Ketika keluarganya hancur dihantam utang dan kehancuran finansial, Lin Fan tidak sengaja menemukan gulungan lontar tua milik leluhurnya yang tersembunyi di sudut rumahnya di desa terpencil. Gulungan itu membuka akses ke sebuah ritual terlarang yang membangkitkan entitas misterius bernama [Sistem Pagar Iblis], sebuah kekuatan kuno yang menuntut bayaran mahal untuk setiap keuntungan finansial dan perlindungan yang ditawarkannya. Demi menyelamatkan keluarganya dari ancaman orang-orang licik di sekitarnya, Lin Fan terpaksa melangkah ke dalam kegelapan, tanpa menyadari bahwa setiap keputusan yang ia ambil mulai mengubah dirinya dan membahayakan nyawa orang-orang yang berusaha ia lindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sugesti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Senyuman Palsu Paman Zhang
Matahari merambat naik menuju puncak kepala, memancarkan terik yang membakar permukaan tanah desa.
Lin Fan berlari kecil menyusuri gang-gang sempit pemukiman dengan napas yang mulai memburu.
Pikiran Lin Fan melayang pada hitungan mundur berwarna merah pekat yang terus berkedip di sudut penglihatannya.
[Waktu Tersisa: 10 Jam 42 Menit]
[Target Persembahan: 1 Ekor Hewan Ternak Berdarah Murni]
"Hewan ternak berdarah murni..." bisik Lin Fan sambil mengusap pelipisnya yang dibasahi keringat dingin.
Di desa terpencil seperti Desa Sungai Hitam, sebagian besar warga memang memelihara kambing atau ayam di belakang rumah mereka.
Namun tidak semua hewan ternak memiliki kriteria "berdarah murni" yang diinginkan oleh entitas mistis [Sistem Pagar Iblis].
Sebagian besar ternak warga sudah bercampur atau memiliki cacat fisik yang membuatnya tidak layak dijadikan tumbal ritual.
Lin Fan memutuskan untuk menuju ke area pasar ternak kecil yang terletak di batas barat desa.
Di sana biasanya para peternak lokal menjual kambing hitam atau unggas yang baru dipanen dari ladang.
Sfx: Krasak... Krasak...
Saat Lin Fan melewatai area perkebunan pisang yang agak sepi dekat batas desa, langkah kakinya mendadak terhenti.
Mata Iblis milik Lin Fan menangkap keberadaan sesosok manusia yang berdiri di balik rindangnya daun-daun pisang tua.
Garis transparan berwarna kehitaman samar melayang di atas kepala sosok tersebut, berkedip-kedip tidak stabil.
[Nama: Zhang Wei (Paman Zhang)]
[Status: Tetangga / Pedagang Sayur Desa]
[Tingkat Niat Buruk: 45% (Terkontaminasi Energi Gaib / Sangat Mencurigakan)]
[Keterangan: Menampilkan Perilaku Anomali Setelah Kontak Terakhir Dengan Entitas Penyamar]
Lin Fan membelalakkan matanya, menatap lurus ke celah-celah daun pisang tersebut.
Paman Zhang keluar dari balik rimbunnya perkebunan pisang dengan melangkah secara pelan dan kaku.
Pria paruh baya itu mengenakan topi caping yang agak miring dengan baju kaos oblong yang tampak basah oleh keringat.
Di tangan kanannya, Paman Zhang memegang sebuah parang pemotong kayu yang bilahnya sudah agak berkarat.
Namun yang paling membuat Lin Fan merinding adalah raut wajah Paman Zhang.
Pria tua itu tersenyum sangat lebar ke arah Lin Fan, sebuah senyuman kaku yang memperlihatkan gusi bagian atasnya secara tidak wajar.
Mata Paman Zhang terbuka lebar tanpa berkedip sedikit pun, memantulkan cahaya matahari dengan kilatan yang mati dan dingin.
"Eh, Lin Fan..." panggil Paman Zhang dengan suara yang agak tersendat-sendat.
"Mau ke mana kamu panas-panas begini, Nak?" lanjut Paman Zhang.
Senyuman di wajahnya tidak berkurang sedikit pun saat ia mengucapkan kalimat tersebut, bibirnya tetap tertarik lebar hingga ke dekat telinga.
Lin Fan melangkah mundur satu langkah, kewaspadaannya meningkat tajam.
"Aku mau pergi ke pasar ternak di barat desa, Paman," jawab Lin Fan dengan nada datar dan tenang.
Ia memiringkan posisinya agar bisa bereaksi cepat jika Paman Zhang mendadak melakukan gerakan berbahaya.
"Pasar ternak?" ulang Paman Zhang sambil memiringkan kepalanya ke kiri secara kaku.
Sfx: Krik...
Suara leher Paman Zhang berderit pelan saat kepalanya dimiringkan, seolah-olah persendian lehernya tidak memiliki minyak pelumas.
"Kenapa harus ke pasar ternak kalau kamu butuh hewan, Lin Fan?" tanya Paman Zhang dengan senyuman palsu yang makin lebar.
"Paman punya dua ekor kambing jantan hitam berdarah murni di kandang belakang rumah Paman..." lanjut Paman Zhang dengan nada berbisik.
Lin Fan tersentak kaget mendengar perkataan Paman Zhang.
Bagaimana bisa Paman Zhang tahu bahwa dirinya sedang mencari kambing hitam berdarah murni untuk dijadikan tumbal?
Padahal Lin Fan sama sekali belum pernah membocorkan masalah tugas sistem ini kepada siapa pun di desa!
"Bagaimana Paman bisa tahu aku butuh kambing hitam berdarah murni?" tanya Lin Fan dengan mata menyipit tajam.
Senyuman di wajah Paman Zhang mendadak membeku sejenak, sebelum akhirnya terkekeh pelan.
Sfx: Kek... Kek... Kek...
Suara tawa Paman Zhang terdengar sangat serak dan bergetar, bagaikan suara gesekan dua batu koral di dasar sungai.
"Tentu saja Paman tahu, Lin Fan..." jawab Paman Zhang sambil melangkah maju satu langkah mendatangi Lin Fan.
"Bukankah bau darah dan tanah dari hutan terlarang sudah menempel sangat tebal di tubuhmu sejak kemarin malam?" lanjut Paman Zhang.
Parang berkarat di tangan kanan Paman Zhang digenggam makin erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Lin Fan mengaktifkan fitur Radar Ancaman Wilayah di dalam pandangannya.
Titik keberadaan Paman Zhang di peta mini mendadak berubah warna dari warna hijau netral menjadi warna merah pekat yang berdenyut cepat.
[Peringatan: Subjek Zhang Wei Telah Dipengaruhi Oleh 'Sisa Benih Iblis Penyamar']
[Ancaman Jiwa Terdeteksi: Subjek Berusaha Memancing Pengikat Kontrak Ke Dalam Jebakan Kandang Tua]
[Tingkat Bahaya: Menengah]
Lin Fan mengutuk di dalam hatinya.
Rupanya roh penyamar yang ia usir dari depan pintu rumahnya pada Bab 3 lalu tidak benar-benar musnah sepenuhnya!
Sisa-sisa energi jahat dari roh tersebut ternyata telah merayap dan menempel pada tubuh Paman Zhang yang asli saat pria tua itu sedang tidur lelap di rumahnya.
Energi jahat itu kini mengendalikan sebagian kesadaran Paman Zhang dan menggunakan senyuman palsu ini untuk menjebak Lin Fan!
"Ayo datang ke rumah Paman sekarang, Lin Fan..." ajak Paman Zhang sambil mengulurkan tangan kirinya yang gemetar ke arah bahu Lin Fan.
"Kambing-kambing itu sudah menunggu darahmu di sana..." bisik Paman Zhang dengan tatapan mata yang makin melotot.
Lin Fan menepis tangan Paman Zhang dengan kibasan lengan yang kuat.
"Sadar, Paman Zhang! Kamu sedang dikendalikan oleh energi busuk!" bentak Lin Fan dengan suara keras menembus keheningan kebun pisang.
Hawa dingin dari [Sistem Pagar Iblis] mendadak meledak kecil dari telapak tangan kanan Lin Fan, menerpa wajah Paman Zhang.
Sfx: Wuuusss!
Hawa dingin itu menghantam wajah Paman Zhang secara telak.
Senyuman palsu dan kaku di wajah Paman Zhang seketika runtuh.
Mata melotot Paman Zhang berkedip-kedip cepat dan ekspresi wajahnya berubah menjadi sangat kesakitan.
"Argh! Kepalaku... kepalaku rasanya mau pecah!" jerit Paman Zhang asli sambil menjatuhkan parangnya ke tanah.
Pria tua itu berlutut di tanah sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan, mengerang kesakitan hebat saat energi hitam tipis keluar menguap dari celah-celah pori-pori kulit kepalanya.
Sfx: Ssssssh...
Energi hitam tipis itu menguap ke udara dan menghilang diterpa sinar matahari siang yang terik.
Tingkat niat buruk di atas kepala Paman Zhang pada layar MATA IBLIS milik Lin Fan mendadak merosot drastis dari 45% menjadi 0%.
[Sisa Benih Iblis Penyamar Berhasil Dikeluarkan Dari Tubuh Subjek]
[Kondisi Subjek: Pingsan / Terkejut Heavy]
Paman Zhang ambruk terjerambab ke atas tanah becek kebun pisang, tidak sadarkan diri dengan napas yang kembali teratur.
Lin Fan merosot berlutut di sebelah Paman Zhang, memeriksa denyut nadi di leher pria tua itu.
Denyut nadinya masih terasa kuat dan teratur, menandakan Paman Zhang hanya pingsan akibat syok energi.
Lin Fan menghela napas panjang, mengusap pelipisnya yang bercucuran keringat.
"Hampir saja..." gumam Lin Fan dengan jantung yang berdebar kencang.
Entitas gaib di sekitar desa ini ternyata jauh lebih licik dan agresif daripada yang ia perkirakan.
Mereka memanfaatkan orang-orang terdekat Lin Fan untuk membuat jebakan dan merusak konsentrasinya.
Namun di tengah rasa panik tersebut, Lin Fan mendadak teringat pada ucapan Paman Zhang tadi sewaktu masih dikendalikan oleh benih iblis.
"Kambing jantan hitam berdarah murni di kandang belakang rumah..." bisik Lin Fan mengingat kata-kata itu.
Meskipun ucapan itu disampaikan oleh benih iblis penyamar untuk memancingnya, keberadaan dua ekor kambing jantan hitam milik Paman Zhang itu memang nyata adanya!
Paman Zhang memang terkenal sebagai peternak sampingan yang memelihara kambing-kambing hitam kualitas terbaik di desa ini untuk dijual saat hari raya.
Lin Fan melihat ke arah waktu perhitungan mundur sistem di layar pandangannya.
[Waktu Tersisa: 09 Jam 15 Menit]
"Aku harus membeli salah satu kambing hitam milik Paman Zhang ini secara sah begitu dia terbangun nanti," batin Lin Fan mantap.
Ia tidak ingin mencuri atau mengambil kambing tetangganya itu secara paksa, karena sistem menuntut persembahan murni yang didapatkan secara sah tanpa niat mencuri.
Lin Fan memapah tubuh Paman Zhang yang cukup berat, menyandarkan punggung pria tua itu ke batang pohon pisang yang rindang agar terlindung dari terik matahari.
Ia mengambil botol air minum dari tas selempangnya dan memercikkan sedikit air dingin ke wajah Paman Zhang.
Sfx: Cipok... Cipok...
Paman Zhang mengerang pelan, kelopak matanya bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka secara perlahan.
Tatapan mata Paman Zhang kini sudah kembali normal, penuh dengan kebingungan dan rasa lelah yang polos, tidak ada lagi senyuman kaku yang mengerikan seperti tadi.
"Aduh... Lin Fan? Kenapa Paman ada di tanah begini?" tanya Paman Zhang sambil memegangi lehernya yang terasa pegal.
"Kepala Paman rasanya berat sekali seperti habis dihantam kayu," keluh Paman Zhang.
Lin Fan tersenyum tipis, membantu Paman Zhang untuk duduk lebih tegak.
"Paman tadi kena serangan angin duduk dan pingsan di kebun pisang ini saat mau memotong kayu," kilih Lin Fan berbohong secara halus demi kebaikan Paman Zhang.
Paman Zhang mengusap wajahnya yang basah oleh air dan mengangguk-angguk percaya.
"Ah... pantas saja mataku mendadak gelap tadi," desah Paman Zhang pasrah.
"Terima kasih ya, Lin Fan. Kalau tidak ada kamu, mungkin Paman sudah tergeletak di sini sampai sore," lanjut Paman Zhang tulus.
"Sama-sama, Paman Zhang," jawab Lin Fan ramah.
Lin Fan memajukan posisinya, menatap wajah Paman Zhang dengan raut serius.
"Paman... sebenarnya aku ke sini memang sengaja mau menemui Paman," kata Lin Fan memulainya.
"Mau menemui Paman? Ada perlu apa, Fan?" tanya Paman Zhang heran.
"Aku dengar Paman punya kambing jantan hitam berdarah murni di kandang belakang rumah. Apakah Paman bersedia menjual salah satu ekor kambing itu padaku hari ini?" tanya Lin Fan langsung pada inti permasalahannya.
Paman Zhang tertegun sejenak, memandangi Lin Fan dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Jual kambing hitam? Mau kamu pakai untuk apa, Lin Fan? Harganya tidak murah lho, kambing hitam jantan berdarah murni milik Paman itu jenis unggul," kata Paman Zhang jujur.
"Aku butuh satu ekor untuk syukuran pelunasan utang keluarga kami dan doa keselamatan rumah, Paman," alibi Lin Fan beralasan.
"Soal harga, Paman tidak perlu khawatir. Aku punya uang tunai untuk membayarnya secara langsung sekarang juga," lanjut Lin Fan sambil merogoh dompet dari sakunya.
Paman Zhang melihat keseriusan dan keteguhan di mata Lin Fan.
Ia menghela napas panjang lalu tersenyum ramah, senyuman tetangga yang asli dan hangat.
"Baiklah kalau untuk syukuran keluargamu, Lin Fan. Paman akan jual satu ekor kambing jantan hitam yang paling sehat untukmu dengan harga kawan," kata Paman Zhang.
Lin Fan merasa beban amat berat di dadanya seketika terangkat mendengar keputusan Paman Zhang tersebut.
[Syarat Pembelian Sah Terpenuhi]
[Target Persembahan Berhasil Diidentifikasi: 1 Ekor Kambing Jantan Hitam Berdarah Murni]
[Sistem Menunggu Ritual Persembahan Di Batas Hutan Terlarang Sebelum Matahari Terbenam]
Garis-garis transparan dari sistem berkedip hijau tenang di depan mata Lin Fan.
Waktu penagihan tumbal masih tersisa sekitar sembilan jam lagi, memberikan Lin Fan waktu yang cukup untuk membawa kambing tersebut ke area altar kayu hitam di hutan terlarang sebelum malam tiba.
Namun Lin Fan menyadari satu hal yang sangat krusial.
Penyembelihan tumbal hewan ini hanyalah pengorbanan kecil pertama untuk menenangkan dahaga [Sistem Pagar Iblis] untuk sementara waktu.
Seiring bertambah tingginya tingkat Pagar Iblis yang ia bangun untuk melindungi rumahnya, tuntutan tumbal dari entitas tua itu dipastikan akan makin besar dan makin mengerikan di masa depan.
Lin Fan bangkit berdiri dan menuntun Paman Zhang untuk berjalan bersama menuju ke arah kandang belakang rumah Paman Zhang.
Langkah pertama pengorbanan darah telah dimulai, dan Lin Fan siap menanggung seluruh konsekuensi kegelapan yang mengekor di belakangnya.