Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.
Lah, aku?
Aku ajah kerja di toko bunga.
Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.
Sial banget nggak sih?
Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.
Huhuhu.
Tapi tenang, aku tahu diri kok.
Aku cuma mengaguminya dari jauh.
Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?
...kan?
Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
meeting pertama
Pagi itu Wulan bangun dengan kondisi yang belum sepenuhnya sadar.
Matanya masih berat, tapi pikirannya sudah lebih dulu bekerja.
Hari ini meeting.
Dengan orang itu lagi.
Saka.
Wulan menatap langit-langit kamar cukup lama.
“Kenapa hidup gue kayak dipaksa ketemu dia terus sih…”
Ia menghela napas, lalu bangkit dengan malas.
“Yaudah… profesional, atau pura-pura profesional aja.”
Sebelum berangkat, Wulan mampir dulu ke sebuah kafé kecil di dekat jalan.
Beli kopi.
Katanya biar lebih “tenang”.
Seruput pertama.
“Biasa aja.”
Seruput kedua.
“Ini cuma kerja.”
Seruput ketiga.
“…gantengnya nggak biasa sih sebenarnya.”
Wulan langsung menepuk pipinya sendiri.
“Fokus Wulan. Fokus. Dia cuma klien.”
Lalu ia melanjutkan perjalanan menuju toko.
Ibusya Flower Studio bukan toko kecil.
Bangunannya dua lantai dengan konsep glasshouse modern.
Lantai bawah terdiri dari area bunga utama, etalase besar di depan, meja kerja panjang di tengah untuk merangkai bunga, gudang bunga di belakang, serta area packing dan delivery.
Lantai atas berisi ruang meeting kaca besar dengan view ke bawah toko, ruang kerja Sarah sebagai owner, serta ruang arsip dan administrasi.
Semua ruangan rapi, terang, dan wangi bunga segar.
Hari itu suasananya terasa lebih serius dari biasanya.
Wulan masuk dengan langkah santai yang dipaksakan.
“Pagi, Kak Sarah.”
Sarah sudah di meja depan seperti biasa.
“Pagi. Jangan telat.”
Wulan langsung menunjuk dirinya sendiri.
“Aku? Telat? Aku itu definisi on time, Kak.”
Sarah melirik sekilas.
“Definisi on time tapi hidupnya sering drama.”
“EH mulutnya loh.”
Wulan cemberut lalu masuk ke dalam, mencoba sibuk sambil menunggu meeting dimulai.
Tak lama kemudian, pintu terbuka.
Wulan menoleh.
Dan berhenti.
Saka masuk.
Langkahnya tenang seperti biasa.
Tapi hari ini lebih formal.
Kemeja rapi, jam tangan, dan map di tangan.
Beda.
Lebih “kerja”.
Wulan langsung menunduk sedikit. “Ya Ampun…”
Saka melirik sekilas.
“Pagi,” ucapnya.
“Pagi,” jawab Wulan cepat.
Satu kata.
Tapi cukup bikin pikirannya kosong sepersekian detik.
Mereka naik ke lantai dua.
Ruang meeting berada di bagian depan lantai atas, dengan dinding kaca besar yang langsung menghadap ke bawah toko.
Meja putih panjang di tengah ruangan.
Sarah duduk di ujung meja.
Saka di sisi kanan.
Wulan di sisi kiri.
“Okay, kita mulai,” kata Sarah.
Laptop dibuka.
“Proyek ini untuk wedding brand luxury. Saka sebagai client lead, kita dari Ibusya menangani floral concept.”
Saka membuka mapnya.
“Konsep utama clean, elegant, dominan white dan soft pink. Entrance pakai white rose.”
Wulan langsung menyela.
“Kalau terlalu putih nanti kayak rumah sakit nggak sih?”
Saka menatapnya sebentar.
“Akan disesuaikan komposisinya.”
“Oh iya, iya.”
Sarah langsung menatap Wulan.“Fokus, Lan.”
“Sorry, Kak…”Wulan duduk lebih tegak.
Saka melanjutkan.
“Centerpiece di altar harus tinggi, tapi tidak mengganggu pandangan.”
“Lighting tidak terlalu warm.”
“Flow tamu harus jelas.”
Wulan mulai lebih serius tanpa sadar."Kalau pakai baby’s breath di sisi altar, bisa bikin transisi lebih soft.”
Saka menoleh. “Bisa.”
Singkat.
Tapi ada jeda kecil setelahnya, Seperti dipertimbangkan lebih dalam.
Wulan langsung salah tingkah"cuma saran kecill hehe”
Saka mengangguk kecil. “Bagus.”
Waktu berjalan.
Diskusi mulai sinkron.
Konsep mulai terbentuk jelas.
Sarah lebih banyak memperhatikan daripada bicara.
Wulan tanpa sadar ikut masuk ke ritme diskusi.“Kalau terlalu soft semua, titik fokusnya hilang.”
Saka menjawab.“Benar. Kita butuh satu focal point.”
Wulan mengangguk.“Berarti bisa pakai struktur bunga lebih tinggi di tengah.”
Saka menatapnya sebentar.“Ya.”
Hanya satu kata.
Tapi cukup bikin Wulan agak kehilangan fokus lagi.
Aneh.
Semakin lama, semakin nyambung.
Meeting akhirnya selesai.
Sarah menutup laptop.“Good. Kita lanjut detail besok.”
Saka berdiri sambil bersalam dengan sarah.“Terima kasih untuk hari ini.”
Sarah menjawab.“ sama-sama terimakasih juga untuk hari ini.”
Saka menatap Wulan sebentar, sambil mengulurkan tangannya
“Terima kasih.”
Wulan langsung kaku lalu membalas salam tangan saka"sama-sama.”
Lalu Saka pergi.
Pintu tertutup.
Wulan langsung bersandar ke kursi.
“…”
Sarah melirik.“Kenapa?”
“Dia tuh… bikin orang blank ya.”
Sarah hanya tersenyum kecil.“Bukan dia.Kamu aja yang gampang blank.”
“Ih jahat.”
Wulan melanjutkan merapikan meja, tapi pikirannya masih tertinggal dimeeting tadi.
Cara Saka bicara.
Cara dia diam sebelum menjawab.
Dan cara dia menatap sekilas tadi.
Wulan menghela napas. “Ini baru meeting pertama kenapa rasanya udah ribet duluan.”
Ia menatap ke bawah, ke arah toko yang mulai sibuk.
Dan tanpa sadar, bibirnya sedikit tersenyum sendiri. “Semoga aku bisa profesional.”
Sore hari, Wulan duduk di depan toko sambil menunggu Siwi.
Motor berhenti di depannya.
“Gimana meetingnya?” tanya Siwi.
Wulan naik ke motor. “Gue ngerasa kayak bukan gue hari ini.”
“Lah kenapa? Kesurupan?”
“Bukan!”
Siwi tertawa kecil. “Ya udah, pulang. Istirahat.”
Sesampainya di rumah, Wulan langsung masuk kamar.
Ganti baju, mandi, lalu duduk di meja kecilnya.
Ia membuka buku sketsa.
Mulai menggambar bunga.
Konsep wedding.
Dan tanpa sadar, sedikit bayangan dari hari ini ikut masuk ke gambarnya.
Notifikasi ponsel berbunyi.
sawi busyuk
malming maen yuks?
^^^gas keunn^^^
Lalu dari Sarah.
...kak sarah🤑🤑...
Besok aku nggak ke toko, ada urusan bisnis.
^^^Oke Kak.^^^
Wulan menyimpan ponsel, Lalu kembali menggambar Sampai akhirnya ia rebahan di kasur ia Menatap langit-langit kamar.
“Besok ketemu lagi capek juga ya…” tapi bibirnya pelan-pelan tersenyum sendiri.
Dan malam itu, Wulan tidur dengan pikiran yang masih tertinggal di meeting hari ini.