NovelToon NovelToon
Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Komedi
Popularitas:434
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Alin, gadis yatim piatu yang dekil dan jerawatan, mendadak punya kekuatan magis: bisa berubah jadi bidadari glowing setiap kali makan ubi rebus! Sialnya, sihir ini punya kedaluwarsa dan luntur tepat tengah malam.

Masalah makin rumit saat Alin tidak sengaja merusak hoodie mahal seharga 8 juta milik Rakha Pratama Bagaskara—kakak kelas arogan yang ternyata tetangga kamar kosnya! Karena tidak bisa ganti rugi, Alin dipaksa menjadi budak pembersih kamar kos Rakha setiap hari.

Tensi makin memanas ketika Rayi Arjuna Bagaskara—kembaran Rakha yang super ramah—mulai gencar mendekati Alin. Sementara Rayi tulus menyukai Alin yang apa adanya, Rakha justru gila-gilaan mengejar sosok "Bidadari Glowing" malam hari, tanpa sadar kalau cewek itu adalah pembantu kosan yang setiap hari ia tindas!

Bagaimana jadinya jika sihir ubi rebus Alin habis tepat tengah malam di dalam kamar kos Rakha?

"Nggak usah panggil gue Kakak. Ntar kalau udah sah, baru lo panggil gue Sayang!" — Rakha.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Tuan Muda Rakha

"Kalau kamu beneran Alin, kenapa muka kamu bisa glow up brutal dalam semalam?! Kamu pakai filter dunia nyata merek apa, hah?!"

Melihat situasi yang mulai mengundang perhatian tetangga kos lain, Alin memutar otak. Ia melangkah maju, memangkas jarak, lalu berbisik pelan tepat di telinga Bu Sinta.

"Ibu masih nggak percaya? Ingat tidak, waktu pertama kali Alin datang survei kosan ini setahun lalu? Alin dengar suara 'ledakan' dari perut Ibu di kamar mandi umum. Terus pas Ibu keluar buru-buru karena ada telepon, ada... anu... 'lele kuning' yang menempel di bagian belakang daster macan Ibu akibat Ibu lupa cebok bersih karena diare. Ingat?"

Mata Bu Sinta seketika membelalak sempurna setara ukuran jengkol. Wajahnya yang tadi merah akibat emosi, kini berubah menjadi merah padam menembus ubun-ubun akibat malu yang luar biasa.

Aib "lele kuning" akibat salah makan seblak itu adalah rahasia paling kelam, paling haram, dan paling tabu dalam kariernya sebagai janda bahenol sekecamatan.

"Ka-ka-kamu... kok tahu?!" suara Bu Sinta bergetar, mendadak gagap.

"Makanya, Bu. Percaya kan sekarang kalau aku ini Alin?" Alin tersentak menahan tawa.

"Iya, iya! Saya percaya! Tapi demi Allah jangan kencang-kencang ngomongnya! Mau ditaruh di mana muka saya kalau kedengaran anak-anak kos lain?!"

Bu Sinta merapikan dasternya dengan gerakan super gugup, matanya melirik kiri-kanan ketakutan. "Ya sudah! Kalau kamu nggak percaya dibilang cantik, mending kamu ngaca dulu sana! Saya mau pergi nagih kontrakan sebelah!"

Tanpa menunggu jawaban, Bu Sinta langsung melenggang pergi dengan langkah seribu, menyisakan Alin yang mendengus geli.

"Masa aku dibilang cantik? Ibu kos ada-ada saja efek kurang piknik."

Karena kata-kata Bu Sinta tadi memicu rasa penasarannya, ditambah di kamarnya tidak ada cermin, mata Alin tidak sengaja menangkap sebuah mobil mewah berwarna hitam legam yang terparkir tepat di depan pagar gang kosan.

Mobil itu tampak sangat asing di lingkungan kumuh tersebut—sebuah sedan mewah dengan kaca film super gelap dan mengkilap yang memantulkan cahaya matahari bagaikan cermin darurat kelas satu.

Alin mendekat dengan langkah riang. Begitu bayangan tubuhnya terpantul di kaca mobil samping yang hitam legam itu, langkah Alin mendadak terkunci. Ia mematung. Matanya membulat sempurna sampai hampir melompat dari rongganya.

Ia meraba pipinya yang kini halus tanpa satu pun tonjolan jerawat batu. Ia menyentuh hidungnya yang mendadak mancung mungil berstruktur sempurna, lalu mengelus kulit lengannya yang putih berseri bak susu murni.

Karena terlalu syok, senang, dan sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya (dan terbukti ucapan Mbak Ranti tadi pagi serta Bu Sinta barusan adalah fakta), sirkuit di otak Alin mendadak korslet.

Sifat aslinya yang agak gesrek akibat terlalu lama tertekan batin pun keluar. Alin mulai bertingkah konyol di depan kaca mobil berbiaya miliaran rupiah tersebut.

Ia cengar-cengir sendiri, lalu menekan ujung hidungnya ke atas menggunakan jari telunjuk hingga menyerupai hidung babi, sambil bergaya ngek-ngok dengan ekspresi wajah yang dibuat jelek.

Belum puas, ia menjulurkan lidahnya panjang-panjang, menarik kedua sudut bibirnya hingga lebar, lalu menggoyang-goyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan seperti sedang melakukan ritual pemanggilan hujan.

Alin tertawa cekikikan sendiri, mengagumi betapa elastisnya wajah barunya. Ia benar-benar mengira kaca mobil mewah itu hanyalah benda mati yang tidak berpenghuni.

Sampai akhirnya... kaca film yang semula hitam pekat itu perlahan-lahan bergerak turun secara otomatis dengan suara mesin yang sangat halus.

Bzzzz...

Di dalam kabin mobil yang sejuk oleh semburan AC mewah, duduk dua orang pria. Yang satu mengenakan setelan jas hitam formal. Pria yang duduk di kursi kemudi—seorang pria paruh baya dengan seragam sopir—sedang menahan tawa sampai wajahnya membiru.

Sementara di kursi belakang, duduk seorang pemuda tampan dengan tatapan mata yang luar biasa tajam namun kini memancarkan ekspresi antara takjub, syok, dan setengah mulas akibat menahan tawa melihat tingkah "bidadari gesrek" yang baru saja melakukan pertunjukan sirkus gratis di jendela mobilnya.

Pemuda di kursi belakang itu menurunkan kacamata hitamnya perlahan, menatap Alin yang masih mematung seperti patung pancoran.

"Sudah selesai pertunjukannya... atau mau saya putarkan musik biar lebih menjiwai?"

Suara berat yang sedingin es di kutub utara itu memutus seluruh pasokan oksigen di sekitar gang kosan.

Alin membeku di tempat. Posisinya saat ini benar-benar tidak tertolong oleh estetika mana pun: jari telunjuknya masih menempel di ujung hidung hingga membentuk hidung babi, sementara lidahnya menjulur keluar dengan mata mendelik konyol.

Kalau saja ada sumur di dekat situ, saat ini juga Alin sudah menceburkan diri tanpa pikir panjang. Ah, ralat! Alin sadar dia tidak punya nyali untuk berenang di air sumur yang gelap.

Dan seandainya ada cangkul, Alin mungkin akan menggali lubang sedalam-dalamnya untuk mengubur rasa malunya hidup-hidup. Tapi dipikir-pikir, kalau dia menggali dulu, keburu ubanan dan jadi fosil dong?

Dengan gerakan patah-patah seperti robot kehabisan baterai, Alin menarik tangannya jatuh ke samping tubuh. Wajahnya yang kini seputih susu mendadak bertransformasi menjadi sewarna kepiting rebus yang overmatang.

Tatapan Alin langsung tertuju pada pemuda tampan yang mengenakan kemeja kasual namun mahal. Alisnya tebal, kulitnya bersih, dan ada sebuah tahi lalat kecil di bawah mata kanannya yang memberikan kesan misterius sekaligus mematikan. Rambut hitamnya yang agak gondrong tertata acak-acakan tapi estetik.

Alin mengerutkan kening di tengah rasa malunya.

Tunggu dulu. Wajah ini... bukankah cowok ini adalah salah satu dari pemuda yang tadi duduk di meja tengah warteg?!

"Maaf Tuan Muda Rakha, apakah mau turun sekarang? Atau mau nunggu tahun depan pas ganti kalender masehi?" celetuk pria paruh baya di kursi kemudi bernama Pak Amir. Tangannya masih setia memegang setir, namun matanya melirik jahil lewat spion tengah.

"Bapak bercanda atau mau saya pecat sekarang juga?" sahut Rakha datar tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari Alin.

Walaupun ancamannya terdengar ngeri, Pak Amir hanya terkekeh pelan. Pria tua itu sudah mengabdi di keluarga Bagaskara selama dua puluh tahun, paham betul kalau tuan mudanya ini tipe "galak-galak sayang".

Rakha sengaja memilih kos-kosan triplek ini untuk menyamarkan identitas aslinya. Ia sudah muak menjadi "bayangan" di kediaman Bagaskara karena selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Rayi Arjuna Bagaskara, yang lebih jangkung 3 cm dan memiliki kepribadian seceria matahari.

"Maaf Tuan, jangan marah. Saya cuma mau ngetes, jantung Tuan masih fungsi atau sudah jadi batu pas lihat bidadari ngek-ngok," canda Pak Amir lagi, membuat Rakha berdeham kesal demi menyembunyikan fakta bahwa jantungnya memang sedang melakukan maraton akibat bertemu lagi dengan gadis warteg ini.

Rakha membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan postur tinggi tegapnya yang langsung membuat gang sempit itu terasa semakin sesak.

"Lo ngapain halangin pintu mobil gue? Minggir. Gue mau lewat," ucap Rakha ketus, melangkah maju dan sedikit menggeser bahu Alin dengan ujung jarinya.

"Ma-maaf... A-aku... A-aku..."

Alin mendadak kehilangan seluruh kosakata bahasa Indonesia-nya. Lidahnya kelu. Efek ubi rebus semalam rupanya belum memperbaiki saraf bicaranya saat berhadapan dengan makhluk visual seperti Rakha.

"Ah, kelamaan lo! Nungguin lo selesai gagap, keburu bangkotan tuh Pak Amir di dalam mobil!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!