NovelToon NovelToon
TEROR LEAK (Jiwa Yang Tergadai)

TEROR LEAK (Jiwa Yang Tergadai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Mata Batin / Tumbal
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Putu Saraswati, seorang gadis yang tidak pernah percaya dengan mistis, harus dihadapkan pada sebuah kenyataan menyakitkan, dimana sepupunya Kadek Dwi, harus mengalami sakit keras setelah acara Metatah dan pernikahan yang dilaksanakan secara bersamaan.

Segala upaya di lakukan, dari dokter dan juga dukun, tetapi tidak ada yang sanggup mengobatinya...

Bagaiamana kondisi Kadek Dwi, dan perjuangan Putu Saraswati dalam mengungkap teror yang menimpa keluarga dan juga warga desanya...

ikuti kisah selanjutnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tebusan Di Pura Dalem

Langit terlihat cukup temaram. Waktu masih cukup siang, tetapi langit terlihat menghitam.

Aroma kemenyan dan juga dupa dari kayu cendana menggumpal di udara, terasa begitu menyengat.

Angin seperti berhenti untuk bertiup, semua seolah ikut merasakan betapa berat perjuangan Dwi saat ini.

Baru beberapa hari sakit, tubuhnya terlihat cukup kurus, dan wajahnya sangat pucat.

Nyoman Sari menata Pejati Banten di atas tamas atau besek. Tangannya terlihat gemetar, tetapi cukup cekatan, seilah sudah di latih berpuluh tahun lamanya.

Tanpa sadar, bulir benung mengalir dari sudut matanya, meresap ke dalam nasi tumpeng sesaji Peras.

"Bhatara Durga, ampurayang titiang..." biisknya dengan suara yang pecah. "Puniki atma pianak titiang, Dwu. Titiang nunas... lepaskan..." tangisnya kembali tersedu. Pundaknya terguncang, karena tidak menduga jika semua harus terjadi seperti ini.

(Dewi Durga... Ampunilah hamba... Ini adalah jiwa anak hamba, Dwi. Hamba mohon... lepaskan)

Di samping Pejati Banten, tertata Daksina menjulang. Kelapa gading tak lupa juga sebagai persembahan.

Kemudian telur bebek dan benang tukelan, melingkar bagaikan nasib yang kusut.

Sedangkan Ajuman dan ketupat enam biji sebagai simbol Mahadewa dan juga Dewa Wisnu juga sudah ia siapkan.

Canang sari sebagai pelengkap, semua demi untuk menebus jiwa yang tergadai.

Terlihat Putu Angga menuntun kambing satu ekor, dan ia sebagai salah satu hewan persembahan untuk para Dewa yang menjadi harga sebuah jiwa.

Jro Mangku berdiri di natah paling tengah. Tampak di depannya, sesajen berukuran gedeng menggunung.

Asap kemenyan mengepul dengan aroma bercampur dupa kayu cendana, sehingga begitu sangat menyengat.

Kepulannya seolah sedang melukis sosok ular yang sedang meliuk.

Jro Mangku sedang berkomat-kamit membaca mantra, dan dengan rapal.yang sulit di mengerti, sebab menggunakan bahasa kuno.

Mantra tersebut terdengar cukup berat, bibirnya bergetar, sebab mantra yang ia baca bukan mantra biasa, tetapi mantra pengunduran, bukan sebagai mantra pemutusan, sebab begitu sangat sulit untuk menebusnya.

Sementara itu, Kadek Satya membimbing Dwi yang dengan tatapan kosong dan juga linglung sedang berjalan memasuki Pura. Kemudian diikuti oleh Saraswati dan Komang Shinta, serta Kadek Dharma.

Dwi terlihat bingung. Terkadang ia tersenyum sendiri, kadang juga menatap ke arah Palinggih dengan tubuh menggigil.

Sedangkan Saraswati, yang ingatannya hilang, digandeng Komang Shinta dan Kadek Dharma. Mereka diam dan juga memperhatikan. Tidak ada yang berani bicara, sebab tak ingin mendapatkan hardikan lagi.

Prosesi dimulai. Jro Mangku melakukan matur piuning (Meminta ijin kepada Sang Ida Hyang Widhi, untuk melakukan acara ritual)

Ia memberitahu tentang kedatangan mereka yang memohon pada Dewa Brahmana, Dewa Mahadewa, dan juga Dewa Wisnu, agar Bhatari Durga yang merupakan penghuni Pura Dalem menerima persembahan yang mereka bawa.

Bibirnya komat-kamit membaca mantra. "Nunas tamba, nunas tirta... Nunas urip okan titiange," suara Jro Mangku menggema dan memantul di dinding-dinding pura yang sudah tua.

(Hamba meminta obat dari pengaruh hal ghaib, hamba meminta air suci penyembuhan, dan Hamba meminta jiwa puterinya di kembalikan)

Perlahan tangannya bergetar saat memegang sebuah trisula yang menjadi penghubung terhadap Bhatara Kala.

Terlihat Jro Mangku mengggerakkan kerisnya, Lalu ia seperti sedang menarik-narik sesuatu yang tak kasat mata. Benang-benang ghaib yang berwarna merah kehitaman membentang dari ubun-,ubun Dwi.

Wuuush!

Sesuatu melesat dengan cepat, dan menembus di udara. Kemudian terikat dengan arca Durga di bagian dalam. Tiba-tiba saja, terdengar suara tawa Leak yang cukup mmebuat bulu kuduk meremang.

Jro Mangku meneteskan keringat sebesar jagung dari keningnya. Urat di lehernya bertonjolan. Ia berusaha meminta doa, ia terus melakukannya, tetapi benang itu sudah menjadi daging takdir kehidupan Dwi.

Jro Mangku merasakan tubuhnya bergetar. Ia tidak tahu siapa yang menanamnya. Bahkan ia tersentak kaget saat melihat bayangan Saraswati yang ternyata sudah berkorban ingatan demi mengundurkan tali takdir tersebut.

Tubuh Jro Mangku semakin bergetar hebat, dan cairan pekat darah kengalir dari sudut mulutnya.

Saraswati yang melihat hal itu langsung ingin beranjak dan membantu, tetapi tangan Kalandra datang mencegahnya.

"Jangan. Jro Mangku melihat bayanganmu di dalam ritual pengobatan ini. Jika kamu ikut campur, itu tidak sopan, dan seolah kamu merasa lebih kuat. Lagi pula, jika kamu paksakan, maka kamu yang akan hancur, bisa-bisa kamu menjadi gila," bisiknya pada sang gadis.

Saraswati kembali duduk. Mencampuri pekerjaa orang lain ternyata tidak sesederhana itu.

Terdengar Jro Mangku berguman dalam hati, dan itu hanya di dengar oleh Saras saja.

"Aku datang meminta obat... Harap Dewa Durga memberi kesempatan hidup padnya, pada pasangan pengantin yang baru saja mengecap kehidupannya."

Darah masih mengalir di sudut mulutnya. Ia tidak tahu jika kekuatan Leak itu sangat kuat sekali, membuatnya kewalahan.

Tangannya yang gemetar mengambil bungkak nyuh gading. Lalu membelah bagian atasnya, dan merapalkan mantra doa.

Kemudian ia memandikan air kelapa gading yang di mulai dari ubun-ubunnya, dan terasa dingin, hingga membuat Dwi tersentak.

Jro Mangku melakukan ritual lanjutan, dan bibirnya terlihat pucat.

Sedangkan Saraswati mendengar suara jeritan yang melengking, dan membuat ia harus menutup telinganya.

Sssrrk!

Terdengar suara layaknya seperti tali yang di pelintir cukup kencang. Benang gaib itu tidak putus, hanya saja memanjang dan juga menipis.

Warnanya dari hitam pekat berubah menjadi merah bara api, layaknya seutas kawat yang di panaskan. Ujung tetap tertancap di altar Dewa Durga.

Di saat bersamaan, seekor kambing kendit yang menjadi persembahan mengembik cukup panjang sekali, dan tiba-tiba roboh tanpa ada luka sedikitpun.

Kambing itu juga tidak mengalami kejang, ia hanya seperti pergi untuk menjadi bayaran yang pertama.

Jam di pergelangan tangan Kadek Satya memperlihat pukul dua belas siang tepat.

Dwi yang sedari tadi terlihat bengong dan lunglai, tiba-tiba menarik nafasnya dengan panjang dan cukup dalam. Ia menatap sekelilingnya. Lalu merasa heran mengapa ia berada di Pura Dalem.

Hanya saja, perasaannya saat ini seperti orang yang baru saja berenang di dalam air dan kedua matanya berkedip.

Kabut di matanya mendadak lenyap, dan berganti dengan manik mata yang jernih.

"Bli..." suaranya lirih dan serak, ia menoleh ke arah suaminya, dan mengulas senyum yang begitu manis.

Kadek Satya jatuh berlutut. Bibirnya bergetar, dan menatap sang istri tercinta.

"Dwi, kamu mengingat aku?" air matanya jatuh, dan ia mendekap lutut sang istri.

Dwi menoleh perlahan. Lalu tersenyum menatap sang suami. Ia mengangguk dengan lemah, dan kalimat pertama yang keluar selama beberapa minggu-minggu lamanya...

"Bli... Dwi laper,"

Nyoman Sari jatuh lemas di depan sesajen pejati. Ia merasa lega, dan rasa sakitnya yang selama ini di tanggung serasa seperti seribu duka.

Ia merasa senang, sebab doanya terkabul.

Jro Mangku meminta Kadek Satya menyuapkan nasi pertama yang masuk adalah nasi tumpeng dari sesaji Peras. Akhirnya Dwi makan dengan lahap, puja syukur mereka haturkan ke Ida Hyang Widhi

Akan tetapi, tidak untuk Saraswati, ia merasa ada sesuatu yang janggal, yang di sembunyikan oleh Jro Mangku.

Saat ia melirik sosok pria paruh baya tersebut, Jri Mangku balas meliriknya, membuat Saraswati tersentak kaget, dan buru-buru membuang pandangannya.

"Putu Angga, dan Nyoman Sari... Setiap sepuluh Kajeng Kliwon, persembahkan satu ekor kambing, untuk persembahan, sediakan Pejati Banten di Pura Dalem." pesannya.

Batu Pelinggih Bali yang ada di beberapa Pura di Bali. Di gunakan sebagai titik pemujaan kepada roh leluhur yang meminta keberkahan, perlindungan dan sebagainya.

Sesajen Pejati Banten yang berpadu dengan Peras dan juga Canang Sari.

1
Desyi Alawiyah
Semoga hati Kadek Arya terketuk, dan mau menerima Chandra sebagai menantu serta memaafkan Saraswati.. 😌

Karena bagaimanapun Saraswati anaknya.. 🤧
Desyi Alawiyah
Tuyul? 😯😯😯
neni nuraeni
semoga Kadek Arya cepat luluh hati nya agar merestui pernikhn Saras dan chandra
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
edan ini si arya
hadeh punya bapak kok bisa ya memlilih kasta dr anak
aq bgg deh
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduh aq mau si arya menyesal dengan sangat2
gila ya hany kasta yg di pandang nya gemblung

kyk keturunan ningrat ya kek gtu
tp skrg udah g sih hehehehe
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: ggo opo kk 🤣🤣🤣
total 4 replies
Desyi Alawiyah
Udah deh Arya, jangan keras kepala... Gimanapun juga Saras kan anakmu.. masa kamu tega membenci anakmu sendiri.. 😥
Desyi Alawiyah
Kadek Dharma kali Kak 😄
neni nuraeni
iihhh seruuu lnjuttt
Anggita.🤗
mampir thor, lama gak baca jd kangen othor q. 🤭🤭
kmaren akun yg dulu khapus. 😌
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: makasih, Kak
total 1 replies
neni nuraeni
hadeeh si Komang Sinta mlh nylhin anak dan menantunya,,, pdhl mereka mati"an ingin menyelamatkan Kadek darma, kalau memang benci knp DTG,,, kalau sayang restui aja,,, toh anakmu ga knp",,, ih aku ya kasian ma Ketut Chandra ma saras
kinoy
emh..alamat alamat ni mah..Komang sints yg td y baik dah ni mah slh paham ke Saras JD nyalahin dah
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
waduh malah jadi incaran saras jadi sasaran kemarahan sang ibu pula
hadeh smownkapan itu akan berkahir kasiham saras
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: hooh g cuma repot tp kuuues tenan
total 7 replies
Desyi Alawiyah
Wayan Ratri yah? 😫😫

Kayaknya Wayan Ratri nggak akan berhenti, sebelum mendapatkan apa yang ia mau.. 😌
Desyi Alawiyah
Waduh 🤣
kinoy
ea..ea..ea
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ini dadong nua si candra g abis2 bikin onar saja kapan matinya ya 🤣🤣
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: enak nya makan dong2 mbk ning kro di lutis
total 2 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
gas pol ndangak can alah cemen kau 🤭🤭🤭
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ: wehhh jadi harus pa dlu inu
total 2 replies
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
apakah ayah nya saras g akan menoleh ke anak nya
masa iya air lebih kental dr darah
weeh piye iki
ada ya pepatah mantan anak

ini gila deh
neni nuraeni
weeh udah MLM pertamanya nih,, semoga mereka bisa mngtasi setiap mslh termasuk mslh si leak
neni nuraeni: 💪💪💪 kak thor😁😁😁lnjut
total 2 replies
Desyi Alawiyah
Bilang aja sih ngga papa. Wayan Ratri juga tega kan, membunuh anaknya sendiri, istrinya pak Gantari.. 🤧
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: syok bapake😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!