliki rasa bersalah tidak akan pernah membuat kesalahan akibat kepanikan."
"Benar. Tapi orang yang hidup dalam delusi akan hancur lebur jika realitas pondasinya ditarik paksa." Savira menatap mata kelam pria itu. "Reputasi Nadia adalah perisai utama Wijaya. Kita tidak bisa hanya menyerang produk kosmetiknya. Kita harus menghancurkan fondasi eksistensi Nadia di keluarga Dharma."
Aaron memicingkan matanya. Otaknya memutar seluruh data intelijen yang ia miliki tentang keluarga Dharma. "Maksudmu mitos kelahiran putri keberuntungan itu?"
"Keberuntungan tidak bisa dibuktikan secara sains," jawab Savira dingin. "Tapi garis keturunan bisa. Nadia hidup dalam delusi absolut bahwa dia adalah darah daging yang paling dicintai Wijaya. Dia meremehkan setiap aspek logis hanya untuk mempertahankan status itu."
Savira menatap kuah sisa mi di mangkuknya. Pikirannya bergerak liar membedah arsip ingatan lamanya. Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu sibuk mengemis validasi ayahnya hingga tidak pernah sempat menyelidiki sejarah kelahirannya sendiri. Ada ruang kosong dalam ingatannya tentang malam saat ia dan Nadia dilahirkan secara bersamaan.
"Jika kita bisa membuktikan bahwa darah yang mengalir di nadinya bukanlah darah penguasa Dharma, seluruh citra publiknya akan runtuh seketika." Mata Savira menyala oleh kalkulasi mematikan. "Wijaya akan langsung membuangnya layaknya parasit yang tidak berguna."
Aaron mengangguk setuju. "Wijaya hanya peduli pada keturunan asli yang membawa nilai investasi. Tapi rekam medis Dharma Group dijaga oleh keamanan berlapis militer. Kau tidak bisa meretasnya dari luar."
"Saya tidak akan meretas data digital baru yang sudah dimanipulasi," tuntut Savira menatap Aaron lekat-lekat. "Saya butuh akses ke catatan kelahiran fisik kami berdua. Tujuh belas tahun lalu. Di rumah sakit swasta pinggiran kota yang kini sudah ditutup."
Aaron mengerutkan kening. Pria itu mengingat gedung tua yang kini terbengkalai di utara ibukota. "Aku akan menyiapkan tim untuk membongkar paksa segel rumah sakit tua itu malam ini juga."
"Tidak perlu tim." Savira menolak cepat. "Saya akan pergi ke sana sendiri besok pagi. Semakin sedikit orang yang tahu, semakin sulit Wijaya mengendus pergerakan kita."
Aaron menekan rahangnya dengan tidak setuju. "Itu terlalu berbahaya. Gedung itu sudah menjadi sarang preman lokal."
"Saya adalah jenius taktis, bukan gadis manja." Savira mendesis tajam. "Saya bisa menjaga keselamatan saya sendiri."
Pria itu menatap keras kepala Savira. Perdebatan ini tidak akan menemukan titik temu jika ia terus memaksa menggunakan arogansinya. Aaron menghela napas panjang, memilih mengalah demi menjaga batas kepercayaan mereka yang baru terbangun.
"Baiklah." Aaron menyetujui dengan berat hati. "Tapi aku akan memasang jalur komunikasi darurat yang terhubung langsung ke ponsel utamaku. Jika kau menemukan sedikit saja ancaman, kau harus menekan tombol itu."
"Saya mengerti." Savira tidak membantah lebih jauh.
Ia mengambil selembar tisu kasar dari atas meja dan membersihkan mulutnya secara asal. Sisa rasa pedas di lidahnya masih menyengat, tetapi kekacauan di kepalanya sudah mereda sepenuhnya.
Ketegangan di pundaknya telah luntur. Udara malam yang lembap terasa jauh lebih ringan untuk dihirup. Ia tidak pernah menyangka bahwa memakan mi pedas di tempat kumuh bersama musuh bebuyutan ayahnya bisa menjadi terapi psikologis yang begitu ampuh.
Savira menunduk, bersiap untuk bangkit dari kursi plastiknya.
"Jangan menanggung semua rasa sakit ini sendirian," ucap Aaron tiba-tiba. Suara pria itu merendah, menembus lapisan zirah es Savira tanpa permisi.
Savira terkesiap pelan. Ia menatap Aaron dengan sorot mata yang penuh kewaspadaan. Ia benci dikasihani, tetapi tidak ada secuil pun rasa kasihan di mata pria itu. Yang ada hanyalah rasa kepemilikan dan afeksi yang sangat telanjang.
Aaron mencondongkan tubuhnya ke depan melintasi meja kayu sempit itu. Pria raksasa itu memangkas jarak mereka dengan gerakan yang sangat halus dan terukur. Aroma pinus dan feromon maskulin kembali menyelimuti ruang napas Savira.
Gadis itu mematung, ototnya menolak untuk menghindar. Tangannya mencengkeram lututnya sendiri dengan gugup.
Aaron mengulurkan ibu jarinya, mengusap lembut sudut bibir Savira yang terkena kuah mi pedas dengan tatapan hangat.