NovelToon NovelToon
TO MARRY A REGEN

TO MARRY A REGEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: byKaru

“Cinta bisa menjadi rumah yang nyaman, atau justru belenggu yang tak terlihat”

Arin sudah menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal dan sangat sukses. Pernikahan yang diimpikan banyak orang. Dari Luar kehidupan Arin sangat sempurna, suami yang tampan, kekayaan yang melimpah, dan status sosial yang dihormati. Namun, hanya Arin yang tahu bahwa di balik kemewahan itu, ada sesuatu yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Semua baik-baik saja, aku bisa mengatasinya, aku tidak butuh siapapun. Tekanan, trauma, stres, dan emosi yang sering ditahan oleh Arin perlahan menumpuk di dalam dirinya, dengan mengabaikan rasa sakit dan setiap trauma yang menghampirinya, tanpa sadar tubuh Arin mulai bereaksi terhadap setiap beban yang selama ini dia abaikan. di malam yang tenang tanpa kendali Arin mulai berjalan dalam tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byKaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Victor Regen

Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Arin mengenakan rok spandek hitam yang elegan, dipadukan dengan jas hitam berpotongan rapi dan pita di lehernya. Rambutnya diikat ke belakang dengan sanggul rapi, mempertegas kesan anggun dan profesional. Sebuah earpiece juga terpasang di telinganya, menandakan ia tengah mengatur segala persiapan di lapangan.

Tiga jam sebelum acara dimulai permintaan khusus datang dari Victor Regen. Makanan harus segera diantarkan ke kamar Royal Suitenya. General Manager segera menghubungi Arin dan menginstruksikan agar ia sendiri yang menangani permintaan tersebut.

Tanpa membuang waktu, Arin bersama satu chef dan dua pelayan menuju Royal Suite. Begitu sampai, ia mengetuk pintu sekali sebelum menggunakan kartu aksesnya untuk membuka pintu dan mempersilakan para staf masuk lebih dulu.

Begitu masuk ke dalam kamar mewah itu, matanya langsung menangkap Nathan Regen yang tengah duduk di sofa. Di hadapannya ada Andre Regen, pria yang selama ini menjadi atasannya Arin. Dan di samping Andre, seorang wanita elegan duduk dengan anggun. Arin menebak bahwa itu adalah Niken Regen, istri Andre.

Namun sosok yang paling menarik perhatian Arin adalah pria yang duduk di kursi utama. Tubuhnya tegap, posturnya masih kokoh meski usia sudah menginjak 65 tahun. Garis wajahnya tegas dengan sorot mata tajam penuh wibawa.

Arin langsung dapat menyimpulkan siapa dia. Victor Regen, sang pemilik Regen Corporation.

Tanpa menunggu lama lagi, Arin segera memberi isyarat agar makanan dihidangkan di meja makan. Begitu makanan tersaji, ia bersiap untuk pergi bersama chef dan para pelayan lainnya. Namun General Manager yang berdiri di sampingnya memberi isyarat agar ia tetap tinggal.

Arin memahami sinyal itu dan mengambil posisi berdiri di dekat General Manager.

...*****...

Beberapa saat berlalu dalam keheningan, hanya terdengar suara sendok dan garpu dari arah Victor yang menikmati hidangannya.Tiba-tiba Victor mengalihkan pandangan ke arah Arin dan GM.

"Apa nama sup ini?" tanyanya dengan suara berat dan tegas.

"Lobster Bisque dengan Truffle" jawab Arin cepat dan profesional.

Tapi jawaban singkat Arin tampaknya belum membuat Victor puas. Tatapannya masih tertuju padanya, seolah menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Lobster Bisque dengan Truffle dibuat dari kaldu lobster yang dimasak perlahan selama empat hingga enam jam. Kami memanggang cangkang lobster terlebih dahulu sebelum merebusnya bersama white wine, krim, dan rempah-rempah berkualitas. Untuk memperkaya rasa, kami juga menambahkan sedikit sherry. Regen Hotel tetap mempertahankan teknik klasik Prancis agar rasa dan tekstur tetap terjaga dengan sempurna. Saya yakin Anda akan menyukainya" jelas Arin tetap tenang.

Victor mengangguk kecil, tampak puas dengan penjelasan tersebut.Lalu ia kembali menyantap makanannya.

Dari sisi lain meja Andre Regen melirik jam tangannya. "Dua jam lagi acara akan dimulai Ayah."

"Hadiah apa yang Ayah inginkan tahun ini?" tanya Niken dengan senyum hangat. Victor menoleh ke arah menantunya itu balas tersenyum.

"Kau sudah memberikannya padaku. Walaupun aku harus menunggu lama untuk hadiah ini."

Nathan yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat kepalanya menatap ayahnya dengan sedikit bingung.

"Kakak iparmu sedang mengandung. Dokter mengatakan kalau bayinya kembar." jawab Victor dengan kebingungan Nathan.

Arin yang mendengar itu langsung memahami arti tatapan bangga di mata Victor Regen.

"Ah... Selamat Kakak" ujar Nathan melihat Andre dan Niken secara bergantian.

"Selamat Tuan" ucap General Manager lalu diikuti oleh Arin yang juga mengucapkan selamat dengan sopan.

Victor Regen tersenyum puas sebelum meletakkan sendoknya di atas meja dan menatap Nathan dengan serius.

"Hari ini aku juga ingin merayakan sesuatu yang lain" ucap Victor.

Nathan menatap ayahnya dengan ekspresi datar, seakan sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan.

"Hari ini juga menandai satu tahun kepemimpinanmu di hotel ini. Kau melakukannya dengan sangat baik" puji Victor.

Sekilas rasa tidak senang melintas di wajah Andre dan Niken, tapi mereka cukup pandai menyembunyikannya.

Victor lalu bersandar ke kursinya, menatap Nathan dengan penuh keyakinan.

"Dan satu hal lagi.." katanya dengan nada lebih serius.

"Di acara ini, aku secara khusus mengundang putri salah satu rekan bisnis kita. Dia sangat pantas untukmu."

Ruangan yang semula hangat dengan perbincangan mendadak terasa dingin dan tegang. Nathan menegang, raut wajahnya berubah kaku serta sorot matanya tajam dan dingin.

Arin yang berdiri di dekat General Manager bisa merasakan suasana di ruangan ini semakin menegang. Rasanya ingin segera keluar dari kamar ini, tapi berpura-pura menjadi patung sepertinya pilihan terbaik untuk saat ini. Arin yakin bahwa General Manager juga merasakan hal yang sama.

"Aku akan menikah jika aku mau Ayah, untuk saat ini aku belum berpikir untuk menikah." Sorot mata Nathan tajam, tanda ia tidak menyetujui perjodohan ini.

"Aku tidak memintamu untuk menikah dengan cepat, kalian bisa saling mengenal lebih dulu. Dia pilihan utama ayah untukmu" tegas Victor sedikit menunjukkan jari telunjuknya pada Nathan.

Nathan langsung berdiri dari kursinya. "Aku akan menunggu kalian di acara" ucapnya singkat sebelum berbalik dan pergi.

Begitu keluar dari ruangan, Nathan menarik napas panjang. Ia menghembuskannya perlahan, namun hembusan napasnya terasa berat dan kasar. Tangan kirinya melonggarkan sedikit cengkeraman dasi yang ada di lehernya dengan kesal.

Tidak lama kemudian, pintu Royal Suite kembali terbuka. Arin yang baru melangkah keluar sedikit terkejut karena Nathan masih berdiri di lorong. Seketika posisinya menjadi canggung. Jika bisa ia ingin punya kekuatan teleportasi saat ini juga, tetapi tentu saja itu mustahil.

Mau tidak mau, Arin tetap berjalan. Tatapan mereka sempat bertemu dan seperti biasa, Arin memberikan gestur sopan dengan menundukkan kepala sedikit sebelum bergegas pergi.

Namun baru beberapa langkah menjauh, Arin sadar Nathan berjalan tepat di belakangnya. Tujuan mereka sama, menuju lift.

Begitu sampai di depan lift Arin segera menekan tombol. Beberapa detik kemudian pintu terbuka, ia bergegas masuk lalu diikuti Nathan yang tetap berada tepat di belakangnya. Arin berusaha tetap tenang, ia bahkan tidak berani melirik Nathan. Nathan pun hanya diam menatap lurus ke arah pintu lift

Suasana di dalam lift begitu hening. Arin bahkan bisa mendengar napasnya sendiri.

Ting!

Pintu lift terbuka. Nathan melangkah keluar lebih dulu tanpa menoleh. Arin mengikutinya sesaat kemudian. Lalu mereka berpisah menuju arah yang berbeda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!