SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 – Wilayah Tak Bertanda
ESS Horizon melaju stabil dengan kecepatan warp.
Di layar navigasi, peta bintang mulai bertambah sedikit demi sedikit. Setiap sistem yang mereka lewati langsung dipindai dan disimpan ke dalam basis data kapal.
AURA melaporkan.
"Wilayah baru berhasil dipetakan."
"Radius pemindaian bertambah 2,8 tahun cahaya."
Kapten Idris mengangguk.
"Simpan seluruh data."
"Sudah."
Kael memperhatikan layar utama.
Di luar jendela hanya terlihat cahaya bintang yang memanjang akibat perjalanan warp.
"Berapa lama lagi sampai titik pemberhentian pertama?" tanyanya.
Navigator menjawab, "Tiga belas jam."
---
Suasana di kapal mulai lebih santai.
Karena seluruh sistem berjalan normal, sebagian kru memanfaatkan waktu untuk saling mengenal.
Di ruang makan, Darius membawa nampan berisi makanan.
"Masih belum terbiasa dengan makanan sintetis?" tanyanya kepada Lyra.
Lyra menggeleng.
"Bukan soal rasanya."
"Lalu?"
"Saya lebih suka memasak."
Darius tertawa.
"Di kapal ini kita beruntung kalau sempat makan tepat waktu."
Rina yang duduk di sebelah mereka ikut tersenyum.
"Kalau misi selesai, saya ingin mencoba masakan Dokter Lyra."
"Kalau kita semua pulang dengan selamat, saya masakkan."
"Janji?"
"Janji."
Percakapan sederhana itu membuat suasana menjadi lebih akrab.
---
Sementara itu, Kael berada di ruang observasi.
AURA muncul sebagai hologram.
"Anda belum beristirahat selama sembilan belas jam."
"Aku belum mengantuk."
"Saya mendeteksi tingkat kelelahan mulai meningkat."
Kael tersenyum tipis.
"Sejak kapan kau mengkhawatirkan manusia?"
"Itu salah satu fungsi saya."
Kael memandang ruang antarbintang di luar kaca.
"AURA."
"Ya."
"Menurutmu, bagaimana kemungkinan kita menemukan sesuatu di Asterion?"
AI itu menjawab tanpa jeda.
"Berdasarkan data yang tersedia, kemungkinan menemukan sumber sinyal sebesar 67 persen."
"Dan kemungkinan kita pulang?"
"Tidak cukup data untuk menghitungnya."
Kael mengangguk pelan.
Jawaban itu terdengar lebih jujur daripada perkiraan apa pun.
---
Enam jam kemudian.
Alarm pendek berbunyi di dek komando.
Seluruh perwira segera kembali ke pos masing-masing.
"Ada apa?" tanya Kapten Idris.
Operator sensor memperbesar layar.
"Kami menangkap objek di depan."
"Jarak?"
"Lima juta kilometer."
"Identifikasi."
Beberapa detik berlalu.
AURA menjawab.
"Objek bukan kapal."
"Bukan asteroid."
"Komposisinya didominasi logam."
Kael mendekati layar.
"Perbesar."
Gambar yang muncul masih buram.
Bentuknya tidak beraturan.
Seolah-olah merupakan kumpulan pecahan yang saling menempel.
"Kita dekati perlahan."
Perintah Kapten Idris langsung dijalankan.
---
Semakin dekat...
Semakin jelas bentuk objek tersebut.
Darius mengernyit.
"Itu seperti..."
Lyra menyela.
"Bangunan?"
"Tidak."
Kael menggeleng.
"Lebih mirip puing."
ESS Horizon berhenti pada jarak aman.
Drone pengintai segera diluncurkan.
Seluruh kru memperhatikan tayangan langsung dari kamera drone.
Puing logam itu berukuran hampir dua ratus meter.
Sebagiannya hangus.
Sebagian lagi tertutup lapisan es tipis.
Rina memperbesar salah satu sisi benda itu.
"Tunggu."
"Ada tulisan."
Resolusi gambar ditingkatkan.
Huruf demi huruf mulai terlihat.
Kapten Idris berdiri dari kursinya.
"Itu..."
Kael membaca tulisan yang mulai tampak jelas.
"...bahasa standar PPM."
Ruangan langsung sunyi.
Darius membaca dengan suara pelan.
"ESV..."
Huruf berikutnya hilang akibat kerusakan.
"...Pioneer."
AURA segera melakukan pencarian data.
"Tidak ditemukan kapal PPM dengan nama tersebut pada arsip publik."
Kapten Idris menoleh.
"Arsip rahasia."
AURA memproses ulang.
Beberapa detik kemudian jawabannya muncul.
"Data ditemukan."
"ESV Pioneer."
"Status: Rahasia tingkat Omega."
"Tahun keberangkatan: 2338."
Semua orang saling berpandangan.
Kael langsung menghitung dalam pikirannya.
"Itu hampir seratus lima puluh tahun lalu."
AURA melanjutkan.
"Status misi..."
Kalimatnya terhenti sejenak.
"...Hilang."
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
Mereka baru beberapa hari meninggalkan wilayah PPM.
Namun mereka sudah menemukan bukti bahwa cerita Dewan memang benar.
Ekspedisi-ekspedisi yang menghilang bukan sekadar rumor.
Jejak mereka masih ada.
Dan ESS Horizon baru saja menemukan yang pertama.