Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UMUR HANYA ANGKA
Pevita sumringah, mendapat amplop proyek sekali lagi. Kali ini lebih besar dari proyek kemarin, ternyata menggiurkan juga ya kerja proyek apalagi kalau relasinya dengan pihak swasta, bahan selesai dana langsung turun. Baiknya Pak Thoriq juga gak mau menunda gaji tim, kata beliau Bayarlah upah sebelum keringat mengering. Pantas saja beliau subur dapat proyek di luar jadi dosen, ternyata tak mau menyusahkan anak buahnya.
Kembali emas batangan dibeli oleh pasangan muda itu, Pevita jadi ketagihan. Ternyata uang hasil jerih payah sendiri itu membanggakan sekali. "Aku jadi pengen kerja!"
"Boleh, tapi yang di rumah aja! Jangan keluar, capek. Aku gak tega sama kamu," ujar Kala, padahal dirinya kerja remote saja juga capek.
"Kerja apa di rumah?" protes Pevita, kebiasaan hidup enak malas mikir, padahal bersama temannya dulu sempat bicara bisnis. Sekarang mendadak lupa ingatan, karena setelah mata kuliah manajemen kuliner, Pevita merasa membuat bisnis tuh ribet. Gimana kalau dapat uangnya saja? 🤣🤣🤣.
"Kamu bukan tipe berjuang Sayang, cari yang simple-simple saja!" ucap Kala yang tahu banget tabiat sang istri, bahkan untuk mengupas bumbu membuat pesmol kemarin saja Mbak ART.
"Iya apa?" tanya Pevita tak sabar.
Kala bikin gara-gara, menunjuk bibirnya dulu sebagai kompensasi ide yang disarankan Kala. Meski berdecih, tetap saja Pevita menuruti tawaran sang suami. Lama lagi, Kala sudah tahu nikmatnya bercumbu mana mau sebentar.
"Udah, cepetan kasih tahu. Malas mikir aku tuh!" ujar Pevita sembari mendorong pundak sang suami, tautan bibir pun terlepas. Giliran Kala yang berdecih, lagi nikmat diputus, tanggung jyum.
"Jadi konten kreator masak saja! Tinggal rekam, mau pakai wajah boleh, mau enggak menampilkan wajah juga boleh!" ucap Kala kembali menarik pinggang sang istri.
"Bentar napa, Ya Allah. Nafsong banget sih," protes Pevita kembali memukul pundak sang suami. Kala hanya nyengir saja. "Jadi setiap aku masak direkam begitu?"
Kala mengangguk. "Kamu minat bikin apa, kue? Masakan rumah? Bekal anak sekolah? Atau menu serba 10k?" Pevita memicingkan mata pada Kala. Kok dia kelihatan siap banget idenya. Gak mungkin dong dia tahu detail begitu kalau gak ada yang kasih tahu. "Kenapa?" tanya Kala heran ditatap begitu intens oleh sang istri.
"Kok kamu tahu kayak begituan? Padahal kamu gak pernah scroll sosial media, hidup kamu berkutat sama aku dan laptop. Bahkan untuk menghubungi mama saja, kamu jarang malah mama yang sering telepon ke kamu, ngaku!" mulai deh Pevita ovt, sesuatu di luar kebiasaan yang ia lihat pasti dicurigai. Kala pura-pura mau menggigit telunjuk sang istri.
"Pak Thoriq di grup tim proyek, setiap hari jumat itu edisi sedekah ilmu dan pengalaman, kemarin beliau membahas cara mendapat cuan dengan memanfaatkan media sosial, salah satunya faceless account memasak, dan aku langsung ingat kamu. Kenapa sih curigaan mulu!" ujar Kala langsung memiting leher sang istri gemas.
"Ya kirain kamu ngobrol sama Nafisah dan saling tukar info," ujar Pevita sewot.
"Kalau kayak gitu, kamu lagi merasakan yang namanya cemburu kan ya!" goda Kala sembari mencium pipi sang istri.
"Apaan, ogah aku cemburu sama Nafisah, gak level!" ujar Pevita menyebalkan. Kala semakin intens menggoda, sembari mengelitiki pinggang sang istri.
Aktivitas pasangan muda itu kian bertambah, periode ini belum ada proyek untuk dikerjakan Kala, namun keinginan menambah cuan terus mendorongnya produktif. Alhasil, dia mempraktikkan apa saja pengalaman yang dishare Pak Thori. Kala pun mulai membuat akun ytb tentang tutorial memanfaatkan ms. Office untuk pemula. Ia meluangkan waktu 2 jam untuk membuat video tersebut per hari.
Sedangkan Pevita juga mulai mempraktikan ide yang diberikan Kala, setiap weekend dia membuat video memasak. Yang pasti dibantu oleh Mbak ART, untuk editing minta dipoles Kala dengan imbalan ya apalagi kalau gak aktivitas mengenakkan.
Percayalah, jiwa muda yang sudah tahu cara mencari cuan hanya di rumah, maka mereka tak minat untuk keluar rumah. Dua bocah, kata papa Adi, sering sekali menghabiskan weekend di rumah, baik Kala dan Pevita masing-masing fokus pada laptop. Pertengkaran pun sering muncul.
"Acil, kok gak bisa?" rengek Pevita saat ia mau editing videonya tiba-tiba tak bisa diunggah ke aplikasi editing.
"Coba cek sizenya!" ucap Kala tanpa melihat laptop sang istri, dia juga fokus editing.
"Lihat dulu napa!" protes Pevita.
"Ya kamu lihat dulu dong sizenya, kemudian resize aja, pokok jangan sampai pecah!" masih saja Kala cuek.
Gak pakai lama, Pevita langsung menutup laptopnya, "Ya udah kalau gak mau bantu. Mentang-mentang jago gak mau berbagi ilmu sama istri sendiri," ujar Pevita sembari beranjak menjauh dari sang suami.
Papa dan Tante Lily serta Dio melihat kelakuan Pevita hanya menggelengkan kepala, "Waduh, ngambek Pa!" ucap Kala yang peka.
"Biarin aja!" ucap Papa, Tante Lily dan Dio kompak. Ketiganya sudah terbiasa menghadapi Pevita yang ngambek.
"Sesekali biar dia cari solusi sendiri," ujar Papa Adi, baru tega pada Pevita saat sang putri sudah menikah. Meski beliau banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, tapi beliau tahu efek menikahkan sang putri dengan Kala. Beliau sangat bangga pada Kala, yang berhasil mempengaruhi Pevita untuk belajar menjadi istri yang baik, tanpa menyuruh. Kala selalu memberikan contoh dalam hal bekerja keras, apalagi dengan alasan tanggung jawab pada istri, tentu saja mempengaruhi emosi Pevita yang sensitif. Salah satunya bijak dalam menggunakan uang. Sang papa kaget, saat minggu lalu ketika ditransfer Pevita membalas.
Makasih, Pa. Tapi uang saku Pevita minggu kemarin masih sisa loh.
Tentu saja papa kaget, kok bisa? Usut punya usut, Pevita sudah jarang nongkrong, karena dia banyak menghabiskan waktu di rumah bersama Kala. Menemani sang suami garap proyek, alhasil jarang beli atau mentraktir temannya. Ditambah melihat Kala yang capek kerja, semakin membuat Pevita menghargai uang. Sebuah keajaiban yang tidak pernah dipikir oleh papa, dan ternyata sang putri bisa. Oleh sebab itu, papa percaya, Kala akan membentuk sang putri lebih baik lagi.
Meski diminta mengabaikan Pevita yang ngambek, tetap saja Kala tak mau. Ia kembali ke kamar dan membujuk Pevita meski dengan kata super lembut. "Mana sih yang gak bisa?" tanya Kala sangat lembut pada sang istri, dan tak ada rasa marah sama sekali. Menyadari bahwa sang istri terlahir menjadi princess, jangan sampai menikah dengan Kala malah menjadi upik abu. Justru Kala yang harus berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan bahkan meningkatkan treat sayang pada Pevita.
"Udah gak mood!" jawab Pevita ketus.
"Ya maaf, tadi riweh dengan kerjaan juga!"
"Ya memang sekarang punya kerjaan makanya istrinya dinomor duakan."
"Maaf, Sayang!" ucap Kala masih membujuk, melihat moment ini dapat mengartikan bahwa umur hanya angka, dan kedewasaan tidak bisa diukur dengan umur. Justru di sini Kala yang dewasa, berusaha mengayomi Pevita agar tidak mudah menyerah dalam menggapai sesuatu, meski diawali dengan ketidak bisaan.
yuk bisa yuk kita lakban bntar aja
besok jadwal latihan Zumba lo