NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

"Ap... apa yang kalian lakukan?!"

​"Mama?!"

​Mendengar seruan yang sarat akan syok itu, Rexsaka tersentak dan berusaha secepat mungkin keluar dari posisi canggung tersebut. "Menyingkirlah dari tubuh saya, Nona!" desisnya tajam dan penuh penekanan.

​"Ha? Oh, i-iya... maaf, Kak!" sahut Nadya terbata-bata. Tanpa sadar dan refleks dalam kepanikannya, gadis itu justru menjadikan dada bidang Rexsaka sebagai tumpuan untuk mendorong tubuhnya bangkit. Dengan sangat hati-hati, ia berusaha berdiri tegak di atas lantai marmer yang kini menjadi luar biasa licin.

​Sama halnya dengan Rexsaka, sang tentara muda itu berjuang keras untuk berdiri. Meski telapak tangannya yang menjadi tumpuan di lantai beberapa kali meleset dan tergelincir akibat genangan air, pada akhirnya ia berhasil bangkit berdiri dengan penuh kehati-hatian, berusaha tetap menjaga martabat dan kesigapannya.

"Ma... ini nggak seperti yang Mama pikirkan," potong Nadya panik, mencoba meluruskan kesalahpahaman.

​"Memangnya apa yang Mama pikirkan, hah?" sembur Marini seraya berkacak pinggang. "Kalian ini, ya! Kalau mau bermesraan, seharusnya pintu kamar itu ditutup! Bagaimana kalau ada orang lain yang lihat kalian seperti tadi?!"

​"Hah?" Nadya seketika cengo, membeku dengan mulut sedikit terbuka mendengar tanggapan di luar nalar sang mama.

"Ini kenapa pula air sampai berceceran di lantai begini? Astaga... kalian ini..." Marini menepuk keningnya sendiri, berantakannya tempat tidur sang anak, melihat seprai yang kusut dan selimut yang menjuntai dilantai, ia memegang kedua pipinya yang mendadak memerah. Pikiran wanita paruh baya itu sudah berkelana ke mana-mana, membayangkan adegan liar tak terbayangkan yang baru saja terjadi antara dua anak muda di hadapannya.

​Melihat ekspresi sang mama yang makin tenggelam dalam salah paham, Nadya kembali panik dan berusaha meluruskan situasi. "Ma... yang Mama lihat tadi sungguh tak seperti—"

​"Bi, saya izin mau membawa Nadya keluar sebentar," potong Rexsaka tegas, memutus kalimat Nadya begitu saja.

​Seketika Nadya mendelik tajam ke arah sang tentara muda, tak percaya pria itu sengaja membiarkan kesalahpahaman konyol ini menggantung begitu saja di udara. Namun, kekhawatiran yang lebih besar kini melingkupinya, izin yang dimintai Rexsaka untuk membawanya pergi jelas bukan pertanda hal yang menyenangkan seperti yang dipikirkan sang mama.

"Oh, kalian mau keluar ? Ya sudah, tapi jangan pulang kemalaman, ya. Nanti pamanmu mencari anak gadisnya," ujar Marini dengan senyum mengembang. Wanita berambut sanggul itu menatap mereka penuh binar bahagia, berharap inisiatif Rexsaka mengajak putrinya kencan adalah sebuah langkah maju bagi perjuangan Nadya untuk memenangkan hati sang tentara muda. Ia bahkan mengabaikan tatapan memohon dan tatapan panik sang anak yang mengisyaratkan agar menolak ajakan Rexsaka.

​"Ta... tapi, Ma..."

​"Sudah, nggak usah pakai 'tapi-tapi'! Jarang-jarang ada kesempatan emas seperti ini," potong Marini seraya berbisik antusias. Tanpa memedulikan keengganan sang putri, dengan cekatan ia meraih tas beserta ponsel Nadya dari atas nakas, lalu menyodorkannya ke tangan gadis itu. Tak berhenti di situ, Marini bahkan menyambar sepasang sepatu Nadya yang tergeletak tak jauh dari tempat mereka berdiri.

​Nadya hanya bisa menatap pasrah dengan dorongan marini untuk membawanya keluar kamar hingga sampai tepat di depan mobilnya rexsaka.

Rexsaka membukakan pintu sebuah tindakan romantis yang justru tak dirasakan romantis oleh Nadya karena situasinya yang berbeda.

Nadya kembali menoleh ke belakang, menatap sang mama yang masih tersenyum cerah seraya memberi isyarat agar ia bergegas masuk ke mobil. Ingin rasanya ia berteriak bahwa situasi saat ini sama sekali tak seindah bayangan mamanya. Namun, lidahnya terkelu; ia tak sanggup berterus terang karena tahu betapa murkanya sang mama jika kebenaran itu terkuak.

​Meski diliputi rasa cemas akan tindakan apa yang bakal dilakukan Rexsaka kepadanya nanti, ada satu hal yang disadari Nadya: pria itu sengaja bungkam di hadapan mamanya mengenai video tersebut. Video terlarang yang bukan hanya berpotensi membuat sang mama jantungan, melainkan juga menorehkan aib besar bagi keluarga mereka. Bagaimana tidak dirinya mengaku hamil, tanpa ada ikatan pernikahan. Rexsaka pasti sudah menyusun rencana untuk menyelesaikan masalah ini, walau Nadya sendiri tak tahu apakah jalan keluar itu akan berujung merugikan bagi dirinya atau tidak.

Sambil mengembuskan napas pasrah, Nadya akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil. Begitu tubuh gadis yang sukses mengacaukan ketenangannya itu duduk di dalam kabin, Rexsaka memutar mengitari kap mesin menuju pintu pengemudi. Namun sebelum masuk, ia menyempatkan diri menganggukkan kepala ke arah Marini untuk berpamitan secara sopan.

***

Keheningan yang pekat seketika melingkupi kabin mobil, menciptakan atmosfer canggung di antara kedua insan tersebut. Nadya, yang tak lagi sanggup menahan sesak dalam kesunyian itu, akhirnya memberanikan diri memecah keheningan.

"Kak... kita sebenarnya mau ke mana?" tanya Nadya pelan. Namun, Rexsaka tetap bergeming. Wajahnya mengeras tanpa ekspresi, sepasang matanya menatap lurus ke depan, fokus penuh mengendalikan laju kendaraan gagah itu.

​Melihat aura dingin dan tak bersahabat yang memancar dari Rexsaka, Nadya langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat, tak berani lagi membuka suara.

​Hingga akhirnya, rasa penasarannya terjawab sudah. Mobil yang mereka tumpangi bergerak memelankan laju, berbelok melewati sebuah gerbang megah yang sangat familier. Tempat di mana latar video viral itu tercipta, sebuah markas militer yang menjadi saksi bisu kebohongan konyolnya demi bisa menemui pria di sampingnya ini.

"Turun," perintah Rexsaka dingin begitu mobilnya terparkir sempurna di area barak tentara itu.

​Tak ingin memancing amarah pria itu lebih jauh, Nadya langsung menurut tanpa memberikan perlawanan sedikit pun. Namun, rasa penasaran yang membuncah di dadanya tak sanggup lagi ditahan.

​Dengan nada ragu, ia akhirnya memberanikan diri bertanya, "Kak... ngapain kita ke sini?"

Rexsaka tak acuh dan mengabaikan pertanyaan itu. Tanpa membuang kata, ia berbalik dan melangkah lebar-lebar menyeberangi area pelataran. Mau tak mau, Nadya setengah berlari menyelaraskan langkahnya, mengekor di belakang punggung tegap sang tentara muda bagaikan seorang pesakitan yang pasrah menuju medan eksekusi.

​Langkah leather boots hitam milik Rexsaka menghentak tegas, berdenting di sepanjang lantai selasar yang dingin. Beberapa prajurit yang melintas seketika menghentikan langkah dan memberi hormat sigap. Namun, sepasang mata para prajurit itu tak sanggup menyembunyikan binar penasaran tatkala melirik ke arah Nadya—seorang gadis sipil berparas jelita yang melangkah menunduk di tengah kepungan aura kaku dan mencekam markas militer tersebut.

​Lalu, saat tatapan mereka tertuju lebih jeli, riak terkejut menyapu wajah para prajurit itu. Sosok gadis cantik di samping Rexsaka mulai terasa amat familier di ingatan mereka.

​Atmosfer di sekitar mereka terasa makin berat, tercium aroma minyak senjata, kain seragam yang kaku, dan ketegangan yang pekat. Nadya terus meremas jemarinya sendiri, menatap gelisah ke sekeliling hingga langkah Rexsaka mendadak terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu jati berukir lambang kesatuan.

​Papan nama kuningan di samping pintu itu berkilat tertimpa cahaya lampu koridor, menegaskan nama sang pemilik ruangan Mayor Ardi Wijaya

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!