Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"em, Kakek waktu berjemur nya sudah selesai, apa sebaiknya kita masuk ke mansion sekarang?" kata Sofia yang kemudian berdiri dari duduknya.
"Tunggu dulu, kau harus berjanji terlebih dahulu kepada kakek kalau kau tidak akan melepaskan cincin itu, dan berjanji kalau kau akan selalu bersama dengan Zavier," kata Kakek Wiliam yang tak ingin Sofia melupakan begitu saja permintaan nya.
"Ya Tuhan bagaimana ini, aku sangat takut jika harus melakukan janji," batin Sofia dengan wajah gelisah.
"Sofia," kata kekek Wiliam yang melihat Sofia diam.
"Ah iya kek," jawab Sofia refleks.
"Terima kasih kau sudah menjawab Iya, aku harap ini adalah janji mu kepada ku," kata kakek sambil tersenyum bahagia, wajah keriput nya terlihat sangat ceria ketika mendengar iya dari Sofia.
"Astaga tuhan aku tidak bermaksud menjawab iya, bagaimana ini," batin Sofia.
"Ya sudah, ayo kita kembali ke dalam," ajak Kakek Wiliam dengan hati senang.
"I-iya kek, ayo," jawab Sofia gugup.
Sofia merasa kalau dirinya sudah dengan bodoh menjebak dirinya sendiri ke dalam kelaurga Atharyan yang ternyata sedikit punya masa lalu yang kelam.
Kini ia pun telah masuk ke dalam lingkaran perjanjian antara ia, Zavier dan juga Kakek Wiliam.
Sofia mendorong kursi roda kakek Wiliam dengan pelan masuk ke dalam mansion.
Setelah mengantar Kakek Wiliam masuk ke dalam kamar nya untuk beristirahat, Sofia pun meningalkan orang tua tersebut, dia berjalan masuk ke kamar nya sambil menatap cincin tersebut dengan perasaan yang gemuruh di dalam hatinya begitu banyak terdapat kekhawatiran, dia berfikir kalau ia harus segera bicara dengan Zavier sekarang.
Namun di perjalanan menuju kamar Zavier, dia berpapasan dengan bik Rua yang membawa beberapa paper bag entah dari mana datangnya.
"Nona muda, kebetulan kita bertemu di sini, saya baru saja akan ke kamar tuan Wiliam, tapi sepertinya tidak perlu saya langsung menyerahkan nya saja kepada nona barang-barang ini," kata bik Rua sambil tersenyum ramah seperti biasanya.
"Apa ini bik? Kenapa di serahkan ke saya?" tanya Sofia kebingungan sambil menerima benda tersebut dari tangan bik Rua.
Ada dua tiga buah paper bag yang kini di berikan bik Rua kepada Sofia.
"Nona muda, ini adalah gaun pesta, perhiasan, dan juga high heels untuk nyonya gunakan besok malam, ini di berikan oleh tuan Wiliam untuk nona Sofia," jelas bik Rua.
Lagi-lagi Sofia terdiam dan sedikit terkejut karena tak di sangka kalau malam pesta akan segera tiba, kakek bahkan menyiapkan semua ini untuk nya.
"Ini sangat mewah, sebaiknya aku tidak menerima nya," Sofia sedikit gemetar memegang barang-barang tersebut.
"Astaga nyonya, tolong jangan menolak ini, karena tuan Wiliam akan marah dan sedih, tolong terima lah saja, kalau begitu saya permisi dulu," kata bik Rua buru-buru pergi dari hadapan Sofia karena tidak ingin menerima kembali paper bag tersebut.
"Ya Tuhan, kenapa cobaan ku semakin berat saja?" kata Sofia tak bisa melakukan apa-apa lagi selain menerima nya.
Ia pun kembali meneruskan perjalanan nya menurut kamar.
Tak butuh waktu lama, Sofia pun kini tiba di kamar nya, terlihat Zavier yang sudah menunggu nya dengan berdiri di depan pintu kamar seolah tau kalau beberapa detik kemudian sang istri akan datang dan membuka pintu kamar.
"Dari mana saja kau?" kata Zavier seperti biasa, tatapan tajam menusuk dan wajah dingin yang terlihat seperti beruang kutub.
"A-aku, aku da ..." ucapan Sofia terhenti karena Zavier menarik dan memegang tangan nya sambil menatap cincin yang ada di jari Sofia dengan tatapan tak percaya.
Sofia menatap wajah Zavier yang terlihat sedikit panik dan menujukkan ekspresi kaget yang luar biasa, ini pertama kalinya Sofia melihat reaksi ini di wajah Zavier yang biasanya hanya memiliki reaksi datar.
"Dari mana? Dari mana kau mendapat kan nya?" tanya Zavier dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan begitu menusuk.
"A-aku, ini ... Ini kakek yang memberikan nya kepada ku, dia bahkan yang memasangnya," kata Sofia berkata jujur.
Seketika Zavier teridam dan menatap Sofia dengan tatapan kaget.
"Kenapa kau menerima nya? Kenapa kau tidak menolak nya ini tidak boleh di pakai oleh mu," ucap Zavier sambil mengacak-acak rambut nya.
Sofia tidak menyangka kalau reaksi Zavier akan sangat aneh seperti ini.
"A-aku minta maaf, aku benar-benar tidak bisa menolak nya, karena kakek begitu menginginkan aku memakai cincin ini," ucap Sofia sambil menundukkan wajahnya.
"Lalu apa yang dia katakan? Katakan kepada ku apa yang dia ucapkan?" tanya Zavier sambil memegang kedua pundak Sofia.
Karena rasa takut nya, Sofia pun memilih untuk berbohong kepada Zavier kalau kakek tidak mengatakan apapun, ia pun mengelengkan kepala nya dengan posisi masih menunduk.
"Benarkah hanya memasang saja? Dia tidak meminta kau untuk berjanji apapun kan? Sofia ingat lah pernikahan ini hanya sebuah bisnis kita dan kontrak semata, kau yakin dia tidak mengatakan apapun?" tanya Zavier terlihat sangat khawatir karena dia tau prihal cincin tersebut.
"Benar, tidak ada," jawab Sofia berbohong.
"Huhhhh," terdengar Zavier yang terlihat lega membuang nafas setelah mendengar jawaban dari Sofia.
"Kau harus tau, cincin itu adalah milik mama ku, kakek pernah berkata kalau itu akan dia jadikan cincin pengikat janji kepada wanita yang akan menjadi istri ku nanti untuk tidak pernah meninggalkan ku, tapi jika kakek tidak mengatakan apa-apa itu masih aman," kata Zavier dengan lega nya, karena ia berharap cincin tersebut kelak akan menjadi milik cinta masa kecil nya.
"Kalau begitu aku akan melepaskan nya sekarang," ucap Sofia dengan tangan yang sedikit gemetar segera hendak melepaskan cincin tersebut dari jari nya.
"Tidak, pakai saja, dan suatu saat aku akan meminta nya kepada mu, dan kau harus melepaskan nya, tapi bukan sekarang," kata Zavier yang kini sudah lebih tenang.
Sofia pun menatap Zavier sekilas dan kemudian kembali menundukkan kepalanya, tangan nya kini mengengam kuat tali paper bag yang di berikan bik Rua kepada nya tadi.
"Itu apa?" tanya Zavier mengalihkan perhatian nya kini kepada benda yang di bawa Sofia.
"Ini, bik Rua memberikan nya kepada ku untuk pesta besok malam," ucap Sofia singkat jelas padat.
"Baik lah, bagus kalau begitu aku tidak perlu meminta Glen untuk menyiapkan gaun untuk mu," kata Zavier lagi.
"Iya," kata Sofia sambil mengangguk.
Kemudian tampa basa-basi Zavier pun berjalan keluar dari kamar tersebut, ia tau kalau Sofia sedang takut dan memutuskan untuk meninggalkan Sofia sendirian agar lebih tenang.
Sofia memegang dadanya yang berdegup begitu kencang ketika berdekatan dengan Zavier dia selalu mengira kalau reaksi ini adalah karena dia sangat takut dengan Zavier yang terlihat galak dan kasar.
Bersambung ....
gak guna!