Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.
Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22
Terlihat Elizabets melangkah perlahan di sepanjang lorong taman rehabilitasi rumah sakit. Setiap langkah yang ia ambil masih terasa berat, tetapi tidak lagi mustahil seperti beberapa bulan yang lalu. Kaki yang dahulu kaku dan nyaris tak bisa digerakkan itu kini mulai menapak lantai dengan lebih mantap.
Dokter Alvaro berdiri beberapa meter di depannya sambil memperhatikan perkembangan pasien sekaligus tunangannya itu.
Di sisi lain, Yusi menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata haru mengalir tanpa bisa ia bendung.
"Pelan-pelan saja, Eliz. Jangan dipaksakan," ucap Yusi lembut.
Elizabets mengangguk. Napasnya masih memburu, tetapi senyum bahagia tak pernah lepas dari wajahnya.
"Aku... aku bisa berjalan lagi, Ma." Ucap Eliz pada ibunya, namun pandangannya ke arah Alvaro.
"Ya, dan itu hasil perjuanganmu sendiri. Aku hanya membantu sebisaku." Sahut Alvaro.
Elizabets menatap kedua kakinya yang mulai mampu menopang tubuhnya.
"Dulu aku benar-benar berpikir tidak akan pernah berdiri lagi, Dok."
"Tidak ada yang sia-sia selama kita mau berjuang."Imbuh Alvaro.
Beberapa langkah lagi berhasil ia tempuh. Meski masih sedikit tertatih, keberhasilan itu terasa seperti kemenangan besar.
Yusi tak sanggup lagi menahan emosinya. Ia berlari kecil menghampiri putrinya, lalu memeluknya erat.
"Alhamdulillah... Alhamdulillah, Nak," isaknya.
Elizabets ikut menangis dalam pelukan ibunya.
"Ma... aku bisa berjalan."
"Iya, Sayang. Kamu bisa. Ibu tahu kamu pasti bisa."
Tangis haru keduanya memenuhi taman kecil itu. Para perawat yang melihat dari kejauhan ikut tersenyum menyaksikan momen yang menghangatkan hati.
Yusi kemudian menoleh kepada Alvaro.
"Dokter Alvaro... terima kasih. Saya tidak tahu harus membalas semua kebaikan Anda.
Alvaro hanya tersenyum tipis.
"Jangan berterima kasih pada saya, Bu. Kesembuhan Elizabets adalah hasil kerja sama semua pihak, apalagi aku dibantu oleh temanku yang seorang dokter ahli.
Namun, ucapan itu justru membuat hati Yusi semakin sesak.
Di balik kebahagiaan yang sedang dirasakan, ada sebuah kenyataan yang diam-diam menghantuinya.
"Anna..."
Nama itu berputar di dalam benaknya.
Demi kesembuhan Elizabets, ia pernah memaksa Anna mengorbankan cintanya. Ia rela memisahkan Anna dan Alvaro demi memastikan dokter muda itu tetap mendampingi putrinya hingga sembuh.
Saat itu, Yusi merasa keputusannya benar.
Dan kini...ia kembali membenarkan tindakannya itu.
" Aku sudah melukai Anna. Namun, langkah yang kuambil sudah tepat.
Berkat Alvaro, Eliz kini sudah sembuh dan bisa berjalan kembali. Andai aku tlterlalu lembut pada Anna, mungkin ia tak ingin meninggalkan Alvaro, dan Eliz masih terkurung di kursi rodanya.
Yusi menghela napas lega. Senyum haru tak pernah lepas dari wajahnya sejak melihat putrinya mampu berdiri dan berjalan kembali. Air mata kebahagiaan masih menggantung di sudut matanya.
"Ini semua berkat kamu, Nak, yang sudah membantu kami," ucap Yusi berulangkali berterima kasih pada dokter Alvaro.
"Kamu bahkan rela mengorbankan cintamu demi kesembuhan Eliz."
Ucapan itu membuat suasana seketika berubah sunyi.
Dada Alvaro terasa sesak. Kata-kata Yusi seolah membuka kembali luka yang selama ini ia paksa sembunyikan.
Bayangan Anna kembali memenuhi pikirannya.
Wanita yang begitu ia cintai itu terpaksa melepaskannya demi adiknya Anna. Perpisahan itu bukan karena cinta mereka telah habis, melainkan karena keadaan yang memaksa keduanya mengalah.
"Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, Anna," batinnya lirih.
Sementara itu, Elizabets yang kini sudah mampu melangkah beberapa langkah tersenyum puas. Wajahnya tampak cerah, seolah semua penderitaan yang ia alami telah benar-benar berlalu.
"Aku sudah sembuh, Ma," katanya antusias. "Bisa, kan, pernikahan kami dipercepat?"
Ucapan itu bagai petir yang menyambar dada Alvaro.
Tangannya mengepal semakin erat. Otot rahangnya menegang, menahan amarah yang hampir meledak. Ia memejamkan mata sesaat, berusaha mengendalikan emosinya.
"Eliz... kamu benar-benar sengaja menciptakan keretakan ini," gumamnya dalam hati.
"Kamu tahu Anna mencintaiku. Kamu juga tahu aku tidak pernah mencintaimu. Tapi kamu tetap memaksakan semuanya."
Bukan karena ia takut kepada Elizabets.
Namun, Alvaro masih menaruh hormat kepada Yusi. Wanita itu telah membesarkan Elizabets seorang diri dan selama ini selalu bersikap baik kepadanya. Ia tak sanggup melukai hati seorang ibu yang sedang berbahagia melihat putrinya sembuh.
Karena itulah ia memilih diam.
Diam yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada berteriak.
Elizabets kembali berbicara dengan penuh semangat, seakan tidak menyadari gejolak yang sedang berkecamuk di hati Alvaro.
"Ma, kita bisa mulai menentukan tanggal. Aku ingin semuanya segera terlaksana. Bukankah dulu Om Denis juga sudah setuju? Tinggal menunggu aku sembuh."
Yusi mengangguk pelan.
"Iya, sayang. Mama juga berharap begitu. Setelah semua perjuangan ini, sudah saatnya kamu hidup bahagia."
Setiap kalimat yang keluar dari bibir Elizabets terasa seperti pisau yang mengiris hati Alvaro sedikit demi sedikit.
Alvaro hanyq diam terpakumenerima kenyataan pahit.
Ia ingin mengatakan yang sebenarnya.
Bahwa pernikahannya nanti hanya akan membawa bencana.
Karena menikahi seseorang tanpa cinta hanya akan melahirkan penderitaan baru.
Namun, semua kata itu tertahan di tenggorokannya.
***
Anna semakin menikmati hari-harinya dalam kesendirian. Baginya, hidup tidak harus selalu ditemani seseorang untuk terasa berarti. Kesibukan di rumah sakit perlahan menjadi obat bagi luka yang selama ini ia simpan rapat di dalam hati.
Setiap pagi, ia datang paling awal. Seragam putihnya selalu tampak rapi, rambut panjangnya disanggul sederhana, sementara senyum lembut tak pernah absen menyapa siapa pun yang ditemuinya.
"Selamat pagi, Bu Siska. Bagaimana keadaan Bapak hari ini?" sapa Anna kepada keluarga pasien.
"Jauh lebih baik, Suster Anna. Terima kasih sudah begitu sabar merawat suami saya."
Anna hanya tersenyum.
"Kesembuhan beliau adalah hasil perjuangan yang begitu kuat.
Keramahannya membuat pasien merasa nyaman. Bahkan beberapa pasien lanjut usia sering meminta agar Anna yang merawat mereka.
Di ruang perawat, Windy memperhatikan sahabatnya yang tengah sibuk.
Ia menggeleng sambil tersenyum geli.
"Anna..."
"Hm?" Anna mengangkat wajahnya.
"Kamu sadar nggak sih?"
"Sadar apa?"
"Kalau kamu itu nyaris sempurna."
Anna tertawa pelan.
"Mulai lagi."
"Bener, lho!" Windy mendekat sambil menopang dagu.
"Wajahmu cantik, kulitmu bersih, tubuhmu proporsional. Belum lagi kamu baik hati, sopan, rajin, dan kerja keras. Kalau aku jadi laki-laki, mungkin aku juga jatuh cinta sama kamu."
Anna menggeleng pelan.
"Kamu terlalu berlebihan."
"Bukan berlebihan. Coba lihat saja."
Windy menunjuk ke arah lorong rumah sakit.
Beberapa pegawai tampak melirik Anna dengan kagum. Bahkan seorang dokter muda yang baru bergabung terlihat beberapa kali mencuri pandang sebelum akhirnya mengurungkan niat menyapa.
"Nah, kan?" bisik Windy.
Anna hanya menghela napas.
"Aku datang ke sini untuk bekerja, bukan mencari perhatian."
"Itulah yang bikin kamu makin menarik."
Anna tersenyum tipis. Pujian seperti itu sudah sering ia dengar, tetapi tak pernah membuatnya tinggi hati.
Baginya, kecantikan hanyalah titipan. Yang terpenting adalah menjadi manusia yang berguna bagi orang lain.
" Kamu tidak berencana kuliah kedokteran, Anna? Aku pikir kamu memang pantas jadi dokter. Lihatlah sekarang, pekerjaanmu sudah hampir seperti dokter sungguhan.
“Dokter adalah cita-citaku yang sebenarnya,” batin Anna dengan senyum pahit.
“Hei... Anna, aku sedang bicara sama kamu.” “Kuliah kedokteran bukan perkara mudah, Wind. Apalagi aku tidak punya biaya.”
“Tapi kan, dokter Arga sudah menawarkan bantuan waktu itu.”
“Tidak perlu, Wind. Aku sebenarnya sudah menyukai pekerjaanku sekarang.”