NovelToon NovelToon
Gen Z Emperor

Gen Z Emperor

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:51
Nilai: 5
Nama Author: AEERA-ALEA

maizy melihat berita tentang sepasang tulang dengan cincin pernikahan yang saling menggenggam romantis, menandakan cinta mereka tidak akan pernah tergerus oleh peradaban. Di bawah reruntuhan istana yang baru saja di temukan arkeolog Jerman, membuatnya penasaran namun harus menutup rasa ingin tahu nya di sekolah

pada perjalanan dia tidak sengaja bertabrakan dengan seorang anak laki laki yang sangat ia kenali, seseorang yang selalu menghujami nya dengan perkataan dan perundungan. Di sana Paul berdiri dengan angkuh di saat maizy dengan tertatih memungut buku nya..

perdebatan mereka masih berlanjut, sampai kedua nya muak dan memutuskan untuk beradu mulut dan malah membawa petaka. Kedua nya terjatuh dari tangga lantai 3

saat maizy terbangun, apa lah daya nya. dia terbangun di tengah tengah hutan hujan Jerman kuno, di keliling kuil kerajaan yang tidak asing, namun baru pertama kali ia datangi.

ternyata maizy terlempar ke masa lalu dan harus menduduki tahta ratu

apa yang akan dia lakuka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Waduh... salah gue, batin Maizy panik.

Di balik senyum imutnya yang masih dipaksakan mekar, Maizy merutuki kebodohannya sendiri setengah mati. Sifat ENFJ-nya yang biasanya jago membaca situasi mendadak merasa bersalah karena sudah salah memilih strategi akting. Melihat tubuh kekar Frederick yang membeku seperti semen basah, ditambah rona merah samar di telinga pria itu yang dipenuhi rasa syok, Maizy tahu dia sudah melompat terlalu jauh dari karakter aslinya.

Ternyata si Maizy asli tuh tipe putri kalem yang anggun toh?! Ya ampun, pantas aja dia ngeliat gue kayak ngeliat alien kesurupan! pikir Maizy berteriak dalam hati, sambil tertawa canggung demi menutupi kepanikannya.

Dengan cepat, otak cerdas Maizy memutar otak untuk menyelamatkan keadaan. Sebelum Frederick semakin curiga bahwa racun hutan telah merusak otaknya, Maizy perlahan-lahan melepaskan gelayutan tangannya dari lengan zirah Frederick dengan gestur yang sengaja dibuat agak malu-malu—mencoba kembali ke jalur "anggun" meskipun sisa-sisa banyak tingkahnya masih agak kelihatan.

"E-eh... maksudku..." Maizy berdeham kecil, merapikan letak kacamatanya yang agak miring dengan jari telunjuknya, lalu menundukkan kepalanya sedikit dengan ekspresi sok pusing. "Kepalaku memang agak... emm, berdenyut-denyut, Frederick. Makanya aku jadi agak linglung dan... bertingkah aneh. Maaf ya, aku pasti membuatmu bingung."

Frederick mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya, melonggarkan sedikit ketegangan di bahu tegapnya. Pria berambut wolfcut itu menatap Maizy dengan manik mata abu-abunya yang masih menyiratkan sisa rasa syok, namun perlahan-lahan melembut kembali seutuhnya. Bagi Frederick, tidak peduli seaneh apa pun sifat Maizy sekarang, melihat gadis itu tidak lagi ketakutan dan mau berbicara manis padanya sudah merupakan keajaiban terbesar yang sangat dia syukuri.

Melihat Maizy yang mendadak berusaha bersikap kalem dan mengeluh pusing, ketegangan di wajah Frederick sepenuhnya runtuh. Keheningan koridor luar paviliun barat seolah merembes masuk ke dalam kamar yang mewah itu, menyisakan gema napas mereka yang teratur.

Frederick melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Maizy bisa mencium aroma samar kayu cedar dan dinginnya logam zirah dari tubuh tegap pria itu. Frederick tidak lagi menjaga jarak kaku layaknya seorang komandan militer di ruang sidang. Dengan gerakan yang luar biasa berhati-hati, dia berlutut di hadapan Maizy yang sedang terduduk di tepi ranjang berkanopi beludru merah.

Pria tinggi tegap ber- itu menundukkan kepalanya yang berambut wolfcut dalam-dalam. Bahunya yang kokoh tampak bergetar samar, memancarkan aura frustrasi dan kepedihan yang teramat mendalam.

"Maizy..." suara bariton Frederick terdengar parau, pecah di tengah keheningan kamar. "Maafkan aku. Aku mohon, maafkan ketidakberdayaan pria bodoh ini."

Maizy tertegun di tempatnya, menatap ubun-ubun Frederick yang berada tepat di depan lututnya. Sifat ENFJ-nya yang peka langsung menangkap ketulusan dan rasa bersalah yang teramat besar, seolah pria ini baru saja menanggung beban dosa seluruh dunia.

"Frederick? Ada apa? Mengapa kamu meminta maaf?" tanya Maizy, kali ini dia sengaja melembutkan suaranya, mencoba mencocokkan diri dengan karakter putri kalem yang asli agar sandiwara ini tetap berjalan mulus.

Frederick perlahan mendongak. Manik mata abu-abunya menatap lurus ke dalam netra Maizy di balik lensa kacamatanya. Di dalam sepasang mata kelabu yang biasanya sedingin es itu, kini menggenang lapisan air mata tertahan yang membuat dada Maizy mendadak ikut berdesir anyep.

"Aku sudah menghadap kaisar berkali-kali sebelum kau nekat kabur ke hutan terlarang itu," ucap Frederick dengan nada yang sarat akan keputusasaan. "Aku sudah bersujud di bawah takhta Yang Mulia Kaisar Harleyton, memohon dengan seluruh harga diri dan pencapaian militerku sebagai jaminan... hanya demi mengubah keputusan kakekmu."

Deg.

Noted! Otak cerdas Maizy langsung mencatat informasi emas itu dengan cepat di dalam hatinya. Jadi, kaisar tua bermata hitam yang kaku di ruang persidangan tadi itu ternyata kakek gue?! Bagus, satu fakta krusial berhasil diamankan.

Sementara Maizy sibuk mencerna informasi itu di dalam kepalanya, Frederick terus melanjutkan kalimatnya, meraih jemari Maizy yang bebas dari cincin dan menggenggamnya dengan kedua tangan besarnya yang kapalan—sebuah gestur perlindungan yang sangat posesif namun begitu lembut.

"Aku tahu kau sangat membenci perjodohan politik terkutuk itu, Maizy. Kau adalah jiwa yang bebas, seorang nona muda yang suci dan berhak menentukan kebahagiaanmu sendiri. Melihatmu mengurung diri dan menangis di paviliun ini sebelum melarikan diri... itu membuat hatiku hancur berkeping-keping," bisik Frederick, suaranya bergetar menahan luapan emosi yang mendidih di dadanya.

"Aku menantang keputusan dewan menteri, aku mendebat argumen kaku milik Cade Reinart di depan forum agung, dan aku memohon kepada Yang Mulia Harleyton agar membatalkan titah pernikahan tersebut. Aku menawarkan diriku untuk pergi ke garis depan perbatasan utara seumur hidupku, asalkan kakekmu sudi membiarkanmu tetap tinggal di istana ini tanpa tekanan. Tapi..." Frederick memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan sebulir air mata frustrasi jatuh melewati pipinya

"Kekuasaanku sebagai komandan kavaleri ternyata tidak ada apa-apanya di hadapan kehendak takhta mutlak Kekaisaran Falkenhayn. Kakekmu menolak semua negosiasiku. Beliau tetap bersikeras mengorbankan dirimu demi stabilitas politik kerajaan lawan. Dan karena kegagalanku itu... kau sampai nekat berlari ke hutan terlarang dan berakhir kehilangan seluruh ingatanmu seperti ini."

Frederick mencium punggung tangan Maizy dengan khidmat, lama sekali, seolah sedang menyalurkan seluruh sisa kekuatannya yang rapuh. "Jika saja aku lebih kuat, jika saja aku bisa mematahkan keputusan Yang Mulia Harleyton... kau tidak perlu menderita dan melupakan segalanya, Maizy. Aku benar-benar minta maaf karena tidak bisa menjadi pelindung yang berguna untukmu."

Maizy menatap pria berambut wolfcut di depannya dengan hati yang berkecamuk. Di satu sisi, di dalam lubuk hatinya, dia merasa puas luar biasa karena mendapatkan informasi latar belakang yang begitu lengkap tentang status dirinya sebagai cucu kaisar yang sedang melarikan diri dari perjodohan. Di sisi lain, melihat Frederick yang begitu hancur meratapi kesalahannya, sifat asli Maizy yang tidak tegaan pada orang lain mulai terusik. Pria ini benar-benar tulus mencintai sosok "Maizy" pemilik tubuh ini, dan kenyataan itu membuat Maizy harus memikirkan langkah selanjutnya dengan sangat hati-hati.

Mendengar kalimat panjang yang keluar dari bibir Frederick, otak Maizy yang cerdas kembali menghubungkan titik-titik misteri ini. Tunggu dulu... pikir Maizy dalam hati, ingatan tentang garis wajah kaku dan tatapan mematikan Kaisar Harleyton di ruang sidang tadi berputar di kepalanya.

Kalau dipikir-pikir lagi, wajah kaisar itu mirip banget sama muka kakek gue di tahun 2026! Apa jangan-jangan... kakek gue di masa modern itu sebenarnya reinkarnasi dari si kaisar tua Harleyton ini?! Sifat keras kepalanya juga sama persis! Namun, Maizy buru-buru menepis teori fiksi ilmiah itu dari kepalanya untuk sementara waktu. Prioritasnya sekarang adalah menenangkan pria tegap yang masih berlutut pasrah di depannya dengan bahu bergetar. Sifat ENFJ-nya yang penuh empati dan tidak tega melihat orang lain menderita langsung mengambil alih tubuhnya.

Maizy perlahan menarik tangan kanannya dari genggaman Frederick. Alih-alih menjauh, dia justru mengulurkan tangan mungilnya ke atas kepala Frederick, menyusupkan jemarinya di antara helaian rambut hitam berpotongan wolfcut yang terasa lembut di luar dugaan.

Pat... pat...

Maizy menepuk-nepuk dan mengusap kepala Frederick dengan gerakan yang teramat lembut, seolah sedang menenangkan seekor serigala besar yang sedang terluka.

"Hey... it's okay , Frederick," ucap Maizy dengan suara yang sengaja dilembutkan, terdengar manis dan penuh ketenangan, kembali ke jalur karakter putri kalem yang seharusnya. "Dengar, ya. Ini semua bukan salahmu. Kamu tidak perlu meminta maaf sampai seolah-olah dunia ini runtuh karena kegagalanmu."

Tindakan tak terduga itu—usapan lembut di kepalanya yang belum pernah Maizy lakukan sebelumnya sepanjang hubungan mereka—membuat Frederick tersentak kecil. Sentuhan tangan Maizy terasa seperti sihir yang instan menghentikan keputusasaan di dadanya. Pria itu perlahan mendongak, manik mata abu-abunya menatap Maizy dengan pandangan melebar, campur aduk antara terkejut, tak percaya, sekaligus terpesona luar biasa.

Maizy memberikan senyuman tipis yang menenangkan di balik lensa kacamatanya. "Kamu sudah berjuang sejauh itu untukku, bahkan menentang kakek... maksudku, Yang Mulia Kaisar Harleyton dan Dewan Menteri. Itu sudah lebih dari cukup membuktikan seberapa besar kamu peduli padaku. Jadi, tolong jangan salahkan dirimu lagi, ya? Aku sekarang sudah di sini, selamat, dan itu berkat kamu juga yang menjagaku sejak di hutan."

Mendengar kalimat sejuk itu, detak jantung Frederick berdegup kencang di balik zirah peraknya. Rona merah yang tadinya hanya ada di ujung telinga kini perlahan menjalar ke pipi tan -nya yang tampan. Kehilangan ingatan Maizy memang menyakitkan, tapi melihat sisi Maizy yang jauh lebih hangat dan perhatian seperti ini membuat secercah harapan baru meledak di dalam dada sang Komandan Kavaleri Hitam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!