NovelToon NovelToon
ILMU PENGLARIS

ILMU PENGLARIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

DESKRIPSI CERITA: ILMU PENGLARIS (Ilmu Pemanggil Tamu)"Jangan pernah coba-coba untuk mengingkarinya..."
> Bagi Rahmat, kemiskinan adalah kutukan yang harus dihancurkan, bahkan jika ia harus bersekutu dengan iblis sekalipun. Melalui perantara Mbah Cahyo, kios baksonya mendadak berubah menjadi lautan manusia yang lapar. Namun, di balik kepulan asap dandang yang menggiurkan, ada aroma anyir darah dan hawa dingin yang mengurung tempat itu.
> Di saat Ratna, sang istri yang setia berjuang melayani pelanggan dengan peluh dan ketulusan, ia tidak pernah tahu bahwa suaminya sendiri telah menjual jiwanya ke penguasa kegelapan hutan fajar. Satu per satu keanehan mulai muncul. Angin yang berputar aneh, tatapan kosong para pembeli, hingga sekelebat wajah mengerikan yang mulai menggantikan wajah tulus istrinya.
> Sebuah kisah tentang keserakahan yang membutakan, kebohongan yang menumpuk, dan sebuah jebakan pesugihan searah yang tidak akan pernah membiarkan korbannya kembali ke jalan yang benar dala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Muka tanpa dosa

## BAB 22 - Muka Tanpa Dosa

Ratna berdiri diam di tengah ruang keluarga yang luas, matanya menatap kosong ke arah lorong dan pintu depan yang tertutup rapat. Rasa bingung yang tadinya menggelayuti benaknya kini perlahan mengkristal menjadi sebentuk ketakutan yang teramat dingin dan mencekam. Bulu kuduknya meremang hebat tanpa sebab yang jelas.

"Kalau Bibi tidak melihat Mas Rahmat keluar dari rumah... Lalu ke mana sebenarnya dia pergi? Padahal tadi dia berjalan keluar dari kamar dengan sangat jelas sekali," batin Ratna kian kacau, meremas jemarinya yang mendadak terasa sedingin es.

"Ya sudah kalau Bi Sumi memang tidak tahu," ujar Ratna kemudian, mencoba mengakhiri pembicaraan dengan suara yang terdengar bergetar parah.

Mendengar hal itu, Bi Sumi menatap wajah majikan perempuannya yang berantakan. Demi menutupi ketakutannya sendiri sekaligus menjauhkan diri dari pusaran mistis rumah tersebut, Bi Sumi pun kembali mencoba mengelak.

"Mungkin Ibu tadi hanya berhalusinasi karena kecapekan saja. Dari tadi Bibi tidak ada melihat Pak Rahmat pulang, bahkan suara raungan mobilnya pun sama sekali tidak Bibi dengar masuk ke halaman," ucap Bi Sumi berusaha mengelak dari permasalahan rumah tangga majikannya dengan nada seyakin mungkin, seolah-olah bentakan kasar yang sempat ia dengar di lantai atas tadi benar-benar hanyalah angin lalu.

Ratna tidak menjawab sepatah kata pun atas ucapan asisten rumah tangganya itu. Ia hanya berbalik dengan tatapan kosong, lalu melangkah gontai pergi meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya kembali yang berada di lantai atas. Setiap anak tangga yang dipijaknya terasa begitu berat, seiring dengan debaran jantungnya yang kian tak menentu.

Setibanya di dalam kamar, Ratna langsung mengunci pintu. Ia berjalan mendekati cermin besar, menatap bayangan dirinya yang tampak begitu hancur dan menyedihkan.

"Apa benar yang dibilang Bi Sumi... kalau saya tadi hanya berhalusinasi? Tapi... rasa sakit di tubuh ini?" Ratna menjeda gumamannya sendiri, jemarinya perlahan menyentuh pundak dan tubuhnya yang masih terasa nyeri teramat sangat akibat paksaan brutal tadi. Rasa sakit itu terlalu nyata untuk disebut sebagai sebuah bunga tidur atau khayalan belaka.

Ratna menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran buruk yang mulai merayap di benaknya.

"Ah... Apa sih Bi Sumi ini? Jelas-jelas Mas Rahmat tadi yang masuk ke kamar dan tidur sama saya. Suaranya, perawakannya, semuanya mirip Mas Rahmat," lanjut Ratna berbicara pada dirinya sendiri dengan suara bergetar, mencoba keras menepis segala rasa ragu dan ketakutan yang kian menggerogoti jiwanya. Ia memilih menutup mata dari segala keganjilan itu, memaksakan diri percaya bahwa suaminyalah yang telah berbuat kasar, tanpa pernah tahu bahwa rahimnya kini sedang memberikan makan pada benih iblis.

Malam pun tiba. Jarum jam menunjukkan sekitar pukul 18:30 WIB ketika keheningan rumah mewah itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara deru mesin mobil yang terdengar mendekat dari luar. Tak lama kemudian, suara klakson berbunyi berkali-kali memecah kesunyian malam.

Tin... tin... tin...

Mendengar kode tersebut, Bi Sumi bergegas keluar dari dapur. Dengan langkah tergesa-gesa, ia berlari ke depan untuk membuka pintu gerbang besi yang kokoh. Sejurus kemudian, mobil mewah milik Rahmat tampak melaju masuk secara perlahan, membelah kegelapan halaman rumah yang luas.

Rahmat yang asli pun keluar dari dalam mobil mewahnya. Penampilannya tampak segar, dan di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah kantong kresek yang cukup besar berisi makanan instan dan oleh-oleh untuk sang istri.

"Bi... Bagaimana keadaan istri saya? Apa ada masalah?" tanya Rahmat dengan nada suara datar, sembari berjalan melangkah menuju pintu utama.

Mendengar pertanyaan yang meluncur dari mulut majikannya itu, langkah kaki Bi Sumi seketika terhenti. Tubuhnya terpaku sejenak di tempatnya berdiri, lalu ia menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Otaknya berputar keras, mencoba mencerna rahasia gelap apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam rumah ini. Jika Rahmat baru saja datang dan turun dari mobil saat ini, lalu siapakah sosok beringas yang mendobrak kamar Ratna di siang bolong tadi?

Rasa takut yang amat sangat kembali menyergap batin Bi Sumi, namun ia buru-buru menyembunyikan kepanikannya.

"I-ibu baik-baik saja, Pak! Tidak... tidak terjadi apa-apa sama Ibu dari tadi," sahut Bi Sumi terbata-bata dengan nada suara yang sedikit gemetar, memilih untuk tetap mengunci rapat mulutnya demi keselamatan dirinya sendiri.

Rahmat tidak curiga sedikit pun. Tanpa membalas ucapan pembantunya, ia pun melangkah masuk melewati ambang pintu depan. Sementara itu, Bi Sumi masih terpaku, berdiri membisu di samping mobil mewah yang mesinnya baru saja dimatikan tersebut. Tatapan matanya kosong menembus kegelapan malam, sementara dadanya bergemuruh hebat.

"Hah... Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini? Kalau ini Pak Rahmat yang asli baru pulang, terus pria yang disebut Ibu siang tadi itu lalu siapa? Makin lama makin aneh dan mengerikan saja keluarga ini," gumam Bi Sumi yang didera keheranan luar biasa. Ia refleks menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal, sebuah isyarat membingungkan karena logikanya sudah tidak mampu lagi menjangkau akal sehat.

Sembari mengembuskan napas berat yang gemetar, Bi Sumi pun lantas masuk ke dalam rumah melalui jalan belakang. Ia berjalan dengan langkah lunglai dan pikiran yang kian berkecamuk hebat, mulai menimbang-nimbang apakah dirinya masih mampu bertahan bekerja di rumah terkutuk ini.

Sementara itu, Rahmat kini sudah berdiri di tengah ruang keluarga yang megah.

"Bu... Ibu... Bu! Turun dulu sebentar, ini Mas bawa oleh-oleh buat Ibu dan calon anak kita!" panggil Rahmat dengan sangat semangat sembari mendongak, melihat ke arah lantai atas. Setelah berseru, ia pun mengambil posisi untuk duduk santai di atas sofa mahal yang berada di ruangan tersebut.

Mendengar panggilan lantang suaminya, Ratna seketika tersentak dari lamunan panjangnya. Tubuhnya menegang, lalu ia segera bersiap-siap untuk turun ke bawah. Ratna benar-benar tidak mau jika suaminya itu akan kembali naik pitam dan marah besar jikalau ia sampai mengabaikan panggilan tersebut.

"I-iya, Mas, sebentar. Ibu lagi ganti pakaian dulu," sahut Ratna dengan nada suara yang sedikit gemetar. Namun, ia mencoba sekuat tenaga menekan ego dan menyembunyikan kesedihan mendalam yang terus menyelimuti hatinya semenjak kejadian mengerikan tadi siang.

Beberapa menu kemudian, Ratna pun mulai turun melewati anak tangga satu per satu. Pandangannya langsung tertuju pada sosok suaminya yang kini nampak sangat berbeda dengan keadaan tadi siang. Kini, Rahmat nampak begitu ceria, hangat, dan murah senyum, jauh berbanding terbalik dengan sosok beringas yang Ratna temui beberapa jam yang lalu.

Rahmat yang tengah duduk santai secara refleks menengok ke arah tangga karena mendengar suara langkah kaki istrinya.

"Bu, lihat! Mas sengaja bawa banyak buah-buahan untuk Ibu dan calon anak kita, supaya Ibu dan anak kita selalu sehat," ujar Rahmat dengan rona bahagia yang terpancar jelas di wajahnya. Lantas, ia membuka salah satu kantong kresek besar yang dibawanya, memamerkan sebongkah buah semangka segar yang baru ia beli.

Ratna sama sekali tidak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan sangat tipis. Di dalam lubuk hatinya, Ratna masih menyimpan rasa kecewa dan trauma yang teramat dalam terhadap perilaku beringas suaminya tadi siang. Dan kini, pria itu justru duduk di depannya dengan raut wajah ceria seolah tanpa dosa sedikit pun.

Bersambung

1
Mega Arum
sebenarnya kasihan Ratna,..
Mega Arum
kemungkinan itu anak setan 🤨
HERMAWAN 505: bisa jadi karena pak Rahmat itu mandul
total 1 replies
Mega Arum
kasihan Ratna...
Mega Arum
mampir lagi kak.. semoga lbh menarik dr novel sebelumnya,...
HERMAWAN 505: makasih banyak Mega Arumi, mohon dukungannya yah semoga bisa membuat kamu senang dengan hasil akhirnya.👍
total 1 replies
miilieaa
tulisan nya bagus banget😍
HERMAWAN 505: makasih kakak, semoga terhibur yah
total 1 replies
Wulandari Ayuningtyas
halo kak....udah aku like y
jangan lupa like back ke ceritaku 😁
HERMAWAN 505
cerita lokal yang menerik
HERMAWAN 505
makasih sudah mau mampir di novel ku. 🙏🙏🙏
Ara putri
Hay kak, saling dukung yuk. Mampir juga keceritaku TUAN AYAZ TOLONG BERHENTI!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!