SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 – Arsip yang Terlupakan
Empat orang itu saling berpandangan.
"Ulangi laporanmu, Rina," kata Kael.
Suara Rina terdengar dari alat komunikasi.
"Arsip personel Pos Observasi Tujuh mencatat seratus dua belas penghuni."
"Lalu?"
"Tidak ada satu pun yang berstatus meninggal."
Lyra mengernyit.
"Itu tidak masuk akal."
Mira ikut menyela dari ESS Horizon.
"Kalau mereka masih hidup, usia mereka sekarang lebih dari seratus dua puluh tahun."
"Tidak mungkin secara biologis," tambah Lyra.
Kapten Idris tetap menatap lorong di depan.
"Kecuali..."
Semua menunggu kelanjutan kalimatnya.
Namun Idris memilih diam.
---
Robot kecil itu kembali berjalan.
Kali ini langkahnya sedikit lebih cepat.
Reza masih menjaga jarak.
"Kalau benda itu tiba-tiba menyerang, aku akan melumpuhkannya."
Lyra menggeleng.
"Sejak tadi ia tidak menunjukkan tanda agresif."
"Itu bukan jaminan."
"Tetap jangan bertindak tanpa alasan."
Reza tidak membalas.
---
Di ESS Horizon, Hana dan Owen melanjutkan pemindaian struktur.
"Aku menemukan sesuatu," kata Hana.
"Apa?"
"Ruang yang sedang dimasuki Kapten ternyata hanya sebagian kecil dari keseluruhan struktur."
Owen memperbesar model tiga dimensi.
"Kalau ini benar..."
"...yang sudah kita petakan bahkan belum sampai lima persen."
Darius yang baru masuk ke ruang analisis menghela napas.
"Berarti tempat ini jauh lebih besar dari yang kita kira."
"Jauh lebih besar," jawab Hana.
---
Robot kecil itu berhenti di depan sebuah pintu.
Tidak ada panel kendali.
Tidak ada pegangan.
Pintu itu terbuka sendiri begitu mereka mendekat.
Ruangan di baliknya dipenuhi rak-rak logam yang tersusun rapi.
Kael melihat sekeliling.
"Perpustakaan?"
Lyra mendekati salah satu rak.
"Bukan."
Ia mengambil sebuah benda berbentuk balok tipis berwarna bening.
"Media penyimpanan data."
Ratusan, bahkan ribuan balok serupa memenuhi ruangan.
"AURA," panggil Kael.
"Bisa membaca media ini?"
"Saya membutuhkan sampel."
Lyra menyerahkan satu balok ke pemindai portabel.
Beberapa detik berlalu.
"Tidak kompatibel."
Leo tertawa pelan dari kapal.
"Hebat."
"Untuk pertama kalinya AURA bilang tidak kompatibel."
"Aku tidak sedang bercanda," jawab AI itu.
---
Di sudut ruangan, Owen yang memantau melalui kamera drone memperhatikan sesuatu.
"Kapten."
"Ya?"
"Lihat rak paling ujung."
Kael mengarahkan senter ke sana.
Di antara ribuan media penyimpanan asing...
terdapat beberapa kotak logam berwarna abu-abu.
Bentuknya sangat familiar.
"Itu buatan PPM," kata Reza.
Kapten Idris berjalan mendekat.
Di bagian atas kotak masih terlihat lambang PPM yang mulai pudar.
Kael membuka salah satunya.
Isinya berupa berkas-berkas kertas yang telah dilaminasi.
Lyra terkejut.
"Kertas?"
"Kenapa mereka menyimpan data di atas kertas?"
Kapten Idris menjawab singkat.
"Cadangan."
"Kalau semua sistem digital gagal, data ini tetap bisa dibaca."
---
Kael membuka halaman pertama.
Judulnya membuat semua orang terdiam.
"Laporan Pos Observasi Tujuh."
Di bawah judul terdapat tanggal.
14 Mei 2362.
"Tahun setelah pos ini dibangun," gumam Rina.
Kael mulai membaca.
"Seluruh sistem berfungsi normal."
"Tidak ditemukan ancaman."
"Proyek pengamatan sinyal berjalan sesuai rencana."
Beberapa halaman berikutnya juga berisi laporan rutin.
Namun semakin ke belakang...
isi laporannya berubah.
"Waktu pengamatan hari ke-184."
"Sinyal mulai berubah pola."
"Waktu pengamatan hari ke-191."
"Beberapa personel mengaku mendengar suara saat tidur."
"Waktu pengamatan hari ke-197."
"Tiga teknisi meminta dipulangkan karena mengalami halusinasi."
Lyra saling berpandangan dengan Kael.
"Halusinasi?"
Kael membalik halaman berikutnya.
Tulisan tangan penulis mulai tidak rapi.
"Waktu pengamatan hari ke-203."
"Kami tidak lagi yakin suara itu berasal dari alat komunikasi."
"Waktu pengamatan hari ke-205."
"Suara itu sekarang terdengar bahkan ketika seluruh penerima sinyal dimatikan."
Ruangan menjadi sunyi.
Leo langsung membuka kembali rekaman dari ESV Pioneer.
Kalimat terakhir kapten Pioneer terngiang di benak semua orang.
"Matikan seluruh penerima komunikasi."
Kini mereka mulai memahami alasan di balik perintah itu.
---
Tiba-tiba robot kecil yang sejak tadi diam mengeluarkan bunyi pendek.
Bip.
Bip.
Ia kembali berjalan menuju pintu lain di sisi ruangan.
Sebelum keluar, robot itu berhenti dan menoleh ke arah Kapten Idris.
Seolah memastikan mereka masih mengikutinya.
Kapten Idris menutup berkas di tangannya.
"Kita lanjut."
Kael memasukkan beberapa lembar salinan laporan ke dalam tas penyimpanan.
"Rina."
"Ya?"
"Kami membawa dokumen fisik kembali ke kapal."
"Baik."
Keempatnya kembali mengikuti robot kecil.
Mereka belum menemukan satu pun penghuni Pos Observasi Tujuh.
Namun setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka semakin dekat pada jawaban.
Dan semakin dekat pula pada sesuatu...
yang selama lebih dari satu abad tetap menjaga tempat itu tetap aktif.