"Bagaimana jika kau tahu rahasia kehancuran dunia, tapi kau tidak boleh memberitahu siapa pun?"
Di masa depan, Wei Changqing adalah legenda tertinggi dunia persilatan—sang Mata Pedang Hijau yang ditakuti sekaligus dihormati. Namun gelar itu tak ada artinya ketika ia berdiri di atas puing-puing dunia yang hancur oleh perang agung, memeluk jasad wanita yang setia menantinya hingga akhir hayat.
Mengorbankan seluruh tingkat latihannya, Changqing memutar balik roda waktu dan terbangun di dalam tubuh mudanya yang berusia 19 tahun. Kembali menjadi pendekar mentah yang belum memiliki reputasi apa pun.
Kali ini, tujuannya hanya satu: Mencegah perang berdarah itu terjadi dan menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Namun, merubah takdir memiliki harga mahal. Setiap peristiwa yang ia cegah melahirkan musuh baru yang lebih mengerikan. Lebih buruk lagi, demi menyatukan sekte-sekte yang egois agar tidak saling berperang, Changqing mungkin harus menelan fitnah terbesar dalam sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Embun Pagi di Kebun Herbal
Taman Obat Luar di lereng barat Sekte Lembah Bambu Biru adalah dunia tersendiri yang jauh dari kebisingan pelataran utama sekte.
Kabut putih tipis menyelimuti ribuan petak tanaman herbal spiritual yang tumbuh subur di lereng bukit. Aroma manis dari bunga Ginseng Salju dan daun Tulang Besi bercampur dengan sejuknya hawa pegunungan, menciptakan lingkungan yang teramat kaya akan energi alam.
Sejak matahari belum menampakkan cahayanya di ufuk timur, sosok kecil Baii Ling sudah berjalan menyusuri jalan setapak batu di antara petak-petak kebun.
Gadis kecil berusia sebelas tahun itu memikul sepasang ember kayu berisi air dari pegunungan di bahunya. Punggungnya tegap dan napasnya teratur.
Di kejauhan, Wei Changqing duduk bersila di atas batu besar di bawah naungan pohon bambu kuning, memperhatikan setiap pergerakan murid mudanya itu.
"Ingat aturan pertamanya, Baii Ling," suara Changqing terdengar lembut melintasi kebun herbal. "Jangan gunakan kekuatan bahumu untuk menahan ember itu. Alirkan hawa dingin dari Meridian Teratai Es-mu ke telapak kaki, lalu biarkan bumi yang menopang berat airnya. Jangan ada satu tetes pun air yang tumpah dari ember saat kau menyiram akar tanaman."
"Baik, Kakak Guru!" sahut Baii Ling dengan keringat menetes di dahinya.
Bagi orang awam, menyiram tanaman herbal terlihat seperti pekerjaan kasar seorang pembantu. Namun, metode yang diajarkan Changqing adalah rahasia latihan Penyatuan Fisik dan Alamiah tingkat Nirwana.
Dengan memaksakan Baii Ling mengontrol kestabilan air di dalam ember sambil menjalankan Ilmu Pernapasan Hati Es Nirwana, Changqing sedang melatih kehalusan kendali tenaga dalam gadis itu sejak usia dini.
Saat Baii Ling memiringkan ember kayu untuk menyiram Ginseng Salju, air mengalir keluar dalam pancaran tipis yang begitu tenang dan akurat—tepat membasahi lingkaran akar tanpa merusak daun muda yang rapuh.
"Sempurna," puji Changqing sambil melompat turun dari batu besar dengan gerakan ringan tanpa suara. Ia menyerahkan handuk bersih pada Baii Ling. "Istirahatlah dulu. Minum air rebusan daun ginseng ini untuk memulihkan stamina meridianmu."
Baii Ling menerima handuk dan mangkuk minuman itu dengan kedua tangan, matanya berbinar menatap Changqing dengan rasa pemujaan yang mendalam.
Selama lima hari tinggal di taman obat ini, Baii Ling menyadari bahwa setiap kalimat yang diucapkan oleh pemuda 19 tahun di depannya ini seolah mengandung kebenaran mutlak. Tubuh kecilnya yang dulu lemah karena kelaparan kini terasa begitu ringan, bertenaga, dan aliran dingin di perutnya tidak lagi menusuk dan menyakitkan, melainkan menjadi perisai yang menyejukkan.
"Kakak Guru," tanya Baii Ling setelah meneguk habis ramuannya. "Tadi pagi, Kakak Zhou Hao datang mengantar pasokan beras. Dia bilang murid-murid senior di halaman utama sedang sibuk berlatih tanding keras sampai pedang kayu mereka patah-patah untuk persiapan Turnamen Lembah Anggrek. Kenapa Kakak Guru malah santai mengajariku menyiram bunga di sini?"
Changqing tersenyum kecil sambil mengusap pucuk kepala Baii Ling yang dikepang rapi.
"Pedang yang ditempa dengan pukulan palu yang terlalu keras, dan terburu-buru hanya akan menghasilkan besi yang mudah retak saat berbenturan dengan baja sejati," jelas Changqing tenang. "Murid senior seperti Chen Wu memaksakan tenaga fisik mereka karena mereka tidak memahami esensi aliran tenaga dalam. Di sini... kita sedang menajamkan pedang kita di dalam keheningan."
Baii Ling tersenyum dan mengangguk, "Baii Ling mengerti Kakak Guru."
"Ya sudah, ayo kita kembali ke pondok untuk beristirahat, besok kita lanjutkan kembali." Akhirnya mereka berjalan menuju pondok untuk beristirahat.
Malam harinya, setelah Baii Ling terlelap tidur di dalam pondok kamarnya, Changqing kembali keluar menuju batu besar di ujung lereng barat di bawah sinar rembulan purnama.
Kini giliran dirinya sendiri.
Selama lima hari terakhir, Changqing tidak membuang waktunya. Udara di Taman Obat Luar yang kaya akan sari pati herbal spiritual adalah bahan bakar yang sempurna bagi tubuh mudanya.
Changqing duduk bersila, meletakkan pedang besi hitam kusam di pangkuannya. Ia memejamkan mata dan mengaktifkan Teknik Pernapasan Mata Pedang Hijau—teknik rahasia ciptaannya di masa depan yang mampu menyerap energi alam tiga kali lipat lebih efisien daripada jurus standar sekte.
Srrr... wuuush...
Uap putih bercampur titik-titik cahaya hijau samar mulai naik dari dedaunan herbal di sekeliling bukit, tertarik ke arah tubuh Changqing seperti aliran sungai kecil yang bermuara ke lautan. Energi spiritual alam itu masuk melalui pori-pori kulitnya, mengalir deras ke dalam sembilan jalur meridian utama.
Jdharr!
Di dalam mata batinnya, Changqing mendengar suara bendungan yang pecah. Kerak-kerak sumbatan meridian di sekitar tulang belakangnya hancur larut oleh aliran energi murni yang ia serap.
Hawa panas meledak dengan lembut di pusat perutnya, sebelum menyebar merata ke seluruh otot dan tulang.
Wesh!
Saat Changqing membuka matanya, kedua bola matanya memancarkan kilatan hijau zamrud yang lebih padat dan terang dari sebelumnya—cahaya itu menyinari pohon bambu di sekitarnya selama dua detik sebelum kembali normal menjadi mata hitam pemuda biasa.
Changqing mengepal kan telapak tangannya, merasakan aliran tenaga dalam yang berlipat ganda di dalam nadinya.
Ia telah resmi menembus batas Pendekar Menengah Tahap 4!
"Satu langkah lagi," gumam Changqing sambil tersenyum menatap telapak tangannya yang berkeringat. "Masih ada waktu dua puluh lima hari sebelum Konferensi Lembah Anggrek dimulai. Sebelum rombongan sekte berangkat, aku akan menerobos ke tingkat Pendekar Menengah Tahap 5."
Di dalam keheningan Taman Obat Luar, sepasang guru dan murid itu tumbuh dalam bayangan—mengumpulkan kekuatan yang kelak akan mengejutkan seluruh dunia persilatan.
lanjutkan Thor.....👍👍🙏