Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.
Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.
" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"
"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
"Anda baik-baik saja?" tanya Rexsaka datar namun tersirat kecemasan halus di dalam nadanya.
Melihat Nadya mengangguk pelan sebagai jawaban, Rexsaka mengalihkan pandangnya ke kursi besi taman tempat gadis itu terduduk tadi. Ia melangkah mendekat, lalu meraih tumbler minuman milik Nadya yang tertinggal di sana.
Sepasang mata Nadya mengintai punggung tegap itu. Hatinya yang tadi sudah bersiap untuk menyerah dan melepaskan sosok ini, mendadak goyah hanya karena satu perhatian kecil. Ada jeda panjang sebelum akhirnya kalimat itu lolos dari bibirnya.
"Kenapa Kak Rex ada di sini?" tanya Nadya pelan, menyisipkan jarak yang tegas dalam nada bicaranya, seolah memagari hatinya agar tak kembali jatuh pada jurang harapan yang sama.
"Kumur-kumur dan bersihkan mulut Anda," desis Rexsaka seraya menyodorkan tumbler ke hadapan Nadya.
Nada bicaranya tetap formal dan teratur, tetapi ada ketegangan kaku pada rahangnya yang mengeras. Tatapannya sempat berhenti di bibir Nadya. Rahangnya mengeras nyaris tak kentara sebelum ia kembali memasang ekspresi datar seperti biasa. Sulit ditebak apa yang sebenarnya mengusik pikirannya.
Nadya mematung di tempatnya. Perlakuan Rexsaka yang tiba-tiba terasa terlalu spesifik untuk sekadar perhatian biasa.
Ada apa dengan mulutnya? Mengapa harus berkumur?
Mungkinkah pria itu cemburu karena ia baru saja menggigit tangan Arnold? Namun, gagasan itu buru-buru ia tepis. Mengapa juga Rexsaka harus cemburu? Dan yang lebih menyedihkan, mengapa hatinya begitu mudah luluh hanya oleh perhatian sepele yang mungkin cuma didasari rasa kemanusiaan semata?
Pergolakan batin menyergap Nadya saat tangannya terulur menyambut tumbler tersebut. Ia sengaja menarik jemarinya secepat mungkin, memutuskan kontak fisik di antara mereka sebelum hatinya semakin goyah. Kendati serangkaian pertanyaan berkecamuk di kepala, aura dingin dan dominan yang menguar dari Rexsaka siang itu memaksa Nadya untuk memilih bungkam.
"Apa yang Kak Rex lakukan di sini?" tanya Nadya sekali lagi. Pertanyaan yang sempat terabaikan itu kini kembali meluncur pelan dari bibirnya.
Rexsaka terdiam beberapa saat. Wajahnya tetap datar, nyaris tanpa riak. Setelah jeda singkat, barulah ia membuka suara."Mulai hari ini, saya yang akan menjadi pengawal pribadi Anda, Nona."
Byuur!
Nadya sontak menyemburkan air yang tengah dipakainya untuk berkumur. Ia terbatuk-batuk kecil, buru-buru menyeka bibirnya seraya mendongak kaget. Sepasang matanya membelalak lebar, menatap Rexsaka dengan tatapan tak percaya yang bercampur keterkejutan luar biasa, seolah pria di hadapannya baru saja melontarkan lelucon paling tidak masuk akal di dunia.
"Apa? Jangan bercanda!" sergah Nadya dengan suara yang masih serak akibat tersedak. Ia menatap Rexsaka sengit, menolak memercayai pendengarannya. "Kak Rex bukan pengangguran yang tak punya pekerjaan sampai harus sudi jadi bodyguardku!"
Hening sejenak. Rexsaka hanya menghela napas tipis. Bila boleh jujur, ia pun tak pernah membayangkan situasi absurd ini akan menjadi salah satu bagian dari kewajibannya sekarang. Namun, raut wajahnya tetap tenang, menutupi gejolak di dadanya.
"Lagi pula... aku tidak butuh pengawal," tambah Nadya pelan. Nadanya melemah, namun dibalut ketegasan yang berusaha ia rakit demi membentengi dirinya dari kehadiran pria itu.
Rexsaka menatapnya datar, lalu menjawab singkat, "Jika keberatan, Anda bisa menyampaikannya secara langsung kepada Tuan Andy, Nona."
Tanpa membuang waktu, Nadya sigap merogoh tasnya dan menarik keluar ponsel miliknya. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia buru-buru mencari kontak sang ayah dan melayangkan panggilan. Namun sial, nada dering itu berujung sia-sia, sang Papa tak kunjung mengangkat telepon darinya.
"Anda mau ke mana?" tanya Rexsaka seraya melangkah lebar menyusul Nadya yang mendadak berbalik meninggalkannya begitu saja di taman.
"Ke kantor Papa," sahut Nadya ketus tanpa menghentikan langkah atau sudi menatap balik.
"Ikut saya," potong Rexsaka singkat namun penuh nada penekanan yang tak menerima bantahan.
"Tak perlu. Aku membawa mobil sendiri," tolak Nadya cepat, berusaha tetap mandiri di hadapan pria itu.
Rexsaka menggeleng tipis, melangkah memotong jalur Nadya hingga gadis itu terpaksa menghentikan tungkainya. "Mobil Anda sudah dibawa kembali oleh sopir beberapa saat lalu. Dan karena tugas saya adalah pengawal Anda, maka mulai detik ini, perjalanan pulang maupun pergi Anda adalah tanggung jawab saya."
"Apa-apaan?! Siapa yang menyuruh Kakak membawa pulang mobilku?!" cecar Nadya, melangkah maju dengan napas memburu.
Rexsaka tidak bergeming. Dengan raut wajah tenang yang membuat Nadya kian gemas, pria itu menjawab lugas, "Tidak ada yang menyuruh. Namun, karena keselamatan Anda sepenuhnya ada di tangan saya, maka seluruh mobilitas Anda mulai sekarang adalah bersama saya. Keberadaan mobil Anda hanya akan menjadi hal yang sia-sia."
"Hentikan... tolong hentikan!" potong Nadya frustrasi, menatap pria di hadapannya dengan perasaan campur aduk. "Berhenti memanggilku dengan sebutan kaku begitu! Sakit telingaku mendengarnya!"
Lagi-lagi Rexsaka hanya membisu. Pria itu berdiri kaku bagai patung di hadapannya tanpa berniat menanggapi bentakan emosional itu sedikit pun. Sikap dingin tak tersentuh itu sukses membuat tingkat frustrasi Nadya membubung tinggi.
Mengembuskan napas kasar demi menekan rasa jengkel yang hampir meledak, Nadya akhirnya menyerah. "Oke! Mana mobilnya?!"
"Silakan, Nona," sahut Rexsaka tenang, lantas berbalik dan melangkah lebar mendahului Nadya tanpa beban.
"Arghhh... dasar kulkas!" umpat Nadya setengah berbisik, menghentakkan kakinya ke tanah seraya mengekor pasrah di belakang punggung tegap itu.
Sesampainya di gedung Moko Group, Nadya melangkah cepat menyeberangi lobi menuju lift utama yang akan membawanya ke ruang kerja sang Papa. Tepat di belakangnya, Rexsaka mengekor dengan derap langkah mantap, bersikap sepenuhnya bak seorang pengawal profesional yang tak lepas menjaga setiap incinya.
Pintu lift tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mendadak terasa menghimpit.
Di ruang sempit berdinding kaca itu, Nadya memanfaatkan pantulan cermin untuk mengintai sosok pria di belakangnya.
Rexsaka tampak begitu sempurna, seperti mahakarya pahatan dewa-dewa Yunani.
Struktur rahangnya yang kokoh dan simetris berpadu dengan ekspresi dingin tanpa cela, menguarkan aura maskulin yang begitu intimik dan dominan. Kemeja yang membalut bahu bidang serta dada tegapnya seolah makin menegaskan posturnya yang atletis.
Nadya menelan ludah, menahan sesak yang mendadak membendung di dada. Sungguh ironis; pria dengan pesona tak tersentuh ini kini berada begitu dekat dengannya.
Andaikan situasi ini terjadi beberapa waktu lalu, hatinya pasti sudah melompat penuh suka cita. Ia mungkin akan memanjatkan doa penuh syukur, meneriakkan terima kasih pada Sang Pencipta karena akhirnya mengabulkan impian terbesarnya, untuk selalu berada di sisi pria pujaannya. Kini, kebersamaan ini justru terasa seperti bentuk hukuman yang paling manis sekaligus menyiksa.
Meski ada secuil rasa hangat yang diam-diam merekah, tekad bulat untuk menghapus Rexsaka dari hidupnya memaksa Nadya untuk membunuh rasa itu dalam-dalam.
Pertanyaannya... sanggupkah ia melakukannya saat pria itu berdiri sedekat ini?