Nayla Thalita Firliany 21 tahun, gadis cantik yang biasa di panggil Nayla ini merantau dari Riau ke ibu kota Jakarta untuk menuntut ilmu di salah satu kampus ternama.
Dan Naas Nayla harus kehilangan ke Virginan nya dalam sebuah insiden pemerkosaan saat ia tengah mabuk.
Karena pelaku bukan pria yang Nayla kenal, serta dirinya juga tidak hamil maka Nayla memilih melupakan kejadian itu dan menganggapnya sebagai mimpi buruk semata.
Namun beda halnya dengan Giovani Farmost 29 tahun, seorang Presdir sebuah perusahaan kontruksi yang merasa jika Nayla adalah takdirnya.
Gion panggilan dari Giovani menghalalkan segala cara untuk bisa membuat Nayla selalu di sisihnya
Namun kesalah pahaman yang terjadi di awal pertemuan mereka membuat keduanya tidak pernah akur. Terlebih Nayla yang tidak mencintai Gion membuat Gion selalu cemburu berlebihan.
Lalu apa yang akan terjadi pada kisah mereka berdua?
Simak kisah mereka selanjutnya dalam
I'M JUST FOR YOU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jujuk Aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Nayla baru saja pulang dari kantor ketika dua orang laki-laki berseragam polisi menghampirinya,
"Dengan Mbak Nayla Thalita Friliany?" Tanya salah satu kedua orang polisi tersebut.
"Iya pak, saya sendiri. Ada apa ya pak?" tanya Nayla bingung.
"Mbak Nayla kami tangkap atas tuduhan pencurian di aparteman Tuan GIOVANI FARMOST satu minggu yang lalu."
Nayla hampir saja pingsan mendengar penjelasan polisi itu,
"Pak ini salah paham, saya tidak mencuri di rumah dia pak?" Nayla menjelaskan.
Namun tampaknya polisi itu tidak perduli dengan apa yang diucapkan oleh Nayla.
"Untuk penyelidikan lebih lanjut, silahkan anda ikut kami ke kantor. Kita bisa bicarakan semua itu di sana." Jawabnya sambil mengandeng tangan Nayla.
"Pak, beneran deh saya tidak mencuri," Nayla berharap hal itu tidak terjadi dalam hidupnya. Ia bahkan tak pernah terpikirkan bakal berurusan sama polisi. Yang bikin ia lebih malu lagi semua penghuni kost melihat kejadian sore itu.
"Pak, apa-apaan ini? Kenapa bapak bawa anak kost saya secara paksa begitu?" bentak seorang wanita yang baru saja datang yang tidak lain adalah ibu kost Nayla.
"Maaf bu, ibu ini siapa ya?" Tanya polisi itu.
"Saya yang mempunyai kost ini dan saya yang bertanggung jawab atas semua anak-anak yang tinggal di sini. Jadi bapak tidak bisa seenaknya saja membawa anak-anak tanpa seizin saya!" Ujarnya tegas.
"Maaf bu, sebelumnya. Tapi mbak Nayla dilaporkan atas pencurian di aparteman tuan Giovani dan jika ibu berkenan silahkan ikut kami ke kantor untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut."
Wanita yang bernama Anna itu hampir tidak percaya dengan pendengarannya barusan. Karena setahu dia Nayla adalah anak yang baik dan dia yakin seratus persen pasti ada kesalah pahaman disini.
"Tunggu pak! itu pasti salah paham. Saya sangat tahu siapa Nayla dan dia tidak mungkin melakukan hal rendah begitu," Ujarnya membela.
"Silahkan ibu ke kantor polisi dan melihat bukti yang ada," sang polisi itu tidak mau kalah, "kami permisi dulu bu," Katanya sambil membawa Nayla memasuki mobil biru putih bertuliskan kata POLISI yang terparkir manis di depan kost.
Tampak tante Anna mengikuti mobil biru itu dari belakang dengan mengunakan mobil pribadinya.
Mereka berdua sampai ke kantor polis bersamaan. Lalu polisi yang bernama Reymond itu meninta keduanya duduk pada dua buah kursi di depan meja kerja. Kemudian dia mencari sesuatu dari leptop yang ada di depannya dan menunjukkan kepada mereka berdua.
Tante Anna dan Nayla melihat video itu, tapi tidak ada aksi pencurian disana, hanya ada Nayla yang sedang mengenakan jaket milik Gion secara buru-buru lalu pergi.
"Mana buktinya jika Nayla memang mencuri di rumah tuan Giovani pak? Disini tidak ada pencurian?" Tanya tante Anna marah.
"Itu bu, mbak Nayla mengambil jaket pak Giovani yang berisikan jam tangan dan dua buah cincin berlian," Sang polisi memberi tahu.
"Iya Nay, kamu melakukan itu semua?" Tanya Tante Anna tidak percaya.
"Nayla memang mengambil jaket itu tante, tapi Nayla sendiri tidak tahu jika di kantong jaketnya ada jam tangan dan cincin. Sumpah!" Nayla memberi penjelasan.
"Tapi mbak Nayla memang mengambil jaket itu dari rumah pak Giovani tanpa izin dulu kan? Dan mbak juga tidak mengembalikannya setelah tahu di jaket itu ada barang-barang pribadi pak Giovani kan?" Tanya polisi itu.
Nayla mengaguk, "iya, tapi..."
"Itu sama artinya dengan mencuri mbak, karena anda telah mengambil tanpa seizin pemiliknya," Polisi itu menjelaskan, "dan sekarang anda ditangkap karena kejadian itu."
"Tapi anak kost saya tidak tahu jika di jaket itu ada isi nya, jadi anda tidak bisa menangkap begitu saja." Tante Anna mencoba protes lagi.
Polisi bernama Reymond itu menyerahkan secarik kertas dihadapan tante Anna, "Ini kerugian yang di alami pak Giovani atas pencurian tersebut bu," Ujarnya.
Tante Anna membaca kertas itu dengan seksama, wajahnya tampak terkejut dan seketika dia melihat Nayla dengan tatapan tidak percaya, kemudian dia menyerahkan kertas itu kepada Nayla meminta ia untuk membacanya sendiri.
Nayla mengikuti perintah ibu kosnya, lalu ia membaca setiap baris tulisan hitam yang tertera di atas kertas putih itu. Kemudian ia juga terkejut ketika mendapati sebaris angka tertera di kertas itu. Berkali-kali Nayla menghitung angka nol yang berada di belakang angka satu, berharap itu suatu kesalahan. Namun semua tetap sama, tidak berubah. Sembilan buah angka nol itu masih mentereng dengan angkuh yang menandakan jumlah nominal satu milyar rupiah.
MasyaAllah, batin Nayla. Organ dalam gue di jual semua juga kagak bakal dapat uang sebanyak itu pikirnya.
"Nayla kamu kemanakan semua barang-barang itu?" Tanya tante Anna membuyarkan lamunan Nayla, "kamu belum menjual itu semua kan?"
"Ada di kost tante, Nayla tidak menjual satu pun."
"Kalau begitu kembalikan semua itu dan kamu meminta maaf kepada pemiliknya, biar dia mencabut tuntutannya ini," Ujar tante Anna menjelaskan.
"Iya tante."
Tante Anna meminta pak polisi, untuk menghubungi Giovani dan mengatakan bahwa Nayla akan mengembalikan barang-barang yang telah ia curi, kemudian meminta Giovani membatalkan tuntutannya.
Nyatanya berurusan dengan Gion tidak semudah bayangan Nayla, entah sengaja atau tidak, pria itu tidak bisa datang ke kantor polisi sore ini, alasannya karena dia sedang ada di luar kota, yang membuat Nayla harus tidur di dalam sel tahanan sepanjang malam karena mereka tidak bisa berdamai.
Nayla menyesal kenapa ia tidak lekas mengembalikan barang pria itu ketika tahu ada jam tangan dan dua buah cincin berlian dikantong jaket Gion. Rasa enggan untuk bertemu dengan pria itu lagi, membuat ia memilih membiarkan barang-barang itu ada di kamarnya begitu saja.
Padahal Gion sudah memberi ultimatum, tapi sikap ceroboh Nayla yang menganggap ancaman pria itu tidak lah penting baginya. Kini berbuah kesialan itu, ia harus mendekam penjara.
Perasaa menyesal memang datang belakangan, karena jika di depan namanya pendaftaran.
*
*
*
Nayla menimang-nimang HP-nya mencoba untuk menghubungi seseorang yaitu Farel namun perasaan ragu menghantuinya. Ia bingung bagaimana harus menjelaskan ke pacarnya, jika sampai tahu kalau dirinya dipenjara gara-gara pak Giovani presdir tempat mereka magang.
Mungkin lebih baik jika tidak memberitahukan masalah ini pada Farel pikir Nayla. Tapi bagaiman jika besok pagi pria itu menghampiri dirinya di kost dan tidak menemukan Nayla? Bagaimana jika Farel mengetahui keadaan Nayla ini dari teman-temannya di kost? Bukan kah hal itu akan lebih menyakitkan bagi Farel. Untuk mencegah semua itu terjadi, maka Nayla harus memberitahukan Farel tentang dirinya terlebih dahulu.
"Hallo Nay, ada apa malam-malam gini telepon?" tanya suara diseberang sana ketika telponya sudah tersambung. Setelah keduanya mengucap saling salam pembuka bagi masing-masing pihak.
"Nggak ada, lagi pengen saja," Jawab Nayla.
"Kamu kangen sama aku ya?"
"Heem, iya."
"Sama, aku juga kangen sama kamu."
"Kamu sekarang lagi apa?"
"Aku lagi kerja, tapi bentar lagi mau pulang kok, ini lagi siap-siap. Kamu belum tidur?"
"Belum, aku lagi tak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Nggak tahu, cuma belum ngantuk saja."
"Oh...paling ngantuk nya mau dengerin suara aku dulu tuh."
Nayla tersenyum, "mungkin iya. Oh ya Rel, besok pagi aku tidak usah di jemput ya!"
"Kenapa? Katanya kangen kok tidak mau dijemput?"
"Tidak apa-apa, kan Faya lagi pulang kampung. Jadi motornya nganggur, jadi besok aku mau bawa motor sendiri saja."
"Oh gitu. Boleh saja, tapi perginya bareng ya? Nanti tungguin aku dulu."
"Nggak usah deh, kita pergi sendiri-sendiri saja saolnya aku mau nganterin mbak Ita dulu baru ke kantor, jadi mungkin aku berangkat lebih pagi dari kamu."
"Emang teh Ita mau kemana kok minta anterin segala?"
"Dia mau pulang kampung, karena adiknya sunatan. Makanya minta anterin sampai terminal."
"Hmm, begitu."
"Iya."
"Kenapa teh lta tidak pergi naik bus malam saja Nay, biar lebih enak tidak kena macet?"
"Tidak, soalnya teh Ita malam ini masih kerja shift malam, jadi dia bisa pergi pas siang. Katanya sih begitu. Lagipula teh Ita bilang banyak kok bis yang menuju ke tempat dia meski itu siang hari."
"Baik deh kalau gitu, besok kagak aku jemput. Tapi jangan telat-telat ya datangnya. Kan aku dah kangen banget pengen cepet-cepet ketemu, pengen lihat senyum kamu, mandangin wajah kamu yang cantik dan menatap mata kamu yang indah itu." rayu Farel
"Gombal amat sih kamu jadi cowok."
"Boleh dong aku gombalin pacar sendiri, pujaan hati ku. Dari pada aku diem saja terus kamu di gombalin sama cowok lain, kan bikin aku sakit hati."
"Hehehe... " Nayla tertawa, "iya deh. Aku ngalah. Apa mau kamu saja lah. Udah ya, sekarang aku mau bobok dulu. Kamu hati-hati kalau di jalan! Jangan ngebut-ngebut!"
"Sip bos.... Oh ya... jangan lupa mimpikan aku ya? Mimpi kita lagi jalan-jalan di pantai sambil gandengan tangan gitu."
"Ish...orang mimpi kok di rikues sih. Emang bisa?"
"Ya, makanya berdoa dulu sebelum tidur. Minta sama Allah biar bisa rikues mimpi."
"Ngaco deh. Udah ah.... Malah tidak jadi pulang nanti kamu."
"Iya deh iya. Daaagg Nayla."
"Daagg Farel ganteng"
"Daag Nayla cantik."
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Dan kemudian telpon terputus.
Nayla kembali meringkuk dalam sel, meski begitu hatinya sedikit lebih lega ketimbang tadi sebelum ia memberi kabar ke pada Farel tentang dirinya walau ia harus berbohong kepada sang pacar.
*
*
*
*
Jangan lupa
Like
Komen
dan bagi gift