Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Bersih
Cahaya mentari pagi menyapa dengan lembut, sinar menembus kabut tebal sisa-sisa embun malam. Kicauan burung bersahut-sahutan menyambut datangnya pagi hari, Bejo terbangun dia melihat Mala yang masih tidur dalam panggilan video.
"Bangun Mbak, sudah pagi," ucap pelan Bejo.
"Hmm... Nantilah Jo, masih ngantuk aku."
"Aku matikan ya mbak?,"
"Jangan Jo, nanti aja kalau kamu mau berangkat sekolah,"
"Iya deh."
Kemudian Bejo bangun untuk mandi memasak untuk sarapan, Bejo masuk dalam kamar mandi. Namun tidak berselang lama pintu belakang di dorong, yang ternyata itu Mala datang dengan memakai baju tidurnya.
"Jo, kamu mau makan apa?,"
Bejo yang di dalam kamar mandi sangatlah kaget, dia mengingat kembali bahwa Mbak Mala tadi mau tidur kembali.
"Ishhh... Bejo, kamu tuh di tanyain malah diem aja sih,"
"Di rumah tinggal satu telur aja Mbak,"
"Yawes Mbak masakin di rumah nanti aku bawain kesini,"
"Iya mbak."
Bejo tidak memikirkan lebih dalam lagi soal suara Mbak Mala, dia melanjutkan Mandi hingga selesai. Setelah selesai dia memakai seragam sekolahnya, lalu duduk di belakang menunggu Mbak Mala.
Tidak berselang lama Mala datang membawa sarapan untuk Bejo.
"Boleh di matikan gak nih mbak?," tanya Bejo.
"Iya nih mbak matikan," jawab Mala.
"Wihh nasi goreng.. enak nih," seru Bejo.
"Dah makan tuh.. aku sudah buatin sama telur kamu tadi satu,"
"Makasih ya mbak,"
"Iya sama-sama."
Bejo makan dengan lahap, Mala menunggu Bejo hingga selesai.
Setelah selesai Bejo berangkat kesekolah, namun dia terhenti melihat perempuan yang di kenalinya.
"Kok itu mirip Mbak Mala sih!!, ahh.. gak mungkin, kan tadi di rumah."
Bejo melanjutkan perjalanan menuju sekolah hingga sampai sana, dia sudah di tunggu oleh Jarot dan Pendi.
Sedangkan di rumah Bejo, Mala menyapu seluruh rumahnya. Dia bosan di rumah tidak ada kegiatan setelah selesai membantu ibunya, Mala membersihkan rumah Bejo.
Tepat saat istirahat Bejo, Jarot dan Pendi berkumpul di kantin. Mereka mengobrol santai, hingga jam masuk kelas kembali akan tetapi pada saat itu kelas mereka tidak ada guru.
Bejo, Jarot dan Pendi duduk bersama, di ikuti beberapa teman lainnya ingin menanyakan soal menggali makam pada Bejo.
"Jo, apa kamu gak takut gitu gali kuburan?," tanya Salsa.
"Takut sih takut, tapikan ini sudah jadi tanggung jawabku mau gimana lagi," jawab Bejo.
"Gila sih lu Jo, setiap hari lihat pemakaman apa gak ngeri tuh!!,"
"Kemarin sore tuh ngeri, padahal masih sore tapi cuaca tiba-tiba gelap dan hujan lebat di petir menyambar keras. Itu aku dan Pendi membantu Bejo menggali makam," seru Jarot.
Teman-teman Bejo yang mendengarkan itu merasa takut, bergidik ngeri. Apalagi mereka tidak tau sebenarnya tapi seperti mereka merasa ada di sana ketika Jarot berkata.
Namun salah teman perempuan Bejo mulai penasaran akan cerita horor mereka, dia ikut duduk dekat untuk bertanya.
"Apa kamu pernah ikut turun membantu pemakaman Jo?," tanya Dinda.
"Pernah dua kali kalau gak salah," jawab Bejo.
Teman-teman Bejo merasa ngeri ketika mendengar ucapannya, mereka membayangkan bagaimana kondisi makam saat malam hari lalu menggali dengan dua orang atau satu orang saja.
Dinda terdiam. Sebenarnya Dinda satu RT dengan Bejo, saat berangkat sekolah Dinda pasti melewati rumah Bejo, namun mereka jarang ketemu kecuali di sekolah atau kumpul pemuda di kampung.
"Bukannya kamu dekat rumahnya dengan Bejo, Din?," tanya Salsa.
"Iya Deket, emang kemarin apa yang di ceritakan Jarot tuh bener. Tiba-tiba sore itu gelap, hujan di tambah petir," jawab Dinda, dia membenarkan ucapan Jarot.
Membuat beberapa teman Bejo yang mendengarkan itu terdiam, semakin dalam obrolan mereka semakin banyak teman-teman Bejo yang semakin penasaran.
Apalagi mereka sebentar lagi akan lulus sekolah, dan baru mengetahui kalau Bejo itu penggali makam di desanya. Yang tau Bejo penggali makam hanyalah Jarot, Pendi dan Dinda teman satu desanya.
Walaupun sebenarnya ada beberapa yang tau cuman beda jurusan.
Sampai waktunya pulang mereka masih duduk di belakang bertanya dan cerita bersama, kemudian mereka keluar bersama karena waktunya jurusan lain yang memakai kelasnya.
Saat perjalanan pulang, Salsa dan Dinda menghampiri Bejo.
"Jo," panggil Salsa.
"Apa," jawab Bejo.
"Besok kan libur nih sekolah, dua hari lagi wisuda. Gua mau main kerumahmu sama Dinda boleh gak?,"
"Boleh aja, tapi apa gak takut soal tadi?,"
"Aku dan Dinda penasaran Jo,"
"Kalau mau ikut ya ikut aja tapi kalau lagi halangan gak boleh ikut,"
"Lah emang kenapa Jo?,"
"Nantilah di rumah aku jelasin, dah laper aku mau cari makan,"
Bejo berkata, lalu pergi meninggalkan Salsa dan Dinda. Akan tetapi mereka berdua mengejar langkah Bejo yang cukup cepat meninggalkan mereka.
Tepat saat sampai parkiran, Dinda menghampiri Bejo.
"Jo, nebeng boleh gak?,"
"Naik,"
Dinda naik ke motor Bejo lalu mereka pergi meninggalkan parkiran sekolah, dalam perjalanan Bejo ingin mencari warung pecel siang hari itu.
"Kamu mau makan gak Din?," tanya Bejo.
"Emm.. boleh sih tapi,"
"Gua yang bayar. Tapi makan di warung bukan cafe,"
"Terserahlah Jo, aku ikut aja."
Kemudian Bejo sedikit lebih kencang membuat Dinda langsung memeluknya. Wajah Dinda seketika memerah karena malu, tapi Dinda tetap memeluk Bejo karena terhalang tasnya.
Bejo sendiri santai saja, hingga sampai di tempat tujuan.
Lalu mereka turun, masuk kedalam warung
"Seperti biasa buk," ucap Bejo.
"Kamu mau makan sama apa Din?,"
"Sama kayak kamulah Jo,"
"Dua porsi ya buk, sama es teh sedikit manis dua,"
"Siap nak Bejo,"
Bejo santai menunggu pesanannya sendangkan Dinda memberikan pesan kepada Salsa untuk menunggu di rumah karena dia diajak makan sama Bejo.
Salsa dan Clara yang baru sampai rumah Dinda pun di buat bingung karena Dinda tidak ada rumah. Kemudian Salsa membuka ponselnya.
"Hmmm.. malah makan berdua mereka," seru Salsa.
"Siapa yang makan berdua Sal?," tanya Clara.
"Siapa lagi kalau bukan Dinda sama Bejo, kan kamu tau kalau Dinda tuh naksir Bejo tapi satu kampung membuat enggan berbicara," jawab Salsa.
"Oh iya lupa aku. Sudahlah kita tunggu sini aja," ucap Clara.
Setengah jam berlalu akhirnya, Bejo mengantar Dinda pulang kerumahnya. Saat sampai rumah Dinda, Bejo melihat dua teman kelasnya ternyata sudah menunggu disana dengan wajah cemberut.
Setelah turun, Bejo mengantar Dinda ke depan gerbang rumahnya.
"Hmm... Kita nunggu sampai kelaparan kalian berdua malah makan bersama," ucap kesal Salsa.
"Iya nih, gak tau panas lagi disini," imbuh Clara.
Dinda hanya bisa terdiam, sedangkan Bejo tidak tau kalau mereka di rumah Dinda.
"Mana ku tau kalian berdua kesini," ucap Bejo.
"Tuh kan bener, Dinda gak ngomong ke kamu ya Jo?," balas bertanya, Clara.
Bejo menggelengkan kepalanya, sedangkan Dinda memalingkan wajahnya yang memerah karena malu. Kemudian Bejo berpamitan pulang meninggalkan teman-temannya.
Namun saat sampai rumah Bejo, mencium bau busuk dan anyir darah di siang hari. Akan tetapi tidak berhenti di situ juga, rumah Bejo sudah bersih tapi bau busuk dan anyir darah membuat Bejo kebingungan.
Siang-siang Bejo merasakan merinding di seluruh tubuhnya, tidak tau apa dan bagaimana bisa ada bau busuk dan anyir darah di siang hari. Bejo berusaha tetap tenang, ini pertama kalinya terjadi di rumah.