Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.
Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.
Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.
Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Seperti Hantaran
Di luar langit sudah gelap sepenuhnya. Mobil-mobil di jalanan mulai macet, karena jam orang-orang kerja baru pulang.
Regan berbaring di sofa besar. Memainkan ponsel sambil nyemil cokelat yang Sofia bawa.
Dari kamar lain, Sofia muncul dengan dres warna peach lembut. Rambutnya masih berantakan.
"Regan, ayok siap-siap." Katanya. Kemudian Sofia berdiri di sisi sofa.
Regan menatap Sofia dengan alis mengernyit. "Kemana?" Tanyanya.
"Malam ini ada dinner keluarga sama Pak Ardion." Jawab Sofia sambil melipat tangan depan dada.
Regan tidak menjawab.
"Kenapa hanya diam? Mamy sedang bicara sama kamu, Regan!" Pekik Sofia, tangannya mendarat di telinga putranya.
"My, jangan di jewer!" Regan langsung duduk.
"Sekarang ayok siap-siap. Mamy gak mau bikin keluarga Pak Ardion menunggu!"
"Aku gak bisa ikut, My."
"Kenapa? Ada acara apa kamu?" Tanya Sofia dengan tatapan tajamnya.
Regan hanya menghela napas kecil. "Gak ada acara apa-apa. Aku udah bosan aja ketemu mereka."
"Terus, kamu tidak kangen dinner bersama Mamy dan Dady?"
Mendengar pertanyaan itu, Regan langsung kehabisan alasan untuk menolak.
Tak lama, Raymond kini keluar dari kamar sambil membawa beberapa kotak hadiah. Ada yang dihiasi pita satin merah putih. Ada yang dihiasi bunga-bunga. Dan hiasan-hiasan lucu lainnya.
Regan langsung mendesah kecil. "My, aku tidak mau ikut," rengeknya.
"Kenapa? Kamu takut ketemu Alvero?"
"Bukan!"
"Lalu? Mamy ingin tahu alasannya."
Regan mendongak, menatap Sofia yang berdiri di depannya dengan tatapan penuh tanya. Sementara Regan hanya mengernyitkan alis dengan sorot memohon.
Sofia menaikkan alis.
Membuat Regan mengacak-acak rambutnya.
"Kenapa kesannya kayak mau dijodohin." Suara Regan akhirnya keluar lirih.
Ekspresi Sofia langsung berubah heran. "Maksud kamu?"
"My, malam kemarin Dady ngatain aku suka sama Alvero."
"Hah?" Mata Sofia melebar, mulutnya ternganga. "Yang benar saja, Regan."
Regan mengangguk cepat. "Aku serius, My." Jawabnya cepat.
Untuk beberapa saat, Sofia tidak lagi bertanya atau bersuara. Kalimatnya seolah habis entah kemana.
Sementara Raymond, pria paruh baya itu hanya terkekeh geli. Ia rasa, Regan tidak akan memikirkan hal itu sampai malam berikutnya. Tapi ternyata, anak itu benar-benar dibuat overthinking oleh candaan Dadynya sendiri.
"Mamy lihat," Regan menunjuk ke kota-kota hadiah yang akan Sofia bawa. "Itu kayak mau hantaran lamaran."
Sofia semakin ternganga. Ia menatap Raymond yang berdiri tak jauh dari kotak hadiah itu dengan alis mengernyit.
Raymond hanya tertawa.
"Haiya Regan! Kenapa otakmu mendadak buntu saat ada Mamy?" Sofia memukul-mukul pelan lengan Regan. "Apa kamu pikir Serena akan bersedia menerima kamu sebagai menantunya? Apa Veyra akan menerima kamu sebagai madunya?"
Sofia menghentikan ucapannya. Rasanya terlalu lucu dan aneh.
"Regan, keluarga mereka normal." Lanjutnya.
"Lalu, Mamy pikir keluarga Mamy tidak normal?"
"Tidak, kalau kamu beneran suka sesama jenis!"
Ibu dan anak itu sekarang hanya saling bertatapan. Regan dengan ekspresi campur aduk, dan Sofia berusaha menahan tawanya.
"Honey, sepertinya aku lupa. Harusnya aku tidak bercanda seperti itu." Suara Raymond mengalihkan tatapan Sofia.
"Dear, anakmu ini terkadang selalu overthinking berlebihan. Hal konyol seperti ini saja dia pikirkan."
"Karena kamu terlalu memanjakannya, honey."
"Hey, siapa yang setiap ulang tahunnya selalu memebelikan mobil. Selalu memberikan hadiah diam-diam." Sofia menaikkan suaranya satu oktaf.
Raymond seketika tertawa kecil. "Baiklah honey, aku kalah. Sebentar lagi kita jalan."
Sofia akhirnya menghela napas panjang. "Regan, siap-siap sekarang. Mamy tidak menerima alasan apapun."
Sofia kembali melangkah masuk ke dalam kamar.
Dan tidak lama, Regan juga bangun dari duduknya. Lalu pergi ke kamarnya.
...****************...
Malam itu mereka bertemu di kawasan Aloha PIK 2. Lampu-lampu di sepanjang area pantai sudah menyala, sementara angin malam berhembus lembut dari arah laut.
Begitu memasuki restoran, Sofia langsung menghampiri hostess di dekat pintu masuk.
"Selamat malam. Saya Sofia. Kami ada reservasi atas nama Pak Ardion." Ucap Sofia ramah.
Hostess itu langsung melihat daftar. "Baik. Silahkan tunggu sebentar."
Tak lama kemudian, hostess melanjutkan kalimatnya. "Mejanya sudah siap. Mari saya antar."
Hostess berjalan lebih dulu, Sofia, Raymond dan Regan mengekor. Masing-masing membawa paper bag besar berisi oleh-oleh dari Sofia.
Sesampainya di meja, hostess itu langsung kembali. Di sana, keluarga Ardion sudah hadir. Serena langsung bangun dari duduknya. Sementara Sofia mendekat sambil memeluknya.
"Serena, kamu apa kabar?" Tanya Sofia sambil mengelus punggung Serena.
Tak lama, pelukan mereka kini lepas. Serena tersenyum lebar ke arah Sofia. "Kabar aku baik."
Tatapan Sofia kini berpindah ke Veyra. "Ya ampun! Kamu makin cantik aja, Vey. Padahal sedang hamil, kan?" Sofia mengusap lengan Veyra.
"Tante bisa aja. Harusnya aku yang ngomong gitu ke Tante." Jawab Veyra, ia memegang tangan Sofia.
Di meja panjang, mereka duduk berhadapan. Di atas meja kini penuh dengan oleh-oleh yang Sofia bawa.
"Aku bawain sedikit oleh-oleh dari Singapura." Katanya, ia mendorong beberapa paper bag besar itu.
"Ya ampun, Sofia. Ini udah kayak mau hantaran," celetuk Serena. Membuat Regan berdehem sambil menyikut Mamynya.
"Bukan, itu ada tas buat kamu arisan. Ada sandal juga buat Veyra jalan-jalan."
Serena dan Veyra membuka paper bag itu perlahan. Di dalamnya, kotak berwarna oranye berlogo huruf H.
"Aku sengaja bawain hak yang tidak terlalu tinggi buat kamu, Vey. Apalagi sekarang kamu sedang mengandung." Lanjut Sofia.
"Tante, aku suka. Makasih banyak ya." Ucap Veyra dengan mata berbinar. Ia terus menatap hak berwarna hitam elegan itu.
"Sama-sama, Tante lihat Hermès ini cocok untuk kamu."
Sofia jelasin beberapa isi dari paper bag yang ia bawa. "Di paper bag ini, ada beberapa camilan, cokelat dan mainan buat Renzio. Kalau yang itu," ia menunjuk ke paper bag paling ujung. "Ada lilin aromatherapy sama parfum. Itu produk baru aku, baru launching satu bulan lalu." Jelas Sofia dengan senyum lebar.
"Oh iya, parfumnya aman kok buat ibu hamil. Ada juga buat Pak Ardion sama Alvero." Lanjut Sofia.
Suasana di sana masih dipenuhi suara Sofia, yang lain hanya tersenyum senang. Bukan karena hadiah yang Sofia berikan. Tapi cara dia yang selalu antusias.
"Makasih ya, Sofia. Setiap ketemu kamu selalu bawa banyak oleh-oleh." Serena meraih tangan Sofia, lalu mengelusnya.
"Sama-sama, aku sudah menganggap kalian lebih dari sekedar rekan kerja, Raymond."
Beberapa waktu setelah oleh-oleh itu di serahkan. Sekarang permukaan meja berganti dengan berbagai hidangan yang baru saja tiba.
Mulai dari kepiting saus padang, udang bakar, hingga beberapa menu seafood favorit keluarga mereka.
Sofia dan Serena sesekali mengobrol membahas produk. Ardion dan Raymond yang membahas kerjaan. Veyra dan Alvero yang penuh perhatian.
Sementara Regan, pria itu malam ini lebih banyak diam. Hanya fokus pada ponselnya. Tidak banyak berinteraksi seperti biasanya.
Sesekali, ia menatap Alvero diam-diam. Lalu beralih ke Veyra.
Di tengah acara makan malam itu, Alvero hendak mengambil garpu. Tapi tempat garpu itu berada dekat dengan Regan.
"Regan," panggil Alvero.
Regan langsung berhenti ngunyah. "Iya?"
"Tolong ambilkan saya garpu!"
Regan mengangguk. "Baik, Pak Al. Saya ambilkan."
Mendengar jawaban dari Regan, Alvero menelan ludah. Tatapannya langsung beralih ke Veyra.
"Ini, Pak Al." Kata Regan sambil mendekatkan tempat garpu.
"Terima kasih."
Regan mengangguk cepat. "Sama-sama."
Melihat interaksi mereka yang berubah menjadi lebih formal. Membuat suasana meja mereka sedikit canggung.
Raymond diam beberapa detik, menatap Regan dari samping. "Regan, ini acara makan malam keluarga. Bukan meeting perusahaan, jadi tidak usah terlalu formal."
Ardion bertukar pandang dengan Raymond. "Apa kamu ada masalah dengan Alvero, selain masalah klien?" Tanyanya.
"Tidak ada, Om. Hanya saja aku..."
"Haiya, biarkan saja. Anak itu memang sedikit sulit diatur." Potong Sofia. Yang sebenarnya tahu, kalau Regan mendadak lebih formal bukan hanya masalah klien. Tapi candaan dari Raymond malam kemarin.
Malam ini, Regan merasa benar-benar tidak nyaman duduk bersama mereka. Rasanya seperti ingin kabur.
Setelah makan malam selesai. Serena dan Sofia berjalan pelan di dekat pagar pembatas pantai sambil mengobrol. Ardion dan Raymond menyusul beberapa langkah di belakang.
Sementara Regan berdiri bersandar pada railing. Rambutnya terus bergerak karena angin malam. Matanya menatap pantai yang memantulkan lampu-lampu di sekitarnya.
Tak lama, Alvero datang menghampiri. "Regan," panggilnya.
Regan langsung berbalik. Biasanya dia akan langsung menjawab. Tapi sekarang, bahkan mencari satu kalimat sederhana pun terasa sulit.
"Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan," lanjut Alvero.
Regan masih diam. Rasanya semakin aneh, antara ingin kembali akrab. Atau terus berjaga jarak untuk beberapa alasan.
Mata Regan tertuju para Veyra yang duduk cukup jauh dari mereka.
"Maaf, Al. Sepertinya Veyra butuh di temani sama kamu. Aku mau ke toilet." Ucap Regan sambil menunjuk asal, ada cengiran kecil di bibirnya.
Regan melangkah pergi dari sana. Sementara Alvero menatap punggung Regan yang semakin menjauh. Sekarang Alvero merasa jarak yang ia buat benar-benar mulai terbentuk.
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻♀️🤦🏻♀️
apa Alvaro siap di binor sama Regan