Book #1 of The Walter Brothers Dia pria, pengacara paling licik di New York. Dia wanita, CEO muda yang kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu kasus mempertemukan mereka dengan syarat yang tak masuk akal. Emily Cooper hanya ingin memenangkan kembali hak atas hidupnya. Raphael Walter hanya tertarik pada permainan yang membuat tubuhnya panas. "Aku menangkan kasusmu. Tapi kau harus menghiburku di ranjangku." Dalam dunia penuh siasat, tubuh dan kuasa adalah alat tawar. Tapi ketika menyecap panasnya hasrat, dan tiap sentuhan menjadi candu nikmat, siapa yang sebenarnya dikendalikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Syela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
No Kissing (B)
"Kau pikir aku peduli, hm?" bisik Raphael kala jarak mereka tinggal sejengkal. Tangan kirinya terulur, menyentuh ujung ikatan tali robe di pinggang Emily. Tak ia tarik, hanya membiarkan ujung jemarinya bermain-main di sana, memberikan teror mental kecil-kecilan sekadar peringatan.
Emily menegakkan bahu, mengerahkan seluruh sisa kekuatannya untuk menahan getaran yang mulai menjalar di tubuhnya. "Kau terlalu percaya diri, Tuan Walter."
Raphael terkekeh rendah, sebuah tawa bariton yang menggetarkan udara di antara mereka. Ia mencondongkan wajahnya hingga hembusan napasnya yang hangat menyapu wajah Emily yang dingin. "No, darling. Aku tidak percaya diri. Aku hanya memahami situasinya."
Emily menelan ludah dengan susah payah, tangannya terkepal begitu erat di sisi kain robe. Aura dominan Raphael terasa menekan hebat, seolah mengunci pasokan oksigen di sekitarnya. Ia benci bagaimana pria ini selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Namun, ada bagian kecil yang gelap dalam benaknya—bagian yang enggan ia akui—yang mendadak kelu untuk menolak intimidasi ini.
Raphael mengikis jarak lebih dalam lagi, hingga bibirnya hampir menyentuh garis rahang Emily yang menegang. "Kau bisa membenciku sepuasmu. Tapi pertahananmu tahu siapa yang memegang kendali penuh di ruangan ini, malam ini."
Emily memejamkan mata sesaat, meredam gemuruh di dadanya, sebelum kemudian menatap Raphael dengan sepasang netra yang dingin. "Kau terlalu yakin pada sesuatu yang belum terjadi."
Kembali Raphael menyunggingkan senyum miring. Jemarinya akhirnya menarik ujung tali pembungkus Emily sedikit demi sedikit, melonggarkan lapisan yang tersisa. "Wait until I prove it."
"Tunggu..." Emily menahan pergelangan tangan Raphael tepat sebelum pria itu melangkah lebih jauh. Suaranya terdengar serak, namun diusahakan tetap bertenaga. Dengan gerakan cepat, ia berbalik ke sisi meja, meraih tas kulitnya yang tergeletak di sana. Tangannya bergetar hebat saat merogoh bagian dalam tas, sebelum akhirnya menarik sebuah benda persegi kecil berbungkus kemasan gelap.
Dengan napas yang memburu, ia kembali mendekat, lalu meraih paksa tangan Raphael yang sempat terulur kaku. Emily meletakkan benda itu tepat di atas telapak tangan sang pria.
Raphael menunduk, menatap benda mungil di tangannya, lalu perlahan mengangkat pandangannya kembali ke arah Emily. Ada kilatan dingin bercampur geli yang meremehkan di dalam sepasang matanya.
"Aku tidak terbiasa dengan aturan seperti ini."
"Aku tidak peduli dengan kebiasaanmu," potong Emily cepat, suaranya sedingin tatapannya. "Aku tidak mau mengambil risiko apa pun. Aku tidak akan membiarkan diriku menanggung konsekuensi dari transaksi gila bersamamu."
Senyum tipis Raphael justru melebar, melahirkan ekspresi sinis yang menghina ego Emily. Ia mengambil satu langkah maju, mengurung wanita itu kembali. "Jadi kau meragukanku? Sampai harus mempersiapkan benda ini?" Ia mengangkat kemasan kecil itu di antara dua jarinya dengan gestur mengejek.
Matanya menelusuri setiap jengkal wajah Emily yang semakin mengeras. "Harusnya kau tahu, tidak sembarang orang bisa bersinggungan dengan nama Walter. Kau berada di posisi yang diinginkan banyak orang."
Emily mencebik jijik. "Aku tidak butuh ilusi kehormatan darimu. Patuhi aturanku, atau tidak akan ada kesepakatan apa pun yang terjadi di ruang ini."
Hening seketika mencekat ruangan. Tatapan mereka saling mengunci, seperti dua bilah pedang yang beradu—keras kepala melawan keras kepala.
Raphael akhirnya terkekeh pendek. Ia menggelengkan kepala seolah menyerah pada permainan melelahkan yang entah mengapa justru membuat insting berburunya semakin membara. "Kau benar-benar keras kepala, Emily Cooper. Berani mendikteku di wilayahku sendiri."
Tanpa membuang waktu lagi, Raphael menyelipkan benda itu ke saku celananya. Namun sebelum Emily sempat mengembuskan napas lega, pergerakan pria itu berubah secepat kilat. Raphael mengurai simpul tali yang ada apa robe milik Emily tersebut. Kain putih yang menjadi tameng terakhirnya ditarik hingga luruh begitu saja ke atas lantai.
Emily terkesiap panik. Secara refleks, ia menyilangkan kedua tangan, mencoba melindungi sisa martabat yang berusaha ia pertahankan. Namun Raphael tidak memberinya ruang untuk bersembunyi. Bahu Emily terdorong mundur dengan kuat. Tubuh kecilnya terlempar ke belakang, mendarat di atas permukaan ranjang king size yang empuk namun terasa menghentak seluruh kesadarannya. Ia jatuh terlentang di atas hamparan seprai satin putih yang dingin, dengan dada yang naik-turun memburu akibat kepanikan.
Tegap tubuh jakung Raphael langsung sepenuhnya menudungi seluruh ruang pandang Emily, melemparkan bayangan besar yang seolah menelan sosoknya bulat-bulat. Netra pria itu tampak menggelap, memancarkan tatapan pekat dan mengintimidasi. Aroma maskulin yang bercampur dengan pekatnya bourbon menguar kuat saat Raphael mencondongkan tubuhnya lebih dekat Emily.
"Kau tidak tahu seberapa lama aku menantikan saat di mana keangkuhanmu runtuh, Emily Cooper," geramnya rendah, suaranya bergetar tepat di indra pendengaran sang wanita.
Raphael menunduk, menyembunyikan wajahnya di sisi leher Emily, memulai invasi yang lambat namun mendesak. Raba pria itu yang terasa panas berbanding terbalik dengan permukaan kulit Emily yang mendadak merinding hebat. Emily memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya tererat di kain seprai satin di bawahnya hingga berkerut, menyalurkan segala ketegangan, sekaligus rasa takut yang berkecamuk di dalam perutnya.
Raphael bergerak dengan gerak yang sengaja diperlambat, seolah menikmati setiap detik kepasrahan dan kepanikan yang ia timbulkan pada wanita keras kepala di hadapannya. Jamah-jamah yang ditinggalkannya di sepanjang jenjang leher terasa seperti gelitikan listrik yang membuyarkan fokus Emily, menciptakan sensasi kontras yang membuat dadanya bergetar hebat.
Jarak di antara wajah mereka kini menguap hingga menyisakan jarak tipis. Emily bisa merasakan ujung hidung mereka yang saling bersitumpu, disusul deru napas Raphael yang terasa mematikan akal sehatnya. Manakala bilah bibir pria itu mulai merayapi kontur rahangnya dan bergerak menuju sudut bibir, Emily menyentak netranya terbuka didera kecemasan.
Dengan gerakan cepat, Emily mengangkat satu tangannya, menahan pergerakan wajah Raphael tepat sebelum bibir pria itu menyentuh dirinya. "Raphael, lakukan apa saja untuk menyelesaikan transaksi ini. Tapi aku mohon... jangan bibirku. Tidak ada ciuman di antara kita."
Raphael mengernyit, gundah atas interupsi yang tiba-tiba itu. "Kau mencoba membuat aturan baru di tengah permainan?"
Emily mengeraskan rahangnya, menentang tatapan gelap di atasnya tanpa berkedip. Ia tidak akan membiarkan privasi terdalamnya direnggut oleh pria yang memperdagangkan keadaannya. Baginya, sebuah ciuman bukan sekadar kontak fisik biasa, melainkan sesuatu yang seharusnya ia simpan untuk seseorang yang benar-benar memiliki hatinya kelak.
Tidak ada jawaban yang keluar dari belah bibir Emily. Hanya ada tatapan mata yang menegang, menyiratkan pertahanan terakhir yang mutlak. Sorot mata Raphael kian meredup, menyisakan kegelapan yang pekat. Rahangnya mengeras seolah tengah bertarung dengan egonya sendiri—antara keinginan untuk mengabaikan batasan itu atau memberi sedikit pengecualian pada wanita yang berhasil mengusik rasa penasarannya ini.
Namun dorongan dominasi dalam diri Raphael tampaknya enggan untuk berkompromi lebih jauh. Mengembuskan napas berat yang terdengar seperti geraman frustrasi, pria itu menepis tangan Emily yang menahannya. Lewat satu ketetapan, ia menawan kedua pergelangan tangan sang wanita di atas puncak hulu kasur, meredamnya pada hamparan bantal hingga Emily benar-benar terbelenggu, kehilangan daya walau setitik jua.
Tatapan Raphael menyusuri sosok Emily yang kini terhampar sepenuhnya tanpa pelindung. Garis bahunya yang gemetar, siluet tubuhnya yang rapuh namun menawan di bawah lampu kamar, semuanya menciptakan pemandangan yang membuat napas Raphael memberat. Pandangan yang begitu intens itu membuat Emily merasa kulitnya panas, meski pendingin ruangan berembus cukup kencang.
"Damn," bisik Raphael serak. "Kau selalu tahu bagaimana cara menguji kesabaranku."
Emily memilih memalingkan wajah, menutup rapat matanya demi mengabaikan tatapan yang menguliti harga dirinya tersebut, walau detak jantungnya di dalam dada sudah berdentum tak karuan bagai genderang perang.
Raphael menundukkan tubuhnya kembali, mengalihkan fokusnya menjauh dari bibir Emily yang terlarang, lalu mengalihkan atensi pada lekuk bahu sang wanita dengan tempo kian menderu. Sentuhan lumat yang tertinggal di sana mengalirkan kehangatan seketika yang merayapi kesadaran Emily, memaksa sekeping pasrah lolos dari celah bibirnya yang semula terkunci rapat.
Tubuh Emily bergidik hebat. Jiwanya berontak menolak seluruh situasi ini, namun di bawah manipulasi raba-raba yang begitu ahli, respons tubuhnya justru mengkhianati logikanya sendiri. Ia menekuk lututnya, menggenggam erat bantal, mencoba mencari pegangan di tengah badai sensasi yang mulai menenggelamkan kesadarannya.
Raphael bergerak semakin tidak sabaran, memindahkan kehangatannya dari satu sisi ke sisi lain, berharap rasa menyerah dari wanita yang begitu membencinya ini. Cengkeraman tangannya di pinggang Emily menguat, mengunci posisi tubuh mereka agar semakin menyatu. Emily hanya bisa memejamkan mata dengan kuat, merasakan semua perasaan antara rasa muak, takut, dan sengatan kepuasan yang aneh mengaduk-aduk isi perut dan kesadarannya.
Kala kemelut rasa di antara mereka telah menyentuh ambang batas, Raphael mengangkat wajahnya sekelumit, menatap lekat paras Emily yang tampak pias namun begitu menawan. Lewat deru napas yang patah-patah dan gairah yang tersisa di atmosfer malam, pria itu berbisik serak, membiarkan ucapannya mengalun tepat di depan wajah sang wanita
"Kau bisa mengutuk namaku sepuas yang kau mau, Emily," ujarnya dengan suara yang bergetar diujung, "tapi kau tidak bisa membohongi bagaimana tubuhmu menyambut kehadiranku."
Emily ingin berteriak memaki, ingin mendorong tubuh tegap itu menjauh, ingin melarikan diri dari malam yang mengoyak martabatnya ini. Namun suaranya seolah lenyap di tenggorokan, hanya menyisakan deru napas terputus-putus yang terdengar menyedihkan di tengah keheningan presidential suite yang megah. Seiring dengan kabut malam yang kian pekat memayungi New York, Emily membiarkan sisa kesadarannya larut dalam pusaran rasa yang membakar, menyerahkan seluruh kendalinya pada takdir yang telah mengaturnya malam ini.